Wed. Apr 17th, 2024

Setiap orang diberi nama masing-masing. Nama itu Itu sangat berharga. Bahkan tidak hanya diberikan kepada masing-masing pribadi, apa pun itu bentuknya pasti diberi namanya masing-masing, misalkan nama hewan, tumbuhan, binatang, dll. Tentu itu punya arti dan maksud tertentu.

Pemberian nama sangatlah berharga dan bermakna masing-masing pribadi. Memaknai arti nama itu, terkadang juga berlalu begitu saja, mungkin malas tahu [nga mau cari], dsb. Bagi sebagian orang arti dan makna nama sangatlah berpengaruh positif dalam hidupnya, membantunya untuk menghayati hidup secara konkret dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

Arti nama Yulia

Tepat pada Sabtu, 23 Mei 2021, Sr. Yulia Laia, OSF Sibolga merayakan pesta nama. Pesta nama Sr. Yuli, OSF Sibolga bersamaan dengan Perayaan Hari Raya Pentakosta. Untuk mengungkapkan rasa syukur komunitas para suster OSF Sibolga merayakan pesta mana dalam Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm. D’aquinaldo Stevanus Fani Seran, Pr [Kesuskupan Atambua].

Dalam homilinya, Rm. Stev, Pr sapaannya mengungkapkan memaknai arti  nama Sr. Yulia, OSF Sibolga Dalam bahasa Italia Yuliana disebut Guiliana atau Liana, sedangkan salah satu media online [kamusnama.com] nama Yuliana berasal dari bahasa Spanyol yang berarti muda yang memiliki sifat atau karakter kemandirian dan kebebasan, pengusaha yang berani dan tidak takut mengambil resiko. Selain itu, Yuliana juga memiliki arti lain yakni pemikir progresif yang jago memberikan inspirasi pada orang-orang lain, ia juga orang yang berselera dan menikmati hal-hal baik dalam hidup.

Sekilas saya ingin merefleksikan beberapa informasi tentang Sr. Yuli, OSF Silbolga dalam aktivitas sehari-hari di komunitas, antara lain menciptakan komunitas yang ekologis dengan menata bunga dalam pot, perhiasan naturalisasi di sekitar halaman rumah. Usaha ini menghasilkan kenangan inspirasi bagi para pengujung di komunitas, “Suster hijau sekali, bunganya bagus,” Ungkap salah seorang pengunjung. Memberi inspirasi, hal-hal baik bagi orang lain, dilakukan dengan cara yang unik dan sederhana dalam hidup sehari-hari. Melaksanakan semua usaha itu dengan tulus sehingga menghasil ‘daya’ yang berguna bagi orang lain.

Hidup yang Bercahaya

Selanjutnya Rm. Stev, Pr memulai homili dengan menceritakan kisah inspiratif. “Ada seorang pemuda masuk kampung dengan membawa sebuah lilin kecil. Tujuan anak muda ini untuk naik ke atas bukit tinggi. Sebelum tiba ke puncak bukit anak muda ini menemukan salah satu lilin yang cukup besar. Lilin besar itu bertanya “Hendak ke mana, hai anak muda?” Celutuk sang lilin  besar. “Aku hendak naik ke atas bukit itu.” Jawab sang anak muda itu. Anak muda itu menyalakan lilin kecil sambil kecil dan diikuti dengan terangnya lilin besar menelusuri perjalanan sang anak muda itu, hingga sampai puncak.” Di atas puncak itu terdapat cermin besar yang dapat memantulkan cahaya ke seluruh bukit itu.” Pungkas Rm. Steven, Pr.

Cerita inspirasi itu menunjukkan bahwa lilin besar dan cermin besar  yang memberikan cayaha adalah Allah sendiri. Kita adalah lilin-lilin kecil. Kita membutuhkan kekuatan cahaya yang lebih besar. Hidup kita sepenuhnya bergantung pada Allah. Dalam Injil Yohanes menegaskan bahwa “Yesus pokok anggur dan kita adalah rating-rantingnya. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” [bdk. Yoh 15:5].

Hidup kita diberdaya karena rahmat dan Roh Kudus yang dicurahkan kepada kita masing-masing. Roh yang memberikan daya kepada kita. Maka, sakramen baptis yang telah kita terima menjadi daya kekuatan untuk menjadi saksi-Nya. Dalam Kitab Hukum Kanonik [KHK] Kanon 849 “Baptis, gerbang sakramen-sakramen, yang perlu untuk keselamatan, entah diterima secara nyata atau setidak-tidaknya dalam kerinduan, dengan mana manusia dibebaskan dari dosa, dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah serta digabungkan dengan Gereja setelah dijadikan serupa dengan Kristus oleh meterai yang tak terhapuskan, hanya dapat diterimakan secara sah dengan pembasuhan air sungguh bersama rumus kata-kata yang diwajibkan.”

Konsekuensi adalah semua dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam tri tugas Kristus, yakni Imam [tugas menguduskan/menyucikan], Nabi [tugas mewartakan/mengajar], dan Raja [tugas memimpin atau menggembalakan]. Tugas ini selalu mempunyai konskuensi bagi masing-masing pribadi. Kita percaya Dia yang memberikan tugas ini, Dia pula yang menyertai kita berkat bimbingan Roh Kudus.

Sr. Yulia, OSF Sibolga selalu berusaha dan berjuang untuk memberikan teladan kebaikan bagi orang lain. Example is better than prespect, beliau telah melakukan dengan cara memberikan contoh terlebih dahulu. Dan hasilnya kita dapat menikmati. Usaha merupakan bagian dari caranya untuk memberikan kesaksian hidupnya bagi orang lain.

Usai Perayaan Ekaristi dilanjutkan santap malam bersama dan rekreasi sebagai bentuk rasa kegembiraan dan dukungan kepada Sr. Yulia dalam pesaudaraan di komuinitas. Para suster dengan gembira melantunkan lagu-lagu kecintaan Sr. Yulia sendiri.

Proficiat suster, semoga selalu sehat dan bahagia.