Wed. Apr 17th, 2024

Catatan Awal
Ketika saat praktik teologi kerja selama tiga hari dari tanggal (3-5 November 2021), untuk mengasah diri dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, merupakan pengalaman menarik untuk dikisahkan. Dalam mencari pekerjaan, secara sosial dimaknai sebagai bentuk pelayanan. Karena dalam praktek teologi kerja ini kami bekerja tanpa mengajukan lamaran sehingga bebas mencari kerja. Seperti apa saja kerja yang dicari hanya mengandalkan keberanian semata.
Etos Kerja
Tanpa terasa bisa saya lewati dengan rasa terenyuh dalam pikiranku saat itu. Teologi kerja memahami saya untuk upaya bagaimana daya pikir kerja sebagai pelayan bukan mengutamakan berupa barang. Akan tetapi sebagai tanda penyerahan diri. Mau mengerahkan dan membagikan tenaga sebagai orang upahan tanpa imbalan.
Pengalaman selama tiga hari bekerja, membuat saya semakin merasakan bahwa betapa kerasnya hidup ini. Orang berlomba-lomba mencari pekerjaan demi sesuap nasi dan keberlangsungan hidup ini. Jika melihat orang mencari nafkah dan giat untuk menghidupi keluarganya, terkadang saya kembali ke pengalaman masa laluku. Fenomen yang terjadi adalah bagaimana semua orang tidak malas atau mengganggur. Karena dengan cara demikian yang memang harus dilakukan demi mendapat kebutuhan meskipun berat seklipun.
Hidup ini mempunyai tantangan yang selalu ada di hadapan kita. Saya sendiri merasakannya. walaupun hanya sedikit bagian dari hidup mereka. Selama saya mengamati dan langsung terjun dalam kerja apa saja, maka etos kerja di tiap daerah berbeda. Saya melihat di Yogkarta pinggiran orang-orang berkerja dengan penuh totalitas. Etos kerja mereka memberi daya bagi pemaknaan diri tentang nilai dan manfaat kerja bagi setiap insan.
Bukan rahasia lagi bahwa, seringkali saya lupa bahkan tidak sadar. Saya jujur katakan memang baru sekarang saya menyadarinya. Tidak mau atau malah tidak mampu melihat makna kerja. Hanya lebih daripada sekadar mencari uang, imbalan, dan jabatan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan hidup yang juga tidak kunjung terpenuhi.
Disinilah pentingnya berteologi. Jadi belajar teologi kerja semacam daya penggerak bagi saya untuk melakuan dengan penuh sukacita. Kerja apa saya yang memberi positif bagi saya, semuanya sangat muliah di hadapan Sang Sumber Pekerja Utama. Dari cara pandang teologi, makna dan tujuan hidup manusia hanya akan dapat ditemukan secara penuh sejauh hidup kita mempunyai hubungan yang positif dan sebagai alat dengan Allah.
Kemaknaan Hidup
Hidup yang bermakna dan hidup yang bertujuan hanya dapat ditemukan secara penuh sejauh menyadari bahwa Allah sungguh-sungguh menganggap penting hidup. Kita bisa mengetahui secara iman dan tahu persis bahwa Allah menginginkan sesuatu yang besar untuk saya lakukan bersamaNya melalui hidup yang saya jalani setiap hari. Semua yang saya lakukan, untuk kemuliaan Allah. Maka jika direnungkan sebenarnya tujuan-tujuan kehidupan ini dapat dimakna secara luas. Demikian pula dalam membaca wacana atau gagasan tentang teologi kerja.
Melalui materi teologi kerja ini, saya dimampukan untuk melihat hubungan antara apa yang menjadi pekerjaan dan mana menjadi pelayanan maupun sebagai mengabdikan diri. Selain itu apakah saya berkerja sesuai dengan apa yang diinginkan Allah melalui diri saya dalam suatu pekerjaan tersebut. Dengan kerja hidup saya berarti dan bermartabat karena bisa mempersembahkan diri kepada Allah melalui berkerja.
Selain itu dengan memaknai nilai-nilai dari teologi kerja, saya diajak akan melihat pekerjaan dari pandangan Allah sehingga menyadari dan memahami sesuatu yang penting pekerjaan itu bagi Allah. Berpasangan dengan itu, pandangan Allah yang diperoleh melalui teologi kerja ini kemudian akan memampukan manusia menemukan tujuan-tujuan Allah dalam pekerjaan yang digelutinya. Semua inilah yang akan melahirkan niat, semangat, karakter pribadi serta keyakinan kerja unggul dalam menekuni pekerjaan.
Teologi Kerja Konteks Religius
Dengan berteologi tentang kerja setidaknya saya sedikit berharap yaitu agar setiap pekerja sebagai religius mengerti dan memahami bahwa kerja di bidang apa pun dan dalam jenis apa pun sangat penting, bermanfaat, bertujuan, Bagi religius, kerja bermakna tidak hanya bagi manusia, tapi bagi Allah juga. Setiap pekerjaan religus mengerti dan memahami bahwa kerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri dan komunitas, tetapi memiliki hal penting bagi kehidupan umum bersama dan di dalam Allah.
Setiap pekerjaan, religius mengerti dan memahami bahwa apa yang mereka kerjakan di dunia ini haruslah merupakan cerminan, bagian, atau lanjutan dari pekerjaan Allah dan cara Allah bekerja. Setiap pekerjaan religius mengerti dan memahami serta dapat menempatkan pekerjaannya dalam terang wawasan Allah, sehingga dapat melihat campur tangan dan peranan Allah dalam pekerjaan.
Pekerjaan religius mengerti bahwa Allah adalah Sang Pekerja Agung dan menghendakinya juga bekerja dengan sungguh dan standar Allah. Melalui bakat yang telah diberikanNya kepada masing-masing pekerja. Melalui kerja dengan sungguh dan standar Allah itu pula memberi dan memperoleh sepenuhnya berkat yang telah dijanjikan Allah dalam rangka memperluas kerajaanNya di dunia. Dengan demikian dapat memenuhi perjanjianNya yang luhur dan mulia. Pekerja dan penyedia kerja di dunia kerja yang selama ini memang saling terhubung.
Dengan mendalami dan memahami teologi kerja dapat dimaknai sebagai bentuk pengabdian pekerja. Selain itu sebagai penyedia kerja dan dapat merasakan makna kerja yang digeluti. Maka untuk selanjutnya dimampukan bekerja dengan sepenuh hati dan memberikan kemampuan terbaik yang telah Allah anugerahkan kepada semua orang dengan standar Allah untuk juga mendapatkan berkat yang telah dijanjikan Allah.
Pekerja dan Penyedia Kerja
Pekerja dan penyedia kerja di lingkungan sekitar ataupun di tempat lain sebagai bentuk kerja sama dengan Gereja. Dengan mendalami dan memahami teologi kerja saya mempunyai keyakinan yang kuat dalam mengikuti panggilan sebagai Bruder MTB.
Kiranya dapat menyegarkan diri untuk melihat betapa ladang Allah terbentang sangat besar. Tidak terbatas pada Gereja dan sekitar maupun ruang lingkup di mana berada saja, melainkan meluas dan kemudian menyatu dengan semesta kehidupan sesama manusia (Jansen Sinamo dan Eben E. Siadari, 2011).
Kemudahan, Kesulitan, dan Tantangan
Saat saya mulai praktik tentu ada hal yang menjadi rintangan yang saya alami. Seperti kemudahan mencari secara bersfat sosial/ sukarela yang saya lakukan antara mudah dan tidak karena sistem kerja praktik dan menawarkan diri ingin membantu orang. Maka ketika ketemu tukang bangunan mudah sekali mereka menerima. Ketemu dengan orang sedang bertani, seperti petani sawah, pekebun atau merumput dll, itu juga kemudahan bagi saya untuk dapat kerja.
Walaupun mencari kerja bersifat sosial namun mendapat kesulitan juga untuk mendapat kerja. Karena ada orang saat menawarkan diri mau bekerja belum tentu langsung percaya, timbul keraguan untuk tidak mudah menerima. Tidak jarang ditolak walapun kerja sosial atau bersifar mencari pengalaman. Bahkan secara pribadi saya menemukan kerka sosial seperti sebagai rasa solidaritas terhadap kelas bawah dalam masyarakat. Namun apakah rasa trust satu sama lain menjadi kekuatan untuk bisa diterima oleh orang yang belum kita kenal.
Tantangan
Selama tiga hari praktik teologi kerja, tentu ada tantangannya misalnya di sawah hanya dapat minum dan makan kecilan tidak dapat makan siang. Kondisi panas terik matahari, capek, dan lelah tidak bisa ditolak atau menghindar dari fenomena alam tersebut.
Bagaimana kerja di wilayah bangunan. Jika dibangunan, kerja lebih berat dan lebih capek. Dan saya harus menghargai pekerjaan dan kegiatan yang sudah didapat dengan tanpa mengharapkan imbalan. karena bagi saya bukan itu tujuan utama. Saya ingin mencari pengalaman dan pengetahuan semata. Namun tidak dapat dipungkiri ada godaan bahwa, pengabdian dan pelayanan yang menjadi perhatian dan tenaga selalu saya usahakan demi mendapat pengalaman lewat pekerjaan yang dijalankan.
Sebagai hamba Tuhan dan pekerja kita mestilah hormat dan tunduk kepada wewenang atasan, pun kalau mereka itu awam. Hendaknya kita tetap membangun sikap solider dengan rekan sekerja; yang kita ungkapkan dengan simpati, empati, rajin bekerja, tekun, teliti, serta membangun kerjasama. Dari cara kita bekerja, mengabdi dan melayani, hendaknya kita tampakkan kesaksian yang bisa menjadi motivasi bagi orang lain untuk memilih hidup religius (Statuta art. 75).
Spirit Teologi Kerja
Meskipun baru praktek, namun ini menjadi pedoman saya untuk kedepannya nanti bahwa memang dari sekarang belajar mengalami walaupun sebelum memutuskan jadi bruder pernah bekerja di Supermarket (Indomaret). Akan tetapi pengalaman ini secara nyata memberi nampak bagi saya. Apalagi di lain tempat dan tidak kenal. Saya harus berhadapan dengan orang yang beda bahasa sehingga memicu diri untuk mau terus memahami keadaan orang lain seperti di pulau Jawa.
Pengalaman inilah sebagai cara saya mengabdi dan bekerja sebagai bruder MTB. Bukan kebetulan hal demikian terjadi adanya kalau saya tidak belajar teologi kerja. Sebab baru kali ini saya mengalami pengalaman pertama dalam sejarah hidupku bahwa ternyata ada materi khusus tentang teologi kerja.
Untuk itu pengalaman dari hari ke hari sangat memberi niat, agar bisa bertumbuh dan berkembang sampai akhir hidup. Terulang dalam kerja tidak bisa dilenyapkan karena itulah kehidupan manusia yang dijalani maka patut saya syukuri dengan semua peristiswa baik yang menguntungkan maupun yang merugikan. Namun di sisn saya dapat belajar dari hal tersebut.
Setiap orang mesti memahami bahwa kerja tidak terlepas dari hidup manusia. Dari situlah asalnya hak setiap orang untuk memilih dan menentukan sendiri pekerjaannya. Diri sendiri pun harus selalu bertanggung jawab atas pekerjaan karena akhirnya selalu berasal dari keputusan serta pilihannya sendiri, sehigga bisa juga bertanggung jawab atas pelaksanaan keputusan.
Maka untuk itu, saya harus menerima dari apa yang sudah dipelajari dalam teori teologi kerja. Jadi pekerjaan yang saya temui selama tiga hari tersebut merupakan keistimewaan yang telah saya peroleh secara nyata. Pekerjaan tentu memiliki nilai dan berarti bagi saya bahwa tawarkan jasa kebaikan diri, niat membantu, belajar berinteraksi dan relasi komunikasi, rendah hati bertanya.
Disadari ilmu pengetahuan akan kehidupan, kesabaran, rela ditolak, belajar menerima kondisi dan situasi di mana bekerja, mau melibatkan diri, merelakan diri rendah diri mau diperintah dan disuruh sebagai kuli. Proses awal pembinaan sebagai calon Bruder pasti langkah awal untuk selanjutnya supaya mempunyai bekal agar tidak menjadi canggung bila sudah di tempat karya.
Teringat Kembali
Ketika saya bekerja di Indomaret yang dapat memberi rasa kenyamanan saya alami adalah pekerjaan mempunyai SOP (Standard Operasional Prosedur) yang benar dibuat oleh perusahaan. Dari sini aturan ini, setiap orang mau melamar kerja pasti mengajukan surat lamaran untuk permohonan diri sebagai ungkapan bahwa berniat bekerja.
Adanya permohonan tersebut, tidak mungkin terlalu berharap tinggi. Sebab dari pihak perusahaan akan ada panggilan jika mereka membutuhkan karyawan, juga harus ikut seleksi dan wawancara. Maka tidak mengherankan kalau banyak tidak lolos seleksi/diterima. Indomaret sendiri menerapkan aturan yang disiplin dan setiap karyawan pun ada jabatan sesuai ketentuan perusahaan. Dari hal itu harus dilaksanakkan dengan sungguh karena bekerja secara tetap waktu da harus rapi berpakaian, bersih, wangi, dan sopan walaupun kerja di sebuah toko biasa dalam pandangan banyak orang.
Pada saat praktek teologi kerja mengingat kembali dalam benak saya dan mengukir kenangan akan masa lalu ternyata memiliki persamaan yaitu bekerja, hanya beda profesi dan situasi yang saya alami. Kalau praktek teologi kerja ini menawarkan diri tanpa mengajukan lamaran dan mengandalkan keberanian untuk membantu sebagai pelayan dan tidak ada aturan yang terikat begitu kuat seperti di perusahaan serta mengutamakan tenaga dan semangat mau bekerja.
Catatan Akhir
Kemampuan berinteraksi saya yang memampukan untuk berkomunikasi dengan orang lain dengan baik merupakan sebuah pengalaman yang tidak begitu saja. Pengalaman berkomunikasi ini terjadi jika relasi dengan tuan atau bos berjalan sebagai patner dan dapat di percaya. Namun sebelumnya saya melihat hanya sebagai tuan dan hamba. Saya menjalani karena saya membutuhkan uang. Demi masa depan hidup saya.
Pengalaman masa lalu tidak dilupakan begitu saja. Saya bersyukur boleh merasakan arti bekerja masa lalu dengan kegiatan atau praktek teologi kerja. Akan tetapi kedua pengalaman ini, betapa sangat memengaruhi diri saya sebagai calon bruder. Pengalaman ini menjadi pelajaran yang berharga sekaligus pengalaman menarik di tanah rantau.Ternyata hidup ini terus berjalan dan memang bekerja. Walau sejatinya harus di tempat yang berbeda sekalipun.
Perubahan diri dan hidup yang saya rasakan dari zona nyaman dan meninggalkan hal-hal tersebut membuat diri nyaman sebelumnya. Namun lewat teologi kerja beralih dari pada peristiwa tidak nyaman serta mengeluarkan diri dari kelekatan dan kebiasaan lama menjadi hidup baru yang saya lakukan dan rasakan saat ini.
Peristiwa tersebut, mengingatkan saya pada St. Fransiskus saat segala pakaiannya yang ia berikan untuknya, dia kembalikan pada orangtuanya. Di depan bapa uskup sambil menelanjangi dirinya. Semua yang ada padanya dikembalikan kepada ayah yang haus kekayaan duniawi. Peristiwa ini memang berbeda dengan keadaan saya tetap menjadikan hati berpaling pada kata sederhana dan penyerahan diri sepenuhnya. Dan tidak sesuatu hal itu dijadikan selamanya melainkan tidak bisa segalanya. Thanks Lord, Pace e Bene. ***