Sun. May 9th, 2021

Dalam perjalanan panggilan ini sebagai saudara pada kongregasi bruder MTB, kita tidak akan terlepas dari keluarga. Kita pernah merasakan sebagai anak-anak yang dicintai dan penuh kasih sayang. Kita sebagai anggota keluarga haruslah mengakui keberadaan kita dengan penuh kejujuran bahwa tanpa adanya keluarga kita tidak akan dapat berada dalam persaudaraan Bruder MTB saat ini. Di zaman milenial ini kita berada di ruang kosong dan senantiasa berjalan bersama dengan perubahan-perubahan di keluarga. Di mana ruang kosong itu akan terisi dengan berbagai pengalaman hidup bersama keluarga baik dalam suka maupun duka. Kenangan bersama keluarga/orang tua, senantiasa membawa kita untuk berpegang teguh sekaligus sebagai motivasi dalam menapaki panggilan ini.
Harapan Keluarga
Harapan untuk menapaki panggilan sebagai seorang kaum terpanggil sudah senantiasa diimpikan oleh keluarga besar kita masing masing. Hal ini seperti yang disharimgkan oleh saudra Fransiskus. Menurut Frans, seluruh keluarganya dengan antusias mempersiapkan segala keperluan dalam mengawali masa panggilan ini. Dukungan orang tuanya nampak dalam doa yang sangat kuat agar cita-cita mulianya tercapai. Bagi Frans, didikan keluarga yang ditanamkan sebagai dasariah dalam memekarkan dirinya. Selain itu didikan yang serba instan bukan merupakan bagian dari cara mendewasakan seorang anak. Kata Frans dengan penuh semangat. tidaklan menjadi prioritas yang senantiasa diberikan orang tua kepada setiap anggota keluarganya. Dukungan yang deberikan oleh keluarga bagi kita didalam menapaki panggilan ini Satu pesan ayahku yang saya masih terngiang dalam memoriku saat ini adalah : “kamu pergi dengan baju ini dan pulang harus dengan baju baru”( baca: jubah). Kata-kata yang kedengaranya nasehat suci ini senantiasa membawa saya untuk selalu setia dalam cita-cita ini.
“Bagi saya keluarga begitu indah dan sangat berperan penting dalam mendukung cita-citaku sebagai bruder MTB. Kekuatan kata-kata berupa pesan yang kudengar sebelum gabung dalam persaudaraan MTB menjadi kekuatan dan memegang teguh prinsip ”setia dan berani” dalam menjalaninya. Kata Ligo dengan semangat. Menurut Ligo, rinsip inipula yang membawa saya sampai hari ini masih bersukacita untuk menjadi pelayan Tuhan di tempat ini. Ligo juga memberi wacana tentang keretakan dalam hidup berkeluarga. “Hidup tidak harmonis/berselisih paham merupakan bumbu-bumbu utama didalam keluarga”. Yang penting setiap anggota keluarga mampu dan dapat mengontrol untuk menakar setiap permasalahn yang dihadapi oleh anggota keluarga. Jika hal ini dilakukan maka siapapun dia mampu membawa keluarga kembali menjadi keluarga yang harmonisasi. Kalau kita membaca dalam fenomena masyarakat dewasa ini, ketidakharomisan dalam keluarga, diakibatkan karena kurang adanya pemahaman satu dengan yang lain. Baik sebagai suami/istri maupun sebagai anak.
Kepekaan Dalam Hidup Bersama
Dalam keluarga ketidakpekaan serta tuntutan banyak, membuat hubungan keluarga kurang harmonis. Akibatnya kurangnya perhatian satu dengan yang lainnya. Di zaman yang cepat berkembang ini, makin banyak tuntutan kebutuhan ekonomi dalam keluarga. Kita tahu bahwa tidak seluruh kepala keluarga mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhaan dalam rumah tangga. Berbagai masalah ini, setiap anggota keluarga dituntut untuk mampu bekerjasama guna memenuhi kebutuhan keluarga. Agar mampu membawa keluarga kedalam cinta kasih untuk saling mencintai. Hal ini juga mampu mengecilkan sifat ketidaharmonis satu sama lain. Selain itu mengobati kekecewaan dari keretakan relasi satu sama lain. Permasalah yang cukup ringan dan kecil di dalam keluarga akan mampu mambawa keluarga kedalam permasalahan yang cukup besar jika setiap permasalahan tidak dapat menyelesaikan persoalan yang terjadi. Fenomena yang sering kali terjadi adalah karena kurangnya saling mengerti mengakibatkan keluarga menjadi luntur dan retak. Oleh karena itu setiap anggota keluarga harus bertanggung jawab dalam menghadapai persoalan. Setiap anggota keluarga harus mencari jalan keluar permasalahan yang dihadapi. Tidak semua orang memiliki permasalahan yang sama dan tidak semua keluarga memiliki permasalah ekonomi yang sama pula. Kurangnya waktu waktu bersama keluarga dan komunikasi membuat keluarga menjadi egois dan tidak mampu melihat kelebihan didalam pribadi anggota keluarga.
Saudara Agustinus menuturkan bahwa keluarga merupakan wajah cinta Kristus yang senantiasa dipancarkan didalam hidup bermasyarakat. Sebab dalam keluarga, gereja kecil senantiasa menaunggi keluarga yang mau menyerahkan diri mereka sebagai keluarga yang penuh dengan cinta kasih. Keluarga merupakan laboratorium pembentukan karakter pribadi setiap anggota keluarganya. setiap keluarga berperan membawa keluarga kedalam keharmonisan. Setiap anggota keluarga berperan untuk bertanggung jawab menyokong kehidupan ekonomi keluarga sehingga memancarkan cinta kasih.
Mendukung seharing dari sdr. Ligorius dan Agustinus, saudara Matius mengatakan bahwa keluarga adalah bentuk relasi yang paling unggul antar pribadi satu dengan yang lainya. Pengalaman yang terlintang didalam keluarga adalah kehangatan ketika kita berjumpa dan bercanda. Setiap pribadi berperan ddalam perjumpaan-perjumpaan mereka dengan gaya dan pembawaan mereka. Perjumpaan ini mendukung perjalanan panggilanku. Keluarga menjadi baru ketika ada salah satu anggota keluarga membulatkan niat mereka untuk senantiasa bekerja di ladang Tuhan. Dinamika berkeluarga kita dibawa kepada suatu gerakan pembaharuan yang nyata. Tuturan dari  sdr. Matius ditegaskan pula oleh saudara Wilfridus bahwa di dalam keluarga yang paling utama adalah saling mendukung. Keluarga kita mendapat inspirasi untuk berbagi kegembiraan dengan melakukan hal-hal yang sederhana. Kegembiraan dan saling bersharing merupakan kunci setiap keluarga untuk memancarkan Gereja kecil. Budaya perjumpaan keluarga untuk mengatakan kesatuan setiap anggota keluarga. Adanya hubungan yang saling timbal balik dan solidaritas antar keluarga. Relasi yang paling berakar pada hubungan dan keharmonisan setiap keluarga adalah komunikasi dan saling mengerti. Sebab hal ini menjadi harga mati yang harus dihidupi setiap keluarga. Situasi seperti ini membawa setiap pribadi untuk menjadi pribadi yang unggul didalam menapaki panggilan ini. Pengalaman masa lalu bersama keluarga merupakan sebuah mata rantai yang harus senantiasa disambung tanpa putus ketika kita menjalani panggilan ini. Pengalaman ini senantisa berjalan bersama dengan panggilan yang akan kita pilih, sehingga pengolahan hidup senantiasa selalu dituntut dari sebagai saudara dalam persaudaraan bruder MTB sampai tutup usia kita.
Bahasa Cinta Keluarga
Persaudaraan merupakan surga yang amat indah dan bukan neraka bagi kita. Dalam sharing kali ini Sdr. Wilfridus mengungkapkan bahwa relasi dengan sesama saudara dalam komunitas dari aspiran hingga di Novisiat kunci utama adalah komunikasi dan sikap rendah hati. Kita harus mampu untuk melibatkan diri dalam setiap aktivitas dalam komunitas. Perjalanan panggilan ini dituntut untuk mampu mengorbankan diri dalam berbagai kegiatan. Apabila didalam kehidupan sehari-hari terdapat suatu situasi yang tidak mengenakkan di antara kita, mungkin alangkah baiknya kita berusaha sedapat mungkin untuk meminta maaf dan mampu mengatakan saya salah. Ungkap terimakasih dalam hidup persaudaraan bruder MTB ini, kita belum dapat membalas dengan materi, tetapi kita haru mewujudkannya dengan tindakah dan pembawaan kita. Keretakan yang diakibatkan salahpaham itu selalu ada. Akan tetapi dibalik itu semua, kita dituntut untuk bagaimana menyikapinya, dan bagaimana kita memulai mengkomunikasikanya dalam menyelesiakn setiap konflik dalam hidup persekutuan ini khususnya di tempat formasi.
Terkadang kita menemukan sifat egois. Kita tidak menyadari kesalahan kita. Jika saya menyadari kesalahan saya, akan minta maaf dengan mengawali pembicaraan terlebuh dahulu serta menyadari kelemahanku. Didalam permenunggan ini tentang relasi dengab para saudara saya senantiasa merefleksikanya dari konstitusi para bruder MTB dalam artikel 203-224. Di mana dalam aritikel ini mengatakan arti persaudaraan. Seperti dalam umat kristen perdana kita saling memahami dan menerima. Dari artikel tersebut saya berusaha mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Santo Fransiskus Asisi

Bagi saya Santo Fransiskus Assisi, menjadi teladan panggilan didalam menghayati panggilan hidupku ini. Sdr. Agustinus membulatkan hatinya untuk membawa kepada suatu relasi yang harus dibangun dan diperbaharui dengan sesama saudara. Persaudaraan yang baik dan akur akan berjalan dengan baik jika dibangun dengan baik dan perwujudanyang baik pula sdengan tindakan yag nyata. Penerimaan diri pada diri membuat kita menjadi bagian dari persaudraan ini. Hal-hal yang ditimbulkan dari kekuarangan saudara kita tidak pernah untuk mencari akar permasalahan yang diakibatkan oleh saudara kita. Hari ini adalah giliran saya. Mungkin akan menjadi giliranmu dihari esok. Hidup ini bukan statis atau stagnan tetapi bersifat dinamis. Sebab Yohanes 13:11b mengatakan bahwa tidak semua kamu bersih.
Kita harus menyadari bahwa kita adalah saudara dina yang senantiasa diperbaharui dengan berbagai pengalaman dan corak hidup kita. Memang persaudaraan adalah kekuatan bagi kita. Akan tetapi saudara Ligorius mengatakan bahwa kita tinggal di dalam Kristus dan didalam persaudaraan kita harus menjadi pribadi yang rendah hati. Kita merelakan diri bagi sesama sebagaiman yang diteladani oleh Yesus Kristus. Kita dapat merefleksikannya secara mendalam bagaimana Yesus mau dan rela untuk membasuh kaki para muridnya. Yesus membuat dirinya sebagai hamba untuk melayani para muridNya. Perbuatan Yesus menjadi teladan dan pegangan kita saa ini. Yesus mau dan rela membasu kaki para muridnya apa lagi dengan kita. Menelisik dalam perjalanan panggilan ini saya melihat Yesus dalam sesama di komunitas novisiat. Disana saya mampu melayani dan melihat sesama saudara sebagai Allah dan tinggal bersama dengan para saudara saya didalam komunitas. Kita harus mampu membasuh kaki dan melayani saudara yang kita sakiti. Akan tetapi kita belum mampu untuk meneladani Yesus yang menjadi hamba bagi musuh-musuh-Nya. Kita merasakan bahwa panggilan merupakan suatu tuntutan yang kita hadapi dengan sesama saudara. Ungkap saudara Fransuskus dengan penuh semangat. Bagi Frans hidup berkomunitas pasti akan kita alami baik dalam suka maupun duka. Kita mengalami itu semua meskipun dalam melakukan pelayanan yang sederhana. Namun, terkadang tidak sesuai denga perspektif dengan diri kita bahwa yang kita inginkan berbeda jauh dengan harapan diri kita. Kita terkadang memilih untuk tidak mau mengulanginya lagi. Namun didalam persaudaraan ini, kita akan menemukan saudara untuk mendukung agar memulai kembali akan apan yang telah kita lakukan. Kita harus menyadari bahwa hidup berkomunitas akan mengalami bentrokan dengan yang lain. Kita diajak untuk mau memperbaharui diri. Sebab kerapuhan itu berasal dari diri kita dan akan berdampak dengan pengalaman kita, Hal demikian membawa kita kedalam penyesalan dan jika membiarkanya akan menjadi lebih besar borok yang kita miliki. Apakah saya mau berubah atau apakah saya akan kembali kepada pribadi yang salah. Walaupun memang salah dan berusaha mempertahankan kesalahan yang kita pegang. Saya adar akan hal itu tidak baik dan benar. Itu semua kembali kepada pribadi kita dan bagaimana kita menyikapi persaudaraan yang telah kita jalin selama ini.
Mengakhiri sharing ini kami berdoa Bersama
Tuhan Maha pemilik pangilan hidup ini. Engkau Maha Tahu bahwa, dari Sabang sampai Merauke begitu indah pulaunya. Karya ini merupakan hasil ukiran tangganMu sehingga terbentuk keindahan yang sangat kami kagumi. Begitu banyak habitat, didalam muka bumi ini yang kau ciptakan untuk kami. Kami bersyukur karena Engkau telah mempersatukan kami di dalam keberagaman dalam persaudaraan bruder MTB ini. Kami menyadari bahwa kami dipersatukan karena Engkau yang memanggil kami didalam kongregasi Bruder MTB. Kami percaya pula bukan kehendak kami untuk menjalani panggilan ini melainkan Engkaulah yang telah menyertai perjalanan panggilan ini. Bantulah kami untuk saling memahami sehingga mampu untuk melayani dari pada dilayani sebagaimana teladan PutraMu Yesus Kristus yang tersalib. Amin. Hasil renungan rekoleksi kelompok 3 (Br.Wili, Matius, Frans, Ligo dan Agustinus).

Kita saling menguatkan dan mendukung sebagai keluarga baru dalam persaudaraan MTB

(Foto Istimewa)