Sun. May 9th, 2021

Br. Ferdy MTB
Tinggal di Komunitas Novisiat Alverna

Pernyataan ini mengusikku. Tak lain karena bertanya tentang siapakah diriku? Di mana aku berada saat ini? Apakah menyadari tentang keberadaan diriku sendiri. “Jadilah diri sendiri.” Siapa yang menentukan diriku? Diriku sendiri atau ada ‘unsur’ paksaan dari luar diriku? Atau aku hanya mendengarkan kata ‘Jadilah diriku sendiri’ berdasarkan sharing dari orang lain, atau pengalaman yang kudengar dari orang lain. Aku tinggal kopas saja deh! Toh sama kan?”
Ketika aku hanya mengopas jawaban dari orang lain atau mendengarkan sharing dari orang lain, lalu aku mengikuti ‘kata mereka’ berarti aku belum memahami siapakah diriku sesungguhnya. Ini menandakan bahwa ‘Aku belum menjadi diriku sendiri.’ Aku hanya ‘meniru kata orang’. Bukan itu yang dimaksud dengan menjadi diri sendiri. Menjadi diri sendiri adalah keotentikkan diri kita sendiri, bukan kata orang. “Inilah diriku!” Aku punya kelemahan dan keterbatasan. Aku tidak dalam membentengi diriku sendiri dengan mencari pembenaran untuk menutupi diriku sesungguhnya. Jadilah diri sendiri.

Alasan Membenteng Diri Sendiri
Ketika aku membentengi diriku sendiri, aku ya, bukan aku yang sebenarnya. Aku mengikuti apa kata orang lain tentang diriku, “Jadilah diriku sendiri.” Bukan itu yang diharapkan. Yang diharapkan adalah kesungguhan diriku sendiri [interioritas], bukan apa yang dikatakan oleh orang lain. Benar bahwa orang lain juga memiliki indentitas dirinya, bukan menjadi kopi pasteku supaya sama dengan orang lain. Kalau demikian, aku belum mengenal diriku “Siapa sesungguhnya aku ini?” Pengalaman orang lain, bisa jadi membantuku untuk mengintrospeksi diriku sendiri.
Inilah sebuah kisah kecil tentang jadilah diri sendiri yang dikutip dari sebuah buku berjudul Berani-Jadilah Dirimu! Buku ini merupakan saduran bebas Karangan Russel M. Abata (2003:9) berjudul siapakah aku? Kisahnya demikian:
“Siapakah kamu?” Tanya seorang gadis manis sambil tersenyum. Sang perjaka yang ditanya mulai menyebutkan nama, alamat serta nomor teleponnya, barang kali kalau sekarang nomor WhattApp. “Bukan itu!” Si gadis geleng-geleng. “Maksudku siapakah kamu sebenarnya?” Perjaka ganteng itu jadi bingung. Benaknya berputar-putar.
“Apakah gadis ini mau pekerjaaku atau kesukaanku?” Bukan. Barangkali ia ingin kedudukan serta gajiku.” Dengan kikuk dan wajah semburat kemerahan, ia menjawab: “Saya ini bukan apa-apa.” Bukan, bukan apa, melainkan siapakah kamu?” Sergah sang gadis. Pria itu tak habis piker. Lalu ia menyeletuk: “Saya adalah saya saja.” Benar? Kamu sungguh dirimu sendiri? Ataukah kamu dikuasai oleh suatu kekuatan dari luar atau oleh nafsu atau doronganmu sendiri yang tak teratur?

Kisah di atas menunjukkan bahwa belum mengenal siapakah dirinya sendiri. Buktinya lain yang ditanya lain yang dijawab juga lain. Sonya [sonde nyambung]. Hal lain yang perlu diperhatikan dalam kisah itu adalah adanya sikap menutup diri untuk menujukkan siapa sebenarnya diriku? Jangan-jangan kalau saya beritahu, kelemahanku menjadi ‘alat’ yang diperdayakan oleh orang lain tentang diriku. Ketakutan menjadi sulit untuk membuka diri, entah takut dinilai jelek, jahat, dan lain sebagainya. Sikap seperti inilah membuat diri kita sendiri tidak berkembang, tidak bebas, bahkan hilangnya nilai otensitas diri.

Menjadi Diri Sendiri
Kalau demikian, menjadi diri sendiri macam apa yang sesungguhnya dalam diriku? Punya sikap ketergantungan atau…? Menjadi diri sendiri seharusnya diriku yang ideal dan diriku yang praktis/aktual. Diriku yang ideal adalah cermin dari seluruh kepribadiaan seseorang termasuk secara pengetahuan, psikologis, sosial dan spiritual. Nilai-nilai diri ideal yang belum mencapai diri yang aktual.
Diriku yang ideal ini sesungguhnya menjadi peganganku untuk mengimbangi diriku yang aktual. Kalau boleh dibilang sih, aku mau menjadi bagian perwujudan diri idealku. Menjadi diri sendiri ditentukan oleh karakter diri sendiri. Kalau aku orangnya tegas, ya tegas, terbuka, mudah emosi [marah], patah semangat, individual, muda bergaul, dll. Singkatnya ada hal di dalam diri positif [baik], tetapi juga ada hal yang negative [keterbatasan diriku], tidak berarti aku menutupi keterbatasan dengan alasan pembelaan diri/pembenaran diri. Sekali lagi bukan seperti itu. Diriku apa adanya, bukan dibuat-buat, tetapi sungguh-sungguh mencerminkan diriku yang sebenarnya.

Potret Diri Sendiri
Barangkali sikap jujur masih engan untuk diungkapkan secara wow gitu, ya? akibat rasa takut dinilai, di ‘cap’ bahkan disakiti atau juga disingkiri. Potret diriku sesungguhnya masih tersembunyi [isolasi diri]. Bagaikan emas dalam bejana atau talenta yang diberikan, tidak mau dikembangkan karena takut hilang. Sikap tertutup menjadikan hidupku tak lepas bebas.
Aku belum punya sikap untuk memerdekakan diri [aktual]. Aku masih tersembunyi dibalik ‘jeruji’ yang engan tuk terbuka secara jujur. Diriku yang sesungguhnya terungkap sesuai dengan kesadaran dari isi hati nuraniku, bukan didorong karena menerima penilaian dari luar yang bisa menentukan siapa diriku.
Potret diriku adalah cermin dari kepribadiaanku sesungguhnya-yang tulus dan jujur. Keperbadiaan yang jujur ditentukan oleh diri sendiri, bukan oleh orang lain, bukan pula ‘pemalsuan’ atas kepribadian diri sendiri. Identitas diri yang sesungguhnya bisa dilihat dalam action setiap hari. Bahasa symbol, ekspresi diri mampu menjadi cermin dari diri kita sendiri. Karl Jasper (1883-1969) mengatakan “Kebenaran cara berpikir manusia dibuktikan melalui tindakkannya yang berdasarkan pemikiran itu.”

Siapakah Aku?
Bagaimana manusia menjadi diri yang sesungguhnya (self transendend)? Kita dapat belajar dari pribadi Yesus ketika bertanya kepada para murid-Nya “Menurut kamu siapakah Aku ini?” Ada yang mengatakan Yohanes, ada pula yang mengatakan salah seorang Nabi, dan pula yang mengatakan Elia. Nampaknya jawaban ini para murid ini kuran tepat, kemudian Yesus bertanya kepada Petrus, kata-Nya: “Menurut kamu siapakah Aku?” Engkau adalah Mesias dari Allah” Jawab Petrus (bdk. Luk 9:20). Pertanyaan ini menjadi pertanyaan diri kita juga, siapakah aku ini sebenarnya? Diri sendiri yang mengenal secara mendalam terlebih dahulu.
Apakah diriku seorang pribadi yang terbuka, tertutup, penuh perasaan (mudah tersinggung, dll). Semakin terbuka terhadap diri sendiri, maka semakin mengenal pula siapakah diriku yang sebenarnya. Bukan orang lain yang lebih tahu tentang diriku dari pada diriku yang sebenarnya. Tak bisa disangkal pula bahwa dalam diri manusia memiliki dua kecenderungan, yakni positif dan negative. Bisanya kecenderungan positif adalah diriku yang baik, sedangkan diriku yang negatif, misalkan egosentrisme, individualistis, singkatnya kecenderungan-kecenderungan yang mengutamakan kesenangan pribadi.

Menjadi Pribadi yang Dewasa
Dalam menganggapi semua persoalan, yang dibutuhkan adalah kematangan cara berpikir serta kebijaksanaan dalam memberi dan mengambil keputusan. Keputusan yang disertai
dengan ketidakmatangan tidak memberikan manfaat yang intensif. Menjadi pribadi dewasa bearti aku mampu melihat segala sesuatu dengan tindakan yang positif, menumbuhkan kepekaan, memiliki suara hati yang jernih. Suara hati yang mengutamakan kasih. Bukan karena pemusaan diri. Lebih dari pada itu tanda kedewasaan diri adalah melaksanakan tugas dengan penuh rasa tanggungjawab, bukan karena unsur keterpaksaan.
Salah satu keutamaan menjadi pribadi dewasa adalah melaksanakan nilai-nilai keutamaan yang disadari dari dalam diri, yang timbul dari suara hati dan menggerakkan diri untuk menumbuhkan tindakan yang positif. Ibarat kalau kita merasakan enaknya makanan, eksperesi kita menimbulkan rasa kenikamatan, “Oh enaknya, top!” Berbeda kalau asam dan asin, pasti eskpresinya ‘menggigil’. “Aduh asin!” Orang dewasa tahu mana pilihan terbaik, dan mana tindakan yang baik? Mestinya dia sudah tahu. Seperti ‘rasa enak dan asin.’ Mestinya kita juga berusaha menjauhi prilaku yang menimbulkan kerugian terhadap diri kita sendiri dan orang lain. Karenanya, kita perlu meningkatkan sikap kedewasaan. Secara spikis orang yang disebut desawa adalah seorang pribadi yang terbuka. Terbuka terhadap hubungan personal dengan Allah, sesama dan ciptaa-Nya. Itulah sikap seorang pribadi dewasa. Sedangkan pribadi yang kurang dewasa cenderung memiliki sikap ketergantungan kepada orang lain, belum sanggup untuk mandiri.

Menerima Diri
Apa arti sikap menerima diri? Menerima diri berarti mengakui keterbatasan diri sendiri. Bukan menolak, bukan pula menyangkal diri. Semakin kita menolak terhadap diri sendiri, kita pun semakin tertutup atas realitas diri kita yang sesungguhnya.’ Kita tidak menunjukkan bahwa kita sedang dibantu untuk mengenal secara terbuka siapakah diriku yang sesunguhnya? Menerima diri dapat juga diartikan dengan memahami diri sendiri tentang kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diriku.
Menerima diri dapat membentuk karakterku. Mengakui keunggulan dan keterbatasan diriku sendiri. Misalkan seorang pelajar yang sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian. Ia belajar dengan tekun, tetapi karena kemampuan untuk memahami pelajaran matematika masih kurang, ia pun tak memperoleh nilai yang bagus. Hasil usahanya tidak maksimal. Ketika mata pelajaran Bahasa Indonesia, ia memperoleh nilai baik dan memuaskan. Kisah ini menunjukkan bagaiamana diriku sendiri mengakui kelebihan dan kekurangan, kalau nilai
matematikaku hasilnya kurang maksimal barangkali mata pelajaran lain, saya memperoleh nilai yang sangat memuaskan.
Apa peran orang lain bagiku? Mereka juga punya peran terhadap diriku. Mereka berperan untuk membantuku dalam menilai diriku secara lebih complete. Ibarat ketika kita menunjukkan jari telujuk kepada orang lain, yang ditunjukkan itu satu, sementara ke empatnya kembali ke diriku sendiri. Yang mampu memberikan nilai terbanyak tentang kepribadiaanku adalah diriku sendiri, bukan apa kata orang lain tentang diriku. Maka, baiklah kita melihat ke dalam diri sendiri dan menerima apa yang baik untuk mendukung potret perkembangan diriku, kita, kalian snediri untuk menjadi lebih baik lagi. Jujur dengan diri sendiri, membantu kita untuk menjadi semakin dewasa dalam kepribadiaan, tindakan, relasi dan hidup rohani.
Aku menjadi diriku sendiri. Aku adalah aku, bukan orang lain. Aku yang dinilai oleh orang lain hanya sebagian yang mereka ketahui. Tidak semua diriku diketahui oleh orang lain. Yang tahu tentang diriku adalah diriku sendiri. Karena itu, aku perlu lebih mengenal diriku sendiri yang sebenarnya. Diriku yang menjadi dinamika karakterku. Bukan diriku yang ditentukan orang lain. Orang lain menjadi pendorong diri untuk mengenal diriku sendiri secara lebih mendalam.

By vianmtb

Leave a Reply