Wed. Apr 17th, 2024

Sdr.Ligo
Prakata
Dalam pasal-pasal pertama Kitab Suci Perjanjian Lama, yakni: pasal-pasal yang bercorak sastra kebijaksanaan dan yang dikarang pada zaman yang agak kemudian, sudah muncul anggapan yang agak halus dan luhur tentang pekerjaan manusia (Cletus Gronen dan Alex Lanur, hal.9). Kita pastinya bisa menemukan bahwa, dalam Kitab Suci Allah dilukiskan sebagai pencipta yang sedang bekerja dan yang pada hari ketujuh beristirahat dari pekerjaan yang dikerjakan-Nya (Kej 1:1 – 2:3).
Manusia diciptakan sebagai gambaran dan citra Allah yang menjadi wakil-Nya di dunia ini. Karena itu manusia ditugaskan untuk menguasai, menaklukan, dan memanfaatkannya (bdk. Kej 1:28-30).Tidak hanya sekedar itu, kita bisa pula menemukan cerita Allah yang sedang bekerja, dalam nubuatnya nabi Yesaya yang meminjam cerita tentang dewata kafir, berkata Allah sendiri mengerjakan pekerjaan (pertanian) kepada manusia (Yas 28:23-29).
Tidak hanya itu banyak cerita Kitab Suci yang menggambarkan Allah adalah seorang pekerja paruh waktu dan senang untuk membagikan ilmu-Nya. Karena itu dalam kitab mazmur tidaklah jarang kita membaca kalau Allah digambarkan sebagai pekerja. Misalnya dalam (Mzm 65:10-11), Allah digambarkan dan dibayangkan sebagai seorang petani yang mengerjakan pekerjaan. Pekerjaan yang dilakukan petani tentunya paruh waktu, dengan demikian Allah dapat digambarkan sebagai seorang pekerja yang giat.
Allah Perkerja Utama
Kita bisa saja melihat motif dari pekerjaan dan karunia Allah tersebut. Karena itu, sampai disini dapat kita menarik sebuah kesimpulan bahwa manusia diciptakan oleh Allah untuk bekerja, dan menjadi wakilnya di dunia ini. Mengapa demikian? Jawabannya adalah; Karena manusia adalah mahluk yang telah diberikan tugas oleh Allah, dan sang pencipta yang Agung yang telah menunjukan cara dan teknik untuk bekerja. maka dalam bekerja Allah itu adalah panutan utama kita. Allah sendiri adalah pekerja, maka manusia harus bekerja pula untuk memelihara dan mengusahakan yang baik terhadap apa yang telah Allah ciptakan itu.
Kita juga bisa menemukan kecintaan dan berkat bagi orang yang giat untuk bekerja seperti tertulis dalam kitab kebijaksanaan memberi pujian kepada manusia yang dengan giat bekerja misalnya; dalam kitab Kebijaksanaan 9:1-3, dikatakan “Allah nenek moyang dan Tuhan belas kasihan, Engkau telah menjadikan segala sesuatu dengan sabda-Mu dan membentuk manusia dengan kebijaksanaan, agar ia menguasai mahluk-mahluk yang Engkau jadikan, dan memerintah dunia dalam kesucian dan keadilan dan memegang kekuasaan dengan kelurusan hati. Karena itu pekerjaan adalah keluhuran dan sebuah anugerah yang telah diberikan Allah dalam setiap individu manusia.
Hasil Kerja Anugerah Tuhan
Manusia boleh dan memang harus bekerja dan menikmati hasil pekerjaannya (Pkh 5:18; Mzm 128:2). Namun usaha dan kegiatannya sendiri tidak menjamin hasil dari pekerjaannya. Hasil pekerjaannya adalah suatu anugerah dari Tuhan (Luk 12:16-21).
Tidak hanya demikian saja berlalu dalam suratnya Rasul Paulus malah menekankan pekerjaan adalah keharusan bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus. Dalam suratnya yang kedua kepada jemaat di Tesalonika dengan keras ia mengatakan “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Mereka yang tidak melakukan pekerjaannya adalah anggota jemaat yang bermalas-malasan dan tidak mau bekerja”(2 Tes 3:10).
Nilai Pekerjaan Manusia
Pekerjaan yang mempunyai nilai adalah setiap kegiatan yang diarahkan kepada suatu kemajuan manusia itu sendiri, entah rohani entah jasmani, ataupun kegiatan untuk mempertahankan kekayaan yang telah dia peroleh. Tetapi jika hanya untuk mempertahankan harta semata berarti nilai pekerjaan itu hanyalah tentang “permainan”. Jadi pekerjaan itu hanyalah sekedar hasrat untuk harta semata, tetapi ada nilai yang hendaknya lebih luhur dari hal tersebut.
Nilai ekonomi memang penting. Akan tetapi ada nilai yang paling utama yang hendaknya disadari dan nilai itu adalah “keluhuran” pekerjaan itu sendiri. Karena pekerjaan itu bukan hanya untuk kehidupan perorangan saja, tetapi untuk kelangsungan bersama.
Pekerjaan merupakan keistimewaan mahluk yang berakal budi saja. Sementara manusia melebihi semua mahluk lain yang telah diciptakan Allah, juga dalam segala kegiatanya. Yang membedakannya cukup mudah manusia memiliki akal sehat yaitu bekerja untuk kelangsungan hidup bukan hari ini, besok, minggu depan atau tahun depan saja, tetapi sampai akhir hayat hidupnya.
Dia selalu berpikir setelah hari ini masih ada hari esok karena itulah dalah hal ini akal budinya berkerja dengan baik. Dalam lain kesempatan seekor harimau akan melakukan pemburuan atau mencari mangsanya saat dia lapar saja, setelah kenyang akan beristirahat kembali.
Selain keluhuran nilai perkerjaan dan akal budi, nilai insani adalah salah satu nilai yang cukup memegang peran yang penting pula. Nilai insani tidak pernah tergantung pada apa yang dikerjakan, melainkan pada siapa yang mengerjakannya. Selain itu dibutuhkan kerjasama untuk mendukung terciptanya nilai insani itu dapat terlaksanakan. Nilai insani merupakan hasil dari kerjasama semua orang, karena itu nilai ini merupakan nilai yang saling bergantungan dalam suatu pekerjaan supaya suatu pekerjaan itu dapat berhasil antara kedua belah pihak yang sudah menjalin suatu ikatan dalam pekerjaan, baik secara formal maupun non formal.
Karena itu dalam menjalankan pekerjaan, nilai-nilai tersebut harus tertanam dalam diri setiap orang, terutama nilai insani yang menyangkut aspek-aspek penting yaitu relasi atau kerjasama. Akal budi atau daya untuk berpikir yang lebih baik, maupun nilai ekonomi yang merupakan hasil dan daya cipta dari nilai-nilai yang sudah disebutkan sebelumnya. Karena itu perlu kita sadari pula untuk menghasilkan suatu nilai yang tertentu, karena hampir semua pekerjaan manusia harus bergantung antara satu sama lain dan menciptakan nilai-nilai dalam pekerjaannya.
Praktek dan Nilai-Nilai
Sebagai orang miskin, saudara-saudari yang mendapat anugerah dari Tuhan untuk bekerja, hendaknya menjalankan pengabdian dan pekerjaannya dengan setia dan bakti. Dengan demikian mereka mengenyahkan pengangguran, musuh jiwa itu. Tetapi hendaklah mereka menjalankannya sedemikian, sehingga semangat doa dan kebaktian yang suci tidak mereka padamkan; kepadanya harus dibaktikan hal-hal lainnya yang bersifat sementara (Anggaran Dasar dan Cara Hidup Saudara/i Ordo Ketiga Regular Santo Fransiskus).
Dalam kehidupan berkomunitas juga banyak sekali nilai-nilai yang kita hayati dan kita hidupi selain dari kaul-kaul yang sudah dan akan diucapkan. Tetapi dalam tulisan ini saya akan membagikan pengalaman saya selama menjalankan praktek teologi kerja yang saya jalani dari tanggal tiga sampai tanggal lima November 2021 yang lalu. Dalam beberapa hari itu saya menemukan dua pekerjaan yang saya jalankan dalam tiga hari. Yaitu; menjadi buruh panen padi dan tukang bangunan.
Pengalaman itu berawal dari satu minggu sebelumnya di mana Bruder Petrus mengatakan bahwa, minggu depan akan ada praktek kerja. Secara sepontan saya langsung kaget karena dalan praktek ini kami sendiri akan mencari pekerjaan dan tidak boleh membawa makanan dari rumah. Kami hanya boleh membawa bekal air minum untuk dijalan dan untuk makan siangpun tidak disediakan di komunitas. Boleh dikatakan kalau tidak dapat kerja ya tidak makan walaupun udah dapat pekerjaan belum tentu dapat makanan.
Hari pertama praktek kerja aku mencoba rute perjalanan dari sawah samping JEC, dan didekat perpustakaan. Aku melihat sebuah angkringan dan ada seorang ibu yang sibuk menyiapkan barang-barang untuk persiapan buka angkringannya. Awalnya aku ragu untuk menanyakannya. Akan tetapi, aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, apakah ada pekerjaan yang bisa saya bantu untuk hari ini. Belum selesai saya berbicara ibu itu, langsung mengatakan kalau anaknya juga bekerja. Saya sebenarnya kurang memahaminya.
Tetapi saya hanya berpikir positif saja. Mungkin angkringannya tidak ramai dan ditambahlagi sekarang musim korona. Karena itu anaknya harus mencari pekerjaan yang lain. Kalau ditanya apakah saya kecewa pastinya sangat kecewa dan langsung ada perasaan down, dan not excited anymore. Tetapi ada perasaan yang muncul dalam hati sabar baru pertama atau satu tempat mungkin di tempat lain ada pekerjaan. Dalam perjalanan saya bertemu dengan saudara Octa, kami berjalan bersama menuju kearah sawah-sawah kearah utara JEC.
Pengalaman Ditolak
Sesampai di persimpangan pertama seberang JEC kami berdua berpisah lagi. Saya ke arah barat dan Octa lurus ke utara. Ketika di sawah-sawah itu, saya melihat para pekerja bangunan tersebut. Karena itu, saya ke situ dengan harapan akan diterima bekerja disitu tetapi saya ditolak lagi. Tujuan utama saya selanjutnya adalah arah pasar Kota Gede, dan saya sempat melamar kedua tempat toko buah tetapi tetap ditolak juga. Sampai saya kesimpang empat dekat simpang jalan ke gembira loka saya ke arah timur. Dengan langkah kaki yang berat, untuk meneruskan kegiatan ini.
Awalnya saya berpikir untuk pulang saja tetapi, di dekat puskesmas Gedung Kuning saya melihat beberapa orang yang sedang memanen padi. Saya menawarkan diri untuk bekerja dan langsung diterima. Namun saat bekerja saya cukup lembur saja. Karena yang mempunyai sawah tersebut, sudah lanjut usianya dan tidak bisa bekerja berat lagi. Tugas saya adalah mengarit padi dan merontokannya. Saya bekerja kira-kira setengah sepuluh sampai jam tiga lewat. Namun naas selama bekerja satu hari itu saya tidak mendapat makanan.
Bapak yang mempunyai sawah itu bernama Mbah Adi. Selama bekerja kami kurang berelasi atau berkomunikasi. Karena dia kurang mengerti Bahasa Indonesia. Beliau lebih banyak menggunakan Bahasa Jawa walaupun tidak mengerti saat dia bicara dengan saya. Kadang-kadang saya menjawabnya dengan mengangguk dan berkata nggeh. Saat jam istirahat, kami berdua beristirahat di pondok sawahnya. Saya ditawarkan makan pisang. Sebenarnya saya tidak makan pisang tetapi karena tidak enak untuk menolak jadi saya terpaksa memakannya walau terasa mual.
Saat saya melanjutkan pekerjaan, salah seorang bapak yang bekerja di tempat bangunan menawarkan saya minum air aqua dan makan snack yang dibawanya. Saya mau menolak tetapi bapak itu dengan nada memaksa untuk saya memakannya dengan berkata nanti masnya sakit, belum makankan satu hari ini. Sepertinya bapak itu melihat saya satu harian ini bekerja dan belum makan. Sebelum pulang saya berpamitan dengan Mbah Adi, dan mennuju tempat bapak yang memberi saya snack tadi.
Saya menawarkan diri untuk membantunya bekerja besok. Dengan senang hati bapak itu mengatakan boleh mas, silahkan aja datang besok mulai kerjanya pukul delapan.
Mengayak Pasir
Saya bekerja di tempat bangunan pada hari kedua ini dan saya bekerja mengayak pasir dan mengangkat genteng. Saat bekerja, saya hanya berpikir untuk menyelesaikan mengayak pasir saja. Tetapi jam satu pekerjaan itu udah selesai, saat bapak pemilik rumah itu datang dia kaget karena saya bisa selesai mengayak pasir satu pickup lebih hanya beberapa jam saja. Karena itu saya lanjut untuk mengangkat genteng yang beratnya kira-kira satu kilo satu genteng.
Waktu bekerja ada satu pengalaman yang cukup menarik karena di sebelah tempat bangunan itu ada sebuah rumah. Dan pemilik rumah itu mempunyai seorang anak gadis yang cantik, dan hari ini dia sibuk untuk mencuci motor dan membersihkan halaman rumah. Salah satu bapak yang bekerja bersama saya bilang kalau anak itu sebelumnya jarang keluar. Tetapi bukan itu yang membuat saya bersyukur, untuk pekerjaan hari ini. Akan tetapi saya bersyukur karena hari ini saya mendapat pekerjaan dan relasi serta mendapat makanan yang cukup enak. Hari ini saya bekerja bersama pak Selamet, Pak Wujiman, dan pak Suratno. Saya pulang pada pukul empat sore.
Dan hari ketiga saya bekerja ditempat bangunan lagi, setelah selesai bekerja di tempat bangunan sekitar pada pukul satu siang. Dan ketika melintasi sawah Mbah Adi saya merasa tergerak hati lagi untuk membantunya dan menyelesaikan memanen padinya. Karena itu saya membantunya sampai selesai. Untuk kali ini saya membatu Mbah Adi bukan karena saya belum dapat pekerjaan tetapi entah ada dorongan apa yang menggerakkan saya untuk membantunya. Sekilas saya membayangkan misalnya yang ada di sawah itu adalah orang tua saya atau saya bagai manakah jadinya.
Refleksi
Saya menyadari bahwa bagaimana anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada saya selama ini. Saya rasa, tidak saya gunakan dengan sebaik mungkin. Selama ini saya sering bermalas-malasan. Kurang memperhatikan segala sesuatu yang saya miliki. Lewat pengalaman bekerja di sawah, saya sadar betapa susahnya untuk mencari makan dan menggolah padi. Karena selama ini saya hanya melihat beras dan nasi yang sudah terhidang saja di atas meja makan. Kalau makanpun saya banyak pilih-pilih makanan.
Memang saya berasal dari keluarga petani. Tetapi cara bertani yang pernah saya alami di kampung saya sangat jauh berbeda. Selain itu saya juga mendapat pengalaman yaitu menggunakan mesin perontok padi. Lewat pengalaman itu saya sadar selama ini tidak hanya asyik dan tidak peduli dengan betapa susahnya petani mengusahakan padi sehingga menjadi beras, dan akhirnya nasi. Tetapi selama ini saya hanya bisa menjadi konsumerisme dan pemboros yang sering membuang makanan. Tidak pernah berpikir masih banyak orang di luar sana yang harus memeras keringat untuk mencari nasi.
Kurang Menikmati
Ketika bekerja di tempat bangunan saya kurang menemukan jati diri saya dan roh dalam pekerjaan itu. karena memang saya tidak mempunyai basic pada pekerjaan tersebut. Tetapi aku masih bersyukur pada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk belajar dan mereasakan bekerja di tempat bangunan. Walau pekerjaan itu tampak berat tetapi dorongan untuk bekerja dan belajar adalah sumber dan kekuatan yang masih aku miliki.
Disamping itu saat bekerja banyak sekali kesulitan dan tantangan yang aku alami, tetapi saat melihat betapa beratnya pekerjaan yang mereka jalani demi kehidupan mereka, menjadi sumber motivasi untuk aku terus bekerja dan membantu mereka sekadarnya walau hanya satu hari saja. Saya rasa ini adalah salah satu bentuk pelayanan kecil yang bisa aku berikan pula sebagai sumbang silihku, sebagai seorang yang dipanggil dan merasa terpanggil. ***