Sat. Mar 6th, 2021

Masa Lalu Masa yang Penuh Syukur

Waktu lima puluh hari, kini di pengujung tentang kebersamaan di Roncalli. Disini, ditempat ini kutemukan apa arti sebuah waktu yang memberikan makna, arti dan pergumulan. Langkah demi langkah, kutemukan pengalaman-pengalaman masa laluku.

Ku tidak membiarkan masa lalu terlewatkan, tidak membiarkan kisah-kisah masa lalu terlupakan. Masa lalu yang selalu menyimpan memori kasih, cinta, sedih, sakit, dan derita. Kini kutemukan kasih Tuhan yang melampaui semua penglamaan-pengalaman masa lalu, dan membuat hidup ku hari ini semakin  diubah oleh rahmat-Nya.

Carut-marutnya hidup ku di masa lalu, jatuh bangunnya pengalamanku di masa lalu, dapat diubah pengalaman bersama Allah. Tak ada satu tempat yang membuat ku merasa aman dan nyaman. Hanya dengan dengan menerima kenyataan, dapat bertumbuh dan menjadi pribadi yang otensitas.

Hidup yang membahagiakan panggilan ku adalah mengalami cinta dan merasakan pengalaman dicintai. Cintailah panggilan hidup ini, bukan dengan sebuah perjalanan yang muluk-muluk, tetapi sebuah pengorbanan yang menyediakan diri dan lakukanlah apa yang  dicintai. Itulah pilihan hidup religius yang melayani.

Mencintai panggilan bukan dengan sebuah kata yang diungkapkan dan disusun secara indah dan puitis, tetapi ungkapan pemberiaan diri dan menyediakan diri bagi karya Allah. Hanya sikap pengorbanan dan menerima konsekuensi, hidup kita menjadi bahagia bersama-Nya.

Catatan

Tahun Hidup Bakti [2015] menjelaskan makna terdalam tentang tujuaan hidup religius. Tiga hal yang ditawarkan kepada kita tentang perjalanan panggilan sebagai religius. Tiga hal itu patut menjadi refleksi iman dalam peziarahan hidup kita, khususnya sebagai bruder MTB. Hal pertama, mengenang dengan penuh syukur masa yang baru saja berlalu. Yang kedua, merangkul masa depan dengan harapan. Yang ketiga, menjalani hidup hari ini dengan penuh semangat.