Sun. May 9th, 2021

Sebelum kita membahas di Postmarxis, pertama-tama kita pahami bagaimana situasi masyarakat pada zaman Marxis yang dominasi oleh kaum kapitalis di zamanya. Tentunya Marxis dia mulai dengan mengeritik filsafat yang dapat membantu dan menyelesaikan masyarakat kelas terpinggir waktu itu. Bagi Marxis kita tidak hanya sampai pada pemikiran bijaksana dalam menjelaskan masyarakat/kelas yang teralienasi dalam kehidupan tetapi mendombrak secara radikal dan harus mengubah kenyataan yang ada. Dengan kata lain Marxis mengandaikan fakta historis adanya manusia yang terorganisasikan berdasarkan hubungan kerja upahan (Suryajaya, 2016:29).
Pemikir Marxis tidak terlepas dari teori perkembangan sejarah manusia“ Fenoneumenalogi of the Mind” yaitu pertama, tentang realitas bukanlah suatu keadaan tertentu, melainkan sebuah proses sejarah yang terus berlangsung. Kedua, karena realitas merupakan suatu proses sejarah yang terus berlangsung, kunci untuk memahami realitas adalah memahami hakikat perubahan sejarah. Ketiga, perubahan sejarah tidak bersifat acak, melainkan mengikuti suatu hukum yang dapat ditemukan. Menurut Marxis, masyarakat kapitalis yang hasilkan oleh kaum proletarisasi bisa berubah. Spirit atau semangat untuk mengubah tidak hanya untuk memahami hasrat untuk mengubah tatanan, tetapi melalui dentuman revolusi yang kuat dari kaum buruh. Jika kita melihat dengan konteks sekarang ini defacto justru yang masih menguasai adalah masyarakat kapitalisme. Jadi cita-cita bagaimana masyarakat tidak terasing bisa dikatakan isapan jempol belaka. Maka muncul pertanyaan posisi kita sebagai masyarakat diuntungkan/dirugikan dan bagaimana dengan kapitalis? Maka di PostMarxis, kita tetap bertahan atau berjuang pada posisi kelas bawah, menengah hingga pada sampai pada posisi sejajar kapitalis.
Untuk sampai pada pergumulan masalah di atas, kita menggunakan paradigma demokrasi plural radikal sebagai landasanya. Dan untuk bisa menganalisa dan menguraikan, mau tidak mau harus berpikir melenceng (ke kiri) dengan mempelajari tentang munculnya budaya-budaya tandingan pada teori Hegemoni (Marxis), Wacana (Semiotika) dan penanda utama (Master Signifier). Untuk bisa membantu pemahaman ini saya menggunakan diagram dibawah ini: Budaya Dominan – Wacana Semiotika Hegemoni (Marx) –Budaya Tandingan
Penanda (Psikoanalisa)-Sub kulture
Budaya tandingan terjadi apa bila kita mencari atau menciptakanya. Maka kalau kita aktivis kita bisa menciptakan budaya tandingan. Maka dalam teori Marxis harus mewakili tiga aspek di atas (wacana Semiotika, Hegemoni dan penanda). Kita memerlukan hegemoni agar dengan sendirinya muncul budaya tandingan dengan dukungan kita sendiri yang melakukan secara demokrasi plural radikal. Sebab apabila tidak ada “Budaya Tandingan” kita tidak bisa berdemokrasi, dengan demikian tidak ada perubahan dalam kehidupan masyarakat yang teralienasi. Maka prinsip moral, keadilan, kesamaan, musyawarah, demokrasi dan lain sebagainya menjadi tidak stabil dan selalu menjadi masyarakat yang ideal dan bayangan semu.
Maka atas nama demokrasi kita ciptakan budaya tandingan, tetapi demokrasi yang kita perjuangkan adalah demokrasi plural. Oleh karena itu mau tidak mau kita mengakui pontensi/kemampuan yang ada di tiga wilayah ini: budaya dominan, budaya tandingan dan sub kultur. Dengan munculnya “Hegemoni” pada “Postmarx” itu karena adanya kesatuan-kesatuan Individu dan wacana yang keluar dari individu bisa terakomendasi/sebagai rekomendasi dengan pengalaman-pengalaman yang dirasakan secara nyata dalam hidup masyarakat. Maka pada wilayah “Mastersignifier”, merupakan pengalaman/experience life yang nyata dirasakan oleh individu. Contohnya: Kepentingan orang-orang yang berkebutuhan khusus itu harus diakomodasi. Itulah Plural. Plural tidak sama dengan Bhineka tunggal ika (multikulturalisme) : kultur itu sudah ada dalam diri individu di masyarakat.
Apabila kita membicarakan tentang “Demokrasi Plural Radikal” maka kita bicara kekuasaan untuk rakyat. Prinsip yang yang kita miliki adalah merelakan diri/passion sebagai yang bersifat egaliter (kesetaraan). Inilah yang kita radikalisasikan. Contohnya yang sangat konkret adalah kelompok “Admadyah, dan kelompok aliran keras dari gereja taman eden. Kelompok ini di larang keras oleh institusi agama. Mereka menuntut eksistensinya agar diakui oleh publik sebagai bentuk prinsip kesetaraan dalam hal mengekspresikan iman kepada Allah yang mereka imani. Tuntutan yang bersifat radikal ini, sebagai bentuk dari implikasi deklarasi HAM yang diakui secara internasional dalam prinsip kebebasan manusia dalam menyampaikan gagasan, ideologi dan berkeyakinan serta kebebasan beragama. Jadi kebebasan agama dan keimanan-atau keyakinan (freedom of religion and belief), merupakan salah satu bagian penting ddari Hak Asasi Manusia (HAM). Hambatan dan kendala dalam aktualisasinya boleh jadi berkaitan dengan ketentuan-ketentuan hukum dan kebijakan-kebijakan Negara tertentu.
Lalu bagaimana dengan nilai-nilai persamaan atas hak yang harus dimiliki manusia dalam masyarakat? Di sini harsu memiliki aspek ‘Equality’ dalam setiap individu ada. Cuma kita hanya bisa dengan cara melihat untuk mengalami ‘Inequality’. Caranya kita hanya meneliti dan mengamati wilayah-wilayah saja yang mengakui ‘Inequality’, maka budaya tandingan lahir dari sini. Akhirnya kita bisa menyimpulkan budaya itu ada aspek perjuangan yang heroik (passion) dengan cara keluar dari “Inequality” ke “quality”. Maka tiga aspek berikut ini dapat melahirkan budaya dan nilai-nilai yang perjuangkan itu harus kelihatan dalam penelitian, seperti teks budaya, lembaga hidup dan realitas hidup (Lived Experince).
Hegemoni muncul untuk menjelaskan kesatuan yang kita temukan dalam formasi sosial yang nyata. Adapun alasannya: pertama, karena hegemoni mau tidak mau harus didasarkan pada ideologi. Kedua, Kesatuan ideologi ini bersifat akariah, radikal dan fundamental. Ketiga, lawannya dengan bermacam-macam ideologi yang bisa dilakukan oleh masyarakat karena kita tahu kebiasaan birokrasi/birokratif terkadang menghambat sehingga ideologi seperti sebuah jalan kehidupan sebagaimana filsafat orang kebanyakan dalam masyarakat. Di sini harus digerakan dari dalam bukan dari luar apa lagi tidak dimobilisasi. Maka yang menggerakan adalah intelektual organik Vs. Intelektual tradisional. Masyarakat bersatu muncul dari hasil kohesi sosial berhegemoni. Dengan kata lain muncul hegemoni ini, dengan cara bagaimana kita dapat bersatunya individu satu dengan lainya. Ini bukan tidak identik dengan memunculkan apa saja dalam wacana tetapi sungguh realitas yang harus dijalankan secara radikal.
Untuk mendukung pembahasan di atas, saya mengambil salah satu contoh teori hegemoni dan psikoanalisa dalam Kajian Budaya Postmarxis yang menggunakan paradigma demokrasi plural radikal adalah: Perjuangan Mama Aleta NTT”
Aleta Baun, seorang ibu dari Nusa Tenggara Timur, meraih penghargaan Goldman Environmental Prize 2013 atas jasa-jasanya di bidang konservasi alam. Aleta lahir dari keluarga petani di kaki Gunung Mutis, Timor, Nusa Tenggara Timur. Di usia muda, dia kehilangan ibunya sehingga dia dibesarkan perempuan lain di sukunya, Suku Mollo. Sebagai seseorang yang hidupnya dibentuk oleh nilai-nilai dari tetua suku, Aleta menjadi pemimpin di komunitasnya, sehingga lama-lama dikenal sebagai Mama Aleta. Seperti dilansir laman Goldman Prize, Suku Mollo berabad-abad bertahan hidup dari keanekaragaman hayati di Gunung Mutis yang disakralkan. Mereka mengumpulkan makanan dan obat-obatan dari hutan, menanam di tanah subur dan menenun baju dari serat alami. Perjuangan Mama Aleta telah dimulai pada 1990-an ketika Gunung Batu Anjaf dan Nausus mulai dirambah industri tambang dan industri kehutanan. Gunung Batu Anjaf untuk dikeruk (dibelah) dan diolah menjadi batu marmer. Batu, bagi orang Timor adalah batu nama. Nama marga ada pada batu-batu itu. Kalau batu nama itu dihilangkan, maknanya sama dengan menghilangkan identitas orang Timor. Bagi Mama Aleta, jika hutan dan batu ditambang, mata air akan hilang. Sementara mereka menggantungkan hidup dari mata air untuk mengairi pertanian dan hutan untuk sumber pangan. Dia pun bertindak, menyatukan komunitas untuk sama-sama menolak upaya korporasi itu demi mempertahankan identitas Suku Mollo. Keinginannya sederhana, agar masyarakat setempat tidak kehilangan sumber pangan, identitas dan budaya daerah. Mama Aleta secara damai menduduki tempat-tempat penambangan marmer dengan aksi yang disebut “protes sambil menenun.” Perjuangan Mama Aleta dan Masyarakat Adat Mollo selama 11 tahun mulai membuahkan hasil pada 2007, dengan dihentikannya operasi tambang di daerah tersebut. Perusakan tanah hutan yang sakral di Gunung Mutis, Pulau Timor akhirnya bisa dicegah.

Dari contoh di atas, Nilai Hegemoni dan demokrasi plural radikal nampak dalam kegigihan mempertahankan tanah leluhurnya dan membangun solidaritas dan menjadi inspirasi bagi kaum tani dan masyarakat adat, khususnya kaum perempuan adat, telah membawanya meraih penghargaan lingkungan hidup “Goldman Environmental Prize 2013″. Kesatuan individu (ibu-ibu) menyatu dengan pemikiran Mama Aleta dengan cara menenun di tempat tambang dan hal ini merupakan aksi damai atas dasar nilai-nilai yang lahir dari gerakan kesadarah bahwa tempat perlu dijaga, dirawat yang fungsinya bukan hanya sebagai tempat magis saja tetapi juga simbol rahim kehidupan masyarakatnya. Mama Aleta, merupakan Perempuan adat yang menjadi pemimpin dan memilih menggerakkan perempuan di tengah struktur sosial yang lebih banyak didominasi oleh kaum laki-laki,” Mama Aleta berhasil menggerakkan Masyarakat Adat Mollo untuk kembali percaya pada kekuatan ritual sebagai media yang mempersatukan perjuangan bersama antara masyarakat adat dengan para leluhurnya, salah satunya melawan agresi pembangunan yang masuk dalam bentuk tambang marmer.

Kesimpulan :
Dari pemaparan/uraian serta contoh hegemoni di atas, ada berapa hal yang dapat kita simpulkan sebagai berikut:
• Sesuatu yang ada di masyarakat, yang diomongkan/dibicarakan akhirnya membentuk sebuah fonem (suara), sebagai elemen/unsur supaya lebih menyatu dan tidak dapat dipaksakan dari atas. Maka kita membutuhkan penanda utama (master Signifier). Ada semacam elemen/gerakanyang dapat dibicarakan semuanya. Elemen ini berpontesi untuk bersuara. Hanya nanti agak bergerak, sejauh mana dekat dengan master signifier. Atau secara sederhananya, masyarakat mau tidak mau mempunyai paktek artikulasi agar proses sama dengan proses pembentukan identitas diri dari gerakan masyararakat itu sendiri. Dari Proses elemen bergerak ke proses indetifikasi dalam psikonalisa, maka proses inilah yang disebut menjadi psikoanalisa (aku-individual). Kalau di sini aku kolektif- bahasa salehnya adalah kami. Misalnya kalau kita kiblat ke gerakan di pasar maka muncul pertanyaan; atas nama apa orang-orang di Pasar bersatu? Atas nama master signifier? Tetapi master signifier itu apa?
• Jadi intinya yang kita bicarakan dari Kajian Marxis dalam demokrasi plural radikal adalah pendekatan melalui tiga tradisi yaitu: Marxisme (Hegemoni), Semiotika (Master Signifier) Dan Wacana (Pluraradikal). Muncul pertanyaan pendekatan “Plural radikal” kita menggunakan untuk apa? Jawabanya: untuk pembentukan masyarakat tetapi lebih adanya perubahan masyarakat dan sasaran utamanya dari kajian budaya tentang cara perubahan budaya dalam masyarakat. Pendekatan tersebut, sebagai jalan perubahan sosial/masyarakat atau budaya melalui plural radikal.
• Wacana bisa menjelaskan mengenai apa yanga ada dalam kaitan dengan masyarakat prural demokrasi. Masyarakat muncul hasil dari praktek wacana/hasil dari omongan sehari-hari. Kalau orang melakukan praktek wacana maka hasilnya sebuah makna. Makna pada akhirnya menghasilkan: “refrence/thing/benda (segala sesuatu). Apa maksudnya thing? Secara tidak langsung kita menyetujui sesuatu yang kita bicarakan. Thing tidak harus berada diluar bahasa/tidak di realitas sehari-hari. Thing yang muncul karena praktek bahasa. Maka Masyarakat ada karena praktek bahasa semacam ini. Pandangan semacam tersebut, berlawanan dengan aliran fondasilism/fondasi tertentu.
• Selain itu dengan munculnya proses artikulasi merupakan strategi seseorang/kelompok yang bisa mengungkapkan sesuatu dan menghasilkan yang bermakna. Maka hanya karena makna, orang bisa berpartisipasi atau ambil bagian secara aktif dalam perjuangan di dalam masyarakat. Di sini kita bisa melihat gambaran hegemoni sebagai logika demokrasi radikal-masyarakat yang merupakan sebagai bentuk subjek dari ciri-ciri masyarakat. Sehingga hegemoni memunculnya masyarakat berpolitik.
• “Formatif Hegemoni” disatukan oleh sebuah Ideologi individu dan subjeknya sebagai Politik. Maka dari sini hegemoni tandingan menciptakan ikatan sosial. Oleh karena itu konsep “PascaMarx” tentang “Hegemoni, Wacana dan Master signifier, sebagai alasan kita belajar budaya. Selain itu munculnya budaya tandingan/Subculture, merupakan keinginan untuk mencari perubahan. Dua alasan tersebut, merujuk pada budaya tandingan yang ingin diciptakan yaitu: dengan menjadi aktivis/peneliti. Untuk mempelajari munculnya kelompok radikal, tiga konsep ( Hegemoni, Wacana dan Master signifier), digunakan dalam mencari alasan munculnya budaya tandingan. Agar tidak terus dikuasai oleh budaya dominan. Budaya tandingan diciptakan atas nama demokrasi, agar tidak terus ditindak oleh budaya dominan.
• Demokrasi yang diciptakan dari kajian Budaya adalah demokrasi plural yang artinya harus diartikan semua. Maka “Demokrasi Plural” berarti kita memberanikan diri untuk mengakui yang baru dalam masyarakat. Prinsip yang mengharuskan masyarakat karena menjalankan demokrasi yang ber sifat/benilai “equality” karena nilai persamaan ingin di radikalisasi sebagai bentuk hak kebebasan individu dalam menyampaikan dan mewujudkan gagasan atau ideologinya.
• Radikalisasi mempunyai prinsip dasar yakni: Demokrasi yang memperjuangkan kesamaan di mana setiap kita harus melihat pihak mana yang masih mengalami inequality atau dengan cara meneliti daerah mana yang masih mengalami inequality. Maka dari sinilah melahirkan demokrasi plural radikal sebagai landasanya.
2. Contoh Wacana Histeris dan Wacana Analis menjadi landasan wacana pendidikan perlawanan dan Pendidikan kritis

2.1. Wacana Histeris
Di wacana histeris ada banyak contoh yang kita temui di Indonesia maupun di daerah di mana saya berasal. Di sini saya mengambil beberapa contoh sebagai representatif dalam wacana histeris seperti : Kasus demo mahasiswa 1998, model pendidikan Ki Hajar Dewantara, Pendikan Sekolah Eksperiman Mangun Kalasan Yogyakarta dan juga nilai pendidikan dari Driyarkara dan lebih mendunia lagi pendidikan Paulo Freire (pedagogik hati/membebaskan). Di sini saya mengambil salah satu contoh yaitu: “Kasus Demo Mahasiswa 1998” dengan judul “TRAGEDI JAKARTA 1998, SEBUAH GERAKAN MAHASISWA”
Hidup Mahasiswa Indonesia, Hidup Mahasiswa Indonesia! Itulah yang sekarang banyak dilontarkan oleh para Mahasiswa di Indonesia, disini akan bercerita tentang Sebuah Gerakan Mahasiswa yang menjujung aspirasi dari rakyat tetapi berakhir dengan sebuah tragedi, Pada Mei 1998 Indonesia mengalami krisis ekonomi yang terbilang parah. Inflasi meningkat, pengangguran dimana-mana, serta ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja pemerintah yang terbilang lamban dan korupsi yang semakin merajalelea.
Pada April 1998, Tepatnya saat Soeharto kembali menjadi Presiden, mahasiswa dari berbagai Universitas di seluruh tanah air menyelenggarakan demonstrasi besar-besaran yang meneriakkan aspirasi rakyat dan menuntut pemilu ulang. Tapi kenyataannya mahasiswa malah dipukuli oleh aparat karena dianggap menimbulkan kerusuhan. Pada 12 Mei 1998, di Universitas Trisakti yang tempatnya tidak jauh dari gedung DPR, mahasiswa berdemo turun ke jalan, pada mulanya demonstrasi diselenggarakan di dalam kampus sesuai dengan anjuran aparat, namun mahasiswa lama-lama tidak terima karena dikekang oleh aparat, mahasiswa menuntut untuk berdemo di gedung DPR agar apsirasi mereka bisa langsung disampaikan kepada pemerintah. Akhirnya para mahasiswa nekat dan hujan peluru pun menghantam mereka, parahnya 4 mahasiswa tewas dalam tragedi ini. Dua hari berselang, tragedi Trisakti memicu terjadinya kerusuhan kembali yang mengakibatkan ratusan orang tewas. Demo masih kembali terjadi, seminggu dari kejadian Trisakti, mahasiswa berhasil menduduki gedung MPR.
Di Istana Merdeka, Soeharto berpidato bahwa ia tidak mampu mengendalikan kerusuhan, Soeharto juga gagal mendapatkan dukungan dari ulama dan tokoh masyarakat, akhirnya Soeharto pun mengundurkan diri, ditambah lagi Soeharto sendiri mempunyai masalah internal dengan 14 menterinya. Usai pidatonya, B.J Habibie yang semula menjabat sebagai wakil Presdien , langsung diangkat sumpahnya sebagai Presiden Republik Indonesia dihadapan pimpinan Mahkamah Agung. Pada 13 Oktober 1998, mahasiswa bersorak atas turunnya Presiden Soeharto yang dianggap mempengaruhi stabilitas nasional, mahasiswa ternyata juga menolak dengan pengangkatan Habibie sebagai Presiden, para mahasiswa menganggap Habibie sama saja dengan Soeharto, kroni masih berkuasa dan militer tampaknya masih melindungi pemerintah. Mahasiswa beranggapan bahwa reformasi justru menjauh dari harapan, dan menuntut Habibie turun saat itu juga. Pada 1 Oktober 1998 mahasiswa kembali berdemo, mahasiswa menganggap militer yang dibentuk dengan tujuan melindungi Negara itu jauh dari harapan, mahasiswa menuntut mencabut dwifungsi ABRI , karena ABRI dianggap tidak berguna. Pada 28 Oktober 1998, ketika mahasiswa berdemo, aparat keamanan yang sudah habis kesabarannya beraksi berlebihan dan mengerahkan serdadu senjatanya untuk menghadapi mahasiswa. Dalam pandangan militer, mahasiswa dianggap musuh Negara yang tidak bisa diatur. Puncaknya saat menjelang sidang istimewa MPR untuk mempersiapkan pemilihan umum, mahasiswa menolak sidang tersebut, karena pesertanya berasal dari penunjukan era Soeharto.
Mahasiswa sendiri menuntut suatu sidang rakyat dengan perwakilan yang terpecaya, selain itu para mahasiswa menginginkan pembentukan Komite Rakyat Indonesia dan menurunkan harga bahan pokok. Akhirnya sidang tetap saja dilaksanakan, sepanjang sidang istimewa mahasiswa terus turun ke jalan dan aparat pun memberikan sikap yang tegas, pada malam penutupan sidang terjadi penembakan di Jembatan Semanggi. 13 November 1998, terjadi kerusuhan di Semanggi, bahkan lebih parah dari kejadian Trisakti, sampai larut malam pun mahasiswa masih harus berhadapan dengan aparat keamanan, alahsail 7 mahasiswa tewas pada pertempuran ini. Pada 18 November 1998, Sehubungan dengan berakhirnya sidang istimewa, mahasiswa kembali turun ke jalan dan menuntut sidang rakyat sejati. Salah satu keputusan sidang istimewa adalah menyelidiki kekayaan keluarga dan kroni Soeharto dan mengadilinya. Namun Habibie yang sudah beberapa bulan menjabat sebagai Presiden tak kunjung juga menyelidiki kekayaan mantan Presiden itu. Mahasiswa kembali turun ke jalan untuk menuntut kebenaran, keterbukaan, dan keadilan. Untuk menyamarkan kesatuan dalam terjadi bentrokan, pada 24 Noveember 1998, tentara mengganti baret aneka warnanya dengan topi rimba, walaupun demikian mahasiswa masih bisa mengenali para mariner karena mereka selalu mennyembulkan baret merah jambunya. Karena banyaknya kasus pelecehan seksual kepada wanita di Indonesia, pada 15 Desember 1998 mahasiswi berdemo dimana pesertanya semua perempuan. Setelah peristiwa Semanggi, tepatnya beberapa minggu sebelum bulan Suci Ramadhan, mahasiswa kembali turun ke jalan dengan tujuan untuk revolusi, bukan lagi untuk reformasi damai. Mereka sengaja melakukan itu demi membalas perlakuan kasar militer terhadap rekan mereka, walaupun pimpinan mahasiswa sudah mengerahkan agar tidak terjadi kerusuhan tetapi mahasiswa tetap ngotot, tepatnya di Taman Ria, demonstran berhasil memasuki garis batas polisi dan memukul mundur aparat keamanan yang dulu sulit dikalahkan oleh mereka. Kini mahasiswa tak lagi gentar, dan perjuangan pun terus berlanjut. Hidup Mahasiswa Indonesia!

Dari kasus di atas, sebagai salah satu contoh untuk menganalisanya dengan “Wacana “Histeris sebagai landasan pedagogi Resisten”. Letaknya di mana? Mengapa disebut resisten? Kita tahu “Wacana histeris” sebagai reaksi atau protes terhadap wacana sebelumnya, yang dapat kita sebut semacam perlawanan. Di bawah ini kita bisa melihat pola diagramnya.
Pembahasanya:
Dari diagram di atas, kita bisa mendeskripsikan bahwa untuk mendapat pengalaman atas identitas dirinya, pelajar/guru/mahasiswa yang berdemo, ternyata mendapat pengalaman keresahan/kegelisahan atas identitas dirinya. Identitas yang pernah mengalami kegelisahan karena wacana tuan subyek yang split/terbelah ($), justru diredakan ketika yang keluar adalah tokoh-tokoh yang dianggap ideal (Presiden Soeharto, Habibi). Untuk menyembuhkan ini adalah identitas yang rusak (Identity Damage). Maka sikap menggugat dan perlawanan dari mahasiswa cukup kuat terhadap guru/Tuan/Presiden (S1) hingga turun dari jabatannya. Ini jika dihubungan dengan “kasus Demo Mahasiswa 1998” tersebut.
Namun bagaimana kita menguraikan “To expose the identy–learning sifnifier Master Signifier artinya mencari identitas baru lewat Master Signifier (S1)- The acquire Master Signifier: Di sini dentitasnya mengalami keresahan lalu mau dicari yang baru, tetapi cara mencari yang baru dengan cara Master Signifier dengan melahirkan identitas baru. Itu dilakukan dengan cara wacana Histeris; yang jadi agen menjadi Split ($). Siapa yang menolong? Jika kita kembali ke wacana universitas yang komando adalah: S1 (mengungkapkan kata-kata) dan S2: merangkaikan kata-kata. “S garis tengah” jadi komando yang keluar bukan bahasa tetapi prodak seni/kesenian. Jadi “S trep tengah menjadi hasrat yang ada dalam tubuh manusia ($) demi wacana histeri. Pertanyaannya bagaimana jika berada dalam posisi agen? Nah disin Agen menjadi terbuka apa yang terjadi? Maka munculnya spontan marah, emosi melalui bahasa tubuh/emosi yang tidak terkendali karena gesture tubuh ikut berteriak di dalam dirinya. Maka histeria melawan oleh karena yang berbicara tubuhnya sebagai landasan untuk bicara. Tubuhnya mengarahkan ke S1. Maka muncul pertanyaan baru. Apa yang dimau oleh oleh tubuh? S2 di sini tugasnya apa? Apa yang diharuskan oleh S1 ini, sebagai wacana kekuasaan/Tuan dengan apa yang terjadi dengan wacana Histeris. Dari sini kita bisa menggambarkan bahwa S1 menyuruh S2 untuk melakukan dan mengalami $ dirinya menjadi terbelah dan dipuaskan dengan obyek (a). Jadi S2 sebenarnya tidak mengetahui persis apa yang dimau oleh S1. Jadi hanya mengetahui gejalanya adalah S1 atau “Simtom” menyuruh menebak dia untuk mengakui dirinya split maka (a) tidak bisa melihat hal ini.
Oleh karena itu $ minta S1 untuk menebak apa yang dimau $ hasilnya apa? Kalau tebaknya benar, S1 berbicara apa? Dia bicara apa? Dia bisa mengalami (a). Jadi S1 dimintakan untuk menyatakan dirinya sedang mengakui (a) kecil tetapi salah dan dia tidak bisa menebak. Kalau dia bisa menebak yang dia omongkan (wacana) kalau dia cara menebak hasilnya benar. Jadi hasil dari produk S1 yang sedang menebak pengalaman $. Jadi jika orang tidak membaca $ maka akan hancur. Kalau bisa menebak akan terjadi kekuasaan/tuan. $ menjadi bicara dengan tubuhnya. Bagaimana diterapkan dalam pedagogi kritis mengangkat/memperjuangkan posisi pertama agar menjadi kesimbangan. Yang menjadi pertanyaan mengapa $? Mengapa $ berdiri di sana? Jawabanya hanya untuk mendapat pengakuan identitas damage. Di sini sangat berperan adalah bahasa muncul, yaitu: S1 dan S2 berbicara dengan pertanyaan $ itu kemauannya apa sebenarnya?
Jadi yang mengalami $ itu adala guru/pengajar. Karena ada kegelisahan, kekacauanya yang dialaminya S1 dengan posisi sebagai: Liyan. Lalu mengapa murid/Mahasiswa di S1/wacana tuan karena itu sarangnya S1. S1 cendrung normative. Maka hal itu bisa masuk akal karena murid-muridnya sudah dididik secara normatif. Dari sini akan terbuka bahwa S1 berhadapan $ artinya diajak supaya mempunyai perhatian sama dengan $. Tetapi dengan cara menyuruh menebak. Jadi tidak akan berubah. Posisi orang di $ menjadi persoalan akan menjadi terasing semacam: alineasi dari masyarakat/individu yang lain.

Bagaimana contoh wacana histeris dalam wacana Pendidikan Kritis. Menurut saya, wacana seperti ini kita dapat mengambil contoh adalah pendidikan Paulo Freire yaitu: pendidikan yang membebaskan yang selalu dimulai dari sunyek dan $ itu diangkat. Jadi wacana histeris wacana ($). Jadi wacana histeris memungkinkan melahirkan pengetahuan/wacana baru lewat S2. Pengetahuan baru muncul bersama. Contoh S2: Kita dapat mengambil “Gerakan Pendidikan Ki Hajar Dewantara”. Ia membuat jenis pendidikan yang berasal dari dalam peserta didik dan dapat dievaluasi pendidikan model zending dan misi (Misionaris) yang adalah mobilisasi peserta demi kepentingan yang terselubung untuk kemajuan perkembangan ilmu tanpa memperhatikan alur yang terdalam pendidikan itu sendiri. Bagi Ki Hajar Dewantara pendidikan zaman itu semacam memindahkan/mentransver model di Barat ke Indonesia. Pendidikan Kihajar Dewantara berproduksi dengan pemikiran-pemikiran/wacana yang dapat melahirkan seni Jawa. Sedangkan S2 di sini berposisi sebagai pengetahuan budaya manusia bukan lahir dari wacana tuan tetapi dari S2. Poscolonial menguatkan pada $ karena kita sudah ditulis/diwacana poscolonial dengan melahirkan kolonialisme. Jadi dengan demikian “Wacana Histeris” menjadi bias yang dipakai dalam sejarah di masyarakat. Misalnya Naskah K.Hajar Dewantara dan Rm. Mangunwijaya. Sedangkan model Dryakara mengembangkan “Teks book” yang dapat melahirkan ahli, ilmuwan). Jadi wacana Histeris wacana yang tidak koheren: tidak beres.

2.1 Wacana Analis

Wacana Analisis merupakan wacana yang dipakai untuk meneliti wacana yang sudah ada yaitu wacana tuan, universitas dan histeris, dengan diagramnya sebagai berikut:

Dari diagram di atas, kita dapat mendeskripsikan bahwa seorang analisis harus menempatkan sebagai (a) kecil. Dan analis sebagai $. Jawabanya tidak sampai disini karena akan mendapatkan apa yang menjadi resiko atau konsekwensinya? Di sini pada akhirnya seorang analisis harus ada di (a) kecil. Dengan kata lain diwacana ini kenikmatan itu yang dicari. $ displit karena kehilangan (a). Maka S2 hati-hati mencari (a).
Selain itu dalam wacana analis jika dihubungkan dengan critical pedagogy guru memahami tentang murid dengan segala komponen identitas diri murid. Sehingga muncul dengan penuh kebebasan dan menikmati serta yang bisa berubah adalah dirinya sendiri (murid). Maka dalam wacana analis ini (a) kecil menganalisis $. $ memiliki dimensi dalam dirinya sebagai murid dan biarkan dia berkembang tanpa di tekan atau dilawan karena hanya mencari kenikmatan saja. Di sini contoh model pendidikan alam, multikulturalisme di Bali dan Jawa Barat. Murid tidak dilihat sebagai tantangan bagi guru justru diterima komponen-komponen dalam dirnya misalnya: menyangkut suku/etnis, agama, sosial, politik, sejarah/historis dan lingkungan pendidikan.
Selain itu saya mengambil contoh tentang implementasi pendidikan multikulturalisme di SMA 3 Yogyakarta. Murid diberi kebebasan untuk mengembangkan diri dari salah satu aspek nilai keyakinan agamanya dengan penuh kebebasan dalam menjalaninya. Misalnya murid dari agama Muslim dibulan Ramadham mereka melakukan kegiatan kerohanian sesuai dengan cara dan ajaranya dan agama Kristen/Katolik diberi kesempatan untu rekoleksi, kegiatan bulan Kitab Suci dan camping rohani/gladi rohani bagi kepercayaan lainya. Jadi guru hanya mendampingi dan menemaninya dan murid diberi kebebasan untuk membuat suatu kegiatan yang membuat mereka nyaman dan bahagia tanpa ada penekanan dan pelawanan, sungguh membebaskan mereka dalam menjalaninya.
Dalam pedagogi kritis ini, siswa dapat menyadari dan merefleksi atas apa yang didapatnya dan mungkin bisa berlawanan dengan identitas dirinya. Dia paham tentang apa yang menjadi permasalahan atas dirinya. Misalnya dia bisa menyadari tentang perbedaan identitas diri dengan orang lain dan kemungkinan itu sesuatu yang berlawanan atas hasrat dan kemauanya tetapi dia bisa menerima apa yang ada dalam dirinya. Potensi konflik ada tetapi lewat konflik mendapat kesadaran penuh dan bisa mengubah idetitas dirinya. Namun meskipun diwacana ini memberikan atau sama-sama mencari kenikmatan tetapi bisa ada kelemahan misalnya guru (a) memetakan kreatif murid secara menyeluruh namun tidak dianalis secara individu ($).
Jadi wacana ini lebih ke identitas group untuk mencari aman, dan bisa saja mengabaikan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh individu. Jadi imaginasi dan bahasa/perpektif murid sangat dihargai karena bebas menafsirkan atas apa yang dialami oleh muridnya. Ada bahaya kemampuan-kemampuan yang dianalis oleh guru tidak bisa diukur karena salah menganalis yang dianalis ($). Maka dalam wacana ini kekurangan elemen-elemen mana yang harus dieleminasi. Guru sukar untuk menebaknya. Tanpa itu guru mengalami kesulitan bila salah menganalis yang dianalis dan S2 diam-diam bisa menyeragam secara paksa namun tidak sampai hati untuk membicarakanya. Jadi wacana ini sama-sama menikmati guru dan murid sama-sama menikmati.
Contoh yang saya ambil adalah pendidikan alam di Bali dengan judul:
“Green School Bali, Sekolah Alam”.
Sekolah terkadang bisa menjadi tempat yang membosankan bagi siswa. Tapi, dengan segala keunikannya, bersekolah di Green School Bali dijamin tidak membosankan. Apa yang membuat sekolah itu berbeda. JOHN Hardy memutuskan untuk menjelajahi Bali pada awal 2006. Dia menunggang motornya untuk berkeliling ke pelosok Pulau Dewata dengan tujuan memenuhi ambisinya membangun sekolah. Namun, karena yang akan dibangun berbeda dengan sekolah kebanyakan, dia mencari lokasi yang tidak biasa.
Di sekolah tersebut, para siswa tidak sekadar masuk ke sekolah alam. No, ini beyond sekolah alam. Di GSB, para siswa benar-benar menyatu dengan alam sekitar. Mereka menimba ilmu di sekolah yang didirikan di tengah hutan. Benar-benar hutan. Bahkan, saat berjalan menyusuri jalan setapak di sekolah beralas tanah itu, Anda akan disambut nyaringnya suara tonggeret. Pepohonan dan bambu tumbuh di mana-mana. Semua bangunan sekolah juga dibuat dengan material alami. ”Kami ingin anak-anak belajar dari alam dan lingkungan sekitar. Mereka yang menentukan apa yang ingin mereka pelajari,” urai Leslie.
GSB resmi dibuka pada 1 September 2008 dengan 97 murid dari grade 1 sampai 8. Kini yang dibuka GSB mulai pre-kindergarten (kelompok bermain) sampai high school (SMA). Jenjang SMA baru dibuka empat tahun lalu. Jumlah siswanya meningkat sangat pesat bila dibandingkan dengan kali pertama sekolah itu dibuka. Saat ini ada 384 siswa yang berasal dari 33 negara. Nah, murid sebanyak itu diajar oleh 64 guru yang berasal dari 15 negara. Dua guru di antaranya bergelar doktor. Sebanyak 20 pengajar lain bergelar master dan 42 guru sisanya sarjana. ”Sebagai kepala sekolah, ini adalah blessing sekaligus challenge, punya banyak murid dan guru dari berbagai negara,” ungkap perempuan berambut pirang bergelombang itu, lantas tertawa. Lalu, di antara para murid, 31 anak Indonesia mendapatkan beasiswa penuh untuk bersekolah di GSB. Ada juga 272 siswa dari Indonesia yang mengikuti after school class. Mereka adalah para siswa dari sekolah-sekolah di kawasan Sibang Kaja. Selain menyatu dengan alam, GSB melebur dengan budaya dan komunitas sekitar sekolah. Penghargaan terhadap komunitas lokal dan budaya setempat juga tampak dari adanya pura di area sekolah. Bukan hanya itu, seluruh warga sekolah juga mengikuti perayaan hari-hari besar Hindu. Misalnya Saraswati, Galungan, Nyepi, atau Kuningan. ”Saraswati biasanya paling ramai. Bisa sampai 500 orang. Mereka merayakan di sekolah bersama warga sekitar,” jelas Leslie.
Ikon sekolah itu diberi nama Heart of the School. Wujudnya berupa tiga rumah panggung bertingkat yang berimpitan. Bangunan yang memiliki luas 4.500 meter persegi tersebut memang layak menjadi jantung sekolah yang berjarak 20 km dari Denpasar itu. Tidak ada semen, apalagi beton, di sekujur bangunan bertingkat tiga tersebut. Seluruh bangunan terbuat dari bambu. Bangunan bambu raksasa yang disebut sebagai konstruksi bambu terbesar di Asia itu tidak sekadar terletak di tengah-tengah GSB. Tapi juga menjadi jantung dari kegiatan siswa dan guru di sekolah tersebut. Pengunjung pasti dibuat terperangah oleh bangunan itu. Bangunan yang secara total menggunakan 2.500 tiang bambu tersebut didesain Elora Hardy, putri John. Bambu dipilih karena tumbuhan dengan nama Latin Bambusa sp itu melimpah di lokasi sekolah tersebut ”Hampir seluruh bangunan di sini memang dibuat dari bambu,” papar Leslie. Hanya ada satu bangunan yang dibuat dari kayu, yaitu ruang yoga. Bangunan di tepi Sungai Ayung menggunakan kayu bekas kapal sebagai material. Satu lagi yang menjadikan bangunan-bangunan di sekolah itu unik, yakni tidak ada pintu alias semua serba terbuka. Filosofinya, sang pendiri berharap para siswa tumbuh di lingkungan yang bebas tanpa sekat. Seperti juga ilmu pengetahuan yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Faktor keramahan lingkungan serta energi yang bisa diperbarui memang menjadi isu sentral di sekolah tersebut. Karena itu, tidak heran para siswa didorong untuk menanam sayur-mayur secara organik. Mereka juga menanam padi yang nanti dimakan bersama di kantin sekolah. Dengan segala keunikan yang dimiliki, sejumlah penghargaan pun berhasil diraih sekolah tersebut. Di antaranya, GSB pernah dinobatkan sebagai Greenest School on Earth (sekolah paling hijau di bumi) pada 2012. Award itu diinisiatori oleh Center for Green Schools at the US Green Building Council.
Keunikan bangunan-bangunan bambu itulah yang mengantarkan GSB menjadi salah satu finalis Aga Khan Award for Architecture pada 2010, penghargaan arsitektur yang diberikan sejak 1977. Bangunan eco-friendly plus hutan yang menjadi lokasi sekolah itu tentu memaksa para siswa yang awalnya masuk sekolah konvensional di kota untuk beradaptasi. Namun, menurut Leslie, proses adaptasi siswa tidak membutuhkan waktu lama. Sebab, pada dasarnya, alam yang penuh petualangan itulah yang disukai anak-anak. Anak-anak bebas berlarian menerabas hutan. Juga berenang di sungai ataupun berendam di kolam lumpur. ”Ya, terkadang mereka jatuh, lecet-lecet, atau menangis. Namun, bukankah itu inti dari hidup? Terkadang kita jatuh dan harus kembali bangkit,” ucap Leslie. Perempuan yang sudah enam tahun tinggal di Bali tersebut mengatakan, karena lingkungan yang sangat fisik itulah, anak-anak didiknya rata-rata selalu fit dan jarang sakit. Itu ditunjang dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti sepak bola, basket, sampai yang spesifik seperti trail running.
Murid-murid memang menjadi pusat perhatian para guru dan staf sekolah. Walau begitu, tidak berarti peran orang tua dilepaskan begitu saja dalam pendidikan anak. Sebaliknya, orang tua sangat dilibatkan. Misalnya, secara berkala ada pertemuan guru dengan murid. Kegiatan-kegiatan bagi orang tua pun banyak di sekolah itu. Di antaranya, kelas yoga dan kelas belajar bahasa Indonesia. Orang tua murid juga dibebaskan untuk nongkrong di wilayah sekolah. Salah satu orang tua murid di sekolah itu adalah model dan presenter Nadya Hutagalung. Presenter Asia’s Next Top Model (cycle 1) itu menyekolahkan dua anaknya di sana. Namun, pihak sekolah tidak memberi tahu identitas dua di antara tiga anak Nadya yang disekolahkan di GSB.
Dengan segala keunikannya, GSB menjadi tempat rujukan untuk belajar tentang berbagai hal. Di antaranya, Dirjen PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Kemendikbud yang berkunjung pada awal Oktober dan para mahasiswa jurusan arsitektur dari sejumlah universitas. Tidak hanya menarik minat dari dalam negeri, reputasi sekolah yang sudah mendunia juga menarik minat para tokoh internasional untuk bertandang ke sana. Di antaranya, aktivis lingkungan Alexandra Cousteau. Ada pula sejumlah public figure dunia seperti aktris Daryl Hannah plus model superkondang kreator acara America’s Next Top Model Tyra Banks.“Tapi, Tyra Banks tidak sedang mencari model di sini,” seru Leslie, lalu terbahak.Dari dunia fashion, ada nama Donna Karan, pemilik brand fashion terkenal DKNY. Dia pernah datang ke GSB. Ada juga magician yang sangat terkenal, David Copperfield. Satu nama tenar lain yang pernah menginjakkan kaki di kompleks GSB adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Ban Ki-moon.***
Contoh sekolah“Green School Bali, Sekolah Alam”.
Maka di wacana sekolah tersebut, bebas dari tekanan dan ingin bebas terhadap strukturalisme yang menanamkan rasis, gender dan kelompok serta nilai tradisional dengan berbasis natural/alam sebagai labotorium siklus kegiatan belajar mengajar tiap hari. Teori pembebasan pada murid juga membentuk dan membangun karakter. Murid menjadi kuat terhadap pontensi yang ada. Jadi karakter kuat dalam diri karena kebebasan dalam menikmati pendidikan itu sendiri. Pedagogi ini mewujudkan pada keinginan guru untuk membangun kekuatan murid dengan kata lain potensi murid didukung oleh guru. Sumber dari murid menjadi kekuatan dalam mendidik dan membangun karakter siswa. Karakter kuat dalam murid karena ada kebebasan yang sangat menikmati atau mengenangkan baginya. Guru tidak menjustivikasi tentang kemampuan murid tetapi bagian dari proses yang membuat murid merasa diri potensinya menjadi kuat baginya untuk mandiri.
Selain contoh sekolah alam ada juga yang menarik adalah wacana pendidikan dengan “Model Pendekatan Montessori. Dikatakan bahwa hasil pemikiran Montessori telah mengubah cara berpikir dan pandangan dunia tentang pendidikan sebagai tonggak pembentukan bangsa, khususnya di usia dini dan pendidikan seumur hidup (Long Life Education).
Di sini Montessori akan membawa kita menghargai hidup, perjuangan dan pemahaman yang lebih dalam mengenai fungsi pendidikan secara global bagi pembangunan masyararakat dan bangsa. Hal itu tampak dari perubahan-perubahan signifikan yang sudah digoreskan oleh Montessori dalam gerakanya dan mengubah setiap bangsa untuk memperbaiki dirinya. Di sini peserta didik difasilitasinya secara holistik dengan mengeksplorasi dunianya dan menemukan pengetahuan baru melalui lingkungan, guru, teman, dan alat-saranan peraga untuk kegiatan belajar mengajar tiap hari.
Kesimpulan singkat:Wacana Histeri dan Analis
Wacana Histeris Wacana Analis
Dalam wacana ini agent ($) mengungkapkan apapun tentang kegelisahannya dan kegalaunya ke (S1), yang disampaikan sebenarnya objek (a) kecil yaitu: hasratnya. Dia menyampaikan kepada Liyan (S1) sehingga menghasilkan pengetahuan Baru (S2).

Sedangkan dalam wacana analisa agent (a) terus menerus berusaha membahas tentang objektnya kegelisahanya dan keinginantahuanya. Dia ingin menganalis, mencari tahu, menguraikanya dan ingin menjelaskan apa yang membuat buyar dalam pemikiranya kepada ($) Hasilnya Subyektif, walau sebenarya dia berbicara atas nama pengetahuan (S1). Namun sama-sama mencari rasa aman dan kenikmatan.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Utama:
Sunardi St. (2016) Logika Demokrasi Plural –Radikal, Bahan Bacaan Kuliah Kajian Budaya, IRB-USD Yogyakarta.

St. Sunardi, (2015) Psiko-analisa Dalam Kritik Ideologi, Bahan Bacaan Kuliah, IRB USD Yogyakarta

Pendukung Bacaan:

Budi, Sulistyo, Noor, dkk., (2014) Implementasi Pendidikan Multikulturalisme di SMA Daerah Istimewa Yogyakarta, Yogyakarta: Balai Pelestarian Nilai Bangsa (BPNB).
Ihsan Ali-Fausi, dkk,. (2011) Kontroversi Gereja di Jakarta, Yogyakarta: Penerbit CRCS UGM.
Lindhonm, Tore, W.Cole Durham, Jr. (editor), Rafael Edy Bosko, M.Rifa’I Abduh (Penerjemah), (2010) Kebebasan Beragama Atau Berkeyakinan: Seberapa Jauh? : Sebuah referensi tentang Prinsip-prinsip dan Praktek.Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Magini Agustina Prasetiyo, (2013) Sejarah Pendekatan Montessori, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Nezar Patria & Andi Arief, (2003) Antonio Gramsci Negara & Hegemoni, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Parekh, Bhikhu. (2008) Reithinking Multiculturalism. Yogyakarta : Penerbit PT Kanisius.
Samho.Bartolomeus (2013) Visi Pendidikan Ki Hajar Dewantara: Tantangan dan Relevansi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Sanjay, Martin dan Rio Apinino, (Editor), (2016) Mencari Marxime: Kumpulan Essay, Jakarta: Marjin Kiri
Ubaedillah A, dan Rozak, Abdul. (2013), Pendidikan Kewarganegaraan (Civi Education); Demokrasi, Hak Asisi Manusia dan Masyarakat Madani, Jakarta: Kencana Permada Media Group.
Wijaya, Cuk Ananta. Kamdani. (editor), (2002) Hegel. G.W.F, Fisafat Sejarah; The Philosopphy of History, Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Human Rights Working Group (HRWG): Indonesia’s NGO Coalition for Internatioanl Human Rights Rights Advocacy 2014. Depok: Penerbit Herya Media.
http://www.jawapos.com/read/2016/10/15/57542/green-school-bali-sekolah-alam-yang-bikin-penasaran-ban-ki-moon diakses 9-6-2017 pukul 9:26 PM
http://fokus.news.viva.co.id/news/read/405691-aleta-baun-perempuan-pahlawan-lingkungan-dari-ntt diunduh 7 Juni 2017 pukul 7.39 PM)
https://id.wikipedia.org/wiki/Artikulasi. Di akses Jumat, 9 Juni 2017 pukul 04: 29 PM
TRAGEDI JAKARTA 1998, SEBUAH GERAKAN MAHASISWA
https://id.wikipedia.org/wiki/Simtoma. Diakses, 9-6-2017. Pukul 8.22 PM