Sun. May 9th, 2021

Buku Gema Harapan merupakan karya orisinal dari para novis tahun pertama Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda (MTB). Agar tidak terlalu terbebani dengan kaidahkaidah akademik (baca: ilmiah), pada kesempatan ini kami secara sengaja memberikan kebebasan kepada mereka untuk merangkai kalimat sesuai dengan jalan pikiran yang mereka rasa dan alami selama menjalani masa formasi di Komunitas Novisiat MTB, Yogyakarta. Namun diluar dugaan, meski sebagai penulis pemula, karya-karya mereka ini sangat layak untuk diapresiasi. Terutama karena semangat dan kemauan mereka yang besar untuk mengeksplorasi pengalamanpengalaman kecil, kemudian merajutnya menjadi bermakna, dan membagikan pengalaman perjalanan awal panggilan ini kepada kita semua. “Gema Harapan” dapat dimaknai sebagai sebuah ruang dimana suara-suara dan harapan yang tulus murni bergaung dan memantul. Suara-suara yang muncul dalam bentuk gagasan, refleksi, sharing pengalaman, motivasi hidup dielaborasi kembali antara lain melalui pembacaan ulang historiografi Kongregasi Bruder MTB. Kalimat-kalimat yang memancar dari benak paling dalam orang-orang muda ini memancing kita untuk berpikir ulang tentang pemahaman pola dan pendekatan Mutiara Gagasan, Refleksi, dan Motivasi Bentara Muda Maria Tak Bernoda pendampingan pembinaan di novisiat yang tidak hanya sekedar mengejar aspek kekudusan diri menjadi seorang Bruder MTB. Akan tetapi, banyak hal yang harus kita evaluasi dan juga benahi agar mereka dapat berkembang dan bertumbuh secara positif dan menjadi pribadi religius yang produktif. Pengembangan literasi pustaka (membaca dan menulis) adalah upaya yang kami lakukan saat ini. Kami berkeyakinan jika budaya literasi menjadi polarisasi di masa formasi awal, para formandi akan memiliki pondasi yang kuat untuk mengembangkan segala potensi yang dimilikinya di kemudian hari. Dengan menulis, pengalaman-pengalaman dan ide-ide akan dapat dibagi, dikritisi, dan ditindaklanjuti dengan lebih mudah.
Gagasan Orisinil dan Realistis
Dalam buku ini pilihan kata, tuturan kalimat, serta pengambilan sudut pandang para penulis dalam menarasikan gagasan serta pengalamannya telah menunjukkan keunikan tersendiri. Ketajaman rasa dan kepekaan batin dalam menangkap fenomena yang terjadi di dalam maupun di luar tembok biara telah memampukan mereka untuk bernarasi. Maka, melalui karya-karya seperti ini diharapkan secara tidak langsung dapat mendukung peningkatan aspek intelektual serta aspek lain seperti; spiritual, psikologi, serta sosial. Buku ini adalah pengalaman perdana para Novis MTB dan sekaligus sebagai bentuk kemajuan berpikir dalam rangka menyambut sukacita 100 tahun Kongregasi Bruder MTB berkarya di Indonesia, pada 21 Maret 2021 yang akan datang. Bagi kami buku ini bukan hanya ruang batin bagi para formandi, namun lebih dari itu merupakan sebuah karya para religius muda untuk menggaungkan gagasan dan harapan mereka. Gaung yang memiliki kekuatan yang meyakinkan bahwa siapapun yang mau mengikuti Yesus untuk menanggapi panggilanNya secara optimis, berjiwa unggul, dan kreatif tentu akan menemukan jalannya. Bila dipotret lebih dalam, pendekatan yang bersifat personal sangat dominan dalam buku ini. Sekecil apapun pengalaman sehari-harinya di lingkungan novisiat, dapat menjadi narasi yang indah nan teduh untuk dibagi kepada orang lain. Selain itu kepekaan hati untuk menangkap fenomena di luar tembok biara novisiat ternyata mampu menguji ketajaman hati dan rasa mereka dalam mengungkapkannya. Bisa saja kesepian menjadi sebuah kekosongan karena tidak adanya ruang untuk mengekspresikan pergumulan dan kegelisahan batin. Maka terkadang muncul gaya bahasa satire untuk memberi warna tersendiri bagi kita yang pernah dibentuk pada zaman pra millenial di rumah formasi awal. Kita digiring dengan ulasan mereka. Hal ini bukanlah semata-mata keinginan para formandi untuk menunjukkan kehebatan mereka. Akan tetapi setidaknya pandangan kita akan disegarkan oleh nukilan hati mereka yang sangat terbuka dan kritis khas gaya novis masa kini. Buku ini terdiri enam bagian. Masing-masing sub bagian mempunyai kekhasan tersendiri sesuai dengan kemampuan dan latar belakang para penulis. Bagian pertama, berjudul “Inspirasi Panggilan Dibalik Buku Sejarah Kongregasi.” Sub bagian ini berisi tulisan enam novis yakni: Egi, Orlando, Wili, Damas, Matius, dan Loeis. Mereka mengajak kita untuk melihat kembali, membaca ulang, dan menafsir buku sejarah kongregasi yang berjudul Huijebergen dan Ujung-ujung Dunia; Bruder-Bruder MTB 1854- 2004. Mereka mereduksi kembali isi buku tersebut dengan dinamis, berbagai topik dalam buku memantik cara pandang baru terutama bagaimana karya-karya klasik dari pendahulu tetap dirawat, dijaga dan diteruskan dengan cara yang berbeda namun bernuansa khas MTB di Indonesia. Berbagai macam tulisan mereka mendorong kita untuk berpikir ekstra tentang rekomendasi yang aktual dan kontekstual.
Konten Buku Gema Harapan
Ikatan emosi mereka sangat kuat untuk merefleksikan pengalaman para bruder Mutiara Gagasan, Refleksi, dan Motivasi Bentara Muda Maria Tak Bernoda pendahulu sebagai pintu awal berkembangnya karya Bruder MTB baik di Indonesia maupun di Brazil. Bagian dua, berjudul “Mutiara-Mutiara KGN dan Pernak Pernik Perwujudannya.” Bagian pertama pada subbab ini, Sdr. Egi mendeskripsikan pengalaman selama mengikuti pengolahan hidup dan pemahaman tentang psikoseksualitas kaum religius bersama peserta KGN lainnya di Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Sdr. Egi membagi pengalaman dalam kegiatantersebut dengan segala pergumulan dan kegelisahan tentang jati diri religius yang tidak luput dari mantel kerapuhan diri dalam mengikuti Yesus. Sedangkan subbab dua Sdr. Loeis mengulas tentang bagaimana suka duka perwujudan diri dalam hidup berkomunitas di novisiat. Antara diri ideal dan realitas batin religius muda dalam berjuang, serta bagaimana cara menerima diri dan orang lain secara positif agar tetap menjadi utuh dalam hidup bersama. Kejujuran penulis terletak pada pengalaman konkret di wilayah novisiat. Rupa-rupanya cara merekam fenomena ini tidak akan selesai jika belum dibereskan secara total di rumah pembinaan. Bagian tiga, “Stage: Laboratorium Hati untuk Siap Berkarya”. Bagian tiga ini berisi pengalaman dan refleksi para novis selama live in di Panti Asuhan dan kegiatan masa stage di Komunitas Karya. Stage ini sebagai salah satu cara bagi mereka untuk belajar hidup bersama Bruder MTB yang tengah berkarya di asrama, sekolah, yayasan, sosial, rumah tangga, pastoral, maupun pertanian. Pengalaman novis dua ini ditulis oleh Sdr. Andreas, Samuel, Atham dan Angelo sebagai tanda tahun kerasulan atau pastoral. Beragam kisah mereka uraikan dalam bentuk refleksi pribadi yang menarik. Pengalaman-pengalaman yang mereka hayati adalah laboratorium kecil tersebut penting sebagai dasar pengambilan keputusan menuju tahap profesi di tingkat yunior. Baik kegiatan live in maupun stage di luar komunitas novisiat, keduanya bermuara pada ujian hati di mana pengalaman-pengalaman tersebut akan menumbuhkan iman pada penyelenggaraan Ilahi. Bagian empat, “Mencari Mata Air Sejati Bersama Bunda Maria.” Pada bagian ini, ziarah rohani menjadi sumber inspirasi menulis. Dalam kehidupan para novis momen ini tidak saja menyenangkan, tetapi juga bermakna sebagai laku untuk setia bersama Bunda Maria. Para novis menemukan berbagai pengalaman menarik dalam setiap ziarah. Perjumpaan bersama Bunda Maria di berbagai tempat ziarah seperti Gua Maria Sendangsono, Jatiningsih, dan Sriningsih menjadikan mereka semakin mengalami karunia dan rahmat sukacita dalam menjalani panggilannya. Dengan berjalan kaki ataupun bersepeda, berbagai peristiwa yang ditemui semakin memperkaya pengalaman rohani mereka untuk terus berjalan bersama Bunda Maria menuju Yesus. Bagian lima, “Mutiara di Balik Pandemi: Semakin Bersahabat dan Percaya pada KuasaNya”. Di bagian ini kami sajikan berbagai sudut pandang dalam menghadapi situasi pandemi yang terjadi belakangan ini. Pandangan-pandangan tersebut menjadi narasi kolektif yang hadir dari pengalamanpengalaman pribadi para novis. Perspektif yang berbeda menjadi kekayaan untuk menelisik rasa peka, bagaimana secara kontekstual mereka dapat menghadapi tantangan pandemic Covid-19. Ketajaman refleksi dalam bingkai iman Kristiani ini akan membawa kita menuju pemahaman baru dalam menanggapi bencana global ini. Bagian enam, sebagai penutup kami menyajikan “Penghayatan Ketiga Kaul dalam Kongregasi Bruder-Bruder Maria Tak Bernoda”. Sajian pada bagian ini merupakan tinjauan dari Sdr. Athan tentang penghayatan kaulkaul religius dari perspektif Kongregasi Bruder MTB. Sumber Mutiara Gagasan, Refleksi, dan Motivasi Bentara Muda Maria Tak Bernoda sumber tinjauan diambil dari berbagai buku dan referensi serta pengalaman yang kemudian diuraikan menjadi sebuah refleksi yang lebih dalam. Demikian mutiara gagasan, refleksi, dan motivasi para bentara muda Bruder-bruder Maria Tak Bernoda yang masih ingin terus menggali inspirasi hidup Injili. Penerbitan buku ini bukanlah pencapaian akhir, melainkan langkah awal dari perjalanan panjang pelayanan mereka.
Terima Kasih Dan Patner Dukungan Buku
Untuk itu perkenankanlah kami mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah ikut andil dan mendukung dalam tahap-tahap awal pembinaan dan pendampingan para Novis Bruder MTB. Pertama, saya ucapkan terima kasih kepada Br. Rafael Donatus, MTB sebagai Pemimpin Umum beserta para anggota dewan Pimpinan Umum (DPU) Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk mendampingi para novis dengan segala kekurangan dan kelemahan saya tanpa melalui proses KPR (Kursus Pembina Rohani). Kedua, para staf pengajar Novisiat; Br. Petrus, Br. Yan, Br. Albert dan Br. Ferdi serta Br. Boni dan Br. Mikael yang dengan caranya masing-masing telah ambil bagian dalam proses pendampingan dan pembinaan di novisiat. Selain itu juga para kolega kami yakni Bapak Isidorus, Mbak Hesti, Mbak Novi, Sr. Lydia PRR dan Sr. Beni PRR yang turut membantu mengajar di novisiat sesuai dengan keahliannya masingmasing. Ketiga, Br. Gerardus MTB dan Mas Prast (Tim Editor) yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk memberi pelatihan pendek tentang budaya literasi bagi Novis 2 dengan baik. Secara khusus kami juga ingin memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya atas kelancaran proses penyusunan naskah, dari awal hingga diterbitkannya buku ini yakni kepada Penerbit Akalbudi Media. Segala kreatifitas editorial dan desainnya telah membuat buku ini menjadi indah dan enak dibaca, untuk itu kami ingin mengucapkan terima kasih. Keempat, apresiasi yang setinggi-tingginya bagi para penulis muda nan enerjik, karena dengan penuh ketekunan dan totalitas telah menuang dan membagi pengalamannya. Segala bakat dan talenta kalian telah menjadi sumbangan yang berarti bagi Kongregasi Bruder MTB dalam mengembangkan model pembinaan novis selanjutnya. Semangat (kewajiban) membaca dan menulis kalian juga telah menjadi inspirasi di ruang formasi saat ini. Semoga ini akan menjadi energi yang semakin menghidupi cinta kasih Allah. Akhir kata, semua ini tentu tidak akan berarti apa-apa tanpa belas kasih Tuhan, untuk itu puji dan syukur bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi. Semoga wacana para religius muda ini akan bergema dan memantul pada dinding-dinding zaman, hingga pada saatnya gaung suaranya akan menjadi inspirasi bagi para formandi yang akan datang untuk berkarya dengan sudut pandang dan cara yang berbeda dan ciamik! ***Jeruk Legi, 25 November 2020Br. Flavianus Ngardi, MTB Magister Novisiat Bruder MTB.