Wed. Apr 17th, 2024

Sdr. Rion
Prakata
Selama tiga bulan kami para novis II, telah belajar teologi kerja bersama dengan Br. Petrus Handoko MTB, yang dimulai pada bulan Agustus-Oktober 2021. Selama tiga bulan, kami telah belajar teori-teori dalam pelajaran teologi kerja tersebut. Lewat pembelaran ini memungkinkan kami atau membekali dalam berkarya nantinya. Atau dengan kata kata lain pelajaran ini merupakan suatu pelajaran yang mengarahkan atau membuka wawasan kami tentang pekerjaan itu sendiri. Dari sini kami bisa paham bagaimana muncul persoalan tentang seperti apakah pekerjaan itu?
Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang membawa dampak atau nilai. Namun dalam buku yang telah kami pelajari yaitu “Berkerja Sebagai Karunia” menjelaskan, sebab, tidak setiap kegiatan manusia di sebut “pekerjaan”, pada kesempatan yang lain disebut “rekreasi” saja. Misalnya, bila seseorang tukang kebun mengerjakan kebun, kegiatan itu di sebut “pekerjaan”. Tetapi bila pada hari libur sebagai juga berkerja sebentar di kebun, maka kegiatan ini tidak di sebut “pekerjaan”. Tetapi hal ini tidak dapat diberikan suatu pekerjaan yang lengkap. Namun secara singkat boleh dikatakan, bahwa pekerjaan manusia ialah setiap kegiatan yang diarahkan kepada suatu kemajuaan manusia, entah rohani jasmani, atau kegiatan yamg mau mempertahankan akan sesuatu kekayaan yang sudah diperoleh.(Cletus & Alex Lanur OFM, 1985: 28). Di sinilah letak kesadaran kita sebagai manusia pekerja yang sunguh kita alami masing-masing.
Tanpa Membawa Bekal
Kemajuaan yang di peroleh suatu pekerjaan, sangatlah berpengaruh dalam diri seseorang. Bisa saja memberi dampak kepada orang lain, atas apa yang ia peroleh dari suatu pekerjaan. Barang kali ini yang membuat suatu pekerjaan manusia, yang dalam kegiatan tertentu memberi makna dan nilai.
Untuk itulah kami para novis II, mempraktekan teologi kerja itu sendiri dengan mencari kerja di luar komunitas, tanpa harus membawa bekal (uang dan makanan). Apapun jenis pekerjaan yang kami kerjakan, yang penting kami dapat bekerja secara sukarela. Praktek Teologi Kerja ini kami lakukan selama tiga hari, yang dimulai pada tanggal 3-5 November 2021. Ketika kami bekerja, kami boleh menerima upah hasil kerja kami, kalau tidak ada, ya syukuri aja. Kami harus bekerja masing-masing di suatu tempat. Maka dari itu, saya akan menceritakan pengalaman kerja saya selama tiga hari dan mencoba mencari makan dan nilai di dalam pekerjaan tersebut.
Menjadi Kuli Bangunan
Menjadi kuli bangunan tidaklah asing bagi saya. Bahkan sebagian besar keluarga saya menjadi tukang bangunan. Ayah dan paman saya sering dijuluki di kampung sebagai Kepala Tukang. Namun dari profesi dari mereka berdua ini, paman sayalah yang lengkap segala macam alat pertukangan tersebut. Tapi kadangkala mereka menjadi satu tim ketika berkerja di bangunan.
Sebab dari itu, ketika mereka membangun sebuah bangunan (rumah) terutama di kampung itu sendiri, kadang kala saya membantu mereka dalam perkerjaan tersebut. Misalnya: angkat batako, mengaduk semen dan pasir, dan angkat batu. Karena itulah saya pernah menjadi kuli bangunan, walaupun hanya sekedar membantu. Saya mengenal sedikit pahit manisnya di dalam profesi mereka. Sehingga sering kali ada yang bilang; “mungkinkah salah satu diantara mereka ada yang menggantikan bapaknya (Regenerasi)?”. Nampaknya hal ini tidak terjadi pada saya. Saya tidak mau hal yang sama terjadi pada saya dan saya bertekat untuk tidak ikut menjadi mereka. Mulai dari situ, saya tidak suka bekerja hal seperti itu dan ada komitmen untuk tidak menyentuh sama sekali.
Namun apa yang terjadi ketika saya praktek teologi kerja, terutama pada hari yang pertama? Inilah kisah singkatnya. Pada tanggal 3 November 2021 dan tepat pada hari Rabu, kami para novis II akan mulai praktek teologi kerja. Masing-masing mulai mempersiapkan diri, baik fisik dan mental. Semua kelihatannya sudah siap-siap dan penuh dengan semangat. Kami para novis II saling memberi dukungan dan semangat terhadap satu sama lain.
Ketika selesai kerja pos masing-masing, sekitar pukul 08:00 WIB kami berangkat. Ada yang berangkatnya secara pribadi dan ada juga secara kelompok. Termasuk saya sendiri yang berangkatnya dengan kelompok. Kelompok saya pada waktu itu yaitu (Alex dan Santo). Kami mencari kerja di daerah Wonosari. Dalam perjalanan, kami sambil bercerita-cerita dan sambil juga melirik ke kiri dan ke kanan siapa tahu ada perkerjaan.
Singkat cerita, saya melihat ada beberapa orang yang sedang bekerja sebuah rumah. Tanpa pikir panjang saya mencoba menawarkan tenaga saya di situ. Saya memperkenalkan diri saya terlebih dahulu, baru menjelaskan maksud dan tujuan saya yang ingin menawarkan tenaga saya disitu, dengan berbagai macam alasan (maaf, waktu itu saya mengunakan identitas palsu, yaitu tugas dari kampus, padahal saya belum kuliah). Syukurlah pada saat itu juga saya langsung di terima.
Entah kenapa pada saat itu juga saya langsung mengingat masa lalu saya. Sehingga muncul gejolak dalam hati saya, yang membuat saya untuk berkerja menjadi kendor. Ada perasaan kesal dan ingin mencari perkerjaan lain. Namun saya sudah terlanjur diterima di sini dan bahkan mereka senang sekali dengan kehadiran saya. Namun apa boleh buat saya tetap kerja di tempat tersebut. Toh mereka senang dengan kehadiran saya, sehingga saya berusaha untuk bersahabat dengan masa lalu saya, supaya energi saya tidak terkuras sia-sia akibat mengingat itu.
Perkerjaan yang pertama saya lakukan adalah mengangkut batu untuk mencor fondasi yang baru dibuat. Setelah batunya banyak, saya beralih kepekerjaan lain yaitu mengangkat campuran hingga sampai jam 10: 00 Wib. Kami istrahat, minum dan snack. Sekitar jam 11:00 Wib kami mulai bekerja lagi.
Pekerjaan yang berikutnya saya menggali tanah untuk buat fondasi. Di sinilah mulai merasa amat terasa. Akan tapi saya tetap semangat dan pada akhirnya selesai juga dengan baik dan tuntas. Barulah setelah itu saya istirahat dan mereka pun istirahat juga untuk makan siang.
Menawarkan Untuk Adzan
Untungnya saya makan siang diajak oleh salah satu bapak yang bekerja dengan saya. Saya diajaknya ke rumahnya di daerah Sampangan. Rumah ini cukup jauh. Dalam perjalanan tersebut, saya mencoba mencari perkerjaan untuk besok. Di situ ada bengkel kayu dan janjinya harus ketemu bosnya pada jam 07:30 Wib. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan dan tiba di rumahnya. Sesampai dirumahnya saya dijamu dengan segelas es. Setelah itu, saya makan siang bersama bapak tersebut. Tidak lama kemudiaan istrinya datang dan saya perkenalkan diri saya. Istrinya sangat ramah dan menawarkan untuk adzan, namun suaminya memberi tahu kalau saya agama Kristen, setelah mengetahui itu istrinya langsung senyum.
Setelah itu kami berdua kembali lagi ke tempat kerja. Kami tidak langsung berkerja, kami istirahat dulu sambil menunggu yang lain, sambil bercerita-cerita namun saya tidak terlalu paham, karena mereka dominan mengunakan bahasa jawa. Saya hanya ikut tertawa saja ketika mereka tertawa, saya hanya sok tau pada hal tidak tahu. Haaaaaa…
Pada jam 13:00 Wib siang kami mulai kerja lagi. Pekerjaan kali ini adalah mengaduk semen. Selesai mengaduk semen saya istirahat beberapa menit. Setelah selesai istirahat, saya beralih lagi kerja yang lain yaitu memecah batu. Untunglah saya sudah berpengalaman juga dalam memecah batu dan perkerjaan ini sampai selesai.
Ada salah satu buruh bangunan yang merasa kasihan terhadap saya. Ia menysuruh saya untuk berhenti dan memang pada waktu itu saya terlihat sangat lelah. Pada jam 16:00 Wib saya pulang ke komunitas dan bertemu dengan kedua saudara saya yaitu Santo dan Alex. Kami pulang ketika hujan turun. Waktu itu kami kehujanan karena tida mantel atau paying yang kami bawa atau sediakan.
Mencabut Kacang Tanah
Selesai sarapan pagi, saya langsung pergi tanpa mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu dan membiarkan teman pos saya berkerja sendiri. Ini karena saya harus cepat-cepat ketemu bos yang sudah di janjikan kemarin. Dan janjinya pada jam 07:30 Wib. untuk itulah saya cepet-cepat pergi ke tempat itu. Setelah saya tiba di tempat itu, saya langsung bertemu pemilik tempat itu. Saya memperkenalkan diri saya serta maksud dan tujuan saya sebagaimana saya menjelaskan seperti hari kemarin saya melamar kerja.
Setelah panjang lebar kami berbicara dan ternyata di tempat itu membutuhkan perkerjaan tetap di bagian pembukuan. Saya tidak diijinkan bekerja di situ. Inilah pengalaman pertama kalinya saya di tolak. Untungnya waktu itu masih pagi. Masi ada kesempatan lagi untuk mencari perkerjaan lain. saya tidak boleh putus asa. Saya harus optimis untuk dapat bekerja, kata saya dalam hati.
Namun, apa yang terjadi? Saya beberapa kali ditolak. Di sinilah semangat saya mulai kendor dan bukan hanya itu saja, tenaga pun mulai lowbat. Memang di bebrapa tempat ada banyak sekali pekerjaan yang masih membutuhkan tenaga, seperti bangunan. Alasan saya tidak menawarkan di situ ialah karena kemarin saya sudah berkerja di bangunan, saya ingin mencari pengalaman lain.
Hari pun mulai siang. Saya sama sekali belum mendapatkan pekerjaan lagi. Ketika saya melamarkan untuk membantu seorang bapak yang sedang membajak sawah, bapak itu malah merasa kasihan terhadap saya. Saya sungguh-sungguh putus asa, saya merasa jengkel dengan kejadian itu. Saya pasrah saja untuk tidak makan siang, saya ingin pulang.
Waktu itu saya berniat menyerah dengan kejadian tersebut. Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya lakukan. Saya berjalan tanpa tujuan dan tidak ingat lagi nama daerah itu. Saya berjalan terus dan akhirnya saya menemukan seorang bapak yang sedang mencabut kacang tanah. Saya mendatangi bapak itu dan menawarkan di situ. Syukurlah saya diterima, saya senang sekali.
Saya cepat-cepat mengganti celana dan membantu bapak itu, tapi mau selesai. Saya hanya mencabut hanya beberapa meter saja. Kurang lebih 3 meter yang saya dapat cabut. Selesai mencabut saya makan siang seadanya dengan bapak itu. Setelah itu saya pulang. Tiba di komunitas pada jam 14:00 Wib dan langsung istirahat karena sudah lelah.
Mengetam atau mengarit padi
Inilah hari terakhir dalam melaksanakan praktek teologi kerja. Saya mencari perkerjaan di daerah yang sama yaitu Wonosari. Saya mencoba mencari perkerjaan di toko-toko kelontong. Saya mencoba menawarkan diri di sebuah toko bangunan, khusus untuk semen. Saya tetap memakai metode yang sebelumnya. Namun ada persyaratannya kalau bekerja di situ walau hanya sekedar membantu atau pegawai lepas/harian. Persyaratannya adalah saya harus mendaftar diri di kepala tokonya yaitu di Seleman. Karena persyaratan ini amat berat, saya menarik kembali permintan saya dan tidak jadi bekerja di situ.Saya mencari pekerjaan lain. Mulai dari situlah saya memikirkan untuk mencari metode baru, mulai memperkrnalkan diri serta maksud dan tujuan. Saya tidak mau memakai lagi atas nama kampus.
Dalam perjalanan saya berjumpa dengan sdr. Albert, yang sama-sama mencari perkerjaan. Ia yang lebih duluan mendapat perkerjaan dari pada saya. Saya terus berjalan lurus di jalan Wonosari dan tibalah saya di persawahan. Di situ banyak orang yang sedang mengetam padi. Saya memberanikan diri untuk menawarkan tenaga saya di situ dengan memakai metode yang sudah saya rencanakan sebelumnya. Saya tidak memakai lagi atas nama tugas dari kampus, melainkan atas nama yayasan (maaf waktu itu menggunakan nama yayasan YPSB) dan berhasil.
Awalnya mereka heran, karena baru kali itu mereka mendengar kegiatan dari yayasan. Biasanya dari mahasiswa yang sedang KKN. Setelah saya diterima, saya ditawarin minum dulu, setelah itu mengarit padi. Bapak itu hendak mau mengajari saya cara mengaritnya. Akan tetapi tidak jadi. Karena dia heran melihat saya sudah lincah mengarit padi. Kata bapak itu, biasanya kalau anak yang sedang KKN harus diajar dulu, mas!. Sebenarnya saya sudah terbiasa mengetam padi ketika di kampung dulu Pa. Bapak itu senyum gembira.
Selesai saya mengarit padi tersebut, saya pulang sekitar jam 15:00 Wib (waktu itu saya lupa bawa jam. Bapak itu menggunakan matahari untuk menentukan waktu. Ketika pulang saya jalan sempoyongan, karena saking capehnya. Semua badan terasa pegal semua terutama bagian pinggang. Mata semua orang tertuju kepada saya, mungkin di kira saya orang gila karena tampan saya yang tidak beraturan dan akhirnya saya tiba di komunitas.
Mengayun Nasib
…..”dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah pagi siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu. Jika sesorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2 Tes 3:8,10).
Berusaha dan berjerih payah, itulah kata kunci dalam hal berkerja, entah dalam hal bekerja apa pun. Ini sungguh saya rasakan dalam praktek teologi kerja. Bekerja memang kadang kala menimbulkan rasa malas, sehingga muncul sikap acuh tak acuh. Mungkin juga karena merasa diri minder. Malu atau bahkan ketidakmampuan dalam hal bekerja.
Saya pun sempat merasa hal demikian, yang membawa saya menjadi pribadi yang memboros waktu dengan kemalasan.
Namun saya bangkit dari pengalaman keburukan dalam mencari kerja tersebut, Saya mulai menyadari betapa pentingnya bekerja di dalam kehidupan ini. Saya mulai belajar untuk merasakan hasil jerih payah sendiri, agar orang tahu menghargai yang namanya hidup. Percuma saya hidup di dunia ini, kalau saya tidak berkerja siang dan malam, sehingga akibatnya, saya tidak merasakan bagaimana Allah itu bekerja untuk manusia.
Akhir Kata
Melalui bekerja inilah manusia akan menyelamatkan dirinya, sesuai dengan talenta-talenta yang di perolehnya. Manusia yang secitra dengan Allah apa bila ia juga bekerja. Tentunya bekerja yang saya maksud ialah bekerja untuk menyelamatkan, bukan untuk menghancurkan. Karena banyak jenis pekerjaan manusia yang serakah, sehingga muncul korupsi, pemerkosaan dan sampai pembunuhan.
Bersyukur selama tiga hari saya banyak belajar bekerja untuk mengayun nasib dengan seimbang. Saya dapat belajar mendapat upah yang sesungguhnya. Bukan hanya karena keinginan semata. St. Fransiskus Assisi pernah berkata; “Uang bagi hamba-hamba Allah, hai saudara, tidak lain dari pada setan dan ular berbisa”. Maka dari itu saya harus terus melatih diri saya, agar setiap pekerjaan saya dapat membawa berkat kepada sesama, mengembangkan talenta-talenta yang saya peroleh, dan memelihara alam semesata sebagai sumber pekerjaan manusia. Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menepatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. (kejadian 2:15). ***