Di era percepatan ini, di mana kemajuan teknologi, globalisasi, pergeseran identitas, dan pergolakan geopolitik menciptakan kecemasan yang meluas, tradisi Fransiskan menawarkan respons yang transformatif. Sementara Thomas Friedman dan analis kontemporer lainnya seperti Fareed Zakaria mengidentifikasi kecepatan perubahan yang luar biasa sebagai sumber gangguan, teologi Fransiskan membingkainya kembali sebagai peluang untuk pembaruan, memperdalam hubungan manusia, dan membina dunia yang adil dan penuh kasih.
Daripada beradaptasi secara pasif terhadap perubahan, para Fransiskan merangkul model pertobatan yang berkelanjutan, terus-menerus menanggapi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang dengan kerendahan hati, kreativitas, dan persaudaraan. Tradisi Fransiskan menyerukan lembaga-lembaga dinamis yang berfungsi sebagai komunitas layanan yang fleksibel daripada birokrasi yang kaku. Berbeda dengan hiper-individualisme, persaudaraan Fransiskan mempromosikan komunitas yang kuat di mana perubahan dinavigasi dalam solidaritas daripada isolasi. Perspektif ini menggeser respons terhadap perubahan dari sekadar bertahan hidup menjadi transformasi yang bermakna. Secara etis, para Fransiskan terlibat dengan perubahan melalui sudut pandang ekologi integral dan hubungan yang benar, memastikan bahwa perkembangan teknologi dan ekonomi menjunjung tinggi martabat manusia dan kesejahteraan ciptaan. Lebih jauh, daripada mundur ke dalam keamanan kelembagaan, para Fransiskan melihat misi sebagai keterlibatan proaktif dengan dunia, menanggapi realitas sosial, ekonomi, dan politik dengan semangat perdamaian dan keadilan.
Pada akhirnya, visi Fransiskan lebih dari sekadar membantu orang mengelola perubahan—ia berupaya mengubah hakikat perubahan itu sendiri. Dengan menambatkan tanggapan dalam kerendahan hati, persaudaraan, kontemplasi, dan misi, kebijaksanaan Fransiskan menyediakan jalan yang kontra-budaya namun sangat penuh harapan di dunia yang ditandai oleh ketidakpastian dan pergolakan. Ia mengingatkan kita bahwa, seperti Fransiskus yang berdiri telanjang di ruang publik, kebebasan sejati tidak terletak pada kendali tetapi dalam kepercayaan radikal, solidaritas, dan komitmen yang teguh untuk memperbaiki dunia. (IFC-TOR – Assisi 2025)