Wed. Feb 28th, 2024

Sdr. Alberthahn
Catatan Awal
Dalam berkerja, terkadang banyak orang yang menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan yang ia senangi. Misalkan saja seseorang yang menyukai pekerjaan bertani. Pasti dia juga cenderung mencari pekerjaan yang berkaitan dengan pertanian. Begitu juga dengan pekerjaan yang lainnya, seperti bertukang, jadi mekanik, dan sebagainya. Demikian juga apa yang saya pikirkan dan inginkan dalam praktek teologi kerja yang kami laksanakan pada tanggal 3-5 November 2021 lalu.
Implementasi Teologi Kerja
Praktek ini diadakan dalam rangka implementasi dari kegiatan pelajaran teologi kerja dengan Br. Petrus MTB sebagai pengampunya. Praktek teologi kerja ini diadakan untuk mengenal bagaimana rasanya dan mengalami secara lansung pekerjaan yang di dapat dan bersolidaritas dengan sesama yang kita jumpa.
Dalam memilih pekerjaan, saya dengan yang lainnya diminta untuk mencari pekerjaan yang termasuk golongan ke bawah. Misalnya buruh bangunan, tukang becak, petani padi dan lain sebagainya. Yang terpenting adalah menghindari yang namanya kerja di tempat umat yang beragama Katolik. Tetapi bagi saya tidak mutlak sih, yang terpenting bagi saya adalah mendapat pekerjaan. Lagian mana ada zaman sekarang mendapatkan pekerjaan yang enak dengan mudah. Dalam kesempatan kali ini, mungkin ini bukanlah sebuah refleksi yang saya tulis, dikarenakan saya hanya ingin menceritakan pengalaman saya selama 3 hari tersebut. Yach, curhatlah isinya.
Pencucian Mobil
Dalam hari pertama praktek, saya mendapat pekerjaan di sebuah pencucian mobil dan motor. Di tempat pencucian tsb, sudah ada tiga orang karyawan yang bekerja di situ. Hal pertama yang saya rasakan adalah bagaimana saya melihat adanya rasa kecurigaan dan tidak percaya oleh pemilik pencucian tersebut. Hal ini karena saya sampai diminta KTP segala. Wajar sih kalau menurut saya. Setelah saya menjelaskan maksud saya kalau saya sedang dalam proses praktek kerja dan tidak mengharapkan imbalan. Kemudian baru pemilik kerja tersebut memaklumi. Tetapi tetap saja saya dianggap tidak bisa. Padahal sebelumnya yang namanya mencuci sepeda motor dan mobil itu sudah tidak asing lagi dalam kehidupan saya. Disitulah di mana kesabaran dan rasa tidak meninggikan diri dalam diri saya di uji. Saya hampir saja mengatakan jikalau saya sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti itu. Syukurlah tidak meledak. Hahaha… kalau itu terjadi sama aja dengan bunuh diri donk.
Yang membedakannya adalah bahwa dulu saya hanya mencuci kendaraan sendiri, sedangkan di tempet kerja, saya hanya sebagai buruh yang membersihkan kendaraan orang lain. Hal yang paling utama adalah ketelitian. Karena jika tidak teliti itu bisa mengakibatkan sesuatu yang tidak diinginkan. Misalkan saja saat saya mengelap kering sebuah mobil, jika tidak teliti itu bisa mengakibat badan mobil lecet. Jika hal itu terjadi dan pemilik mobil minta tanggung jawab, bisa berabe dech.
Ada kejadian menarik yang saya alami yaitu ketika ada seorang pelanggan yang komplen jika mobilnya yang kami cuci itu belum bersih benar. Tidak protes pada saya sih, soalnya kami bekerja sama-sama. Tetapi untuk memuaskan pelanggan itu, kami berempatpun mencuci ulang mobilnya. Di sini saya menilai jika saya tidak bisa semaunya saya sendiri. Bekerja itu harus bisa membuat pelanggan merasa puas dengan hasil yang baik. Walaupun pada awalnya saya seperti sempat dicurigai, tetapi akhirnya bapak pemilik pencucian itu percaya dengan saya. Bahkan saat saya pulang, dia berpesan kalau saya di perbolehkan bekerja di tempatnya kapanpun saya mau. Saya merasa senang banget. Bagi saya itu adalah suatu kepercayaan yang diberikan pada saya.
Pengisi Air Mineral
Pada hari kedua saya berkerja di tempat pengisian air minum dan gudang air mineral dengan kemasan yang berbeda seperti vit gelas atau botol. Pekerjaan itu saya dapatkan setelah saya berjalan jauh sekali, dan saya juga hampir tidak mendapatkan tempat kerja. Saat saya menawarkan bantuan kerja si situ, langsung saja saya diterima karena karyawan yang kerja di situ sedang izin. Dan saya pun di terima.
Tugas pertama saya adalah memuat galon-galon air yang berjumlah 18 galon dan dus-dus air ke dalam mobil pick up untuk di antar ke pelanggan yang ternyata jaraknya kurang lebih 45 menit perjalanan dan melewati jalan yang berkelok-kelok. Pada jam dua siang, gudang tutup dan sayapun pulang ke rumah. Ada hal menarik yang saya dapatkan adalah ketika si bapak dan ibu pemilik gudang meminta saya untuk kembali berkerja tempatnya jika saya membutuhkan pekerjaan. Hal yang sama yang saya dapatkan pada hari pertama. Apa yang ada didalam benak saya adalah mungkin karena saya berkerja dengan tidak meminta imbalan kali ya sehingga mereka menawarkan begitu. Tetapi saya rasa bukan begitu sih. Walaupun juga nggak tahu apa alasannya.
Rasa Malas dan Cari Aman
Pada hari ketiga, saya merasa sudah malas rasanya berjalan untuk mencari pekerjaan. Saya pun memutuskan untuk kembali menanyakan pekerjaan di tempat saya berkerja pada hari pertama. Yach.. bisa dibilang cari aman aja sih. Dan emang ternyata langsung diterima. Pada hari ketiga, pelanggan banyak sekali. Bahkan ada yang sampai 4 mobil datang berbarengan untuk di cuci. Kewalahan, pastinya donk. Dikarenakan salah satu teman kerja yang menjadi karyawan di situ balik pulang kampung ke Wonosari di karenakan ada acara keluarga. Jadi hanya kami bertiga yang kerja.
Tepat tengah hari, saya diminta oleh pak Iwan, pemilik pencucian itu untuk kerja sendiri dulu karena kedua rekan kerja dan juga dia mau ibadat jumatan. Bagi saya ini suatu kepercayaan yang diberikan pak Iwan pada saya. Selama mereka ibadat, ada dua mobil yang datang untuk dicuci. Saya pun menyanggupinya walaupun saya tahu bahwa saya pasti akan kerepotan. Untungnya para pelanggannya mau bersabar menunggu. Capek banget. Pada hari ketiga ini saya memutuskan untuk kerja sampai tutup tempat pencuciannya yaitu sampai jam enam sore. Mencari kerja itu memang berat.
Tergerak Hati
Di samping pengalaman ini, ada satu pengalamn yang saya alami dan bagi saya itu adalah pengalaman yang unik. Sesaat setelah selesai kerja pada hari pertama, di perjalanan pulang haripun hujan. Deras sekali, tetapi saat sedang berteduh, lewatlah seorang bapak pemulung dengan menarik gerobaknya menembus hujan. Seperti tidak terjadi apa-apa saja, seolah-olah tidak ada hujan aja. Padahal di beberapa tempat, air sudah mengenang di jalanan setinggi lutut.
Melihat itu, tergerak hati untuk mengikutinya, dan hujan pun saya terobos. Sesampai di perempatan lampu merah, karena sama-sama menunggu lampu merah menjadi hijau, kamipun mengobrol di tengah teriknya hujan. Cepat akrab, hanya saja walaupun kami berkenalan tetap saja penyakit lupa muncul lagi, siapa nama bapak itu.
Setelah hijau, kami menyeberang dan saya pun membantu mendorong gerobak tariknya dari belakang. Berat dan sulit karena harus menerobos genangan air hujan yang ada di jalan setinggi lutut. Sesampainya di depan sebuah kantor, entah saya lupa lagi kantor apa, bapak itu pun singgah, ternyata dia mengatakan kecapean. Bayangkan ne, istirahat, tetapi di tengah hujan lebat. Wuihh… mantab dech pokoknya.
Saya pun bertanya harus dibawa kemana barang-barang ronsokannya?, dia mengatakan akan menyetok di tempan penyimpanannya di gudang nggak jauh dari sebuah hotel. Dan karena jaraknya masih jauh, saya menawarkan untuk gantian menarik gerobak itu. Awalnya bapak itu menolak, hanya memang sayanya yang ngotot, jadi dia nggak bisa apa-apa lah. Mungkin dia pikir saya minta bayar kali ya..;hahaha…. padahal saya ikhlas kok menolongnya.
Dalam perjalanan kami ngobrol dan saya jadi tahu kalau bapak ini menjual ronsokannya 2 minggu sekali dan pendapatannya pun hanya bekisar 500ribuan. Lumayanlah menurut gue. Hehehe… di perjalanan kmi juga sambil-sambil membersihkan lubang resapan air ke got yang tersumbat oleh sampah, tetapi bukan sampah masyarakat ya, tetapi sampah plastik. Setelah sampai di tujuan, saya pamit lansung pulang.
Kata-kata Menyentuh
Pengalaman itu membuat saya teringat saat-saat sebelum masuk biara. Bagaimana untuk mencari nafkah, apapun tantangannya harus di lewati. Begitulah yang bapak itu rasakan. Ada satu perkataannya yang sangat menyentuh dan akan kuingat ketika saya bertanya kenapa harus hujan-hujannya. “ hujan itu pemberian Tuhan mas, jadi syukuri dan nikmatilah apa yang Tuhan berikan. Jika mas melakukannya, mas akan bahagia walaupun apapun yang mas alami,” begitu jawab sang bapak.
Pengalaman lainnya adalah ketika saya menanyakan bantuan kerja di tempat di mana ada beberapa mobil kontainer parkir. Setelah menanyakan beberapa hal pada saya, KTP, SIM dsb. Seorang bapak, tepatnya belum tua amat sih. Sekitar 40an lah umurnya, menawarkan saya untuk menjadi kernetnya dalam perjalanan ke Surabaya mengantar barang. Dilema dengan tawaran yang menggiurkan tersebut. Ya itu yang saya rasakan. Serasa cepat ingin mengiyakan, kendalanya saya berada di dalam naungan biara. Mau tidak mau saya pun harus menolak, karena jika saya menerima pekerjaan tsb, otomatis maksimal satu minggu baru saya bisa balik ke biara. Lantas apa saya diizinkan?. Bisa-bisa koper pakaian saya sudah menanti di depan biara saat saya pulang kerja.
Tanggalkan Semuanya
Semua pengalaman yang saya rasakan selama tiga hari praktek teologi kerja menimbulkan banyak hal yang saya rasakan. Pengalaman baru, lucu senang, dan juga menimbulkan trauma yang ada dalam hati saya, trauma ini bukan berarti saya merasa ketakutan untuk kerja. Tetapi lebih pada mengingatkan saya akan pengalaman saya sebelum masuk biara yang juga sudah merasakan bagaimana rasanya berkerja untuk memenuhi kebutuhan baik sendiri maupun keluarga.
Ketika masuk dalam biara, harus meninggalkan apa yang telah saya peroleh dari hasil keringat dan jerih payah saya selama berkerja. Tinggalkan semuanya. Bahkan uang sepeserpun harus saya tinggalkan. Dalam pengalaman selama tiga hari itu juga memunculkan rasa penyesalan di dalam hati saya. Karena harus teringat akan semuanya yang saya lalui saat saya masih berkerja dan meninggalkan semuanya itu, terasa sia-sia.
Di samping itu juga menimbulkan niat saya untuk ingin berkerja seperti dulu lagi. Istilahnya galau akutlah yang menimpa diri ini. Dan itu membuat sedikit goyah dalam panggilan saya. Membuat saya ingin memutuskan untuk mengundurkan diri dari persaudaraan ini. Bahkan pamit undur gitu. Rupanya.. Yesus tetap bersamaku kali ya. Dekat bingits dong saat gue goyah… ci ile nekat banget tuh.
Pekerjaan menjadikan banyaknya perbedaan yang saya rasakan antara hidup di luar dengan di dalam biara. Kehidupan di luar biara yang saya jalani sebelumnya menjadikan saya pribadi yang kuat dan pantang menyerah. Jika saya menyerah, saya tidak makan dan itulah yang terjadi. Berangkat pagi, pulang malam, tetapi sedikitpun tidak merasa bosan.
Sebagai seorang yang memang sedikit malas, saya menikmati hidup seperti itu. Saat masuk biara, apa yang pertama kali terasa adalah sebuah kebingungan. Bingung mau ngapain. Yang awalnya kerja berat-berat seperti angkat tandan sawit yang bisa mencapai berat 50 kg/ tandan, sesampai dibiara harus pegang kain pel.
Hal yang sama sekali tidak pernah saya kerjakan. Walaupun perlahan-lahan dengan seiring berjalan waktu saya mulai terbiasa dengan kegiatan di dalam biara. Akan tetapi dengan adanya praktek ini mengingatkan saya betapa indahnya berkerja di luar. Yang pasti wawasan tambah luas dengan lebih banyaknya berinteraksi dengan orang dari berbagai macam jenis.
Berbeda dengan sekarang, lebih banyak bergaul dengan sesama biarawan dan orang-orang Kristen saja. Itulah yang saya alami. Ada hal penting juga yang saya rasakan, dibiara tanpa kerja, saya bisa makan. Sedangkan menjadi di luar itu, kalau tidak kerja, tidak makan. Dan itu perbedaan yang jelas bagi saya. Sehingga menjadikan saya merasa manja. Lantas mana yang menarik bagi saya?. Pastinya donk saat berada di luar biara.
Nostalgia yang sulit untuk terlupakan. Perjuangan hidup yang sangat miris sekali yang pernah saya rasakan karena bagaimanapun saya berasal dari keluarga yang miskin yang juga pernah merasakannya lapar karena tidak ada makanan sehingga tantangan hidup lebih terasa. Walaupun mungkin saya dikira orang sedikit sombong karena sudah sukses, tetapi itu tidak menjadikan saya menyerah gitu aja. Dan walaupun saya hanya seorang petani, tetapi itulah yang menjadikan saya untuk sukses dalam berkerja.
Catatan Akhir
Hidup di biara bukanlah pilihan pertama dalam hidup saya. Akan tetapi itulah kuasa Tuhan yang sampai saat ini masih misteri bagi saya karena saya bisa berada di biara sampai saat ini. banyak orang yang ingin menjadi religius sejak kecil sehingga saat selesai SMA lansung masuk biara atau sejenisnyalah. Tetapi saya tidak. Hal pertama adalah harus meninggalkan apa yang telah saya usahakan atau peroleh. Dan juga dunia ini luas untuk dinikmati.
Dengan suatu kejadian yang tidak disangka-sangka dan itulah sekali lagi saya katakan adalah misteri Tuhan, saya masuk biara. Dalam perjalanan saya yang saat ini dalam masa formasi, banyak hal yang sulit yang harus saya jalani. Bayang-bayang masa lalu masih melekat dalam diri saya. Walaupun begitu, yang saya rasakan saat ini adalah mulai menerima kehidupan yang saya jalani sekarang ini. Setidaknya ada beberapa hal yang menjadikan saya hidup bahagia yaitu mulai terbiasa meninggalkan yang namanya harta. Karena seorang Fransiskan yang mengutamakan kemiskinan, saya juga harus rela meninggalkan semuanya.
Sebelumnya saya sama sekali tidak pernah baca Kitab Suci, dan di dalam biara yang mewajibkan baca Kitab Suci. Sehingga saya menemukan ayat yang pertama kali saya baca “ ketika Aku berfirman “sampai disini boleh engkau datang, jangan lewat. Disinilah gelombang-gelombangmu yang congkak akan dihentikan” ( ayub 38:11 ). Ayat ini terasa lansung menyinggung diri saya karena saya mengartikan secara harafiah. Bisa jadi dulu saya mulai sombong, congkak dengan keberhasilan hidup dalam berkerja sehingga Tuhan mengiring aku untuk masuk biara. Ayat ini akan selalu saya pegang selama saya berada dalam kehiduan biara. Demikianlah sedikit curhat yang saya katakan di awal tadi. Titik ya bro. ***