Sun. May 9th, 2021

“Hingga tahun 1890 jumlah anggota kongregasi mulai berkembang, meski belum luar biasa, tetapi mantap. Hal ini menunjukan aksi misioner mereka pelan-pelan mengubah wajah dunia. Dunia telah menyaksikan bagaimana carut marut sosial ekonomi dan budaya ditangani hingga tuntas mulai dari desa Huijbergen.”

Pendahuluan
Huijbergen adalah sebuah kampung kecil di Breda, Belanda, dengan wilayahnya yang tergolong kurang makmur. Namun sebagai uskup dan gembala, Mgr. Johanes Van Hooydonk berjuang keras agar wilayahnya tetap maju. Ia mempunyai semangat yang luar biasa. Kepekaan hatinya terhadap jiwa sesama manusia, serta kesederhanaan dan keakraban pergaulannya membuat ia menjadi orang yang terpilih untuk membina pemulihan kehidupan rohani umat kala itu. Kepribadian maupun gaya kepemimpinannya terungkap dengan baik dalam pedomaannya ‘Simpliciter et Confidenter’ (kesederhanaan dan Kepercayaan). Keadaan umat di keuskupan pada saat itu jauh dari suasana yang menggembirakan. Umat Katolik telah berabadabad hidup dibawah tekanan pemerintah dan golongan lain yang tidak beragama. Pemerintah tidak memberikan kelonggaran untuk mendidik dan membina umat yang tidak bermutu, sehingga penghayatan agama pada saat itu amat menurun karena kebodohan dan formalisme yang membekudalam kebiasaan-kebiasaan yang tidak dimengerti lagi. Artinya dengan merosotnya kehidupan beragama kehidupan susila ikut merendah. Situasi perang pada saat itu membawa kerugian material dan goncangan sosial, serta penderitaan rakyat terus bertambah. Sehingga sang gembala mengupayakan mendirikan sentral-sentral pendidikan. Upaya ini membuahkan hasil. Melihat Sejarah Awal Kongregasi MTB Di Huijbergen sejak abad pertengahan sudah terdapat biara para rahib Willhelmit. Namun ketika terjadi Revolusi Perancis, semua harta biara berantakan. Uskup van Hooydonk sebagai gembala umat dengan kuasanya berusaha menghimpun harta harta yang tercerai berai itu dan berhasil menata keuskupan. Akibat dari Revolusi Perancis ini, membekas hingga pada tataran kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya yang merosot jauh. Sang gembala hendak memulai restorasinya dari Huijbergen, walaupun Huijbergen hanya punya hamparan tanah, namun penuh dengan suasana desa yang khas dan ramah lingkungan. Maka sebagai uskup dan gembala, Mgr. Johanes Van Hooydonk memikirkan untuk mendirikan sebuah biara baru. Dia mengumpulkan beberapa pemuda dan ternyata dari sekian pemuda terdapat tiga pemuda yang tertarik dengan kesaksiannya. Pada tahun 1854 ketiga pemuda itu menerima kaul yakni Karemans sebagai (Br. Fransiskus), Brouwels (Br. Antonius) dan Claeren (Br. Bonaventura). Ketiga Bruder ini yang menjadi primus signal (tanda awal) kelahiran kongregasi MTB (Maria Tak Bernoda) di dunia. Sukacita ketiganya menelusuri dunia baru (MTB) adalah sukacita sang uskup perintis, yang melanjutkan sukacita Allah. Kepada ketiga Bruder ini dipercayakan restoration (desain restorasi) melalui tugas misioner gereja, terutama untuk mendampingi para yatim piatu, pendidikan anak, dan pembinaan keterampilan hidup anak-anak dalam asrama.
Menjadi Saksi Kristus di Tengah Goncangan Dunia
Di Eropa, selama puluhan tahun Kongregasi MTB pun tidak luput dari goncangan-goncangan zaman akibat revolusi perang. Namun dengan semangat kesederhanaan yang anggun, para Bruder MTB tetap semangat melanjutkan karya-karya mereka. Hingga tahun 1890 jumlah anggota kongregasi mulai berkembang, meski belum luar biasa, tetapi mantap. Hal ini menunjukan aksi misioner mereka pelan-pelan mengubah wajah dunia. Dunia telah menyaksikan bagaimana carut marut sosial ekonomi dan budaya ditangani hingga tuntas mulai dari desa Huijbergen. Tampang MTB semakin gagah menawan dan menantang. Menjelajahi dunia lain untuk menjadi saksi atas kebesaran Allah. Menjadi saksi Kristus merupakan pokok kegiatan misioner untuk menampilkan teladan dan kesaksian hidup. Panggilan menjadi misionaris menarik perhatian para Bruder MTB. Banyak Bruder dengan gembira mendaftarkan diri menjadi calon misionaris, setelah mendengar ada rencana misi ke Borneo-Kalimantan Barat. Pada tahun 1921 diutuslah lima orang Bruder ke Indonesia. Yakni Br. Kanisius, Br. Serafinus, Br. Maternus, Br. Longinus dan Br. Leo. Kelima Bruder ini mendarat pertama kali di Nusantara melalui jalur laut hingga tiba di Singkawang pada Kamis sore 10 Maret 1921 dan diterima secara resmi oleh Komunitas Kapusin Singkawang pada hari Jumat, 11 Maret 1921. Dalam catatan sejarah misi Katolik wilayah Kalimantan Barat, Singkawang adalah tempat pertama misi Katolik di wilayah Borneo. Singkawang mulanya adalah sebuah desa yang pada saat itu belum ada jalan raya cuma ada sungai-sungai yang lebih dari seribu kilometer panjangnya. Dengan banyak jeram serta kontur yang meliuk-liuk mengalir di antara rimba dan pegunungan. Namun bak seorang gadis, Singkawang bagai kembang desa yang menggoda setiap orang. Banyak penggemar dari berbagai negara lain seperti pedagang dari Tiongkok, Malaka, dan para penambang emas dari Monferado. Singkawang menjadi tempat istirahat yang paling menggairahkan bagi pedagang, penambang setelah rasa penat, lelah dan sumpek berkeributan dalam hidup mereka. Di Singkawang para Bruder menempati rumah seorang Cina di samping pastoran. Rumah itu sudah reyot dan berdiri di antara pohon-pohon karet dan kelapa. Selanjutnya mereka membangun rumah baru. Para Bruder pada saat itu menangani dua sekolah yakni HIS (Holands Inlandse school) dan satu sekolah berbahasa china HCS (Holands Chinese School). Melalui sekolah para Bruder menebarkan pengetahuan dan iman Katolik kepada kaum muda. Sehingga banyak pemuda bertobat dan mau menjadi Katolik.
Menyuarakan Suara Kaum Kecil
Bruder-bruder mulai menghadapi situasi yang berbeda. Mereka harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, sosial dan budaya masyarakat setempat. Penyesuaian diri yang harus dihadapi ialah bagaimana mereka harus beradaptasi dengan cuaca yang berbeda, harus menyesuaikan makanan dan bahasa yang berbeda. Suatu transformasi yang harus dihadapi dengan penuh tantangan dari budaya Barat ke budaya Timur. Pada zaman itu Bruder-bruder mulai memperhatikan masyarakat Tionghoa yang berada di daerah Singkawang. Masyarakat ini mengalami kekerasan dan pengasingan dari pemerintah sehingga dengan semangat para Bruder mulai mendirikan karya-karya untuk membantu mereka. Mereka juga mulai terjun ke kampung-kampung menebarkan iman dalam misi pelayanan kepada masyarakat Dayak yang pada masa itu masih banyak menganut paham nenek moyang. Kehadiran para Bruder saat itu membawa perubahan yang luar biasa. Mereka menyapa dan merangkul masyarakat untuk lebih mendalami dan mengenal iman serta kepercayaan kepada Sang Pencipta yakni Allah. Para Bruder mulai membangun karya di kampungkampung untuk membantu masyarakat kecil. Dengan semangat kesederhanaan dan kepercayaan para Bruder mulai melakukan misi ke daerah-daerah lain di luar pulau Kalimantan seperti pulau Jawa. Jawa memang menarik. Jawa merupakan pusat daerah kolonial Hindia Belanda, prasarananyan lebih baik, dengan penduduk yang lebih padat serta tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Mereka mulai menebarkan iman dan membangun kesejahteraan jemaat setempat. Mereka juga mengabdikan diri pada pendidikan untuk mendidik anak-anak pada zaman itu. Di sana mereka harus menyesuaikan diri dengan budaya Jawa dengan belajar berbahasa Jawa. Mereka hidup dengan semangat kesederhanaan, kepercayaan, dan selalu rendah hati sehingga kedekatan dan kedatangan mereka diterima dengan baik oleh masyarakat. Tetapi kala itu mereka mulai menemukan banyak tantangan, bukan hanya dari segi budaya tetapi situasi perang dan politik pada zaman itu. Bruder-bruder harus berjuang keras untuk tetap mewartakan kabar sukacita kepada masyarakat jawa. Walaupun ada beberapa biara yang ditutup tetapi semangat para Bruder tidak pernah surut. Mereka mulai membangun karya-karya serta kursus untuk membantu masyarakat. Kongregasi mulai tumbuh dan berkembang dengan baik.
Penutup
Para Bruder selalu hidup dalam kedamaian dan kesederhanaan dalam persaudaraan. Mereka selalu berpegang teguh pada visi dan misi kongregasi. Yaitu hidup sebagai hamba Tuhan untuk mewujudkan kemuliaan Allah dalam persaudaraan Injili serta misi; dijiwai oleh semangat kesederhanaan dan kepercayaan dalam menanggapi situasi zaman, para Bruder MTB bersedia menjadi saudara bagi yang lain: membangun persaudaraan sejati yang menjunjung tinggi martabat manusia dan memberikan pelayanan yang memberdayakan mereka yang miskin dan lemah khususnya lewat pembinaan kaum muda. Dengan pedomaan ini mereka selalu menyapa semua orang sebagai saudara sebagaimana yang telah diteladankan oleh Bapa Santo Fransiskus dari Assisi. Kedekatan dan keakraban mereka mendapat perhatian bagi kaum muda. Mereka melihat ada benih yang tumbuh dalam diri kaum muda. Sehingga para Bruder mulai terbuka dan mau menerima calon pribumi. Banyak pemuda yang tertarik dengan kesaksian hidup mereka. Sehingga ada beberapa pemuda yang menggabungkan diri untuk menjadi Bruder MTB. Mereka datang dari suku, ras dan bahasa yang berbeda dan bergabung dengan kongregasi MTB sebagai satu saudara. Kongregasi MTB pun mulai menampakkan terang cahaya cemerlang yang seakan-akan tak kan pernah pudar. Dengan kebesaran dan kasih Allah Karya dan kerasulan mereka sunggguh-sungguh membawa kedamaian dan sukacita dalam diri setiap orang yang dijumpai. *** Sdr. Orlando, MTB.

(Foto istimewa)