Tue. Jun 25th, 2024

Kepala Sekolah : Memberikan Seluruh Hati untuk Bekerja

Sekolah-sekolah yang telah berdiri ratusan tahun sebagai wujud pelayanan dalam bidang pendidikan yang didirikan oleh Kongregasi Bruder MTB tidak bisa dilepaskan dari peran para pemimpin di dalamnya yaitu kepala sekolah. Para kepala sekolah memiliki peranan penting dalam menentukan mutu sebuah sekolah. Spirit yang mesti dihidupi oleh para kepala sekolah adalah melihat tugas yang diemban sebagai panggilan untuk melayani. Cara pandang demikian menjadi modal dasar untuk bisa mengabdi secara total dan berkomitmen mendorong peserta didik agar berkembang secara holistik.

Kepala sekolah mengambil bagian dalam pelayanan Kristus sebagai imam, nabi dan raja, yang dihayati sebagai panggilan dalam karya pelayanan pendidikan. Oleh karena itu, kepala sekolah harus melihat diri mereka sendiri sebagai orang yang memiliki profesionalisme dan kematangan spiritual. Mereka mengamalkan sebuah pelayanan yang bernilai dalam konteks komunitas Gerejawi.

Kepala Sekolah Sebagai Imam, Nabi dan Raja

Fungsi sebagai imam menantang para kepala sekolah untuk memandang diri mereka sebagai pemimpin yang bertugas demi Kristus, daripada demi diri mereka sendiri. Karena itu, mereka menjalankan peran sebagai pemimpin dalam usaha meniru kepemimpinan Yesus Kristus sebagai gembala yang baik dan hamba yang melayani.

Sebagai nabi, kepala sekolah mengemban semangat profetis, yang menuntut mereka menetapkan dasar kokoh demi kesuksesan peserta didik.

Sebagai raja – dengan berpedomaan pada semangat Injili – mereka dituntut untuk melihat diri mereka sendiri sebagai hamba yang melayani semua orang, dengan berpegang pada prinsip “memimpin adalah untuk melayani (to lead is to serve).”

Kepala Sekolah – Iman

Karena kepala sekolah melayani sekolah sebagai  komunitas Gerejawi, maka mereka harus membawa kualitas spiritual dalam karya mereka dengan menghayati iman dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka menjadi efektif mengemban tugas jika mereka adalah orang yang jelas dan lurus hati dalam mempraktekkan imannya.

Kehidupan iman dan spiritual begitu penting dalam konteks sekolah, sehingga para kepala sekolah harus memandang diri mereka sebagai pemimpin spiritual yang dipanggil untuk menjadi kepala sekolah di sekolah Katolik.

Bercermin pada Yesus

Keempat Injil menunjukkan dengan sederhana dan jelas tekanan ajaran Yesus tentang kepemimpinan. Pada prinsipnya, bagi Yesus, menjadi pemimpin berarti menjadi pelayan. Dalam Injil Markus, Yesus menunjukkan bahwa kepemimpinan yang sah dalam komunitas-Nya adalah pemimpin pelayan.

Modelnya adalah Yesus yang “tidak datang untuk dilayani, tetapi untuk melayani dan memberikan seluruh hidup-Nya untuk tebusan bagi banyak orang.” (Mrk 10:45). Hal yang sama, dalam Injil Mateus, Yesus mengingatkan, “Barangsiapa yang terbesar di antara kalian, hendaklah ia menjadi hamba” (Mat 23:11).

Injil dan Kepemimpinan Yesus

Pada Perjamuan Terakhir, Lukas mendokumentasikan bagaimana Yesus mengatakan kepada para murid, “Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan” (Luk 22:26). Bab 13 Injil Yohanes merekam cara Yesus bergerak dari posisi duduk sebagai kepala meja, kemudian berlutut dan membasuh kaki para murid-Nya. Ini adalah simbolisasi kepemimpinan hamba pelayan.

Dari Injil, kita juga mendapat gambaran tentang Yesus yang menyerahkan seluruh hidup-Nya untuk pelayanan, pengorbanan karena kehendak Allah, Bapa-Nya (Luk 22:42). Ia mengorbankan hidup-Nya secara bebas demi pelayanan kepada orang lain (Yoh 10:30). Ia datang untuk melayani (Mt 20:28) meskipun Dia adalah Putera Allah dan karena itu lebih berkuasa dari semua pemimpin dan penguasa di dunia ini. Ia menyembuhkan orang sakit (Mrk 7:31-37), mengusir setan (Mrk 5:1-20), diakui dan dikenal sebagai Guru dan Tuhan (Yoh 13:13), memiliki kuasa atas angin dan laut dan bahkan juga atas kematian (Mrk 4:31-35, Mt 9:18-26).

Yesus sebagai Pemimpin yang Efektif

TK Bruder Dahlia Pontianak

Yesus sungguh mengenal siapa Dia. Sebagai pemimpin, kita mesti mengenal dengan baik, siapa kita. Semua pemimpin besar mengenal kekuatan dan kelemahan mereka. Yesus sendiri tidak pernah ragu tentang identitasnya.

Ia mengatakan, 1) Aku adalah terang dunia; 2) Aku adalah Anak Allah; 3) Aku adalah jalan; 4) Aku adalah kebenaran; 5) Aku adalah kehidupan; 6) Aku adalah roti kehidupan; 7) Aku adalah air kehidupan. Yesus mendefinisikan dirinya dengan 18 kali mengatakan “Aku adalah….:. Ia tidak membiarkan orang lain mendefinisikan diri-Nya. Ia mendefinsikan diri-Nya sendiri.

  • Klarifikasi

Yang dimaksudkan dengan klarifikasi di sini adalah mengenal apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan dalam kehidupan kita. Yesus sungguh mengenal apa yang dikehendaki Allah untuk Dia kerjakan. Ia adalah seorang pemimpin yang memiliki visi ke depan, memiliki tujuan yang jelas. Dalam Yoh 8, Ia berkata, “Aku tahu dari mana Aku datang dan Aku tahu ke mana Aku pergi.”

Yesus memiliki tujuan yang jelas. Ia tidak hanya mengenal siapakah Dia, tetapi apa yang harus Dia lakukan dengan kehidupan-Nya. Ia adalah seorang pemimpin yang didorong oleh tujuan. Allah memiliki sebuah tujuan untuk hidup dan pelayanan-Nya.

  • Motivasi

Tujuan seluruh hidup dan karya-Nya adalah untuk memenuhi kehendak Bapa-Nya di surga. Yesus mengatakan hal ini dalam Yoh 5:44, “Mereka yang sungguh-sungguh memiliki iman yang menyelamatkan tidak akan didorong oleh pujian atau hormat dari orang lain. Tujuan hidup mereka hanyalah menyenangkan Bapa.”

  • Kolaborasi

Yesus tidak pernah melakukan pelayanan sendirian. Dalam Mrk 13:14, dikatakan bahwa “Ia menunjuk 12 murid – menjadikan mereka rasul rasul – sehingga mereka selalu bersama-Nya dan bahwa Dia mengirim mereka untuk mengajar.

  • Konsentrasi

Yesus adalah seorang guru konsentrasi. Ia memfokuskan hidup-Nya. Hal itu diungkapkan dalam Luk 9:51, “Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem.”

  • Meditasi

Mendengarkan Allah adalah kebiasaan-Nya. Hal ini dapat kita ketahui dari Mrk 1:35, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana

  • Relaksasi

Tugas sebagai pemimpin menuntut kerja keras. Karena itu, kita membutuhkan waktu untuk relaksasi juga. Yesus mendorong para murid-Nya untuk mengambil waktu relaksasi, sebagaimana terungkap dalam Mrk 6:31, “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika! Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat.”

Semoga di usia yang telah lewat satu abad ini, Kepala Sekolah terus Memberikan Seluruh Hati untuk Bekerja. Menyatukan seluruh hati guru, tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua dan semua mitra dalam bekerja dan melayani.

Referensi :

Modul 10 “Kepemimpinan Memberikan Seluruh Hati untuk Bekerja” Pelatihan Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah Yayasan Pendidikan Sekolah Bruder dan Konsorsium Yayasan LPK dalam Program Organisasi Penggerak Kemendikbudristek RI dengan Narasumber Dr. Vinsensius Darmin Mbula, OFM

By vianmtb