Sun. May 9th, 2021

Prakata
Ada sebuah pengalaman yang cukup mengusik saya di bulan Oktober 2010, saat pertama kali saya melihat tawuran siswa secara brutal di salah satu sekolah menengah di Kota Pontianak di tempat saya mengajar saat itu. Kisah ini berawal dari ungkapan salah satu siswa dengan menghina temanya dengan kata-kata yang sungguh menyakitkan. Bahasa yang diungkapkan demikian: “Otak kalian kecil kog, bisa simpan di loker saja!” Kata-kata tersebut, memicu konflik di antara mereka. Berawal dari peseteruan dua orang akhirnya menjadi konflik komunal hingga secara spontan politik identitas diri muncul seketika.
Dari peristiwa di atas, menarik untuk dikaji bagaimana pola dan relasi dengan orang lain ketika muncul kekerasan kata-kata dalam berkomunikasi. Bahasa yang digunakan sangat menyakitkan dan merendahkan kemampuan intelektual seseorang. Contoh kasus tersebut, sebagai pijakan bagi saya dalam mendukung tulisan yang sederhana ini ditinjau dari kajian budaya. Tentu saja tujuannya bukan untuk membanding kehebatan budaya kita masing-masing, tetapi kita mau belajar bagaimana produk budaya selalu lahir dari wacana/ideologi bersama dalam masyarakat multikultural yang dapat membentuk kita menjadi insan yang berbudaya (Suryana 2015).
Kita tahu bahwa, dalam kenyatannya masalah komunikasi senantiasa muncul dalam kehidupan sehari-hari dengan siapa saja kita berbicara pada ruang dan waktu yang sama. Maka dalam ungkapan klasik “berkomunikasi” merupakan kegiatan sehari-hari yang sangat populer dan pasti dijalankan dalam pergaulan manusia tiap saat. Meminjam pandangan Barelson dan Steiner komunikasi itu semacam “penyampaian informasi, ide, emosi, keterampilan dan seterusnya baik melalui simbol, kata, gambar, angka, grafik dan lain-lain (Hadiono, 2013).
Galtung (1990) dalam Herlambang (2013:35) mendekskripsikan bagaimana produk- produk budaya seperti ideologi, bahasa, agama, dan seni, pengetahuan dapat digunakan untuk melegitimasi praktik kekerasan baik yang dilakukan secara langsung (fisik) maupun struktural (Sistem sosial) dalam berkomunikasi. Menurut Herlambang, di Indonesia salah satu produk budaya yang mempengaruhi stereotip dalam masyarakat adalah kekerasan budaya pasca 1965. Di mana di era orde Baru menglegitimasi anti-komunis melalui sastra dan film dengan artikulasi bahasa-bahasa penuh kebencian dan kekerasan. Demi uang atau harta sang sutradra dan para pemain pun dibayar mahal oleh pemerintah dan militer untuk menarasikan lewat bahasa bahwa, PKI begitu kejam dan sadis. Bahasa ketakutan menciptakan budaya baru bagi penikmat film berlaga. Secara komunal menghasilkan produk budaya baru dalam berbahasa bahwa, “memang demikianlah kejamnya PKI”. Dalam majalah “The Geo Times mengeritik dan mencatat bahwa …”bagaimana sosok budayawan yang dianggap suci dan seoalah berpihak pada humanis universal, ternyata bagian dari sistem besar jagal yang menyudutkan korban 1965…”. Ini salah satu produk budaya kekerasan lewat sebuah bahasa/sastra dalam perfilman Indonesia.
Pristiwa di atas merupakan salah satu bagian dari budaya kekerasan lewat sebuah sastra dan perfilman. Baiklah kita diberi kesempatan untuk memaknai entah disetuju atau tidak tergantung cara kita menafsirkanya pada waktu itu. Karena media tersebut, sudah terlanjur masuk dalam muatan sejarah pendidikan di sekolah – sekolah di Indonesia. Ingatan kolektif pun menjadi bagian wacana kita tentang PKI. Di mana narasi-narasi wajib dibaca dan ditonton setiap 30 September, yang sejak zaman reformasi, masyarakat Indonesia tidak begitu simpatik dengan karya film tersebut. Muncul pertanyaan mengapa masyarakat tidak simpatik? Tentu saja alur kisahnya menampilkan budaya kekerasan sekaligus pembunuhan jiwa bagi generasi muda dengan merawat ingatan kolektif. Benih dendam ditanamkan pada kepala/pikiran penonton secara struktural. Kontruksi film ini menjadi benih dendam yang selalu dirawat dan dinarasi turun termurun tentang PKI. Ibarat luka yang belum disembuh akan melukai baru lewat cara baru kepada orang lain. Hal ini sangat membahaya dalam mind manusia yang lahir pada generasi Mileneal dewasa ini. Budaya konstruksi sosial sangat dominan dari media tersebut.
Contoh Produk budaya kekerasaan yang dijabarkan di atas, membuka cakrawala kita sebagai religius untuk melihat fenomenal yang ada disekitar kita. Bagaimana dampak dari karya satra (bahasa, ideologi) ikut menghancurkan sesama. Mungkinkan kita berlalu begitu saja ketika melihat budaya kekerasan dalam media? Jangan-jangan karena budaya postitivisme kita sudah tertanam dalam pembentukan diri di mana kita berada. Semacam mencari aman dalam tembok kehidupan religius kita. Keputusan-keputusan dalam menentukan nasib sesama pun lahir dari ideologi tunggal dan diartikulasikan dalam bahasa. Ini sangat bahaya ketika otoritas kuasa kata begitu kuat, dalam mengambil keputusan yang membahayakan perkembangan jiwa sesama dalam masyarakat.
Kita bagian dari masyarakat mau tidak mau suka-tidak suka ikut mengartikulasikan kekerasan budaya dalam perilaku kita baik secara langsung maupun tidak langsung kepada orang yang kita hadapi. Budaya kritisi semakin tajam dalam mengungkapnya terhadap gejala-gejala budaya kekerasan yang berawal mula dari sebuah kata-kata dalam komunikasi. Akibatnya melahirkan bahasa kekerasan dalam lingkup keseharian kita dan melukai perasaan –perasaan yang tidak mendukung kita dalam ruang ekspresi kehidupan ini.
Roland Bartes (1983) dalam Nurhadi (2011:151) menggambarkan tentang “semiotika bahasa’ dalam membicarakan ruang-ruang yang tersembunyi dari bahasa itu sendiri. Dia menjelaskan bahwa setiap manusia sebelum berkomunikasi sudah dalam fantasi dan imajinernya. Di dalam pikiranya entar jahat atau baik seakan-akan memengaruhi ia bertindak. Maka dalam gerakan atau gesture berbahasa membutuhkan isyarat khusus agar bisa menjadi “Tanda”dan “Penanda” sehingga menghasilkan pesan dan itulah sistem komunikasi. Misalnya kita bisa melihat berbagai iklan di TV atau media cetak. semuanya mempunyai pesan khusus kepada publik. Seolah –olah manusia memaksa untuk ikut berpikir di dalam pesan iklan tersebut. Misalnya Iklan Shampo, indo mie, Sabun, mobil dan lain-lain memaksa kita ikut terbelenggu untuk menerima bahasa iklan tersebut. Ruang kapitalis membentuk kita untuk mendukung dalam produk-produk budaya baru yang menghancurkan tatanan hidup kita tiap hari. Dan jangan-jangan semua iklan ditampilkan justru sebagai strategi untuk mengatasi ruang gerak manusia; untuk berbuat sesuai yang ada dalam iklan tersebut. Selain itu dalam bahasa iklan pun membuat kita dipaksa untuk taat padanya. Misalnya ….“Hello Pemersa,,, jangan beranjak dulu karena masih banyak suguhan cerita yang membuat anda bikin hidup lebih hidup’…. Keyakinan kita begitu kuat dan percaya sehingga kesempatan untuk mengurus hal-hal yang urgen ditunda oleh sebuah pesan dalam iklan tersebut.
Sistem bahasa yang representasi dalam relasi kuasa, seakan-akan kita pun, menjadi dari objek bahasa. Karena kita tahu dan sadar, siapa yang berkuasa dalam berbahasa, dan hak penatua kuasa kata dalam berbahasa, mau tidak mau suka tidak kita taat demi sebuah relasi itu berjalan dalam koridor kebersamaan. Meskipun ada resistensi dalam hati, tetapi sering kali kita melawanya dalam bentuk cara lain. Inilah gambaran umum pengaruh budaya dalam berbahasa atau berkomuniaksi, mempengaruhi identifikasi orang dari berbagai terminologi cara berpikir dan bertindak dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya pertentangan asal usul, suku, dan identitas agama dan bahasa diri seseorang memengaruhi stereotip yang berlebihan tentang dirinya.
Dalam budaya Marxisme berbahasa juga membuat orang tereleminasi dan lebih menderita lagi ketika posisi kelas-kelas sosial mempengaruhi relasi kuasa dalam berkomunikasi. Semacam kelas petani tidak bisa berbicara lansung dengan kaum kapitalis karena tidak mampu bahasa apa yang disampaikan. Budaya bahasa kosong merusak dalam pola-pola relasi dalam masyarakat kita.
Berbagai temuan di atas, membawa kita untuk meneropong posisi kita saat ini ketika kita berkomunikasi dengan siapa saja yang ada di sekitar kita di kaji dari konteks budaya kita sehari-hari. Semacam memetakan dalam diri sebagai “lanskap” diri untuk membangun jaringan yang bisa memilih dan memilah manakah bahasa yang merupakan produk budaya bersama. Produk bersama ini menjadi menarik ketika perbedaan perbedaan yang ada menjadi kekayaan keberagaman (multikultur) dalam persaudaraan kita, sebagai Bruder MTB.
Produk Budaya Dalam Wacana Komunikasi
Dalam temuan ahli atropologi bahwa perkembangan manusia lahir melalui budaya. Maka lewat budaya ia memahami apa dia liat dan disampaikan lewat wacana sehingga diterima secara umum. Inilah yang disebut produk budaya dalam berkomunikasi. Di sini saya tidak mempunyai pendapat khusus tentang hal ini. Tentu saja secara keilmuan, kita dapat belajar dari teori-teori komunikasi terutama pengalaman ilmuwan yang dipercaya sebagai hasil temuan faktual dilapangan atau berdasarkan pengalaman relasi dengan orang lain dalam berorganisasi atau berkerja di masyarakat.
Selain itu jika kita merunut proses perkembangan bahasa, maka kita diantar oleh historio diri kita dari mana dan mau kemana perjalanan hidup kita. Sekelompok orang yang pindah dari satu lingkungan budaya ke lingkungan budaya yang lain mengalami proses sosial budaya yang dapat mempengaruhi cara beradaptasi dan pembentukan identitasnya, kebudayaan daerah tujuan telah memberi kerangka kultural baru yang karenanya turut pula memberikan definisi-definisi dan ukuran nilai-nilai bagi kehidupan sekelompok orang. Misalnya dari Flores ke Jawa, dari Jawa ke Kalimantan dan dari Kalimantan ke Jawa atau dari Jawa ke Papua. Semuanya memberi biasan dalam diri ketika masuk dalam budaya orang lain. Dari contoh tersebut, muncul sebuah pandangan bahwa proses perkembangan kebudayaan merupakan proses aktif yang menegaskan keberadaannya dalam kehidupan sosial sehingga mengharuskan adanya adaptasi bagi kelompok yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda (Irwan Abdullah, 2009:41). Maka mendukung artikulasi diatas kita diajak untuk memahami komunikasi tersebut.
Walstrom (1992) dalam Alo liliweri (2013:8) menampilkan beberapa pengertian komunikasi, di antaranya adalah: (1) Komunikasi antar manusia sering diartikan dengan pernyataan diri yang paling efektif; (2) Komunikasi merupakan pertukaran pesan-pesan secara tertulis dan lisan melalui pecakapan, atau bahkan melalui penggambaran yang imajiner; (3) Komunikasi merupakan pembagian informasi atau pemberian hiburan melalui kata-kata secara lisan atau tertulis dengan metode lainnya; (4) Komunikasi merupakan pengalihan informasi dari seorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan); (5) Pertukaran makna antara individu dengan menggunakan sistem simbol yang sama; (6) Komunikasi merupakan proses pengalihan pesan yang dilakukan seorang melalui suatu saluran atau media tertentu kepada orang lain dengan efek tertentu; (7) Komunikasi adalah setiap proses pembagian infomasi, gagasan atau perasaan yang tidak saja dilakukan secara lisan dan tertulis melainkan melalui bahasa tubuh,atau gaya, atau tampilan pribadi, atau hal lain di sekelilingnya yang memperjelas makna.
Dari sekian definisi komunikasi di atas, tampak adanya sejumlah komponen penting atau unsur yang dicakup yang merupakan prasyarat terjadinya sebuah komunikasi. Komponen-komponen tersebut meliputi: (1) Komunikator adalah orang yang berkomunikasi atau orang yang menyampaikan pesan; (2) Komunikan adalah orang yang diajak berkomunikasi atau orang yang menerima pesan; (3) Pesan adalah ide, gagasan atau fikiran yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan; (4) Efek adalah tanggapan atau respon dari proses komunikasi, baik respon tersebut itu positif ataupun negatif; (5) Media adalah sarana atau saluran komunikasi, tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan (Wahyu Illahi, 2010:7). Akhirnya kita bisa memahami bahwasanya, proses komunikasi adalah setiap langkah mulai dari saat menciptakan informasi sampai dipahaminya informasi oleh komunikan. Esensi dalam proses komunikasi bertujuan untuk memperoleh kesamaan makna di antara orang yang terlibat dalam proses komunikasi antar manusia.
Komunikasi Dalam Budaya Religius
Yanrewav, dalam risetnya ditahun 2015 dengan judul bagaimana menjadikan komunitas hidup religius Indonesia lebih hidup. Ditemukan bahwa bahwa, 52% mengatakan hidup selibat /religius bukan masalah. 12% mengatakan masalah kecil. 22% mengatakan cukup bermasalah. 13,3% mengatakan masalah berat. Dan data ini salah satu yang indikator adalah bagaimana pola relasi dalam hidup religius diwarna ketegangan dalam berkomunikasi sehingga tidak merasa bahagia/betah dalam hidup membiara. Kesepian selalu muncul dalam diri religius itu sendiri karena miskomunikasi dengan sesama saudara dalam komunitas. Pada akhirnya disimpulkan bahwa, secara umum saya bahagia sebagai seorang religius. Data ini dibuktikan dengan tiga indikator yaitu: Biasa saja: 1,3%, Bahagia: 68,8%, Sangat Bahagia: 29,9 %.
Meskipun dalam temuanya belum mewakili suara-suara relgius seluruhnya, tetapi hal itu merupakan gambaran bagi kita untuk memotret diri. Dan yang menarik adalah indikator dalam relasi (komunikasi) dengan pemimpin atau sesama religius dalam komunitas menjadi arena ketegangan tersendiri dalam hidup berkomunitas. Karena jarang diselesaikan secara tuntas setiap persoalan yang terjadi. Ibaratnya menyelesaikan persoalan bukan dengan komunikasi tetapi mencari jalan tengah lewat pindah tempat tugas karya atau membuat strategi masing-masing untuk melakukan konsolidasi dari permasalahan yang ada. Budaya dendam akan menjadi budaya yang melekat yang selalu dinarasikan setiap kesempatan, untuk membicarakan historio hidupnya. Maka pada ruang bagian ini, dibutuhkan untuk mengolah dan rendah hati untuk siap dimaafkan dan didamaikan satu sama lain dalam waktu yang lama. Ada celah-celah dalam dinding hati yang tersembunyi, yang satu waktu bisa meledak dalam situasi yang spontan ( resistensi).
Lalu bagaimana wacana komunikasi dipertemukan dalam teori-teori dalam berkomunikasi namun tetap menyimpang dalam mengartikulasikan di dalam keseharian hidup kita. Di sini kita dipandu bahwa kita ada aturan mainnya. Semacam aturan dialog dalam hidup bersama. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan bersama. Yaitu: Pertama, Budaya SikapMenerima Diri. Bersikaplah hangat dan tulus. Tunjukkan selera humor. Cobalah membuat anggota lain merasa nyaman dan bahagia. Jujurlah pada diri sendiri. Jangan berpura-pura atau berlagak bodoh. Bersiaplah untuk memberi dan menerima. Dialog adalah ekspresi kasih. Bersikaplah konstruktif, jangan agresif.
Kedua, Pemimpin Komunitas/Formaror/Pemimpin. Dengarkanlah anggota komunitas, seolah-olah anda belum pernah mendengar. Akui dan terimalah semua koreksi yang ditujukan pada anda. Lebih baik menyimpan dan menahan dulu, walaupun dirasa kurang adil. Jangan memberikan nasihat. Dengarkan saja. Usahakan keterbukaan pikiran. Berdoalah sebelum dan sesudah dialog. Ketiga, Anggota Komunitas: Bersikaplah sangat jujur dan tulus, dengan tetap menghormati. Janganlah bersikap tidak adil atau keterlaluan atau emosional. Jangan membuat tuduhan menghalangi “Membangun Komunitas Kasih” Tindakan kasih membantu menciptakan suasana bahagia ketika engkau merasa dekat dengan rekan-rekan lain. Kasih adalah sarana untuk semakin mendekatkan anggota komunitas. Kasih adalah pilihan. Engkau tidak perlu menunggu menjadi pribadi yang sempurna untuk menjadi pribadi yang mengasihi. Engkau bisa memutuskan untuk menjadi pribadi seperti itu setiap hari. Jadi relasi dalam komunitas adalah nilai-nilai yang harus diperjuangkan bersama. Ini salah satu produk budaya baru dalam persemaian diri, ketika ada ruang yang sudah terbuka untuk orang lain hadir kita.

Di bawah ini adalah beberapa halangan dalam membangun komunikasi di dalam komunitas. Maka budaya kasih dalam komunitas masih dalam wacana karena kita mempunyai aspek-aspek yang melawan ketidaksukaan kita terhadap sesama. Di sini saya menggunakan bahasa dengan kata “Engkau” sebagai bentuk posisi kita berhadapan dengan siapa lawan bicara bersama saya. Adapun produk-produk sikap yang ada dalam mind kita. yakni: (1). Kritisisme. Ini adalah awal atau dasar “dinding penghalang”. Kritisisme dan koreksi sungguh berbeda. Koreksi ditunjukkan, misalnya, dengan mengatakan, “Jangan terlambat ikut pertemuan komunitas” atau “Jangan lupa lagi ya tugasmu.” Kritisisme terjadi saat engkau menyerang orang lain dan sungguh berbeda dengan koreksi. Sebuah koreksi bisa berbunyi, “Engkau harus berusaha lebih tepat waktu lain kali.” Namun bila engkau mengatakan, “Siapa pun yang terlambat sungguh tidak pantas di sini. Religius macam apa itu!” Ini adalah kritisisme. Kritisisme berarti menuduh dan mengarahkan jari kepada orang lain. (2). Permusuhan. Penghalang berikutnya adalah permusuhan. Permusuhan memunculkan keinginan untuk melukai atau menyakiti orang lain. Permusuhan mencari hal-hal yang bisa dijadikan alasan untuk menyerang. Kadang engkau menunggu untuk membalas dendam terhadap seseorang yang pernah menyakitimu. (3). Tidak Menghormati. Sikap ini berarti tidak menghormati martabat orang lain sebagaimana engkau ingin dihormati. Engkau tidak memperhitungkan mereka dan perasaan mereka. Misalnya: mengambil barang tanpa izin, ‘meminjam’ tanpa memberitahu yang punya, membaca surat atau buku harian orang lain, masuk kamar orang lain seenaknya, tidak mengetuk pintu sebelum masuk, tidak berkonsultasi dengan rekan lainnya sebelumnya, mengambil keputusan sendiri, tidak peduli dengan pendapat orang lain, dll. Bagaimana perasaanmu bila hal-hal tadi engkau alami? (4). Merasa Diri Berkuasa. Penghalang lain adalah kontrol atau kuasa. Engkau merasa berkuasa atau memiliki kendali atas rekan lain dan berusaha mengendalikan mereka. Engkau membuat rekan lain merasa bahwa engkau tahu segalanya. Dirimulah yang paling benar, paling bisa, dan satu-satunya yang bisa diandalkan. Apakah engkau bisa merasa dekat dengan orang yang seperti itu? (5). Curiga. Kecurigaan muncul ketika engkau menganggap niat rekan lain selalu negatif; selalu tidak percaya pada niat rekan lain dan melihat sisi negatif di setiap perkataan atau tindakan rekan lain tanpa alasan jelas. (6). Bertengkar Anggota komunitas bisa bertengkar karena berbagai sebab, baik yang sepele maupun yang mendasar. Pertengkaran ini kemudian bisa berlangsung lama dan efeknya jauh lebih lama. Masing-masing tidak mau mengalah karena merasa lebih atau paling benar. Suasana di meja makan, di kapel, di dapur, di kebun menjadi tidak nyaman . (7). Tidak Peduli. Sikap tidak peduli muncul ketika seseorang bertindak tanpa mempedulikan rekan lain. Ia merasa bahwa rekan lain tidak ada atau tidak mau tahu bahwa ada rekan lain dalam komunitas. Ia sibuk dengan dunia dan dirinya sendiri, seolah-olah hanya dia yang ada di dunia ini. Komunitas dianggap miliknya sendiri dan rekan lain boleh ada atau tidak ada. (8). Mementingkan Diri Sendiri. Sikap mementingkan diri sendiri muncul saat seseorang menempatkan dirinya sebagai yang pertama dan utama sebelum mempertimbangkan rekan lain. Ia berusaha mendapatkan yang terbaik, terbanyak, atau apapun yang dia inginkan.

Akhir Kata
Setelah kita mendalami berbagai paham dari para pakar komunikasi, bagaimana bahasa itu merupakan produk dari budaya dalam konteks sosialcuture masyarakat kita. Maka kita pun ikut memengaruhi cara kita berwacana tentang bahasa yang merupakan produk bersama, komunitas dan kongregasi dan mau tidak mau kita harus masuk dalam budaya yang merupakan hasil produk bersama. Maka salah satu contohnya adalah, bahasa-bahasa dalam Angaran Dasar, Konstitusi dan Statuta sebenarnya merupakan media kompas untuk mengarahkan kita dalam berkomunikasi dalam relasi hidup sehari-hari dengan para saudara dimana saja kita berada.
Saya harus jujur, terkadang wacana budaya dalam berbahasa apa yang menjadi tata cara hidup kita sebagai MTB, tetap terjadi penyimpangan dalam artikulasi diri kita dengan orang lain. Sayangnya belum ada penelitian khusus hal ini. Dan kalau tidak salah di tahun 2012 saya bersama tim, sudah ada penelitian sederhana tentang stereotipe dari rekan-rekan atau patner kita di dunia karya tentang bruder MTB. Namun belum ada tindak lanjut sampai sekarang, apa yang dimau oleh mereka terhadap hidup kita. Atau langkah apa yang kita buat agar mereka tetap bagian dari hidup kita.
Akhirnya, dominasi budaya tunggal dalam berkomunikasi di komunitas, bukan merupakan kunci utama untuk menutup identitas kita, tetapi justru memperkaya kita sebagai persekutuan dari aneka budaya dan kebiasaan kita. Akankah kita tereleminasi karena budaya tunggal terlalu bermain peran dalam hidup bersama? Apakah budaya mayoritas membuat kita tidak bisa berkomunikasi dalam hidup bersama? Adakah relasi kelas-kelas dalam komunikasi sehingga terjadi perbedaan, yunior, medior dan Senior dalam hidup bersama? Budaya MTB macam apakah yang bisa mempertahakan kebersamaan ini supaya tetap eksis dan seksi diperbincangkan setiap saat bahwa betapa indahnya hidup dalam persaudaraan MTB?

Pendukung Bacaan
Abdullah, Irwan. 2009. Kontruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Barthes, Rolland, 2004. Mitologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana Offiset
Hadiono, Abdi, Fauji. 2016. Kajian Tentang Komunikasi Antar Budaya. dalam Jurnal Pendidikan, Komunikasi Vol.VIII, No 1: 136-159. September 2016.
Herlambang, Wijaya. 2013. Kekerasan Budaya Pasca 1965. Jakarta: Gajah Hidup.
Liliweri, Alo. 2009. Makna Budaya dalam Komunikasi Antar Budaya. Yogyakarta: PT LKiS Printing Cemerlang.
Sunardi, St. 2016. Kajian Budaya. Bahan Bacaan Kuliah IRB, USD Yogyakarta.
Yanrewav. Fransikus, I., MSF. 2015. Mutu Hidup Religius Indonesia, (hasil Riset 2015, Tidak dipublikasikan).
Yayah Suryana . H.A.Rusdiana. 2015. Pendidikan Multikultular: Suatu Upaya Penguatan Jati diri Bangsa. Bandung: CV.Pustaka setia

 

Leave a Reply