Gagasan Perjanjian Baru tentang karisma, terutama dalam sosok Santo Paulus, jauh dari konsepsi emosional atau luar biasa murni tentang karunia. Karisma adalah karunia kasih karunia, tetapi secara struktural berorientasi pada pelayanan, kearifan dan pembangunan Gereja.
Diterapkan pada kehidupan bakti, wawasan ini menuntun kita untuk merumuskan ulang dengan tepat pertanyaan tentang transmissibilitas karisma pendirian. Apa yang harus ditransmisikan bukan hanya ingatan tentang asal-usul atau retorika identitas, tetapi bentuk kehidupan injili yang mampu menghasilkan persekutuan, misi dan kearifan bahkan hari ini.
Dalam tugas ini, tata kelola dalam pelayanan bukanlah sesuatu yang aksesori, tetapi mediasi yang penting, karena justru di sanalah diputuskan apakah Roh Kudus akan dirasakan dan apakah karisma akan terus membangun tubuh gerejawi di masa sekarang.
(USG 27 – 29 Mei 2026)