Sun. May 9th, 2021

Profil

Sejarah Kongregasi MTB Kongregasi Bruder MTB didirikan pada tanggal 25 September 1854 oleh Mgr. Van Hooydonk Uskup Breda. Kongregasi ini mewarisi semangat Mgr. J. Van Hooydonk, yaitu: Simpliciter et Confidenter”, yang dengan kepekaan hati menanggapi situasi zamannya. Para pendahulu kongregasi adalah orang-orang saleh sederhana, peka akan kebutuhan sesama dan tabah menanggung penderitaan hidup. Mereka berusaha hidup menjadi saudara bagi yang lain.

Lewat keutamaan Santa Perawan Maria dan Santo Fransiskus Assisi, mereka berupaya mewujudkan kemuliaan Allah, khususnya dalam pembinaan kaum muda, serta mengutamakan mereka yang miskin dan lemah. Santa Maria Perawan dan Bunda Allah yang dikandung tanpa noda adalah pelindung kongregasi ini.
Para Bruder hendak meneladani Santa Perawan Maria yang menyebut dirinya “Hamba Tuhan” dalam penghayatan ketaatan, kemiskinan dan kemurnian. Sebagai anggota Ordo Ketiga Regular, para bruder mengikuti Yesus Kristus dengan berpegang teguh pada teladan Santo Fransiskus Assisi. Mereka berusaha mewujudkan nilai-nilai pertobatan, kemiskinan, kedinaan dan kontemplasi dalam hidup dan karya mereka.

Para Bruder hendak memelihara khazanah warisan kongregasi ini dengan mengikuti teladan pendiri dan pendahulu sesuai dengan kenyataan semasa.

Huijbergen – Pertapaan Rahib Wilhelmits

Huijbergen yang terletak di perbatasan antara Belanda Selatan dan Belgia adalah kampung kecil yang tidak terkenal. Kota yang tedekat adalah Bergen op Zoom dan Essen – Belgia. Huijbergen – yang arti katanya adalah bukit ilalang – merupakan tanah tandus berupa bukit pasir yang hanya dapat ditumbuhui oleh semak belukar ilalang. Karena bencana alam, wabah penyakit dan akibat perang antara Belgia – Belanda ditambah adanya ketegangan politik antara pemerintah Belanda yang dikuasai orang Kristen Protestan dengan penduduk
Huijbergen yang beragama Katolik, menimbulkan akibat buruk bagi penduduk.

Banyak keluarga menjadi miskin dan meninggal sehingga banyak sekali ditemukan
anak yatim piatu. Waktu itu di seluruh Belanda terdapat kurang lebih 30.000
anak yatim piatu dan biasanya mereka dititipkan di keluarga asuh. Namun
demikian hal itu tidak meringankan masalah, malahan sebaliknya banyak keluhan
bekaitan dengan perlakuan buruk, pemerasan, pelecehan dan diperalat oleh
keluarga asuh. Sebab itu panti asuhan dan asrama menjadi alternatif yang
dirindukan keluarga.

Sementara
itu di Huijbergen sejak abad pertengahan berdiri pertapaan para rahib Wilhelmit
– Beatae Mariae Virginis – Sainte Marie. Biara tersebut terdiri dari satu
bangunan besar dengan tiga lantai, sebuah gereja dan tanah luas untuk
perkebunan, pertanian dan peternakan. Akibat dari revolusi Perancis dan
peperangan antara Belgia dan Belanda, bagian dari gedung biara banyak yang
rusak. Dan tambahan lagi bahwa di dalam biara hanya ada satu anggota, van den
Bergh. Dengan demikian gedung biara kosong dan semakin rusak. Sebelum pindah ke
Belgia, pada  28 Desember 1847 van den
Bergh secara tertulis menyerahkan seluruh harta benda biara Wilhelmit, berupa
gedung dan tanah kepada Vikariat Breda. Keberangkatan van den Bergh ke
Bornem-Belgia merupakan akhir dari biara Wilhelmit dan menjadi awal Kongregasi
bruder MTB yang pola hidup dan karyanya sesuai dengan cita-cita Uskup van
Hoydonk – Fransiskan Ordo III Regular.

Semula
Mgr mau menggunakan tempat tersebut sebagai tempat kongregasi bruder yang baru
untuk menangani anak yatim piatu. Tetapi rencana itu tidak bisa terwujud karena
kebutuhan tempat untuk menampung anak yatim piatu sangat mendesak; lagi pula di
Oudenbosh dekat Huijbergen sudah ada kongregasi Bruder Santo Aloysius (CSA)
yang juga berkarya menangani pendidikan dan asrama. Tanpa melupakan cita-cita
semula, Mgr minta bantuan bruder CSA untuk menangani asrama anak yatim piatu di
Huijbergen. Permintaan Mgr ditanggapi dengan baik oleh Bapak Vincentius,
pemimpin Bruder CSA di Oudenbosh.  Maka
pada tanggal 5 Maret 1849  diutuslah dua
orang bruder  datang ke Huijbergen yaitu
Br. Yohanes dan Br. Dyonisius. Mereka terus bekerja membersihkan ruangan,
mengumpulkan puing-puing  bangunan dan
menata kamar-kamar tidur sebagai persiapan asrama.

Setelah
Huijbergen dianggap siap untuk dihuni, Mgr membuat surat edaran kepada para
pastor paroki  di vikariat Breda. Isi
surat ialah pemberitahuan bahwa di Huijbergen telah ada asrama yang siap
menampung anak terlantar yang tidak diurus oleh yayasan papa miskin di Paroki.
Semula tidak ada pastor paroki yang menanggapinya dengan alasan uang asrama
terlalu mahal dan sering kali anak yatim diangkat oleh keluarga untuk jangka
waktu tertentu. Sampai pada bulan September baru ada satu anak yatim  piatu yang masuk asrama. Akan tetapi
menjelang akhir tahun 1849 datanglah berbondong-bondong kawanan anak miskin
yang sudah bertahun-tahun terlantar. Mereka datang sebagai gelandangan
kecil  compang-camping bahkan  telanjang, kurus, penyakitan,  kotor dan berkutu.  Sering kedua bruder CSA itu jengkel melihat
tingkah laku mereka yang katanya tidak tahu aturan dan hidup seperti
anjing-anjing liar; dan berkelahi seperti kucing. Dan memang bahwa beban
pekerjaan di Huijbergen tidak mungkin diselesaikan hanya oleh dua bruder. Bapak
Vincentius mengirim dua bruder lagi dari Odenbosh, sehingga ada empat bruder
CSA untuk mengurus asrama di Huijbergen; Br. Yan, Br Cassimirus, Br. Agustinus
dan Br. Petrus.

Untuk
mengurus asrama baru dengan tiga puluh lima anak yang sudah sekian lama
terlantar tentu saja banyak kesulitan dan perlu kerja keras. Namun rupanya ada
kesulitan yang lebih besar di luar Huijbergen yang dapat mempengaruhi
kelangsungan asrama.  Pertentangan yang
sangat berpengaruh ialah antara Mgr. van Hoydonk dengan Pastor Hellemons
pendiri bruder CSA di Oudenbosh karena  menyangkut cara hidup bruder. Konflik kedua
pemimpin tersebut akhirnya mempengaruhi kerja sama antara Uskup dengan Bruder
CSA soal tuggas di asrama di Huijbergen. Karena masalah ini tidakdapat deselesaikan,
akhirnya Bapk Vincentius memutuskan untuk menarik Bruder CSA pulang ke
Oudenbosh.  Br. Yan, Br. Cassimirus, Br.
Agustinus dan Br. Petrus. Huijbergen kehilangan empat bruder CSA ini selama
tiga tahun telah menjadi ayah, ibu, kakak dan teman bagi mereka yang selama ini
tidak merasakan kasih saying.

Huijbergen – Kongregasi Bruder MTB

Pada
tanggal 21 Juli 1852 secara resmi Bruder-bruder CSA meninggalkan Huijbergen.
Mereka pulang meninggalkan rasa duka yang mendalam bagi tigapuluh lima anak
yatim piatu di Huijbergen.  Namun mereka
tidak dibiarkan merundung duka begitu lama. Pada bulan yang sama ada dua orang
pemuda yang akan menggantikan tugas Bruder CSA; Petrus Karremens dan Jan
Brouwels. Maksud kedatangan mereka itu tidak hanya untuk mengabdikan diri pada
pendidikan anak miskin dan yatim piatu
tetapi mau menjadi anggota kongregasi bruder yang baru. Hal ini sudah
tentu membangkitkan semangat Mgr untuk mendirikan kongregai bruder sesuai
dengan kemauannya.

 Pada mulanya kedua calon menerima peraturan
sementara yang merupakan pedoman untuk mendidik anak-anak asrama yatim piatu.
Inti peraturan ialah para anggota lembaga itu harus mengusahakan keselamatan
dan penyempurnaan kristiani demi Kemuliaan Allah dengan melaksanakan karya amal
dalam pengajaran dan pembinaan anak-anak seturut peraturan agama suci kita.
Dalam kehidupan sehari-hari mereka harus mengembangkan diri dalam keutamaan
cinta kasih kepada sesame yang menderita, merendahkan diri, menaati, kemurnian
dan pembaktian diri dalam karya amal; terutama dalam pendidikan dan pengajaran.

Mulai
dengan bulan Desember 1852  tugas-tugas
diasrama dikerjakan  oleh dua calon
bruder . Pada saat itu juga Mgr mengangkat Pastor Adrianus Neelen sebagai
pemimpin asrama Ste Marie sekaligus pembimbing calon bruder; yang kemudian hari
beliau menjadi Pemimpin Bruder Huijbergen. Mulai saat itulah asrama di
Huijbergen mulai di kenal dan banyak peminat. Pada tanggal 25September 1854 Mgr
van Hoydonk menyerahkan konstitusi yang baru sebagai tata hidup para bruder.
Penyerahan Konstitusi  yang dikutip dari
Angaran Dasar Ordo III St. Fransiskus menandai berdirinya Kongregasi Bruder
Huijbergen yang dicita-citakan oleh Mgr. van Hoydonk;  dengan nama resminya ialah Konregasi Bruder-bruder Santa Perawan Maria
dan Bunda Allah yag terkandung tak bernoda di bawah perlindungan St.
Fransiskus.
Satu bulan kemudian datang lagi seorang calon bernama Henry
Claeren. Mereka bertiga secara resmi diterima sebagai anggota kongegasi bruder
Hujibergen dengan nama  Br. Antonius  – melayani anak yatim piatu, Br. Fransiskus –
mengolah bukit pasir Huijbergen menjadi taman dan hutan yang rindang dan Br.
Bonaventura – karena ketekunannya dalam studi ia bertugas di sekolah St. Marie.

Tugas
sehari-hari tiga bruder yang sangat mencolok ialah pelayanan dan pengabdian di
asrama yatim piatu. Namun demikain di sela-sela kesibukan mereka tidak pernah
melupakan saat hening untuk menimba ketenangan batin dan membaharui semangat.
Dan kiranya aura peninggalan biara wilhelmit ikut membantu untuk menghidupi
keheningan. Selain itu di sela-sela tugas mereka mencari waku sendiri-sendiri
untuk berdoa, misalnya doa Rosario. Di dalam kehidupan sehari-hari  mereka menampilkangaya hidup sederhana, dan
secara tidak sadar mereka menghayati semboyan Mgr van Hooydonk simpicter et confidenter.

Huijbergen – pendidikan dan pengajaran

Huijbergen
yang sebelumnya berupa pertapaan para rahib St Wilheminus berubah menjadi
Kongregasi Bruder  MTB. Huijbergen yang
tadinya biara yang sunyi – sepi sekarang menjadi ramai karena berubah menjadi asrama
dan tempat belajar anak yatim piatu. Huijbergen yang dulu didiami oleh satu dua
rahib uzur kini didiami oleh belasan bahkan puluhan anak muda yang penuh semangat.
Huijbergen yang sebelumnya diisi dengan kegiatan doa para rahib dan cocok tanam
sekarang dipenuhi dengan kegiatan pendidikan dan pengajaran. Huijbergen yang
tandus hanya menjamin keterbelakangan menjadi harapan untuk masa depan.

Mgr
van Hooydonk mengubah Huijbergen menjadi sarana gereja untuk menyampaikan
ajaran keutamaan kristiani kepada anggota mudanya.  Bapak Uskup menekankan bahwa semua ilmu
pengetahuan dan latihan ketrampilan demi pengembangan pribadi harus diarahkan
pada pembentukan karakter kristiani.  Kegiatan
demi kesehatan jasmani maupun pengembangan bakat dan ketrampilan harus
mendukung keutuhan pribadi. Orang-orang muda diajak untuk  menyerap dalam batin nilai-nilai kristiani
dan pengetahuan sehingga dapat diharapkan berdaya menghadapi hidup di
dunia.

Mgr
menujnuk Pastor Antonius Graumans bersama Br. Bonaventura untuk mengurusi
sekolah Ste Marie. Mereka menekankan bahwa keutamaan harus berjalan bersama
pengetahuan. Setiap bruder haruslah menjadi teladan melatih diri menyerap
pengetahuan dan menampakkan keutamaan kongregasi (karakter). Kegiatan
pendidikan dan pengajaran di Ste Marie selanjutnya dipandang ikut dalam
kontruksi pendidikan katolik di Belanda.
Lambat laun banyak orang mengirim anak-anaknya ke kampung terpencil
Huijbergen. Sebaliknya daerah lain pun memohon kesediaan bruder untuk datang
dan berkarya mengurusi asrama dan sekolah.
Dari sinilah mucul kesadaran untuk bermisioner – keluar dri kandang
sendiri. Hal ini akan membawa konsekuensi dalam cara hidup, cakrawala kedepan,
pelayanan, calon bruder dan termasuk keuangan. Semangat missioner dimulai dari
dalam negeri dan akhirya berani keluar negeri.

Huijbergen – Tanah misi

“Singkawang, Singkawang,
siapa yang mau ikut ke Singkawang – San Khew Djong”

.Semangat
missioner mengandung implikasi untuk semakin terbuka akan kebutuhan dan kerja
sama dengan orang lain.  Pengalaman dan
usaha mengembangkan karya di kandang sendiri maupun di kota-kota lain menjadi
modal untuk pergi ke tempat yang lebih jauh. Pengalaman itu membangun kesiapan
mental dan memberi semangat keberanian untuk ke tempat yang masih kabur.
Simpliciter et Confidenter  membekali Br.
Leo Geers, Br. Maternus Brouwers, Br. Canisius, Br. Longinus dan Br. Seravinus
ke Singkawang – Borneo. Mereka berani bermisi dengan dasar cinta kasih
mengembangkan solidaritas kepada umat beriman.

Niat
menjadi misionaris semakin kuat ketika Uskup Pontianak, Mgr Pasificus Bos OFM
Kapusin, meminta kesediaan Bruder Huijbergen untuk menangani sekolah-asrama di
Singkawang – St Dyonisus yang akan diambil pemerintah kolonial Belanda (1920).
Tanggal 21 Januari 1921 dengan diiringi teriakan San Khew Djong … San Khew Djong,  mereka meninggalkan Huijbergen menuju Singkawang
– tanah asing dan daerah yang banyak tantangan dan ancaman, fasilitas jauh
dari  baik, cara hidup orang-orang  maupun bahasanya yang tidak mereka kenal.  Mereka tiba di Singkawang tanggal 10 Maret
1921 dan Pastor tidak dapat menyediakan tempat tinggal. Mereka terpaksa
menempati sebuah rumah reyot – tidak layak huni di samping pastoran – di tengah
kebun  karet dan kelapa milik seorang penduduk.  Sambil mengurusi sekolah (Holland Chineese
School) dan asrama mereka mulai membangun sebuah rumah pertama dan selesai
tahun 1923. Karena konstruksi dan bahan bangunan dirancang begitu kuat; sampai
sekarang masih megah dan dipakai. Dan Tahun 1926 asrama baru – asrama Santa
Maria  didirikan. Dan tahun 1928 dibuat
gedung baru untuk HCS St. Dyonisius yang akan menjadi cikal SMP Bruder
Singkawang.

Lewat
karya (sekolah-asrama) Bruder-bruder  menyebarkan pengetahuan dan menebarkan iman. Tidak
begitu lama, tahun 1924 bruder memulai sekolah HCS – St Mikael putra dan asrama
di Pontianak. Sepuluh tahun kemudian Br. Canisius membuka sekolah Tionghoa –
Hoi  Sen (bintang laut) di Siantan –
seberang sugai Kapuas. Selama ini sekolah dan
asrama didirikan untuk keluarga miskin. Atas permintaan orang Tionghoa
yang kebanyakan pedagang kaya, didirikan
sekolah dagang dan sekolah Inggris (SD Melati). Bruder-bruder di
Pontianak tidak hanya aktif disekolah dn asrama, mereka juga mengadakan
kegiatan di luarjam sekolah seperti kelompok koor, music dan pramuka.

Bruder-bruder
misionaris mau membuktikan bahwa penyelamatan Kristus juga untuk orang lain
dengan aneka situasi dan kondisinya.
Pada bulan Okteober 1935 lima Bruder MTB dari Pontianak membuka pos misi
ketiga di Banjarmasin. Mereka mulai dengan HCS dan sesudah perang dunia II  mendirikan MULO (1948),  SMP (1952) dan SMA (1956). Selain itu bruder
tetap mengembangkan kegiatan di luar jam sekolah – Sport-Spel-Studi dan
kepanduan.  Selama di Banjarmasin Br.
Mauritius

dipercayai
mengajar di UNLAM untuk Hitung Dagang dan Tata Buku’ sambil mengembngkan metode
membaca awal “Senang Membaca”.

Sebagai
misionaris mereka ingin berbagi kebahagiaan dan mengungkapkan  passion
for Yesus is passion for the people –
 cinta kepada Yesus tentunya ada cinta pula
kepada orang lain. Kerasulan tiga Bruder MTB dari Pontianak  mengalir ke tempat lain yang membutuhkan,
Blitar – Jawa Timur pada tahun 1939 dan ke Kudus pada tahun 1940.  Mereka membantu para pastor Lazaris (CM)
dengan menyelenggarakan asrama untuk HIS (Holland Indische Schools) dan Mulo.
Sedangkan bekerja sama dengan pastor MSF untuk mengurus asrama MULO.

Pengabdian
bruder MTB di tanah misi perlahan-lahan dapat dikatakan  membawa hasil. Masyarakat di Singkawang,
Pontianak maupun Banjarmasin merasakan buah kehadiran bruder MTB. Keadaan
seperti ini berubah ketika terjadi perang dunia kedua;  ancaman tentara Jepang. Tentara menguasai
banyak temat diIndonesia. Bruder-bruder bersama tawanan lain diangkut Jepang ke
Kucing-Serawak. Bruder-bruder dari Banjarmasih mengungsi ke Blitar, tetapi
akhirnya juga ditangkap Jepang dan ditawan di Cimahi-Bandung.  Penderitaan selama jadi tawanan Jepang berat
sekali, kerja keras membuat jalan dan lapangan terbang,  kurang makanan dan obatan serta siksaan.
Satu  Bruder dari Huijbergen menjadi
korban penjajahan Jepang  dan meninggal
di Jakarta ialah Br. Claudius Sommen.
Dua orang bruder menjadi sangat lemah karena siksaan di Kucing. Namun
begitu untunglah bagi Br. Leo Geers, yang tidak mengalami penderitaan selama di
tawanan  karena fasih berbahasa
Jepang.

Setelah
Jepang dinyatakan kalah 15 Agusutus 1945 bruder-bruder yang ditawan di Kucing,
kembali ke Singkawang atau ke Pontianak. Ada juga beberapa bruder yang harus
pulang ke Belanda karena perlu memulihkan kesehatannya. Bruder yang berasal
dari Singkawang segera membersihkan rumah bruder dan sekolah. Di Pontianak pada
Januari 1946 bruder  memulai kegiatan di
sekolah Siantan, Sekolah Dagang dan HCS St Mikael; bahkan bruder membuka asrama
anak yatim piatu korban perang.  Demikian
juga Br. Libertus dan kawan2nya pada bulan Februari 1946 memulai lagi dengan
kegiatan sekolah di Banjarmasin. Sayang sekali kegiatan Bruder MTB di Blitar
dan Kudus tidak bisa diteruskan seelah perang berakhir .Hal ini disebabkan
karena situasi politik yang tidak menentu dan lebih-lebih tenaga bruder tidak
mencukupi untuk itu.

Pengalaman
menjadi tawanan perang tentu menyakitkan, tetapi hal itu tidak menyurutkan
semangat Bruder untuk melanjutkan misi mereka.
Karya misi dipandang sebagai puncak kerasuslan ikut ,.membangun
kesejahteraan jemaat setempat. Bruder-bruder melanjutkn karya kerasulannya ke
Nyarumkop pada tahun 1948 bersama pastor OFM Kapusin dan Suster SFIC. Mereka
mulai mengabdikan diri pada pendidikan untuk anak-anak Daya yang berasal dari
kampung. Brudeer-bruder menangani kursus guru sekolah dasar, kemudian  berkembang menjadi SGB, SGA dan SPG.
Karya-karya  tersebut di atas sungguh
berperan dalam mempersiapkan guru-guru untuk daerah pedalaman Kalimantan Barat.
Selain itu bruder MTB juga ikut membantu mengajar di seminari rendah yang
didirikan tahun 1949. Kegiatan Bruder tiak hanya di sekolah tetapi juga
mengurusi asrama yang ada di Nyarumkop.

Setelah
perang Bruder MTB tidak lagi meneruskan karya
di Kudus, melainkan di Pati. Mulai tahun 1951 para bruder membantu
Pastor MSF untuk mengelola SD dan SMP Keluarga di Pati dan di Juana.

Dan
juga didirikan Wisma Alverna untuk kegiatan di luar sekolah berupa kerampilan
memasak, menjahit, mengetik dan juga kesenian. Sekarang ini Kegiatan Wisma
Alverna diarahkan pada kursus computer, Bahasa Ingris dan menjahit; baik untuk
umum maupun sekolah sendiri. Selain sekolah bruder MTB ikut terlibat dalam
karya kerja sama dengan Suster SFD dalam proyek perawatan orang kusta baik di
Solus Populi Pati maupun Sani. Di tengah-tengh kesibukan tersebut, bruder MTB
masih menyisihkan watunya untuk memberikan pelatihan berkaitan dengan
kepemudaan. Pelatihan ini sangat mendukung dalam kegiatan pemdapingan kaum muda
di luar sekolah atau asrama.

Selama
ini bruder MTB yang kiprah dalam karya misi adalah bruder yang berasal dari
negeri Belanda. Dalam perjalanan waktu kondisi dan kesehatan mereka mulai
menurun, tidak mustahil dari mereka mengalami sakit atau lanjut usia; sehingga
harus kembali ke Belanda. Sementara itu tenaga pengganti dari Belanda tidak ada
lagi dan generasi penerus dari Indonesia (Kalimantan Barat) sampai tahun 1960
baru dua orang. Pada tahun 1965 Bruderan Pati juga dijadikan rumah pendidikan
calon bruder MTB dan tahun 1968 dipindahkan ke Yogyakarta. Maksud pemindahan
ini disamping untuk  meningkatkan
pembinaan calon tetapi brider MTB semakin dikenal oleh para pemuda dari luar
Kalimantan Barat. Prelahan-lahan Kongregasi bruder MTB mulai dikenal dan muncul
pemuda-pemuda yang tertarik menjadi bruder MTB. Dari sekian pemuda yang menjadi
Bruder MTB akhirnya memang bisa memenuhi kebutuhan karya yang ditangani.
Walaupun tidaklah sangat banyak jumlahnya, namun berani dan berusaha
mengembangkan karya pelayanannya sampai pedalaman Kalimantan Barat – Kualadua,
Sekadau, Putussibau bahkan sampai Merauke.

Bruder MTB dari Huijbergen – Sinfu putih, lewat karya
sekolah dan asrama berupaya menunjukkan iman kristiani dengan cara
mengembangkan pengetahuan anak dan meningkatkan daya akal serta tata laku.
Mereka mengupayakan anak untuk memperoleh ‘pendidikan,  respek dan nilai luhur” dalam dirinya. Dengan
segala kekurangan dan keterbatasan mereka berupaya mengintegrasikan iman – akal
– pengetahuan. Dengan semboyan simpliciter et confidenter  Bruder MTB mempunyai misi  Memberi pelayanan yang memberdayakan mereka
yang miskin dan lemah khusunya lewat pembinaan
kaum muda. Mgr.H Bumbun menyebutkan bahwa dalam karya dan hidup “Para Bruder MTB telah menanamkan dalam
masya-rakat (anak) sikap hormat, adil dan saling mengasihi sehingga mereka
membantu minciptakan masyarkat yang lebih manusiawi”
(pesta 75 th MTB).