Sat. Mar 6th, 2021

Hari Rabu 3 Februari 2021 merupakan hari pertama kami belajar daring sekaligus perdana menggunakan aplikasi goole meet. Saat membuka aplikasi goole meet dengan link https://meet.google.com/ceg-heac-jpx, kami semacam shock culture begitu. Salah satu suster berteriak, “Ter.. ini kok suara kami tidak bisa kedengaran ya…? Jawab Frater, “Oh itu mutenya belum di ON’kan suster”. Oh gitukah sahut suster dengan antusias. “ Oh gitukah emang gimana caranya, itu…?? sambung Frater “Ada yang seperti gambar suara yang berwarna merah itu ditekan suster. Oh iya makasih ya frater, maklumlah baru gunakan media yang seperti ini. Ucap suster dengan nada gembira, karena bisa mengatasinya dari kekalutan pembelajaran via online. Dari obrolan di atas, bagi kami merupakan ruang perjumpaan pembukaan kegiatan KGN antar novis yang sebelumnya tatap muka sekarang tatap layar. Dari peristiwa ini saya merefleksinya bahwa ternyata dampak covid-19 yang sedang melanda ini, tidak hanya dialami oleh mereka yang berada di luar tembok biara saja. Akan tetapi merebak kedalam biara saat ini. Situasi kegelisahan pembukaan pembelajaran daring memang banyak kendala dan masalah yang dialami oleh para novis karena berbagai alasan. Misalnya tidak biasa membuka aplikasi tersebut. Bahkan ada beberapa Magister/magistra juga masih ‘kagok’ dengan aplikasi tersebut.
Pada tanggal 03 s/d 06 Februari 202, para novis yang mengikuti belajar dari ini terdari dari aneka kongregasi yang ada di Kotoa Yogyakarta, Solo, Semarang dan Puwerejo. Adapun kongregasi yang mengikuti pembelajaran ini di antaranya: kongregasi AK, CB, CSA, FCJ, FIC, FICP, MASF, MTB, PBHK, OMI dan SJD. Jumlah novis yang ikut dalam paket KGN ini sebanyak 44 peserta. Pembelajaran KGN ini merupakan bagaian paket dari pembedaan Roh. Materinya dibimbing langsung oleh Romo Eko, SJ. Kegiatan belajar dalam bentuk online ini memang sangat berbeda dari tahun sebelumnya yang diadakan secara tatap muka. Adapun alasan utama seperti yang diutarakan sebelumnya bahwa di Kota Yogyakarta semakin meningkat pasien yang terpapar karena virus covid-19. Maka para pendamping tidak mau ambil resiko karena rentan dengan situasi saat ini. Karena itulah kegiatan ini dilaksanakan secara daring. Saya merasa banyak pengalaman baru dalam KGN daring. Saya tidak menyangka bahwa banyak kendala yang terjadi. Misalnya masih banyak dari novis yang sangat asing dengan media ini. Alasan mereka adalah karena mereka masih novis, Masih fokus tahun kanonik. Saya sempat senyum sendiri. Dalam hati saya bergumul bagaimana penghayatan kita begitu ekstrim. Sementara kita tahu bahwa saat ini kita sedang membutuhkan internet. Bagi saya bisa saja novis tidak bebas dalam mengikuti kegiatan daring seperti ini.
Selama pembelajaran berlangsung ada ada saja kendala yang sering muncul. Misalnya jaringan/ sinyal terputus. Mute suara tidak berfungsi. Bahkan ada yang tidak mengerti bagaimana mengaktifkan mutenya. Hal lucu yang terjadi adalah saat pembelajaran, ada magistra atau magister yang stand by menemani novis. Media virtual memang dianggap sangat tabu dan asing sekali untuk para novis. Menurut pengalaman saya sediri KGN secara virtual ini, juga mempunyai beberapa danpak positif dan negativ. Dampak positif yang sangat terasa adalah hemat biaya dan waktu serta lebih mudah berekspresi bebas untuk berdialog dengan nara sumber. Dampak negativnya yang paling utama adalah suara nara sumber materi (baca: Romo) sering putus-putus. Mungkin karena kendala sinyal atau jaringan tidak kondusif di rumah binaan kami. Semoga pengalaman belajar daring ini tidak kaku lagi tetapi dinamis. Dan harapannya tetap menikmatinya serta banyak belajar hal-hal yang baru sesuai dengan kebutuhan saat ini. (Penulis: sdr Ligorius, MTB-Novis 1)

 

sita