Fri. Apr 17th, 2026

Dalam cinta kasih-Nya yang begitu besar Bapa telah mengutus Putra-Nya, Adam baru, untuk membangun kembali dan membawa semua ciptaan kepada kesatuan penuh. Ia yang datang di antara kita telah menetapkan awal mula umat Allah yang baru dengan memanggil di sekeliling diri-Nya para rasul dan para murid, laki-laki dan perempuan, perumpamaan hidup keluarga manusia yang berkumpul dalam kesatuan. Kepada mereka Ia telah mewartakan persaudaraan universal dalam Bapa, yang telah menjadikan kita keluarga-Nya, anak-anak-Nya dan sesama saudara di antara kita. Demikianlah, Ia mengajar kesamaan dalam persaudaraan dan rekonsiliasi dalam pengampunan.

Ia menjungkir-balikkan hubungan-hubungan kekuasaan dan penguasaan dengan memberi diri-Nya sendiri sebagai teladan bagaimana melayani dan menempatkan diri pada tempat terakhir. Selama perjamuan terakhir, Ia mempercayakan kepada mereka perintah baru, untuk saling mengasihi: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34; bdk. 15:12); Ia mengadakan Ekaristi yang, dengan membuat kita ambil bagian dalam roti yang satu dan piala yang satu, memelihara kasih timbal balik. Kemudian Ia kembali kepada Bapa seraya meminta, sebagai perpaduan kerinduan-kerinduan-Nya, kesatuan dari semua sebagaimana diteladankan oleh kesatuan Triniter: “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau” (Yoh 17:21)

Dengan mempercayakan diri-Nya kepada kehendak Bapa, dalam misteri Paskah Ia mencapai kesatuan itu yang telah Ia ajarkan kepada para murid untuk dihidupi dan yang telah Ia minta kepada Bapa. Dengan wafat-Nya di salib Ia telah menghancurkan tembok pemisah antara bangsa-bangsa, dengan memperdamaikan semua dalam kesatuan (bdk. Ef 2:14-16), dengan itu Ia mengajari kita bahwa persekutuan dan kesatuan adalah buah partisipasi dalam misteri wafat-Nya. (La Via Fraterna In Comunita)

Komunitas Religius adalah komunitas persaudaraan yang hidup, tanda-tanda kehidupan dengan menghasilkan buahnya dalam hidup rohani dan spiritualitas yang mendalam. Kristus adalah pokok anggur, kita adalah ranting-rantingnya yang harus melekat dengan erat dan menghasilkan buah-buahnya. Tanpa Yesus, ranting-ranting tidak akan berbuat apa-apa layu dan kering. Komunitas religius bergantung total kepada Yesus sang pokok kehidupan pokok anggur yang benar. (Yoh 15:1-8). Menyatu erat dalam persekutuan, persaudaraan dan buah partisipasi dalam misteri wafat dan kebangkitanNya.

By vianmtb