Sun. May 9th, 2021

Pangantar
Mengapa para pekerja dalam sistem kapitalis mengalami alienasi menurut Marx? Sejauh mana gagasan itu dipengaruhi oleh Hegel dan Feuerbach?Sebelum kita merumuskan alasan mengapa para pekerja dalam sistem kapitalis mengalami alienasi menurut Marx. Pertama-tama kita harus memahami teori Marx itu sendiri. Dalam mengemukakan teori ini, Marx sangat dipengaruhi oleh Hegel. Oleh karena itu ada baiknya jika di sini disebutkan satu persatu ide Hegelianisme yang juga menjadi isi penting dari Marxisme: Pertama, realitas bukanlah suatu keadaan tertentu, melainkan sebuah proses sejarah yang terus berlangsung. Kedua, karena realitas merupakan suatu proses sejarah yang terus berlangsung, kunci untuk memahami realitas adalah memahami hakikat perubahan sejarah. Ketiga, perubahan sejarah tidak bersifat acak, melainkan mengikuti suatu hukum yang dapat ditemukan. Keempat, hukum perubahan itu adalah dialektika, yakni pola gerakan triadik (komunikasi pribadi yang terdiri dari tiga orang) yang terus berulang antara tesis, antitesis, dan sintesis. Kelima, yang membuat hukum ini terus bekerja adalah alienasi-yang menjamin bahwa urutan keadaan itu pada akhirnya akan dibawa menuju sebuah akhir akibat kontradiksi-kontradiksi dalam dirinya. Keenam, proses itu berjalan di luar kendali manusia, bergerak karena hukum-hukum internalnya sendiri, sementara manusia hanya terbawa arus bersama dengannya. Ketujuh, proses itu akan terus berlangsung sampai tercapai suatu situasi, di mana semua kontradiksi internal sudah terselesaikan. Kedelapan, ketika situasi tanpa konflik ini tercapai, manusia tidak lagi terbawa arus oleh kekuatan-kekuatan yang bekerja di luar kendali mereka. Akan tetapi, untuk pertama kalinya manusia akan mampu menentukan jalan hidup mereka sendiri dan tentunya mereka sendiri akan menjadi penentu perubahan. Kesembilan, pada saat inilah untuk pertama kalinya manusia dimungkinkan untuk memperolah kebebasannya dan pemenuhan diri dan kesepuluh, bentuk masyarakat yang memungkinkan kebebasan dan pemenuhan diri itu bukanlah masyarakat yang terpecah-pecah atas individu-individu yang berdiri sendiri seperti dibayangkan oleh orang liberal. Akan tetapi, merupakan sebuah masyarakat organik, di mana individu-individu terserap ke dalam suatu totalitas yang lebih besar, sehingga lebih mungkin memberi pemenuhan daripada kehidupan mereka yang terpisah-pisah. Dari kesepuluh kesamaan tersebut, kuantitas materil yang semakin kompleks bisa berubah menjadi suatu kualitas baru.
Dari gagasan di atas, menurut Karl Marx, hal paling mendasar yang harus dilakukan manusia agar dapat terus hidup adalah mendapatkan sarana untuk tetap bertahan hidup. Apapun yang bisa menghasilkan pangan, sandang, dan papan bagi mereka, serta untuk memenuhi kebutuhan dasar. Tidak ada yang bisa menghindar dari tugas memproduksi hal-hal itu. Namun, ketika cara-cara produksi berkembang dari tahap primitif, segera muncul kebutuhan agar tiap individu dapat melakukan spesialisasi, karena menemukan bahwa mereka akan lebih makmur dengan cara itu. Lalu, orang menjadi bergantung satu dengan yang lain. Produksi sarana hidup kini menjadi aktivitas sosial, bukan lagi aktivitas individu. Dengan cara pandang seperti itu, terbentuklah kelas-kelas sosial ekonomi, yang juga mengakibatkan timbulnya konflik di antara kelas-kelas itu.
Atas dasar konflik tersebut, muncul paham Marxisme yang merupakan dasar teori komunisme modern. Teori ini tertuang dalam buku Manisfesto Komunis yang dibuat oleh Marx. Maka muncul paham Marxisme yang merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan para pekerja / kaum buruh (kelas sosial rendah). Kondisi para pekerja sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum, sementara hasil pekerjaan mereka hanya dinikmati oleh kaum kapitalis. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya “kepemilikan pribadi” dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk menyejahterakan para pekerja, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx, para pekerja akan memberontak dan menuntut keadilan. Inilah dasar dari marxisme. Dari gagagan tersebut Marx berpendapat bahwa terjadi alienasi, karena para pekerja belum menyadari universal Mind. Masih di Mind kecil dan terjadi kesenjangan antara pekerja dan pemilik modal maka muncul sumber konflik itu ada pada perbedaan kepentingan buruh dan pemilik modal yang merupakan karakter dasar masyarakat kapitalis. Oleh karena itu alienasi terjadi: (1) bila org itu terkungkung pada individu Mind ( kecil), (2) bersaing satu sama lain bila dipecah-pecah oleh Mind besar (Bos), sehingga mereka tidak punya kebebasan atau kesadaran dalam mendapat hak atas upah kerja mereka yang adil dan (3) Kebebasan itu terjadi jika mereka menyadari kalau dipecah-pecah menjadi Individu Mind.
Maka muncul pertanyaan sejauh mana gagasan Marx dipengaruhi oleh Hegel dan Feuerbach? Menurut Feuerbach bentuk keterasingan (alienasi) manusia adalah agama. Kalau Marx yang membuat manusia itu teralienasi itu uang. Namun Hegel, teori menyatakan bahwa yang individu itu muncul dari universal, maka proses penyadaran terjadi kalau yang indvidu sampai pada tingkat universal. Universal ini bersifat natural dengan berlapis tingkatannya. Oleh karena itu sangat penting akan kesadaran terjadi kalau itu diraih lewat dialektika. Oleh sebab itu Hegel berpendapat bahwa ensensi manusia pertama itu adalah Mind. Mind harus masuk dalam sejarah melalui sejarah dialektika. Tujuan sejarah ini agar manusia menuju kebebasan dalam hidup. Kebebasan direalisasikan kalau individu-individu menyadari akan universal Mind. Maka hubungan dialektika adalah hubungan yang menyatu tesis dan antitesis.
Selain itu kita tahu bahwa alienasi ini sebelumnya dipakai oleh Marx, yang sebelumnya dipakai oleh Hegel dalam bukunya “The Phenomenology of Mind”. Alienasi konsep Hegel adalah keterpisahan seseorang dari roh universal (Mind). Akibatnya orang tersebut bisa memposisikan orang lain sebagai asing dan musuh bahkan liyan. Sedangkan alienasi konsep Marx suatu keadaan dimana seseorang atau kelompok bahkan masyarakat mengalami ketidak berdayaan dan kenyataan eksistensi yang tidak manusiawi. Berkat Marx kapitalisme semakin disempurnakan. Maka dalam buku “The First Marxisme”; ada dua gambaran besar yang dikritik olehnya yaitu: (1) Ekonomi adalah bentuk dahsyat dari pengasingan masyarakat dan (2) Kekuatan ekonomi terbesar ada di kelas pekerja. Sehingga Marx mengeritik ekonomi: bahwa pekerja itu disamakan sama seperti komoditas, maka kalau diwacanakan bahwa para kapitalis jika ditelusuri hasil keringat para pekerja.
Maka dapat disimpulkan bahwa selain alienasi terjadi karena factor ekonomi. Menurut Marx hidup adalah productif life. Kesadaran manusia diperoleh dari life. Kehidupan masyarakat sipil supaya orang mencapai kesadaran. Sedangkan Hegel Kesadaran menentukan kehidupan. Marx merubah alienasi dengan merubah hubungan kerja. Dua hal penting yang dirubah yaitu (1) spirit yang mendorong Marx melakukan perubahan ekonomi. Kesejahteraan umat manusia dan kesempurnaan hidup pribadi kita dapat dicapai dengan kerja, jika seseorang hanya bekerja untuk dirinya sendiri akan menjadi ilmuwan dll tetapi dia tidak akan sempurna. Orang-orang besar adalah orang-orang yang meluhurkan dirinya dengan bekerja untuk orang lain menyumbangkan hidup untuk kemanusian . Sukacita yang dapat adaalah sukacita kesempurnaan. (2) hubungan antara kesadaran dan hidup. Selain itu itu kita harus menyadari manusia yang adalah bagian dari Mind dan menurut Feurebach: manusia dalah spesies sedangkan Marx mausia adalah mahluk produktif, namun paham oleh Gereja: Makhluk yang menjalankan pekerjaan. Dari ideologi tersebut, menimbukan kritik diri Boudriat manusia adalah mahluk Konsumtif. Jadi Inti dari Alienasi: kita harus mengetahui secara jelas perbedaan antara hegel dan Marx tentang jalan keluar alienasi.
Bagaimana pendapat Feuerbach soal alienasi? Alienasi yang kuat adalah lewat agama. Dalam agama, alienasi bisa berbicara tentang Tuhan, yang bagaimana dan siapa?. Tuhan bentuk keasingan dari manusia. Cerita-cerita manusia hasil dipikirkan oleh manusia sehingga disebut Tuhan. Semakin kita memperkaya diri Tuhan sebagai maharahim, semakin mempermiskin kita. Hal ini sering disebut sebagai (Teologi) Antropologi yang terpeleset. Jadi Tuhan dipakai sebagai esensi apa yang kita bicarakan tentang Tuhan sebetulnya diri kita.
Maka menurut Feuerbach, manusia kehilangan sesuatu. Ia diasingkan, dialienasikan dari dirinya sendiri. Dan untuk menjadi sembuh dari penyakit alienasi, proses ini harus dibalikkan lagi. Manusia harus mengerti, bahwa Allah hanya merupakan ciptaan dari ia sendiri, sehingga ia bukan hamba lagi.Timbulnya agama disebabkan oleh sebuah aspirasi, sebuah cita- cita. Dalam bentuk sebuah aspirasi manusia dalam batinnya mengandung suatu cita- cita kesempurnaan dan kebahagiaan, yakni kebijaksanaan, cinta kasih tanpa pamrih, perasaan keadilan. “Individu memang dapat dan harus merasakan dan mengakui dirinya terbatas, akan tetapi ia hanya dapat berbuat demikian karena ia merasakan, mengintusikan atau memikirkan kesempurnaan dan kekekalan umat manusia”.
Maka bagi Feuebach, agama itu hanya merupakan perwujudan cita- cita: “Ilusi religious terdiri dari membuat suatu objek yang bersifat imanen pada pikiran kita menjadi lahiriah, mewujudkannya, mempersonifikasikannya.”Atribut- atribut Ilahi merupakan perwujudan dari predikat- predikat manusiawi, yang tidak sesuai dengan individu manusia sebagai individu, melainkan sesuai dengan umat manusia jika dilihat dalam keseluruhannya: Allah yang kekal, itulah akal budi manusia dengan coraknya yang bersifat mutlak. Nilai –nilai k ebijaksanaan, karsa, keadilan, cinta kasih, sekian banyak atribut kekal yang seluruhnya merupakan hakikat manusia yang sesungguhnya, dan yang (oleh manusia) diproyeksikan secara spontan di luar dirinya; ia mengobjektifkan hakikat itu dalam suatu subjek fantastis, suatu hasil khayalan semata- mata yang disebutnya Allah.
Dari wacana di atas, muncul akibat- akibat sikap manusia itu cukup negatif dan terwujud terutama dalam dua bentuk: dalam terjadinya suatu kehampaan nyata dalam manusia: dengan berbuat demikian, manusia mengalienasikan dirinya. Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa ia telah kehilangan bagian yang terbaik dari dirinya dan telah “mendehumanisasikan dirinya”. Ia memiskinkan dirinya seraya memperkaya Allah.
Siapa itu Intelektual Organik menurut Gramsci? Apa tugasnya dalam proses Hegemoni tandingan? Berilah contoh dari lingkungan daerah anda sendiri
Sebelum kita menjawab siapa Intelektual Organik menurut Gramsci, pertama-tama kita mengikuti teori hegemoni Antonio Gramsci yaitu; bahwa situasi dalam lingkungan kerja di masyarakat terbentuk dari “culture bangunan atas dan bawah” yang sama-sama sedang membicarakan masyarakat. Berbicara mengenai masyarakat di sini, ditinjau dari dua aspek yaitu: (1) Di tinjau dari base yaitu: hubungan produksi/hubungan kerja/antara karyawan dan pemodal dan relasi antara karyawan yang satu dengan yang lain. (2) Superstruktur yaitu dilihat dari segi unsur hukum dan politik. Menurut Marx Culture dibangun dengan menempatkan posisi di atas asalnya dari bawah. Bentuk dan dan praktik budaya yang berasal dari saat ekonomi tertentu berkembang. Jadi Suprastruktur memiliki area yang luas dan produksi bahan merupakan aspek penting dari basis ekonomi jadi ekonomi menghasilkan budaya. Sebagai Perbandinganya kita lihat pada skema berikut ini:
Teori Suprastruktur (Marx) Teori Suprastruktur (Gramsci)
Yang menentukan adalah struktur (base-Superstruktur-yang menggerakan dari bawah.
Merevolusi sebuah hubungan . Kritik Croche pada Marx hanya ketika Marx menulis “Das Capitalis” dll maka ada gagasan tentang kelas pekerjaan & kapitalis. Yang menentukan atas suprastruktur (ideologi, gagasan, value) penyadaran ideologi bisa dipakai untuk menyadarkan masyarakat dan Gramsci tidak mengikuti pendapat Marx dan Croche yaitu dalam etika politik.
Gramsci dekat dengan idealis tradisional yaitu Hegel. Kultur dipertanyakan Gramsci dalam lingkup regional /wilayah. Kedudukan penting Gramsci dalam ilmu sosial: Masyarakat dibentuk bisa melekat,menyatu bukan karena hubungan produksi seperti Marx melainkan lewat hubungan ideologi, tata nilai (suprastruktur).

Dari perbandingan di atas, maka muncul kaum Intelektual organic yaitu: lahir bersamaan dengan keluarnya masyarakat yang akan mengkounter hegemoni. Fungsinya untuk mengalami perubahan salah satunya imanen yang muncul dari dalam diri sendiri. Dari tidak ada leader tetapi tetap ada sistemnya. Sedangkan Intelektual profesional (elit) akan pergi /datang hanya sesaat melihat keadaan. Bisa menjadi intelektual organic jika direduksi. Maka leadership kultural adalah proses untuk membuat hegemoni tandingan. Di sini Gramsci mendeskripsikan tugas Intelektual organic berperan penting untuk membawa perubahan. Intelektual macam ini bergerak langsung dengan kelas atau perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan mereka untuk berbagai kepentingan, serta untuk memperbesar kekuasaan dan kontrol. Intelektual organik aktif dalam masyarakat, yakni mereka senantiasa berupaya mengubah pikiran dan memperluas pasar. Intelektual organik selalu aktif bergerak dan berbuat. Gramsci mengusulkan dua strategi. Strategi pertama yaitu: menggalangkan “ blok sejarah” yang merupakan gabungan berbagai kekuatan dalam masyarakat termasuk dengan kelompok-kelompok yang dulunya mungkin dianggap musuh. Aliansi ini diharapkan bisa menjadi basis menumbuhkan budaya perlawanan terhadap hegemoni borjuis. Strategi kedua adalah dengan mendorong bangkitnya intelektual “organic” yang berasal dari bawah. Ini berbeda dari intelektual Non organic (elitis). Intelektual organic lebih mampu berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh rakyat kebanyakan karena mereka berasal dari kalangan sosial yan sama.
Oleh karena itu, yang dimaksud kaum Intelektual organic Gramsci: proses alamiah, situasi, hegemoni dominan diedukasi lewat proses di dalam pendidikan Tradisional. Jadi Pendidikan Organik lahir dari dalam masyarakatan sendiri. Selain itu intelektual organic menghasilkan kaum intelektual yang bisa membanngun yang hegemoni. Ada hasrat untuk mengubah dan butuh intelektual yang dapat mengubah. Jadi Hegemoni menjadi logika atas demokrasi liberal.
Dibawah ini saya memgambil contoh Warung Padang Vs. Warung Khas Flores di Ende-NTT.
Di Flores Tengah (Ende) ada seorang biarawati SCJ, lulusan AKS Jurusan Tata boga, membuka Warung makanan khas Flores. Tujuanya agar kembali mencintai makanan lokal berbasis natural, sehat, gisi dan bersifat organic (Nasi Jagung, Umbian-umbian,sayur-sayur organik, ayam kampung dan ikan laut). Ide ini adalah hasil pemikiran bersama kelompok kaum ibu atas situasi di sekitar terminal Bis di Ende, di mana banyak warung didominasi oleh pendatang salah satunya warung padang. Dan banyak pemuda-pemudi yang bekerja di warung padang ini dengan upah yang tidak standar.
Dalam mind masyarakat atau pelanggan bahwa makanan yang bergisi dan sehat adalah menu-menu yang disajikan dengan bumbu-bumbu yang pedas, manis, bersantan dan banyak mengandung karbohidrat, lemak dan protein adalah warung para pendatang (Padang). Untuk mengubah mind ini kelompok ibu-ibu di bawah pimpinan seorang biarawati melakukan sebuah gerakan lewat pemikiran dan wacana untuk membuat tandingan makanan yang berbasis organic dan rendah lemak dan tinggi protein yaitu: umbi-umbian, sayur-sayuran dan ayam kampung dengan bumbu desa khas Flores.
Dalam perjalanan selanjutnya warung khas makanan Flores ini semakin banyak pelanggan yang bukan hanya orang lokal saja, tetapi para turis manca negara justru ingin menikmati sajian lokal dan yang menjadi pelanggan tetap adalah para sopir dan penumpang asli di Flores. Usaha ini mendorong kaum ibu-ibu dan para pemuda-pemudi asli Flores untuk bekerja berdasarkan hasil ide bersama dan mempunyai komitmen dan nilai yang tinggi bahwa di era moderen ini makanan sehat tidak semestinya hasil dari warung kapitalisme. Selain itu dengan adanya warung khas Flores ini sangat mengurangi angka penggangguran, mengurangi untuk menjadi TKI di Malaysia sekaligus mengangkat dan memperkenal makanan lokal kepada publik. Yang menarik adalah manajemennya adalah berbasis cooperation yaitu disini tidak ada pemimpin dan wakil , semuanya bekerja dan mendapat upah yang sama. Hal ini sudah disadari bahwa ide membuka warung ini atas dasar lahir dari pemikiran bersama dan ide kolektif untuk menunjukan kepada masyarakat bahwa semua orang bisa sukses dan hidup asalkan mempunyai pandangan yang dapat mengubah hidup kearah yang baik atas kesadaran sendiri . Bagaimana cara mempertahankan warung khas Flores ini agar tetap bertahan tanpa harus pemimpin yang terkadang muncul relasi Tuan dan hamba atau Pemimpin dan karyawan. Maka dari contoh ini, bila dikorelasikan dengan teori Gramsci, nampak dalam kesadaran yang lahir secara alamiah dan diedukasi lewat proses dalam pendidikan tradisional dan masing-masing dengan modal kerja keras dan disiplin. Dampak positifnya adalah mengangkat perekomian masyarakat kecil dengan harga komoditas semakin mahal sehingga antara pemilik warung dan para petani sama-sama sejahtera dalam bidang perekominan rakyat tanpa didominasi oleh warung pendatang dan tidak ada kelas-kelas antara makanan pendatang dan makanan asli dari tempat yang ada.
contoh satu fenomena budaya pop yang bisa berfungsi sebagai ISA
Salah satu contoh fenomena budaya pop yang bisa berfungsi sebagai ISA adalah: Budaya Pop “Harajuku Style” Gaya berpakaian khas Jepang. Pengaruh kebudayaan Jepang terhadap gaya pakaian Remaja Indonesia yaitu ;dampak dari imprerialisme budaya pop jepang tidak hanya mempengaruhi industri hiburan di Indonesia seperti komik dan tayangan kartun khas Jepang tetapi budaya Pop Jepang juga ikut mempengaruhi gaya berpakaian para remaja di Indonesia.. Harajuku kini sangat menarik minat anak muda dunia, termasuk Indonesia. Gaya, pilihan warna dan motif pakaian yang dikenakan para kaum muda diseputar Harajuku banyak ditiru oleh kalangan muda di Indonesia. Para Kaum muda ini hadir membawa produk persilangan budaya baru yang merupakan perpaduan dari budaya Jepang dan budaya Indonesia. Gaya ini dicirikan dengan gaya bebas memadukan sesuatu dengan tidak lazim, merdeka berbusana tanpa standar atau patokan yang mengekang ekspresi individu. Dampaknya gaya Harajuku akhirnya juga mempengaruhi pasar fashion di Indonesia dengan cepat baik dari busana, rambut, rias wajah sampai aksesoris dan lain-lain. Di Indonesia gaya Harajuku atau dandanan khas gaya anak muda dipopulerkan oleh beberapa penyanyi misalnya group Ratu, Pinkan Mambo, Agnes Monica dan J-Rocks. Dan akhirnya dikuti oleh remaja Indonesia dalam merayakan event pentas seni sekolah atau hiburan besar di moment tertentu.
Jika dikaitkan dengan teori ISA (Idelogical State Apparatus) dari Louis Althusser bahwa dalam suatu negara bahwa ruang public sangat terbuka lebar dengan menunjukan kepatuhan sukarela dalam menjalani sesuatu. Di sini diwujudkan dalam bentuk fashion Harajuka yang sama-sama menyadari akan relasi-relasi produksi Jepang sangat membantu para remaja Indonesia dalam fashion Harajuka Style. Wujud institusi ini ada dalam group/club fashion Remaja dengan menjalaninya lepas bebas. Dari contoh dan teori di atas mengarahkan kita untuk memahami apa yang sebenarnya satu fenomena budaya pop yang bisa berfungsi sebagai ISA. Semua apparatus, ideologis negara, apapun posisi mereka, turut berperan atas hasil yang sama yaitu: reproduksi, relasi-relasi produksi yang tak lain adalah relasi-relasi eksploitasi yang kapitalis. Selain itu, setiap apparatus tersebut turut berperan atas hasil yang sama, sesuai dengan perannya masing-masing. Maka sikap kebebasan dalam menggunakan produk Jepang oleh Remaja Indonesia tidak terbebani pada negara atau organisasi politik tertentu dan juga didukung oleh sarana-sarana komunikasi yang ikut berperan untuk mempromosi dan mengiklan produk-produk tersebut melalui media sosial lainya (HP)
Ketika institusi negara menggunakan jalan non-fisik dalam represifitasnya, maka ia bisa disebut sebagai Ideologycal State Apparatus (ISA) dengan contoh menggunakan budaya pop bersifat privat dan sosial tanpa dibeda-bedakan dalam struktur pemakainya. ISA berada di wilayah privat (gereja, sekolah, keluarga, dsb). Meskipun bersifat “privat”, tetapi ISA berada di atas “hukum”, yakni berpengaruh secara ideologis. Aparatus Negara Ideologis berfungsi secara massif dan berkuasa lewat ideologi, dan terkadang melakukan represifitas, tetapi tampak sembunyi, halus dan simbolik.
Dari contoh di atas dapat simpulkan demikian. Orang Jepang menjual Fashion “Harajuku Style” sebagai pihak pertama menjual produknya kepada orang Indonesia sebagai pihak kedua. Para peminat di Indonesia sebagai pihak ketiga mensuplai produk tersebut sesuai dengan harga pasar. Dan ada pihak ketiga menjualnya produksi tersebut melalui media sosial dan akhirnya ketiga-tiganya tidak ada yang rugi dan sama-sama mengalami keuntungan yang sama. Ideologi mereka bersama-sama untuk membantu para pembeli dan tidak ada saling keterikatan oleh karena nilai guna dan tanda sama-sama membutuhkahnya.
Sumber Bacaan:
St. Sunardi St., 2016, Bahan Bacaan Kuliah, Dasar-dasar Kajian Budaya, Prodi Magister IRB USD Yogyakarta (bacaan utama)
Althusser Louis, 2007, Filsafat sebagai Senjata Revolusi, , Resist Book, hal.147-221 (Bacaan Pendukung)