Tue. Jun 25th, 2024

Indonesia merupakan negara yang kaya akan alam maupun budaya. Memiliki banyak perbedaan dari setiap suku, bahasa, budaya, ras, golongan. Semuanya itu dipersatukan dalam satu ikatan yaitu Bhineka Tungga Ika. Ini diserupakan dengan istilah multikulturalisme. Dalam hal ini, saya sangat bersyukur bahwa saya bisa mendapatkan materi yang begitu luas dan mendalam mengenai multikulturalisme yang saya pelajari bersama dengan para saudara di postulant. Walaupun tidak begitu mendalam hal yang dibahas, namun itu semua sangat bermakna bagi saya. Terutama untuk mengenal keberagaman perbedaan yang ada di dunia maupun di Indonesia. Lebih dalam dari itu mengenal secara definitive tentang kebudayaan yang dimiliki oleh para saudara di daerah mereka masing-masing.
Ini sangat menarik. Dengan materi yang menjadi tugas saya untuk mempresentasikan mengenai ‘multikulturalisme_ cerdas membangun hidup bersama yang stabil dan dinamis”, membuat wawasan saya semakin mendalam. Buku itu dikarang oleh Benyamin Molan, seorang penulis yang terkenal. Multikulturalisme berasal dari kata “multi” yang artinya banyak. “kultur” yang artinya budaya. “lisme” artinya paham. Jadi secara keseluruhan, mutlikulturalisme itu sendiri artinya ilmu/paham yang memperlajari dengan keberagaman budaya-budaya.
Dalam bukunya itu, berisi mengenai kehidupan masyarkat yang memiliki pandangan bahwa multikulturalisme itu diartikan sebagai suatu gerakan idealiem yang mencita-citakan suatu masyarakat yang hidup masyarakat secara damai dan tenang, tanpa ada gejolak apa pun. Buku ini juga mengidentifikasi masyarakat mengenai cara membangun masyarakat yang stabil dan dinamis. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan. Mengapa? Karena stabilitas baru akan ada ketika adanya dinamika stabil. Begitu juga dengan dinamika sejati akan ada kalau adanya stabilitas sejati yang menjadi tempat bertumpunya dinamika.
Seringkali multikulturalisme dianggap gagal karena masyarakat pendatang tidak menyesuaikan diri dengan penduduk asli. Ini bukan kondisi multikulturalisme, melainkan kondisi pluralism yang belum terbangun dengan baik menjadi masyarakat multikulturalistik. Multikulturalisme harus dibedakan dengan pluralisme. Karena Pluralisme itu berbicara mengenai kemajemukan (pluralitas), sedangkan multikulturalisme itu adalah kata kerja, sebuah proses menjadi, yang terus berjalan tanpa henti.
Dalam 9 bab yang saya kenal akan buku ini, ada hal-hal yang menarik bagi saya, yang bisa membuat saya dan semua menjadi lebih sadar bahwa pentingnya membangun kehiduapan multikulturalisme. Mulai dari pengertian multikulturalisme, bebas dan setara, identitas, bahasa bersama, menolak kekerasa, multikulturalisme di Indonesia, bahkan sampai pada seperti apa itu pendidikan multikulturalisme.
Bab-bab ini membuat saya sangat tertarik untuk mendalami semua. Pada bagian awal dari bab ini langsung dijelakan mengenai damai yang dirindukan. Tentunya bahwa saya sendiri sebagai manusia pastinya sangat merindukan akan kedamaian itu. Bukan hanya saya, tetapi semua orang pasti akan merindukan kedamaian. Tidak terciptanya kedamaian karena kurangnya kesadaran setiap individu akan siapa dirinya dan tujuan apa dia dilahirkan di dunia. Manusia masih terlalu memiliki ego yang tinggi, yang lebih mengutamakan kepentingan pribadinya ketimbang kepentingan bersama. Apa lagi dalam kemajemukan seperti kita di Indonesia ini, tentunya itu sangat-sangatlah Nampak sekali akan sifat keegoan ini. Jangankan di oknum-oknum pemerintahan, di dalam kehidupan membiara ini saja terkadang kedamaian itu sangat dibutuhkan. Walau pada kenyataannya bahwa sifat keegoan itu masih tertanam dari setiap individu.
Ada tiga (3) level yang menurut saya itu sangat penting dalam membangun kehidupan multikulturalisme ini. Diantaranya adalah level konkret, level perilaku, dan level simbolik. Level konkret mengacu pada level yang paling visible dan berwujud dari budaya serta mencakup adanya dimensi-dimensi pada level yang ada dipermukaan. Atau dalam arti bahwa pada level ini, kebudayaannya sangat nampak. Terlihat dari contoh-contohnya yaitu seperti pakaian adat, musk, tarian, bangunan, dan lain-lain. Level Perilaku juga sangat penting untuk diperlajari. Ini karena pada level ini, mengklarifikasikan tentang bagaimana kita dapat mendefinisikan peran sosial kita, terutama dalam menggunakan bahasa yang dimiliki oleh setiap daerah. Bahasa ini menjadi syarat yang utama dalam berkomunikasi. Walau kita Indonesia memiliki banyak bahasa, namun kita masih dipersatukan dalam satu bahasa yaitu bahasa pemersatu, bahasa Indonesia. Bahasa yang membangun hubungan sosial kita menjadi lebih intim, lebih dekat, lebih nyaman dalam berkomunikasi. Bukan hanya saja bahasa yang diperlihatkan dalam level ini, tetapi ada juga peran gender, dan organisasi-organisasi dalam masyarakat.
Berbicara mengenai gender ini, belum 100% negara kita menerima akan adanya perbedaan gender. Orang cenderung menjatuhkan gender atau martabat gender mereka. Pada dasarnya Tuhan menciptakan kita manusia itu baik adanya, semunya sama-sama manusia. Tidak ada yang lebih tinggi atau pun tidak ada yang lebih rendah. Semuanya sama dimata Tuhan, kerena Tuhan menciptakan manusia itu serupa dan segambar dengan cintra Allah-Nya.
Level yang ketiga adalah level simbolik. Level ini mencakup nilai-nilai dan keyakinan yang bisa saja abstrak atau tidak terwujud. Menjadi kunci untuk menyatakan atau mendefinisikan akan dirinya sendiri. Contohnya adalah soal kebiasaan. Dalam kehidupan saya juga sering melihat adanya orang-orang yang sering menyatakan nilai dari kepribadiannya. Baik itu keburukan maupun kebaikannya. Dalam realitasnya itu belum terwujud dengan apa yang diomongkan. Orang menyatakan “oh, saya itu baik, bisa menolong orang, bisa masak untuk orang, dan lain-lain. Namun ketika dilihat dari kehidupan sehariannya, ia tidak seperti itu. Itu hanya sebagai suatu omongan untuk menyatakan dirinya sendiri.
Saya memperdalam kehidupan multikulturalisme ini dengan mengambil salah satu bagian dari buku yaitu tentang “Identitas”. Identitas ini sangat penting sekali dalam saya pelajari tentang multikulturalisme. Mengapa? Karena pada dasarnya untuk sampai pada multikulturalisme, terlebih dahulu saya harus mengenal terlebih dahulu indentitas pribadi saya. Baik itu indetitas internal maupun eksternal. Indentitas menjadi ciri, tanda, jatidiri, sifat khas dari pribadi seseorang atau individu. Misalnya saya sendiri, memiliki identitas orangnya pendek, kulit hitam, rambut keriting, jelek, misalnya saja gitu. Itu menandai tentang ciri khas dari diri saya sendiri. Identitas ini juga di bagi menjadi dua bagian yaitu identitas individu dan identitas kolektif. Identitas individu seperti yang sudah saya contohkan di atas. Sedangkan identitas kolektif itu berbicara tentang identitas kelompok atau lebih pada identitas eksternal. Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa orang selalu ingin menunjukan identitasnya?
Orang menunjukan identitas dengan dua kemungkinan. Yang pertama adalah untuk hal positif; akan pengenalan kepada orang lain akan siapa dirinya. Contohnya, saya memperkenalkan akan ciri khas ataupun sifat saya kepada saudara yang lain. Itu dengan tujuan baik supaya orang dapat mengenal saya. Yang kedua adalah untuk hal negative; orang mempunnyai tujuan untuk menyenangkan dirinya sendiri atau lebih pada mengangkat identitasnya secara individu. Orang lebih menginginkan dirinya supaya identitasnya lebih dikenal orang, supaya orang dikagumi berlebihan. Contohnya, para elit politik, para penguasa, para pemegang kekuasaan pemerintahan mereka menggunakan identitas atau kedudukan mereka untuk mendapat kepuasan diri mereka sendiri. Dalam kehidupan membiara juga sering kali saya mencjumpai kejadian seperti itu. Para biarwan-biarawati menggunakan identitas biara mereka untuk mendapat nama di mata masyarakat. Atau lebih dikenal lagi dengan istilah sekarang ini adalah mencari nama supaya dikenal orang. Padahal apa yang dilakukan itu sebenarnya salah.
Mengapa pelecehan terhadap satu identitas dapat merusak upaya pembangunan masyarakat multikulturalisme? Karena pada dasarnya multikulturalisme itu terbentuk dari adanya identitas individu dan identitas kelompok. Sehingga ketika orang melecehkan satu identitas saja, dapat merusak pembangunan masyarakat. Contohnya seperti ketika saya merusak atau menjelekan budaya atau pun mengatakan kepada teman Papua kalau kulitnya hitam. Walau saya mengatakan untuk identitasnya secara pribadi, namun ketika orang itu atau pun ada orang lain yang mendengar akan omongan saya itu lalu disebarluaskan, maka akan munculnya suatu pemberontakan. Yang dimana pemberontakan itu yang awalnya hanya dari hal kecil saja menjadi hal yang besar.
Dari satu identitas saja menjadi luas, menjadi majemuk. Sehingga mengapa dikatakan pelecehan satu identitas dapat meruka multikulturalisme, karena multikulturalisme itu terbentuk dari identitas itu. Dalam kehidupan membiara misalnya, ada teman saya frater yang memiliki sifat yang jelek. Lalu dia dicap oleh para suster-suster yang lain. Walau tadi awalnya hanya menggunakan identitas pribadi, lama-lama akan menjadi multikultur. Karena frater itu berasal dari satu kongregasi atau tarekat dimana ia tinggal.
Tentang identitas ini juga dapat saya rasakan sebagai calon Bruder MTB. Sebagai pengikut semangat Santo Fransiskus Assisi, para Bruder MTB juga mempunya identitas sehingga orang dapat mengenal bahwa Bruder itu adalah bruder MTB. Tanda itu adalah Tau. Tau menjadi identitas dari konggreasi Bruder MTB.
Kesimpulannya bahwa Multikulturalisme merupakan suatu upaya untuk menata masyarakat majemuk menjadi masyarakat multikulturalisme yang sama-sama memiliki kebebasan dan kesetaraan. Maka, dalam pendidikan multikulturalisme, perlu dipikirkan secara bijaksana dalam mengatur kehidupan masyarakat majemuk menjadi masyarakat multikulturalisme.Untuk itu, perlu ada pendidikan multikulturalisme. Tidak hanya untuk kaum awam tetapi sangat perlu untuk kaum religius. Hal ini supaya dapat membantu kaum religius terutama nanti ketika sudah berkarya, sudah turun ke masyarakat. Supaya tidak merasa asing atau merasa baru dengan kebudayaan di wilauah setempat. Dalam pendidikan ini, ditimbulkan kesadaran akan nilai-nilai yang perlu dikejar sebagai syarat untuk hidup bersama dalam masyarakat multikulturalisme. Nilai-nilai ini berkaitan erat dengan pendidikan etika. Yang mana nilai-nilai inilah yang menjadi pegangan bagi setiap individu terutama saya sebagai kaum religus. (Yustinus S. Belutow)***. ***Penulis adalah Postulan MTB Angkatan 2021-2022