Mon. Mar 9th, 2026

Di era digital saat ini, arus informasi yang deras dan kemajuan teknologi telah mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam pola pengasuhan di lingkungan asrama. Media digital tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang pembentukan nilai dan karakter peserta didik. Tantangan ini menuntut pembina asrama untuk tidak hanya menjadi pengawas, tetapi juga pendamping yang mampu mewartakan harapan dan nilai-nilai kemanusiaan melalui pendekatan yang relevan dan menyentuh hati.

Melalui kegiatan Temu Pembina Asrama Tahun 2025 pada tanggal 31 Juli – 3 Agutus 2025 di wisma Immaculata, yang diselenggarakan oleh Badan Pembina Asrama Kalimantan Barat (BPA), BPA merupakan mitra kerjasama dalam naungan Forum Kerjasama Religius Kalimantan Barat (FKRK), diharapkan terjadi refleksi bersama, peningkatan kapasitas dan penyelarasan strategi dalam pengasuhan berbasis nilai yang humanis dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Ketua BPA Br. Heironimus secara umum memaparkan, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas pembina asrama dalam melakukan pengasuhan yang efektif, menyentuh hati dan relevan dalam era digital. Tujuan khusus:

  1. Menggali bagaimana era digital dapat menjadi bagian dari peziarahan iman dan pengharapan, bukan menjadi rintangan dalam membina karakter dan spiritualitas peserta didik di asrama.
  2. Membekali para pembina dengan strategi konkret dalam mendampingi generasi digital agar tetap terarah, tangguh, dan berakar dalam nilai-nilai Kristiani.
  3. Menjadikan asrama bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang formasi yang menghidupi harapan, kedisiplinan, kasih, dan kebersamaan di tengah arus budaya digital.
  4. Mengajak para pembina untuk meresapi kembali peran profetik mereka dalam membentuk manusia muda melalui teladan hidup dan pendampingan yang penuh harapan.

Kegiatan di ikuti oleh kurang lebih 50 para pembina asrama, calon ataupun yang siap ditugaskan untuk membina asrama dari berbagai daerah di Kalimantan Barat, kegiatan diisi seminar dan juga diskusi dengan narasumber untuk seminar yaitu Br. Dionisius MTB dan Bapak Aegidius Sunusmo seorang Leadership, Team Building, Service Excellent dan EQ. Sedangkan kegiatan diskusi dan sharing tentang kegiatan asrama, dan membuat rencana tindak lanjut bersama BPA Kalimantan Barat.

Kegiatan dibuka oleh ketua forum kerjasama antar religius (FKRK), ketua FKRK mengajak kembali mengingat beberapa hal tentang Teknologi internet digitalisasi, telah menjadi jaringan terkoneksi ke seluruh dunia yang bisa menjadi sarana berbagi dan juga sarana memudahkan cara manusia berinteraksi, mulai dari berdagang, kesehatan dan sarana komunikasi umat Allah. Melalui aplikasi ataupun AI hadir dengan berbagai macam bentuknya. Kehadiran teknologi digital ini diharapkan tidak memutus mata rantai antar manusia.

Asrama-asrama katolik dari berbagai jenjang pelayanan hendaknya juga berjejaring dengan tanpa meninggalkan identitasnya sebagai asrama katolik dan kharisma masing-masing. Asrama janganlah menjadi alergi tentu dengan aturan-aturan yang baik dalam menggunakan sarana-sarana tersebut untuk kebaikan seluruh umat manusia, memudahkan interaksi antara pembina, warga asrama, orang tua dan sekolah/pendidikan tinggi.

Menjadi komunitas persaudaraan pengharapan yang membahagiakan dan melestarikan lingkungan sekitar serta menolak segala bentuk kekerasan dan pelecehan. Asrama menjadi wadah persaudaraan, komunitas yang penuh pengharapan dan komunitas yang menampakan lingkungan yang kondusif, bersih, sehat, asri, serta menjadi mampu belajar merawat lingkungan di sekitarnya. Mempunyai nilai budaya yang dikembangkan seperti; persaudaraan, kasih dan damai, displin, mandiri, bertanggungjawab, solidaritas, kesederhanaan.

Managemen Perubahan Berbasis Profesionalitas dan Dijiwai Spiritualitas Injil. 

Dalam materinya Br. Dionisius mengajak peserta untuk melihat kembali perubahan zaman, pesatnya teknologi digital, dinamika psikososial remaja, serta perubahan pola asuh keluarga menuntut asrama untuk tidak stagnan. Manajemen yang hanya mengandalkan cara-cara lama tidak lagi memadai untuk menjawab kompeksitas persoalan dan kebutuhan anak-anak asrama masa kini. Manajemen perubahan diterapkan di asrama agar lembaga asrama tetap relevan dan berdampak. Manajemen perubahan mencakup pembaruan visi, pembaruan sistem pelayanan, pola komunikasi, hingga model pengasuhan yang adaptif namun tetap setia pada nilai-nilai dasar asrama. Dalam konteks asrama yang dikelola oleh tarekat religius, manajemen perubahan bukanlah penyesuaian pragmatis semata, melainkan tindakan profetik yang menghayati semangat Injil di tengah zaman yang berubah.

Maka, perubahan bukan sekadar respon terhadap tantangan, tetapi panggilan untuk semakin memurnikan dan menegaskan identitas pelayanan. Lebih dari sekadar administratif, manajemen perubahan dalam asrama adalah proses formasi bersama. Para pengasuh asrama, anak-anak asrama, dan seluruh komunitas diajak untuk terbuka terhadap pertobatan struktural dan spiritual. Dengan demikian majanemen perubahan tidak dilakukan karena tekanan, tetapi karena kesadaran akan misi membentuk manusia muda yang beriman, berkarakter, tangguh, dan siap berkarya di masyarakat. Inilah alasan mendasar mengapa?

Manajemen perubahan dalam asrama bukan tentang mengganti semua hal yang lama, melainkan menyaring yang usang dan menyuburkan yang bermakna, sambil setia pada karisma tarekat dan nilai Injil. Profesionalisme tidak boleh kehilangan ruhnya; profesionalisme harus berpadu dengan spiritualitas yang hidup, bukan sekadar rutinitas rohani. Pengasuh asrama dituntun bukan hanya oleh aturan, tetapi oleh ketaatan yang bernalar-taat dengan hati, bukan taat membabi buta. Maka, asrama tarekat religius bukan menjadi benteng yang menakutkan, melainkan ladang pertobatan, sekolah kasih, dan rumah pembentukan karakter.

Maksud Kegiatan

Adapun yang diharapkan dari kegiatan selama tiga hari ini adalah ; Meningkatnya kesadaran dan kapasitas para Pembina Asrama Katolik dalam pengasuhan berbasis empati di era digital; Tersusunnya strategi pengasuhan kontekstual berbasis nilai-nilai Kristiani dan teknologi; Terjalinnya jaringan kerja antar Pembina Asrama Katolik Kalimantan Barat; Tersusunnya dokumen rekomendasi dan RTL untuk kegiatan lanjutan.

Temu Pembina Asrama Tahun 2025 merupakan momentum penting untuk menyatukan hati dan visi dalam pengasuhan yang lebih bermakna dan berdaya ubah. Di tengah derasnya arus digitalisasi, para Pembina Asrama Katolik tetap menjadi figur utama dalam menyampaikan harapan, bukan hanya melalui layar, tetapi sampai ke hati para penghuni asrama yang dilayani.

By vianmtb