Sat. Mar 6th, 2021

Banyak yang mengatakan jika lebih terlihat sopan, menarik, dan yach.. lebih nyentriklah, kita itu harus terlihat lebih rapi dengan “atribut” tubuh yang baik. Walaupun bukan yang bagus-bagus dan mahal ya, tetapi ada juga yang menganggap itu terlalu berlebihan, risih dengan penampilan seperti itu, merasa tidak enjoy. Ribet gitu. Pengalaman saya pada suatu kali, saya pergi ke gereja untuk mengikuti misa harian. Waktu itu, saya sengaja memakai sandal jepit untuk ukuran yang lumayan lah, harga 30 ribuan. Tetapi katanya sih masih dalam kategori sandal jepit. Sesampainya di gereja, seorang ibu bertanya kepada saya “ mas, kok atasnya keren, tapi bawahnya pake sandal jepit?”. “Busyet dech, apa aku hari ini jadi selebritis yach. Sampe di perhatiin gitu”. Dalam hati saya bergumam. Lalu saya menjawab “ ya nech bu, tadi sebelum saya berangkat, saya lupa menukar sandal”. Padahal sengaja bro ( dosa sech gue saat itu ). Bagi gue, aneh aja kok masih ada orang yang memperhatiin saya.

Gaya Hidupku

Sebelum tinggal di biara, saya sering berpergian kemana-mana memakai sandal jepit. Terkadang dalam hal acara penting juga. Misalnya: kunjungan ke rumah temat di pesta hari raya natal, menghadiri ulang tahun teman dan lain sebagainya. Tetapi nggak yang murahan juga ya,,hanya memang tadi, masih dalam kategori sandal jepit. Sebenarnya sih bukan tidak mampu beli ya. Tetapi maaf neh, lebih nyaman gitu memakai sandal jepit. Lebih bebas gitu. Dan saya akui, sampai umur saya 30an, saya baru pertama kali memakai yang namanya sepatu sandal. Karena diharuskan sih. Dan itupun karena terpaksa. Ini menjadi pergumulan berat bagi saya. Apakah ini penghayatan saya sebagai pengikut Fransiskus Assisi? Ataukah mengambil makna kaul kemiskinan dalam diri Yesus yang miskin? Hemmm…berbagai pertanyaan ini untuk saat ini, saya sulit untuk menjawabnya. Pokoknya terserah orang menilai saya dalam melakon gaya hidup dalam membiara saat ini. Dalam kehidupan sehari-hari, selama di biara, saya  lebih diminta untuk dapat mengubah kebiasaan-kebiasaan yang saya lakukan sebelum saya berada di biara. Contoh makan saja harus menggunakan sendok. Padahal dulu enjoy banget menggunakan cara klasik (pake tangan ).
Saya Mau Berubah
Perubahan yang seperti itu awal-awal terasa berat bagi saya. Menjadi seperti orang yang lain bagi saya. Entah bagaimana, saya tampaknya diserap dalam pikiran bahwa, harus menjadi orang lain, menjadi orang yang berbeda dari diri saya sendiri. Tetapi, bagi saya Allah telah membuat saya sebagaimana adanya saya dan unik. Saya tidak bisa mengenakan topeng atau mencoba membuat orang lain terkesan pada saya dengan tidak menjadi diri saya sendiri. saya merasa jikalau saya harus membiarkan kepribadian saya yang sebenarnya tampak, Tetapi pastinya banyak orang mengira bahwa gagasan demikian itu terlalu sok.Saya berharap untuk diubah. Allah membentuk saya dan anda dalam gambar Kristus, dalam kemuliaan yang semakin besar sepanjang hidup kita. Tetapi Allah tidak membuang itu dengan membuang semua sifat tabiat kita sendiri dan menggantinya dengan yang baru. Allah melakukannya dengan memperhalus apa yang sudah ada pada kita. Allah tidak menuntut agar orang pendiam jadi suka mengobrol, atau sebaliknya orang yang banyak bicara menjadi pendiam. Atau misalnya orang yang suka akan hal-hal klasik, harus menyukai hal-hal yang modern. Memang Semua perubahan-perubahan yang terjadi muncul secara bertahap. Proses itu dapat dibandingkan dengan mengelupas sebuah bawang lapis demi lapis. Hal-hal yang menutupi kemuliaan Allah dalam diri kita dibuang atau disingkirkan sedikit demi sedikit. Dan itulah yang saya dapatkan dalam proses KGN “PENGOLAHAN HIDUP dan DISCERMENT”. Bagi saya, bila saya melihat diri saya sebagaimana adanya, menyadari keterbatasan saya dan tetap mengasihi diri saya dan orang lain. Saya menyadari kuasa Allah akan berkerja melalui saya. Meski saya tidak menyadarinya. Tetapi pada waktu itulah kemuliaan Allah bersinar paling jelas. Lantas, apakah salah jika menggunakan yang sesuatu yang mencerminkan bahwa itulah diri saya sendiri? (Penulis: Sdr. Albert MTB-Novis 1).

 

Foto pencanangan 100 Thn MTB di Indonesia
(Foto ini sebagai insipirasi semangat Fransiskan dalam mengikuti Yesus yang miskin dan sederhana)