Ziarah kita telah tiba di kota Yerusalem. Kita diundang untuk memuji Tuhan dengan daun palem. Daun palma di tangan umat beriman bukan saja lambang pujian, melainkan juga benih keberanian untuk menumbuhkan pohon kehidupan yang tegak dalam kemerdekaan, berakar dalam kebenaran, tumbuh dalam kedamaian, dan menghasilkan buah dalam kebahagiaan abadi.

Titik kritis
Tetapi kita harus mengubah diri kita secara mendalam, karena kita lebih dari sekedar Petrus. Titik kritisnya adalah kita menyangkal Yesus berkali-kali, bukan hanya tiga kali. Dalam pekerjaan dan tugas kita, kita sering kali asyik dengan kegiatan yang menyita waktu, sehingga hanya menyisakan sedikit waktu untuk duduk dengan tenang dan mendengarkan suara Tuhan, dalam keheningan pribadi dan persekutuan dengan Tuhan dalam doa dan ibadah bersama, dan untuk saling membasuh kaki.
Karena kita semua senantiasa mempunyai kekurangan dalam menjalankan tugas kehidupan kita (kita bukanlah manusia yang sempurna), kesalahan pribadi maupun kolektif merupakan kenyataan pahit dalam kehidupan kita di dunia. Kita dapat memperbaiki kekurangan ini dengan menunjukkan secara nyata bahwa kita menyesali kekurangan kita. Penyangkalan kita terhadap Yesus. (Konstitusi 193)
Rantai Tau
Apakah hati kita seperti hati Simon dari Kirene yang dengan kerelaan hati yang tulus, tanpa ragu dan malu diolok-olok orang banyak saat harus membantu memikul salib Yesus yang ternyata sangat berat? Jadilah sumber daya yang meringankan penderitaan dan kesulitan orang lain.
Panggilan kita untuk melayani sebagai religius bukan hanya untuk memanggul salib kecil kita, tetapi ternyata itu sangat berat, karena kita hanya menatap kosong ke Salib San Damiano dan tidak menutupi luka-luka Yesus dengan doa-doa yang kosong, tetapi untuk membantu yang tertindas, untuk memberikan suara bagi yang selama ini dibungkam, untuk membantu yang tersesat dan memberi harapan tanpa melupakan penderitaan, untuk membantu mereka yang sedang mengalami masa-masa sulit.
Paskah: Menumbuhkan Harapan di Masa Sulit
Berjalan bersama orang-orang terpinggirkan yang sedang berjuang bukanlah jalan pintas, melainkan sebuah ziarah. Sebagai peziarah harapan, kita dipanggil untuk menjadi orang religius yang tidak mudah menyerah, bahkan saat keadaan menjadi sulit. Tentu saja, peran dan campur tangan Tuhanlah yang menyebabkan kita menjadi orang-orang religius yang tidak pernah menyerah.
Di tengah kesibukan satu abad penyesalan dan luka di bumi. Para peziarah harapan mesti terus bergerak membasuh, memeluk, menggendong, mengunjungi dan mengangkat jiwa-jiwa lemah yang terganggu dan terpinggirkan.
Gereja, Ibu dan Guru kita, mengundang kita untuk membuka hati kita terhadap kasih karunia Allah, sehingga kita dapat merayakan dengan sukacita kemenangan Kristus Tuhan atas dosa dan maut. Kemenangan Kristus ini menyebabkan Santo Paulus berseru: “Kematian telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1 Korintus 15:54–55). Karena Yesus Kristus, yang disalibkan dan bangkit, adalah pusat iman kita dan jaminan pengharapan kita akan janji agung Bapa, yang digenapi dalam Putra terkasih-Nya: kehidupan kekal (lih. Yoh 10:28; 17:3).
Di komunitas, gereja, sekolah, asrama, dan di mana pun kita hadir dan bekerja. Dengan gerakan kecil kita menciptakan ruang untuk berdialog dengan keluarga yang sedang berjuang, kita menanam pohon di tanah mati, kita bekerja dengan kaum muda dalam gerakan ekologi dan kita menciptakan kesadaran sosial untuk menjaga bumi dan kehidupan secara umum.
Karena Yesus Kristus, yang disalibkan dan bangkit, adalah pusat iman kita dan jaminan pengharapan kita akan janji agung Bapa, yang digenapi dalam Putra terkasih-Nya: kehidupan kekal (lih. Yoh 10:28; 17:3).
Ketika kita menerima Sakramen Pengakuan Dosa, hati kita diterangi melalui perantaraan imam sehingga kita dapat berjalan dan berlari untuk mewartakan kebangkitan Kristus. Menjadi perpanjangan tangan Kristus, bukan dalam kemegahan dan kemewahan, melainkan dalam kesederhanaan, kesetiaan dan kepercayaan yang penuh kasih.
Tidak mudah menjadi pohon yang hidup di tengah hutan yang tandus dan kering. Tetapi dari satu pohon yang hidup, pohon-pohon baru selalu dapat tumbuh, untuk dunia yang sedang berjuang melawan masa-masa sulit yang disebabkan oleh keserakahan, kekerasan, dan ketidakadilan. Cabang-cabangnya tumbuh dan menghasilkan buah, merangsang pertumbuhan tunas dan biji baru.
Seperti pohon yang hidup dan dapat berbuah. Mudah-mudahan hati kita akan memancarkan kegembiraan, kebahagiaan dan kegembiraan setiap hari dan menjadi tanda-tanda dan harapan baru yang membawa kelegaan bagi setiap orang, setiap keluarga dan setiap masyarakat di masa-masa sulit.