Tue. Jun 25th, 2024

Saat saya mengalami kesulitan menjahit baju kemeja yang menjadi salah satu pelajaran yang dipaketkan bagi calon-calon aspiran bruder MTB di Pati. Ini merupakan pengalaman yang baru bagi saya dan benar-benar tidak tahu. Dari ketidaktahuan itulah muncul perasaan takut, tidak PD (percaya diri) cemas dan lain sebagainya. Dari pergumulan itu yang menjadi benteng dan menara bagi saya ialah keegoisan saya yang tidak mau rendah hati bertanya kepada saudara-saudara yang lain. Alhasil jahitan saya tidak selesai dan berantakan. Untung saja diberi kesempatan menyelesaikan dan memperbaiki jahitanya. Walaupun nilai yang diperoleh dibawa standar tapi pengalaman dan prosesnya mengerjakanya saya betapa berharganya kerendahan hati itu untuk menghancurkan benteng dan menara keegoisan dalam diri ini.
Terkadang dalam kehidupan kita menghadapi suatu kesulitan atau tantangan, kita merasa tidak sanggup sehingga muncul perasaan gelisah, cemas, tidak percaya diri dan masih banyak perasaan-perasaan yang bemunculan. Namun dari perasaan-perasaan itu kita malahan berusaha menutupinya dan menujukkan kehebatan kita dan ingin atas terus tanpa melihat saudara-saudara yang ada di sekitarnya. Ketika hasil tidak sesuai dengan keinginan disitulah baru kita sadar betapa lemah dan rapunya diri ini.
Apakah kita terus membentengi diri kita? Pada saat itulah kita ditantang untuk bersikap rendah hati, menghilangkan perasaan angkuh, gengsi, takut dan mau mengakui kelemahan-kelemahan yang ada dalam diri, terbuka, dan mau menyerahkan diri secara total terhadap kuasa Allah. Maka Allah akan mengutus Roh Kudus ke dalam diri kita dan menuntun kita lewat perjumpaan-perjumpaan kita dengan sesama. Hal seperti itulah yang saya alami ketika mengalami kesulitan menjahit kemeja.
Hal yang sama terjadi pada Fransiskus yang pada suatu hari sedang berkuda melewati jalan menuju rumah sakit. Seperti biasa dia asyik dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba kuda tersebut tersentak ke pinggir jalan. Fransiskus menarik tali kekangnya. Laki-laki muda itu memandang ke depan dan melompat dalam ketakutan. Seorang kusta berdiri di tengah jalan tidak terlalu jauh jaraknya dari Fransiskus. Pucat seperti hantu, mukanya tercoreng luka, kepala gundul, berpakaian karung abu-abu. Dia tidak berbicara dan tidak memperlihatkan tanda-tanda akan bergerak ke pinggir jalan. Dia memandang Fransiskus dengan cara yang aneh, menusuk dan tajam.
Sesaat kemudian terlintas sesuatu yang ilahi. Pelahan-lahan Fransiskus turun, menghampiri laki-laki itu, lalu memegang tangannya. Tangan kurus seorang miskin, berlumur darah, terbelit, tak berdaya dan dingin seperti mayat. Dia meletakan sedikit derma pada tangannya, menekannya, mengangkatnya dan mencium tangan itu. Saat Fransiskus mencium daging terkoyak dari makhluk yang paling hina dan disisihkan dari sesama ini, ia dibanjiri oleh gelombang perasaan yang luar biasa. Perasaan ini tidak perna dilupakannya hingga kematiaanya.
Serentak orang kusta itu menarik tangannya. Fransiskus mengangkat kepalanya, namun dia tidak ada lagi. Fransiskus menaiki kudanya lagi dan meneruskan perjalanannya. Akan tetapi, seluruh dunia tampak berubah. Dia juga berubah. Dia mengalami banyak kata-kata misterius yang menyapanya sebelumnya kini menjadi kebenaran. Dia telah membuka hati terhadap apa yang dahulu dipandang mengerikan dan yang tadinya pahit, kini berubah menjadi teramat manis.
Demikianpun dalam Alkitab telah memperingatkan kita akan akibat dari keangkuhan kita. Dalam kitab Kej.11:1-9, menceritakan kisah Menara Babel. Yang menggambarkan apa yang terjadi ketika kita mencoba untuk mencapai surga. Akan tujuan yang mengabaikan ikatan kita dengan umat manusia, dengan ciptaan dan dengan Sang Pencipta. Maka Allah mengacaubalaukan bahasa mereka sebagai akibat dari keserakahan mereka.
Kerendahan hati dari St. Fransiskus adalah buah dari sikap penyerahan dan bepasarah diri secara total kepada Allah. Penyerahan diri merupakan suatu sikap yang sangat tepat, saat dimana kita mengalami suatu dinamika hidup yang sulit atau kesulitan seperti yang saya alami dalam menjahit kemeja. Maka penyerahan diri secara totalitas kepada Allah merupakan suatu sikap yang tepat dimana saat kita mengalami suatu tantangan atau kesulitan yang sulit untuk kita hadapai maka kerendahan hati membantu kita untuk menerima segala kelemahan dan kerapuaan kita di hadapan Allah. Maka Allah akan mengutus Roh Kudus-Nya kepada kita dan menuntun kita dalam jalan yang benar dan membantu pelahan-lahan menghancurkan tembok keegoisan kita. Amin. (Sdr. Fransiskus, Novis 2).