Sun. May 9th, 2021

Oleh: Br.Octavianus MTB -Novis 1

Saya tidak menyangka bahwa hidup yang kujalani saat ini berbeda dengan kehidupan yang kujalani sebelumnya. Aku juga tidak tahu mulai dari mana saya menelisik perubahan ini. Sekarang aku adalah seorang novis n Bruder Maria Tak Bernoda (MTB). Saat ini saya  bersama satu komunitas formasi sedang menjalani masa prapaskah yang dihitung dalam kalender liturgi 40 hari mulai dari Rabu Abu sampai Jumat Agung. Irama kehidupan yang kujalani saat ini, membuat aku dapat menghayati kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Abu yang kuterima saat Rabu Abu menandakan bahwa aku adalah seorang manusia yang lemah, rapuh dan berdosa. Abu juga mengingatkanku untuk selalu bertobat. Akan tetapi, saat aku merenungkan makna abu yang kuterima, aku teringat akan masa laluku (sebelum hidup membiara) terutama saat masa prapaskah. Aku masih mengingat dengan jelas saat aku tidak menghiraukan pantang dan puasa yang diwajibkan bagi seluruh umat Katolik. Disaat kebanyakan umat Katolik melakukan pantang dan puasa tetapi aku justru dengan seenaknya mengkonsumsi daging terutama saat Rabu Abu dan Jumat Agung.

Entah itu kulakukan dengan sengaja atau tidak sengaja. Atau memang secara pengetahuan liturgy memang saya tidak pahami betul waktu itu. Saya juga tidak tahu mengapa itu aku lakukan. Bahkan aku jarang sekali mengikuti jalan salib yang dilaksanakan di gereja. Aku tidak menyadari bahwa di masa itu aku telah menambah beban penderitaan Kristus. Tetapi aku tidak mau dihantui oleh masa lalu. Aku bertekad akan menebus kesalahanku. Karena masa lalu merupakan bagian dari mata rantai untuk mengolah kehidupan rohaniku saat ini. Dengan bergabung dalam Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda (MTB), membuat aku mendapat kesempatan untuk menghayati masa prapaskah dengan cara yang benar. Bahkan arti puasa yang aku ketahui saat ini lebih luas dari pemahamanku. Puasa bukan hanya berarti tidak makan tetapi puasa juga berarti puasa dari pikiran, emosi, hasrat dan niat yang jahat. Dengan masa prapaskah ini juga, membuat aku dapat mengerti bahwa sebagai orang yang merasa dipanggil oleh Tuhan berarti aku diajak untuk dapat menghayati kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus. Dimana aku juga harus mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Mempraktekkan ditengah umat dan di tengah zaman yang perkembangan IPTEK-nya berkembang dengan pesat. Kekuatan yang kudapatkan dalam masa prapaskah ini menumbuhkan harapan dalam diriku. Di mana aku berharap dapat setia kepada Kristus dalam menapaki panggilan untuk menjadi seorang Bruder MTB. Aku memohon agar semakin kuat dalam menghadapi setiap masalah dan ujian yang terjadi dalam hidup panggilanku. Inilah harapanku dalam retret agung ini.***

Suasana kapel Novisiat selama masa Prapaskah (foto Ilustrasi)