Sun. May 9th, 2021

Saya menulis sebuah puisi untuk mengantar refleksi dalam mewujudkan keheningan batin dan tantangan penggunaan media sosial sebelum retret. Puisi ini berangkat dari situasi konkret memasuki retret. Bisa dibilang pengalaman yang melekatkan diri pada satu hal sederhana sekalipun. Tak mau dilepaskan. Sebenarnya itu bisa, tetapi karena konkret setiap hari, kebisaan itu tidak bisa ditanggapi.

Koneksi Kembali

Roncalli, Salatiga: Selasa, 23 Februari 2021

Ya, sinyal putus!

WhattApp tak bisa, Facebookkan tak bisa

Instagram tak bisa, semua aplikasi terputus

Seakan-akan kegelisahan tak pernah berhenti

Itulah ringkasan kegelisahan dunia saat ini

Seakan-akan hidupnya sudah ditentukan

Apakah ada sinyal atau tak ada.

Apakah apalikasi berjalan atau tidak?

Kegelisahan itu, kegelisahanku dan Anda juga

Sinyal putus sambungnya,

terasa hidupku

mengalami putus sambung antara aku dan Yesus.

Aku terlarut dengan kesibukan dengan dunia

Dia tak membiarkan aku putus sambung

Dia menarik dan meraihku kembali

Pada jalan cinta sejati-Nya

Denyut jatung terasa berkobar ria

Bagaikan berkembangnya touch aplikasi

Membakar dan mencari tujuan jiwa dalam kebenaran

Menemukan jalan-Nya dan menuntunku sampai saat ini.

Berbagi Pengalaman Rahmat

Jhon Danne dalam kalimatnya yang populer mengatakan no man is and island. Manusia adalah makhluk sosial. Manusia bukan makhluk individualis, tetapi manusia sosial. Hidupnya menjalin relasi dengan orang lain. Bagaimana relasi itu dapat menjadi pengalaman yang bermakna? Perjumpaan menjadi penting untuk saling membagikan pengalaman antarsatu dengan yang lain. Kursus Persiapan Prasetia Kekal [KPPK] merupakan pengalaman yang sangat berharga.

Pengalaman KPPK mengawali perjumpaan bersama Tuhan melalui berbagai dinamika kegiatan sehari-hari. Suka dukanya berbagai pengalaman itu, tetap menjadi pembelajaran dan inspirasi yang bermakna. Kegiatan itu membawa kami mengalami rahmat Tuhan. Perjumpaan dari hati ke hati menemukan rasa rindu yang meneguhkan dan menguatkan.

Konfrensi

Selama kurang lebih lima puluh hari [50], para peserta mengikuti proses kegiatan konfrensi setiap hari, kecuali pada hari Sabtu dan Minggu. Setiap hari Sabtu dari pagi sampai makan siang adalah hari tenang. Yang diisi dengan refleksi buku harian, meditasi, renungan, bacaan rohani sebagai refleksi materi konfrensi selama perjalanan satu Minggu dari hari Senin sampai dengan Jumat.

Pelbagi materi konfrensi selama KPPK, antara lain: Buku Harian, Hidup berkomunitas, dan Pengambilan Keputusan [Br. Anton Karyadi, FIC], Spiritualitas Doa, Sejarah Hidup Bakti [Br. Petrus Suparyanto, FIC],  Pembedaan Roh, Seksualitas dan Spiritualitas [Sr. Yovani, SDP], Healing dan Refleksi Hidup Religius [Br. Anton Sumardi, FIC], Kaul Kemurian [Br. Redemptus Lastiya, FIC], Kaul Kemiskinan dan Ketaatan [Sr. Virgo Theresia Sutirah, SND]. Konfrensi dilaksanakan tiga [3] kali sehari, Pukul 08.15-10.00 WIB, jeda konfrensi snack bersama. Pukul 10.30-12.30 dan Pukul 16.30-18.00 WIB.

Retret Pengalaman Rahmat

Retret dimulai tanggal 18-26 Februari 2021. Retret semacam rangkuman keseluruhan kegiatan yang dimulai sejak 10 Januari sampai dengan 18 Februari 2021. Rangkaian kegiatan penutupan ini sungguh menjadi pengalaman bermakna untuk semua peserta. Selama retret sungguh-sungguh menjaga keheningan dan hanya bisa berkomunikasi dengan Tuhan dan pembimbing. Dengan demikian, setiap peserta menemukan pengalaman rahmat dengan caranya masing-masing untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Pengalaman itu menjadi suatu motivasi baru dalam mengarungi panggilan.

Selama retret, setiap hari bimbingan dengan pembimbing dengan jadwalnya masing-masing. Yang menarik bahwa kesempatan untuk berbagi pengalaman menjadi semakin jelas, semacam ‘pencerahan’ yang diberikan oleh pembimbing. Rasanya pengalaman itu menerangkan langkah selanjutnya. Bukan sebuah pengalaman baik-baik saja, tetapi sebuah pergumulan. Pengalaman itu menjadi sebuah rahmat baru karena dapat dimaknai sebagai tantangan yang dapat mengubah menjadi lebih dewasa, berkepribadiaan yang tanggung dan setia dalam menjalani panggilan sebagai religius.

Secara konkret pengalaman berahmat itu disharingkan bersama pembimbing dan memperoleh peneguhan yang semakin jelas dari pembimbing. Meranik bahwa pengalaman rahmat itu disimpulkan dengan: lambang/simbol, puisi, lagu, surat, dll. Hasil kesimpulan itu yang disharingkan akhir hari retret. Menarik bahwa masing-masing menemukan refleksi melalui dua hal, kesetiaan dan konsekuensi mengikuti jalan panggilan-Nya.

Usai sharing bersama pembimbing, juga disharingkan dalam kelompok besar. Tidak semua bisa sharing, hanya beberapa peserta. Beragam rahmat pengalaman perjumpaan dengan Tuhan yang disharingkan teman-teman dalam pertemuan bersama itu, menjadi semakin jelas bahwa mengikuti Kristus bukanlah perjalanan yang muluk-muluk, selalu menemukan tantangan. Barang siapa yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal diri, memanggul salib, lalu mengikuti Aku [Mat 16:24]. Mengikuti Kristus harus selalu siap, meski tak selalu muda, pasti ada konsekuensinya. Namun kita percaya bahwa Dia selalu menyertai kita sepanjang zaman [Mat 28:20]. Keyakinan ini, maka tema yang dipilih perjalanan PKKP adalah Rahmat-Mu Cukup Bagiku.

Kesimpulan

Suatu kegembiraan besar bagiku mengikuti KPPK di Roncalli dari tanggal 10 Januari sampai dengan 28 Februari 2021, yakni pengalaman untuk berbagi rahmat. Pengalam konkret hidup sehari-hari, tidak saja dipadang sebagai kesulitan yang mendera semata, tetapi sebagai pengalaman jalan bersama Tuhan. Mengapa? Karena Dia selalu jalan bersama kita. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Jalan kita adalah jalan Dia. Kita sebagai saksi yang diutus oleh-Nya. Maka, kita menjalani tugas perutusan-Nya. Bukan karena kemauan sendiri, tetapi Dia yang memanggil kita, Dia pula yang mengutus dan memberikan jalan keluar saat kita menghadapi berbagai persoalan dalam hidup sehari-hari.