Sat. Mar 6th, 2021

Berbulan-bulan sudah pandemi ini berlayar di kehidupan manusia. Bukan hanya masyarakat Indonesia saja yang mengalaminya. Akan tetapi di seluruh duniapun semua mengalaminya hingga saat ini. Tentu ini menjadi dampak yang sangat besar bagi kehidupan seluruh umat manusia. Semakin terpuruk pulalah hubungan sosial ekonomi, dan kesehatan kita. Bahkan makin pula bertambahnya angka kematian di setiap daerah Indonesia dan di belahan daerah lain di dunia. Bagi kita semua, tentu ini pengalaman yang sangat menyedihkan. Sangat menyedihkan dan sangat merugi bagi kita semua. Namun apalah daya kita sebagai manusia yang rapuh dan yang lemah. Tentu kita tidak bisa berbuat banyak akan hal ini. Kecuali mengikuti protocol kesehatan yaitu: mencuci tangan, menjaga jarak, mengunakan masker, menjauh dari kerumunan massal. Selain itu yang sungguh menguatkan kita adalah berdoa tidak jemu-jemu agar pandemi ini segera berlalu di kehidupan kita bersama.,
Budaya Tinggal di Rumah
Budaya tinggal di rumah saja kendengaran aneh dan sangat jenuh bagi yang tidak mempunyai daya kreativitas dalam hidupnya. Kita merasakan bahwa tetap tinggal di rumah saja itu tidaklah cukup. Untuk itu kita rasakan bersama dan sangatlah sulit bagi kita semua. Apalagi bagi orang-orang yang bekerja di luar rumah, Misal tukang gojek online, tukang becak, buruh dsb. Mengingat rasa kebosanan yang sudah berat kita rasakan dan tetap untuk berada tetap tinggal di dalam rumah, tentunya saya kira pastilah banyak hal yang akan kita hadapi. Kita mulai rasa panik, cemas, dan bosan. Maka tidaklah heran bila ada yang suka marah- marah yang tidak jelas. Kerena rasa kejenuhan tetap berada di dalam rumah sama saja membatasi ruang gerak kita untuk berkreasi. Namun, tidak disangka pula masih banyak orang-orang yang memiliki ide kreaktivitasnya. Mulai muncul untuk menghibur diri dalam membuang rasa kebosananya di dalam rumah. Untuk mengatasi situasi ini salah satu yang saya sendiri buat adalah selalu berinisiatif untuk berusaha melawan rasa bosan tersebut. Misalnya mengolah atau mendaur ulang bahan bekas dari kardus menjadi sebuah ornament rumah modern, rumah adat, atau bangunan yang sangat menarik dipandang oleh mata kita.
Mendaur ulang bahan bekas yang ada menumpuk di dalam gudang komunitas, seperti kardus, dan plastic tidak semua orang mau menggunakanya. Saya bersyukur lewat talenta yang Tuhan berikan kepada saya, saya boleh berkreasi sesuai imajinasi yang ada dalam diri saya. Kegiatan ini juga mendukung kegiatan belajar, bekerja, dan menggugah dalam menulis refleksi. Sebagai seorang bruder novis bruder MTB, saya harus berani untuk memulai memunculkan ide yang baru. Bagi saya dengan berkreaktivitas mendaur ulang bahan bekas menjadi saya sadar untuk menghargai ciptaan Tuhan. Hasil kreativitas ini sangat berguna untuk dipandangi dan dirasakan di dalam komunitas novisiat bruder MTB saat ini. Semua hasil karya tersebut dipajang di atas lemari ruangan refter. Semacam etalasi untuk perlihatkan kepada siapa saja yang mengunjungi komunitas novisiat kami. Saat ini saya tak bosan-bosan mencoba untuk membuat arsitektur rumah yang terbuat dari bahan bekas seperti kardus, plastic bungkus snack, dan bambu yang sudah dipotong-potong pendek untuk dijadikan sebuah bangunan rumah yang kecil.
Tetap Optimis
Meskipun saya di dalam tembok biara, pengalaman kejenuhan itu ada. Saya selalu merasakan hal yang sama seperti yang orang lain rasakan. Pengalaman bosan atau jenuh sangat melelahkan bagi saya. Namun, tentu itu semua terkadang berlalu begitu saja dalam diri saya yang saya rasakan. Karena bagi saya rasa bosan atau jenuh itu sangat sebagai manusia. Namun demikian jangan pernah untuk didiamkan dan harus memiliki rasa semangat optimisme tinggi untuk melawanya. Salah satu tawaran dan juga pengalaman saya adalah: berfikir positif, berolahraga, makan teratur dan istirahat yang cukup. Bagi saya cara seperti adalah sebuah obat yang sangat manjur untuk kita lakukan bersama-sama di dalam kehidupan kita sehari-hari di komunitas ataupun di rumah masing-masing. Apa bila hal ini dilakukan dengan setia, saya tetap optimis bahwa kita mampu untuk melawan rasa kebosan kita sendiri. Akhirnya semoga talenta yang saya terima secara cuma-cuma dari pemberian Allah, menjadi rahmat untuk berguna bagi sesama saudara atau sesama yang kita layani. Dengan kata lain talenta yang Allah berikan ini adalah sebuah hadiah yang indah bagiku. Saya harus merawat, mengembangkan demi kemuliaan namaNya di bumi dan di surge. Sebagai penutup saya akan berpatun:“Hari rabu rekreasi di tugu jogja. Ditugu jogja ada bunga selasih. Hanya sekian refleksi saya Atas perhatianya saya ucapkan terima kasih”. Pax et Bonum (Penulis: Sdr. Alexander MTB-Novis I).

Hasil Karya orisinil Gereja arsitektur Kalimantan