NYALA KESETIAAN YANG TAK PERNAH PADAM
Merayakan Panggilan, Meneguhkan Pengabdian Bruder MTB
Yubileum 40 dan 25 Tahun Hidup Membiara serta Pengikraran Kaul Perdana
Sabtu, 15 Agustus 2026, menjadi hari yang penuh syukur dan sukacita bagi Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda (MTB). Bertempat di Gereja Paroki Santa Sesilia Pontianak, para Bruder MTB bersama keluarga, umat, para imam, para suster, para pendidik, serta para sahabat dan undangan berkumpul dalam sebuah perayaan iman: Hari Kaul Bruder MTB, Yubileum 40 dan 25 Tahun Hidup Membiara, serta Pengikraran Kaul Perdana. Perayaan ini bukan sekadar mengenang perjalanan waktu. Empat puluh tahun, dua puluh lima tahun, maupun langkah pertama dalam hidup membiara merupakan kisah tentang kesetiaan manusia yang ditopang oleh rahmat Allah. Di dalamnya tersimpan kisah tentang doa yang tidak selalu terdengar, pengorbanan yang tidak selalu terlihat, air mata yang mungkin jatuh dalam kesunyian, serta sukacita yang lahir karena tetap percaya bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Para Bruder Yubilaris didampingi keluarga di teras Pastoran
Sebelum Perayaan Ekaristi dimulai, umat diajak untuk mengenal lebih dekat perjalanan hidup para Bruder yang merayakan Yubileum Kaul. Riwayat hidup dan perjalanan panggilan para yubilaris dibacakan sebagai bentuk penghormatan atas jejak panjang yang telah mereka tempuh dalam hidup membiara. Setiap kisah panggilan adalah sebuah perjalanan. Ada titik ketika seseorang mendengar suara Tuhan, ada saat ketika ia harus memilih, ada masa ketika ia harus berjuang, dan ada pula saat ketika ia menoleh ke belakang sambil menyadari bahwa tangan Tuhan tidak pernah meninggalkannya.
Suasana kemudian semakin khidmat ketika perarakan memasuki gereja. Para imam, Dewan Pimpinan Umum, para yubilaris dengan lilin bernyala di tangan, serta para petugas liturgi berjalan menuju altar. Perarakan tersebut diiringi tarian dari ekstrakurikuler Tari Tradisional SMA Santo Paulus Pontianak dan lagu pembuka yang dibawakan oleh koor gabungan Asrama Putra Santo Paulus dan Asrama Putri Santa Klara Pontianak. Nyala lilin yang dibawa para yubilaris menjadi simbol iman yang tetap menyala, kasih yang tidak kunjung padam dan kesetiaan yang terus dipelihara sepanjang perjalanan hidup membiara.

Para Bruder Yubilaris, para Imam dan petugas liturgi berarak menuju altar
Sesampainya di depan altar, para Bruder yubilaris meletakkan lilin bernyala di hadapan patung Bunda Maria. Seakan-akan, melalui tindakan tersebut, mereka kembali menyerahkan seluruh perjalanan hidup dan panggilan mereka kepada Allah dengan meneladan Bunda Maria, seorang pribadi yang dengan penuh kesediaan mengatakan, “Ya,” kepada kehendak Allah.
Perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan kata pengantar yang disampaikan oleh RD Alexius Alex Mingkar, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak. Dalam pengantarnya, Pastor Alex mengajak seluruh umat untuk mengucap syukur atas anugerah panggilan hidup bakti para Bruder MTB yang merayakan Yubileum Kaul 25 dan 40 Tahun serta mereka yang akan mengucapkan Kaul Perdana. Pastor Alex mengatakan, “Kita mengucap syukur atas anugerah panggilan hidup bakti para Bruder MTB yang merayakan Yubileum Kaul 25 dan 40 Tahun serta yang akan mengucapkan Kaul Perdana. Semoga kesetiaan mereka dalam doa, pelayanan, dan kasih kepada sesama, bersama teladan Bunda Maria, semakin meneguhkan langkah mereka untuk terus mengikuti Kristus dengan iman yang teguh dan kasih yang tak kunjung padam.” Kata-kata tersebut menjadi pintu masuk bagi umat untuk menyelami makna perayaan. Sebab, hidup membiara bukan hanya tentang lamanya seseorang mengenakan jubah atau berapa tahun ia tinggal dalam komunitas. Lebih dalam dari itu, hidup membiara adalah tentang kesediaan untuk setiap hari kembali berkata kepada Tuhan, “Aku tetap memilih-Mu.”

Selebran utama, RD Alexius Alex Mingkar, memberkati lambang-lambang kebiaraan
Dalam homilinya, Pastor Alex mengajak umat untuk meneladani kesetiaan Bunda Maria dan memandang Kristus yang bangkit sebagai dasar pengharapan. Pastor Alex menegaskan, “Hidup membiara merupakan panggilan untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus melalui kaul kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan, serta melalui doa dan pelayanan. Kesetiaan para Bruder selama 25 dan 40 tahun menjadi kesaksian nyata bahwa Tuhan senantiasa menyertai dan memberikan rahmat dalam setiap perjuangan. Sementara itu, bagi mereka yang mengikrarkan Kaul Perdana, perjalanan tersebut baru saja dimulai. Kaul pertama bukanlah akhir dari sebuah pencarian, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang untuk belajar semakin setia kepada Kristus”. Selanjutnya, Pastor Alex mengajak agar seluruh hidup para Bruder menjadi sebuah Magnificat, yakni sebuah pujian yang tidak diarahkan kepada kemuliaan diri sendiri, tetapi menjadi persembahan agar nama Tuhan semakin dimuliakan.
Setelah homili, perayaan memasuki salah satu bagian yang paling sakral, yakni Prosesi Pengikraran Kaul Perdana. Br. Carlo Acutis Jhon Watimena, MTB, dari Paroki Salib Suci Nanga Tebidah, Keuskupan Sintang, dan Br. Yosef Surya Marcellinus Tamba, MTB, dari Paroki Santo Yohanes Paulus II, Namo Pecawir, Tuntungan, Keuskupan Agung Medan, dengan mantap mengucapkan kaul untuk pertama kalinya. Di hadapan Pimpinan Umum Para Bruder MTB dan Pastor Alex sebagai wakil Gereja, keduanya menyerahkan diri untuk menapaki jalan hidup bakti sebagai Bruder MTB. Gereja menjadi saksi bahwa benih panggilan masih terus tumbuh. Di tengah dunia yang bergerak cepat, masih ada hati-hati muda yang berani berhenti sejenak, mendengarkan suara Tuhan, lalu menjawab dengan keberanian.

Para Bruder menyatakan maksud kedatangannya dihadapan Pimpinan Umum
Suasana kembali khidmat ketika kedua yubilaris, Br. Marcellinus, MTB, yang merayakan 40 Tahun Hidup Membiara, dan Br. Yohanes Maria Vianney Alexius Harnoto Trilaksono, MTB, yang merayakan 25 Tahun Hidup Membiara, melakukan pembaruan ikrar setia seumur hidup. Dengan lilin bernyala di tangan, keduanya kembali mengikrarkan janji kesetiaan di hadapan Br. Dionisius, MTB, sebagai wakil Dewan Pimpinan Umum, dan Pastor Alex sebagai wakil Gereja. Lilin yang bernyala di tangan kedua Bruder bukan sekadar simbol. Lilin itu menjadi gambaran perjalanan panggilan: mungkin pernah bergetar diterpa angin, tetapi tidak padam; apinya mungkin kecil, tetapi tetap memberikan terang. Lilin yang bernyala menjadi saksi bahwa kesetiaan bukan berarti tidak pernah menghadapi kesulitan. Kesetiaan justru berarti tetap berjalan ketika jalan tidak selalu mudah, tetap percaya ketika jawaban belum ditemukan, dan tetap mencintai ketika pelayanan menuntut pengorbanan.

Br. Vianney, MTB dan Br, Marcellinus, MTB memperbaharui tri prasetya kekalnya
Setelah Komuni, seluruh Bruder MTB yang hadir dipersilakan maju ke depan altar. Mereka bersama-sama menyanyikan Hymne Bruder MTB sebagai ungkapan persaudaraan dan kebersamaan dalam satu keluarga besar Kongregasi Para Bruder MTB. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama.

Para Bruder mengumandangkan Hymne Bruder MTB
Setelah rangkaian liturgi syukur usai, beberapa sambutan disampaikan. Sambutan pertama disampaikan oleh Br. Marcellinus, MTB, mewakili para Bruder yang berpesta. Dengan penuh syukur, Br. Marcellinus merefleksikan perjalanan panggilannya sebagai sebuah bukti bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah. Berasal dari keluarga sederhana, ia belajar menghidupi nilai kesederhanaan, ketekunan, dan ketulusan yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan panggilannya. Setelah puluhan tahun menjalani hidup membiara, ia menyadari bahwa kesetiaan tidak pernah berdiri sendiri. Kesetiaan membutuhkan doa, dukungan, persaudaraan, dan terutama penyertaan Tuhan. Di tengah berbagai tantangan zaman, ia mengajak umat untuk terus mendoakan para Bruder dan para biarawan agar tetap setia dalam panggilan. Ia juga menyampaikan harapan agar semakin banyak kaum muda yang berani menjawab panggilan dan bersedia bekerja di ladang Tuhan. Dengan penuh syukur, Br. Marcellinus menyampaikan terima kasih kepada keluarga, umat, para Bruder, para suster, para pastor, dan terutama keluarga besar SMA Santo Paulus Pontianak yang telah mendukung dan turut memeriahkan perayaan tersebut.

Br. Marcellinus, MTB menyampaikan kata sambutan mewakili para Yubilaris
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ibu Agnes Haryani yang mewakili keluarga para Bruder yang berpesta. Mewakili orang tua para Bruder, Ibu Agnes menyampaikan syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas rahmat serta penyertaan-Nya dalam perjalanan hidup dan pelayanan para Bruder. Ia menyampaikan apresiasi kepada Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda yang terus mendampingi para Bruder dalam menghayati panggilan mereka. Ucapan profisiat juga disampaikan kepada para Bruder yang merayakan yubileum, memasuki novisiat, menjalani profesi sementara, maupun memperbarui kaul. Di akhir sambutannya, Ibu Agnes menyampaikan harapannya agar para Bruder senantiasa setia dalam doa, persaudaraan, pelayanan, dan penghayatan kaul. Lebih dari itu, para Bruder diharapkan terus memiliki keberanian untuk hadir dan melayani mereka yang kecil, lemah, dan tersingkir dengan kasih, kerendahan hati, dan ketulusan.

Bruder Pimpinan Umum memberikan kata sambutan
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Br. Yohanes Maria Vianney Alexius Harnoto Trilaksono, MTB, Pimpinan Umum Para Bruder MTB. Br. Vianney menyampaikan syukur dan terima kasih kepada Tuhan serta kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan mendoakan perjalanan panggilan para Bruder MTB. Ia mengingatkan bahwa hidup membiara bukan sekadar menjalankan banyak pekerjaan. Kesibukan dan karya tidak boleh membuat seorang Bruder kehilangan sumber hidupnya. Seperti ranting yang hanya dapat hidup dan menghasilkan buah apabila melekat pada pokok anggur, demikian pula seorang Bruder harus senantiasa berakar pada Kristus. Kesetiaan dalam panggilan membutuhkan kedalaman rohani, doa, ketaatan, kasih persaudaraan, serta kemampuan menghadapi perubahan zaman. Para Bruder diajak untuk tidak terjebak dalam popularitas dan kesibukan semata, tetapi menjadikan setiap karya sebagai jalan untuk menghadirkan kasih Tuhan.“Panggilan itu akhirnya kembali kepada satu hal sederhana, namun mendalam, yakni hadir bagi mereka yang kecil, lemah, dan yang membutuhkan, serta menjadikan seluruh hidup sebagai persembahan bagi kemuliaan Tuhan,” ungkapnya.
Sambutan terakhir disampaikan oleh RD Alexius Alex Mingkar, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak. Pastor Alex menegaskan, “Bruder MTB adalah orang-orang beriman yang menghayati hidup bakti dengan spiritualitas Santo Fransiskus Asisi dan membantu Gereja melalui berbagai karya kemanusiaan, sosial, pendidikan, serta pelayanan kepada sesama. Jumlah yang sedikit bukanlah ukuran utama. Yang terpenting adalah ketulusan dalam memberikan diri, kepedulian terhadap sesama, dan kepekaan terhadap mereka yang membutuhkan”. Lebih lanjut, ia mengatakan, “Para Bruder diharapkan terus menjadi tanda kehadiran kasih Tuhan di tengah Gereja dan masyarakat. Karya mereka mungkin tidak selalu menjadi sorotan, tetapi setiap pelayanan yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi benih yang tumbuh dalam kehidupan banyak orang.”
Perayaan Ekaristi kemudian ditutup dengan berkat penutup. Setelah itu, koor mengiringi perarakan keluar para imam dengan lagu “Bapaku Ksatria Jaya”, sebuah lagu yang mengungkapkan kekaguman kepada sosok Bapa Santo Fransiskus Asisi. Nada-nada lagu tersebut seakan menjadi gema yang mengantar para pelayan altar meninggalkan ruang perayaan.

Para Imam dan petugas liturgi berarak meninggalkan Gereja
Setelah Perayaan Ekaristi selesai, seluruh undangan menuju Aula Santo Leonardus dari Porto Mauritio yang terletak di samping kiri gereja untuk mengikuti acara ramah tamah. Dalam suasana penuh persaudaraan, dilaksanakan pemotongan tumpeng oleh para Bruder yubilaris, didampingi Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak dan para imam yang hadir. Tumpeng yang dipotong bukan hanya sebagai bagian dari tradisi syukuran, tetapi juga menjadi lambang bahwa sukacita akan menjadi semakin berarti ketika dibagikan. Demikian pula panggilan hidup membiara bukan milik pribadi, melainkan persembahan yang buahnya diharapkan dapat dinikmati dan dirasakan oleh banyak orang.

Seremonial pemotongan tumpeng di Aula Santo Leonardus dari Porto Mauritio
Acara kemudian dilanjutkan dengan makan siang bersama. Suasana semakin semarak dengan penampilan tarian dari SD Bruder Nusa Indah Pontianak dan SD Bruder Melati Pontianak, serta lagu-lagu yang dibawakan oleh Ekstrakurikuler Band SMA Santo Paulus Pontianak. Tawa, sapaan, musik, dan kebersamaan memenuhi aula. Sekat-sekat usia, karya, dan latar belakang seakan mencair dalam satu suasana kekeluargaan. Ketika acara ramah tamah berakhir dan para undangan mulai meninggalkan aula, perayaan hari itu perlahan menjadi kenangan. Namun, yang dibawa pulang bukan sekadar kenangan tentang sebuah misa atau acara syukuran. Ada pesan yang jauh lebih dalam yakni bahwa sebuah panggilan dapat bertahan karena rahmat Tuhan, doa keluarga, dukungan komunitas dan kesediaan untuk terus memberikan diri.

Salah satu persembahan tarian dari SD Bruder Melati Pontianak
Ramah Tamah Syukur Bersama Keluarga
Rangkaian acara perayaan masih terus berlanjut. Pada malam hari, pukul 19.00 WIB, bertempat di Aula Santo Bonaventura, dilaksanakan acara syukuran bersama keluarga para Bruder. Acara ini menjadi kesempatan istimewa untuk merayakan anugerah perjalanan hidup panggilan para Bruder sekaligus mempererat tali persaudaraan antara para Bruder, keluarga dan komunitas yang hadir.


Suasana makan malam bersama keluarga di Aula Santo Bonaventura Sepakat
Acara malam ini dipandu oleh Br. Benediktus, MTB. Rangkaian acara diawali dengan pemotongan kue sebagai ungkapan syukur dan sukacita, dilanjutkan dengan doa bersama, kemudian makan malam dalam suasana kekeluargaan. Untuk menemani makan malam, keluarga para Bruder dihibur dengan penampilan tari dan lagu dari anak Asrama Putra Santo Paulus, Asrama Putri Santa Klara dan Asrama Mahasiswa Santo Bonaventura Pontianak yang turut hadir dalam acara tersebut. Kehadiran mereka menambah semarak suasana dan menghadirkan kehangatan di tengah perjumpaan para Bruder dengan keluarga.

Beberapa penampilan dari anak Asrama Putra Santo Paulus, Asrama Putri Santa Klara dan Asrama Mahasiswa Santo Bonaventura Pontianak
Suasana semakin meriah ketika beberapa tembang indah dilantunkan oleh para Bruder dan beberapa bapak/ibu keluarga Bruder. Tidak ada lagi sekat antara Bruder, keluarga dan para tamu yang hadir. Semua larut dalam kegembiraan, bernyanyi dan bersukacita bersama. Semua bergembira, menari dan bernyanyi bersama hingga malam perlahan menghentikan riuhnya acara. Namun, sukacita dan kehangatan perjumpaan itu tetap tinggal dalam hati setiap orang yang hadir sebagai kenangan indah dari sebuah perayaan syukur bersama.

Suasana sukacita dalam keakraban penuh persaudaraan
Semoga di hari-hari yang akan datang, para Bruder MTB terus menjadi tanda kasih Allah yang sederhana, hingga setiap langkah kehidupan akhirnya bermuara pada satu keyakinan bahwa kesetiaan yang dipersembahkan dengan cinta tidak pernah sia-sia, sebab di dalamnya Tuhan terus menulis kisah kasih-Nya.
Dari rumah teduh tepian Kapuas Jl. Patimura No. 197
Br. Hieronimus, MTB