Sat. Mar 6th, 2021

Selama beberapa pekan ini atau mulai dari hari Natal sampai dengan awal tahun baru. Saya hampir sering pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan komunitas. Misalnya sayur, bumbu-bumbu, buah-buahan dan juga masih banyak yang lain. Saya tidak pergi sendiri melainkan bersama saudara-saudaraku (baca:kami pergi berdua-dua). Pergi berdua-dua juga sama seperti para murid yang diutus Yesus, tapi ada bedanya juga kami pergi ke pasar untuk berbelanja sedangkan para murid pergi mewartakan Firman Allah. Memang sungguh mengasyikan pergi ke pasar apalagi jalan kaki. Juga bisa bertemu dengan begitu banyak orang, baik itu para penjual maupun para pembeli yang datang dan pergi. Saya dapat beradaptasi dengan lingkungan yang ada khususnya ketika pergi ke pasar. Yang saya lakukan ialah 5 S (senyum, salam, sapa, sopan-santun). Walaupun di masa pandemi ini orang tidak melihat bahwa memberi senyum atau tidak, karena pakai masker dan harus mentaati protocol kesehatan. Sehingga dapat mengurangi penularan dan juga tidak membawa virus kepada orang lain. Harus berwaspada dan berjaga-jaga sebelum terjadi atau terdampak virus covid-19. Paling tidak ada cara yang lain. Dengan seperti ini saya bisa memiliki banyak kenalan baik itu para penjual maupun tukang becak. Bahkan ada yang menjadi langganan untuk belanja maupun pulang menggunakan becak. Inilah suatu kebanggan yang saya alami, ketika berada bersama dengan orang lain yang baru saya kenal.
Satu hal yang diperlukan untuk pergi belanja ialah keranjang yang digunakan untuk menyimpan barang belanjaan. Kalau tidak membawa keranjang yang pastinya dari pasar membawa begitu banyak kantong plastik dan pada akhirnya menjadi sampah. Dengan keranjang inilah kalau ke pasar saya menenteng sepanjang jalan. Sebab keranjang membawa suatu harapan baru bagi yang menggunakannya. Hal inilah yang membuat banyak orang bertanya, ketika melihat saya pergi ke pasar dengan menenteng keranjang. Kalau barang belanjaannya sedikit berarti pulang jalan kaki, tetapi kalau belanjaannya banyak saya menggunakan becak langganan. Mereka menjadi keluarga saya walaupun hanya bertemu di pasar pada saat belanja.
Dari pengalaman singkat diatas dapat begitu banyak arti atau makna yang berguna bagi perjalanan panggilan hidup ini. Yaitu berkaitan dengan pengabdian, mau mengabdi kepada Tuhan dan kepada sesama dengan cara yang sederhana. Memang pengalaman belanja baru dialami apalagi membawa serta keranjang yang harus ditenteng sepanjang jalan baik pergi maupun pulang. Dengan seperti ini mau dikatakan bahwa laki-laki juga bisa berbelanja bukan hanya kaum perempuan. Disamping itu juga, dengan berbelanja seperti ini tak ada susahnya. Mungkin yang yang membuat susah itu datang dari diri sendiri. Apalagi menunjukan kewibawaan, gengsi, ataupun malu dilihat orang karena pergi ke pasar membawa keranjang apalagi sampai mata keranjang. Sehingga pada akhirnya tujuan atau harapan dalam hidup se-akan kelabu. Tak punya dorongan atau niat untuk berusaha untuk maju dan mengolah segala ketidakberdayaan yang dialami.
Pengalaman ini juga merupakan suatu kesempatan yang baik untuk melatih menjadi pribadi lebih percaya diri dan juga bertanggungjawab dalam menjalankan tugas apapun bentuknya. Tak perlu merasa canggung dengan tugas dan tanggung jawab yang hendak dijalankan. Sebab dari rasa canggung itu membuat kita menjadi pribadi yang tidak berkembang, melainkan penuh dengan karut-marut, sehingga harus terseok-seok untuk memulai hidup baru. Sebab dengan pengalaman yang baru kita alami mungkin hanya terjadi satu kali selama hidup, tetapi perubahan yang dihasilkan akan berlangsung untuk selama-lamanya. Maka dari itu gunakanlah kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin. Belajar untuk berkembang dari hal-hal yang sederhana.
Petrus (Postulan angkatan 2020
Tinggal di Komunitas Kotabaru Yogyakarta