Fri. Apr 16th, 2021

Nampak parasnya, indah permatanya, bagaikan mutiara yang sedang dicari oleh pria tampan. Sang wanita menantinya dengan rindu dan kehangatan untuk menjadi pendampingnya. Lihai cinta, tak terbendung dengan tajamnya tombak.

Itulah parasnya Sang Wanita idolaku

 Sama-sama mencari, tetapi tidak saling bertatapan, sama-sama berkata-kata, tetapi hanya bisa saling mendengarkan. Nampaknya Dia itu Sang Gadis yang banyak membantu pesona menyelesaikan cinta manusiawi. Katanya, “Tataplah Aku! Aku akan bersamamu, asalkan kau tidak meninggalkanku. Yang Kunanti adalah kesetiaanmu. Yang kuharap adalah pengorbanan cinta bagi orang lain.”

Bolak-balik aku mencari-Mu. Ternyata Engkau selalu ada. Yang kucari hanya mutiara belaka. Terkesan bosan deh mencari-Mu. Seakan-akan aku terdiam membisu. Kududuk sendiri, hanya khayalan ada dalam imanjinasiku. Saat itulah aku hadir dalam kesendirian, aku terdiam membisu, engkau bertanya, “Hai, lho ngapain?”Keraguan-raguan untuk menjawab mulai nampak dalam ekspresiku. “Nga ngapa-ngapa, ko! Aku cuma, diam saja!”

“Nga, aku tahu, kamu sedang dalam kesepian. Kamu lupa bahwa aku menghampirimu agar engkau tak terpisah dari-Ku.” Sebab “Aku memilihmu untuk menjadi bagian dari perjalanan panggilan-Ku. “Jangan takut sebab Aku setia menjagamu”[2Tes 5:25] dan “Aku menyertai engkau sampai akhir zaman”[bdk 28:20]. “Aku memilihmu untuk menjadi penjala manusia”[bdk Mat 4:28-29]. Jangan khwatir menerima segala resiko. Bawalah semua itu bersama-Nya, maka“bebanku pun ringan” [bdk Mat 11:28-30].

Potret pengalaman masa lalu

Memotret kembali pengalaman masa lalu, mungkin membuat sebagian dari kita merasa beban, bisa juga tidak merasa penting, bahkan kita sering mengikuti romantika lirik lagu, yang lalu, biarlah berlalu [Bunga Cinta Lesatari: BCL] membuat pengalaman masa lalu lewat begitu saja. Pada hal bukan itu.

Kita di bentuk hari ini karena pengalaman masa lalu. Orang bijak mengatakan pengalaman masa lalu itu indah, yang membuatmu lebih baik untuk hari ini. Paus Fransiskus dalam evangelli Gaudium mengatakan kita besyukur atas masa lalu yang telah kita lewati. Karena itu, pengalaman masa lalu mengingatkan kita semua untuk mengubahnya menjadi pengalaman yang lebih baik, pahit menjadi manis, sakit menjadi bahagia dan berharap.

Masa kini hadir karena masa lalu mendahului. Itulah sebabnya masa lalu dapat membentuk kisah hari ini. Masa lalu menyimpan kisah yang indah tetapi juga menantang bahkan meyakitkan. Tetapi semua pengalaman itu dapat diubah menjadi manis karena terjadi perubahan makna yang mendorong untuk menjadi lebih baik.

Suatu kisah yang membahagiakan telah ditunjukkan oleh pengalaman masa lalu itu, bagaikan mengejar seorang gadis yang molek parasnya menuju masa depan yang dinantinya. Gadis impian telah menanti di masa depan, bagaikan mutiara indah yang tak bisa dilihat tetapi sungguh dirasakan, dikisahkan paras wajahnya yang lebih konkret. Dia yang melukiskan sang ibunda hadir menemani perjalananmu.

Ibu, engkau bagaikan wajah Bunda Maria yang menampakkan kasih sayang dan cinta. Kumencarimu jauh-jauh, yang menampakkan wajahmu selalu hadir dalam diri sesama. Engkau tak pernah meninggalkan aku. Engkau selalu hadir bagaikan kasih Bunda Maria yang tak pernah lelah dalam mendampingi Sang Jurus Selamat yang menyelamatkan semua manusia.

 

Roncalli, 11 Januari 2021