Fri. Apr 16th, 2021

Mereka pun pergilah memberitakan injil ke segala penjuru dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya (Mrk 16:20).

MTB dan Sepeda Gunung
Sebelum saya memasuki kota Jogya pada 4 tahun lalu, saya tidak mengenal biara MTB. Sampai di kos sementara di Pringwulung, seorang teman berkata kepada saya agar memillih tinggal di MTB, sebab tinggal seorang dalam rumah kontrakan yang besar, banyak hal yang perlu dilakukan. Semalam kami berdiskusi, apa itu MTB. Teman lain berucap begini, “MTB itu, mohon tuan bantu, MTB itu singkatan dari makan tanpa batas, makan tak bayar”. Lalu yang lain mengatakan “MTB itu, makhluk tak berbentuk” masih ada plesetan lain (Red;Manusia Tahan Banting). Ketika masuk dan tinggal di Komunitas MTB Kota Baru, selama dua tahun saya akhirnya berkesimpulan dan tahu bahwa MTB itu adalah Maria Tak Bernoda, MTB itu adalah misionaris Terberkati, MTB itu adalah Muda tua berguna, MTB itu akhirnya saya simpulkan, the mauntain bike (sepeda gunung). Nanti cek di toko sepeda, berapa harga sepeda MTB. Logika sepeda, semakin didayung semakin seimbang, semakin berlatih semakin mahir, semakin menguasai medan. Jika menemukan keseimbangan, akan melaju makin jauh dan tak terkejar. Sepeda gunung, bentuknya sederhana, murah harganya dan mudah dibawa. Seperti sepeda gunung, MTB menerjang ke seluruh negri tetapi tetap rendah hati, bertubuh kecil (baca: jumlah anggota maksudnya) tetapi beriman besar, berani menerobos alam yang tak tahu rimbanya tetapi tetap lembut dan sederhana, struktur tubuh yang kecil tetapi mudah menjangkaui semua kalangan. Masuk MTB itu murah, bukan dihitung uangnya, tetapi murah hati orang-orangnya. Karena murah hati, maka para pemuda berdatangan untuk menjadi anggota dalam biara MTB. Karena komunitas selalu menebarkan aura murah hati, tidak heran semua umat di sekitar merasa tidak jauh dari MTB. Selalu dekat dengan pelayanan MTB. Anak-anak MTB tidak mahal hatinya. Dari semangat sepeda gunung, kongregasi MTB menjadi misionaris yang terberkati.
Jejak  Sinfu
Catatan 100 tahun berawal dari 5 bruder Maria Tak Bernoda (MTB) yang disebut the Sinfu (korupsi lidah atas kata Shifu, kata bahasa Mandarin yang berarti  pastor atau imam pendeta). Mungkin dahulu orang-orang Cina Singkawang tidak tahu membedakan antara biarawan dan imam. Sedangkan untuk bruder, biasa dipanggil SiongKung. Dan panggilan ini populer atau dipakai oleh orang-orang Singkawang di masa-masa selanjutnya. Sedangkan panggilan untuk suster biarawati  adalah KuNyong (redaksi). Sapaan Sinfu ditujukan kepada kelima bruder putih pertama di Singkawang. Kelima bruder putih pertama di Singkawang dimaksud adalah Br. Kanisius, Br. Maternus, Br Serafinus, Br. Longinus dan Leo Geers. Mereka lebih popular disebut sebagai guru di sekolah dan orangtua siswa di asrama. Kelimanya menangani sekaligus pendidikan formal dan informal. Kedekatan masyarakat terhadap kelima bruder itu ditunjukkan dengan sapaan manis, Sinfu (guru dan bapa berjubah dan berkulit putih). Mereka dipercayakan untuk menabur benih pendidikan untuk semua golongan dan semua agama. Bukan hanya untuk kalangan Gereja Katolik. Bukan hanya untuk orang Singkawang, orang Kalimantan atau etnik Dayak, tetapi untuk semua anak dimanapun mereka membangun. Mereka dipanggil untuk melayani semua bangsa dan golongan. Mereka diutus dari misi Gereja Katolik tetapi menabur kebaikan untuk semua kelompok sosial melampaui label Gereja Katolik. Mereka teguh berdiri karena disemangati hati Perawan Maria Yang Tak Bernoda, sederhana dan beriman teguh. Iya, kekuatan mereka adalah kepemilikan hati yang sederhana dan beriman teguh (simpliciter et confidenter). Mereka berawal dari desa Huijbergen Belanda dalam sebuah communio dengan Uskup Breda, Mgr Johan Van Hooydonk dan kemudian ber-missio ke Indonesia dalam kerjasama dengan seorang vikaris apostolik berjubah hitam (OFM Capusin), Mgr. Pasificus Van Bosch pada 11 Maret 1921. The Sinfu Singkawang itu, kemudian menjadi jejak sejarah pendidikan MTB sepanjang masa di Indonesia.

Gereja pada 100 Tahun lalu, 1921
Konsili Vatikan II secara resmi dimulai pada 1962. Bisa dibayangkan, kelima bruder pertama mengemban model Gereja Konsili Vatikan I. Tagline teologis Gereja sebelum Vatikan II menyebutkan bahwa di luar gereja tidak ada keselamatan (Extra ecclessia nulla salus). Keterbukaan terhadap agama-agama lain belum punya rumusan yang baku sebagaimana diputuskan dalam Konsili Vatikan II, tetapi para bruder, sudah membawa misi yang melampaui dogma Gereja. Mereka paham makna esensial kata “Katolik” adalah universal, umum. Kebaikan tidak bisa dibatasi oleh agama, seperti cinta adalah milik semua agama dan semua manusia. Mereka menyebarkan pesan Kristus yang sungguh universal. Keselamatan bukan hanya milik Gereja Katolik. Mereka memproklamirkan prinsip kemanusiaan baru: di luar gereja ada keselamatan. Semua manusia diselamatkan Allah, tidak hanya orang-orang Kristen atau Katolik. Sebab itu, desain pendidikan, pembelanjaran dan pewartaan mereka bernuansa inklusif. Mereka membawa misi Kristen dan memilih belajar bersama masyarakat Tionghoa dan Dayak. Peleburan itu akhirnya membentuk peradaban baru bersama orang-orang Tionghoa Singkawang dan Dayak. Kekristenan yang mereka sebarkan menyatu dengan adat dan budaya Tionghoa/Dayak. Mereka membawa misi Kristus tetapi tidak memusnahkan adat setempat. Bahkan mereka membesarkan kekristenan dalam pecahan-pecahan adat dan budaya Dayak. Inkulturasi!
Seperti Perutusan Kesebelas Murid
Setelah kebangkitanNya, Yesus menampakkan diri kepada Maria Magdalena (Mrk 16:9), kepada kedua murid (Mrk 16:12), dan kepada 11 murid – minus Yudas Iskariot (Mrk 16:14). Yesus mengutus dan memerintah para muridNya untuk memberitakan injil (Mrk 16:15). Mereka yang percaya dengan injil, ya dibaptis atau diberi tanda sebagai pengikut Kristus. Kepada para muridNya, Yesus memberikan jaminan bahwa mereka yang menerima injil dan dibaptis dianugerahi daya untuk mengusir setan-setan dan roh jahat (bdk Mrk 16: 16-17), mereka dapat berbicara dalam bahasa-bahasa baru, adaptasi budaya dan pola peradaban baru. Mereka menjadi tahan terhadap racun maut (Mrk 16:18) dan mereka dapat menyembuhkan orang sakit. Para murid melakukan apa yang diperintahkan Yesus. Terbentuklah Jemaat Kristen sejak di Antiokia. Sejak di Antiokia, komunitas gereja perdana itu menyebut diri sebagai Kristen dan kata Katolik dipergunakan untuk pertama kalinya oleh Santo Ignatius Antiokia ketika ia menjadi uskup di Antiokia pada tahun 110M. Penggunaan kata katolik untuk jemaat Kristen di Antiokia itu mau menunjukkan bahwa kekristenan yang dikembangkan dan disebarluaskan adalah kekristenan yang universal. Pengajarannya bersifat terbuka. Kabar Gembira Yesus Kristus tentang keselamatan, kebangkitan, penyembuhan, pembebasan dari roh-roh jahat, kemerdekaan diri, keadilan sosial, dan seterusnya bersifat universal. Jadi sejak awal Yesus memerintahkan para murid untuk berjuang bagi kebaikan universal.
Seperti kesebelas murid dalam peristiwa penampakan Tuhan pasca kebangkitanNya dari antara orang mati, the Sinfu itu telah turut menabur benih injil bersama uskup dan imam Kapusin di tanah Borneo. Mereka disegani bukan karena “keputihan kulit dan pakaian mereka” – tetapi mereka disegani karena pola tindak dan kesaksian mereka sungguh-sungguh menggugah dan akhirnya mampu mengubah hati orang. Mereka tidak mengejar popularitas kecuali terus ngegas dengan prioritas kebaikan manusia. Mereka berpacu dengan sang waktu, menjunjung substansi, dan abaikan pola tindak sensasional. Rela diobok-obok atau diejek sebagai rekan kolonialisme, yang nota bene lebih banyak dipandang sebagai penjajah dan penikmat kekayaan nusantara. Kapitalis dan imperialis. Mereka hadir sekaligus menghapus riuh rendah cerita seputar kerasnya nasib rakyat bersama penjajah. Para Sinfu itu menghapus  rasa kektidakpedulian yang mengglobal menjadi fakta globalisasi kepedulian (bdk. EG, 2013). Pola tindak para burder Sinfu itu, mengguratkan cerita lain tentang manusia lain, bahwa ternyata tidak semua orang asing berniat jahat. Ketahanan diri para bruder Sinfu dalam bidang pelayanan pendidikan menjadi cikal bakal perkembangan sekolah-sekolah bruder MTB di seluruh wilayah nusantara ini. Mereka menabur dari Sabang sampai ke Merauke. Dan kini berkembang sesuai karakter dasar kongregasi MTB.
MTB, pasca 100 tahun – menjadi Sinfu yang Misioner
Kita tak harus punya mimpi yang muluk-muluk, tetapi hidup bermimpi adalah signal awal dari sebuah upaya perubahan. Toh hari-demi hari kita selalu mau bergerak ke arah yang lebih maju. Semua cita bergerak dalam waktu. Sebagaimana duka dan derita juga terus bergulir dalam waktu. Segala sesuatu ada waktunya, kata Pengkhotbah (3:1), demikianpun segala cita MTB hari ini menyumbangkan citra iman yang positif bagi masa depan gereja. Ia akan membuat segala sesuatunya menjadi indah (Pengkhotbah 3:10-11). Gereja Katolik Indonesia tengah berada pada gempuran kekuasaan yang cenderung sektarian dan partisan, di pusaran kepentingan elit yang tersegmented identitas. Ada perebutan ruang publik yang memunculkan kegelisahan sosial. Ada dominasi kelompok yang menimbulkan rasa terdominiasi kelmpok lain. Ada privatisasi tetapi sekaligus publikisasi teologi. Akhirnya kerapkali tampak supremasi agama di ruang publik. Dunia sedang dikerubuti manusia-manusia yang membaptis diri sebagai “panitia surga dan neraka”. Pasca 100 Tahun, MTB tetaplah pemilik hati yang sederhana (simple, supel) dan jiwa yang beriman. Kita tidak bisa mengubah keberagamaan yang cenderung khaos, namun spirit kongregasional setiap komunitas agama dapat menjadi entri point menuju bangsa yang cerdas beragama. MTB pasca 100 tahun tetap berjuang bersama sang waktu mewujudkan dasar perutusan dan perintah Tuhan, yaitu memberitakan kabar sukacita kepada segala bangsa. Oleh karena itu, MTB pasca 100 tahun adalah sang influencer gereja Katolik yang terbuka dan inklusif; yang konsisten dan berkomitmen pada kebaikan universal. Yang kritis dan mau dikritik (inter-corrective), yang berjejaring (inter-netting) dan berteman (inter-personal) dengan segala pengalaman kehidupan masyarakat. MTB adalah salah satu influezer Konsili Vatikan II: “kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga” (GS. 1). Di hari esok, biarkan semakin banyak masyarakat yang merasakan sentuhan ciri misioner dari gereja. Gereja yang terlibat dan merangkul daripada Gereja yang mengurung diri dan mengekslusi kelompok lain. Paus Fransiskus pernah tegaskan, gereja masa kini harus menjadi “Gereja yang lebam dan memar”(LF, 2013). MTB adalah layak menjadi Mountain Bike bagi gereja Indonesia. Bravo MTB. Proficiat 100 Tahun. Sinfui yang manis dan misioner, trimakasih untuk segala jasamu!****

RD. Hiro Bandur, Pr – Penulis adalah Imam Keuskupan Ruteng, Flores – Mahasiswa Doktoral UIN Kalijaga Yogyakarta.