Sat. Mar 6th, 2021

Kita mengetahui bahwa, di tengah pandemi covid 19 ini banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh setiap individu di masyarakat. Meskipun sebelum wabah ini muncul, di luar perkiraan logika manusia, tidak terlintas sama sekali hal apa yaang dilakukan di tengah bencana covid 19 ini. Bagi saya, yang terpenting melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang kalau pekerjaan itu pertama-tama adalah inisiatif dari dalam diriku. Bukan karena suatu keinginan karena terpaksa atau dorongan emosional semata. Misalnya saat ini saya sedang menanam sayur di kebun novisiat, agar dapat menghasilkan panenan. Selain itu bisa untuk digunakan bagi kami di komunitas novisiat. Bagi saya pekerjaan apa saja saat ini, bisa diolah dari berbagai macam ragam sesuai dengan kebutuhan dan kemauan untuk melakukanya. Sehingga sikap proaktif sangat penting untuk melakukan baktivitas tiap hari. Mungkin dapat dikatakan rutinitas saya setiap hari adalah pekerjaan menanan sayur. Oleh karena itu bagi saya menanam sayur sangat bermanfaat sebagai pemantik untuk menghilang rasa bosan dan suntuk. Apalagi di tengah covid-19 ini mau tidak mau suka tidak suka kita menerimanya dan tetap beraktivitas penuh semangat. Oleh karena itu tidak salahlah saya mencoba menanam sayur. Agar dinamika kegiatan terasa berjalan terus di rumah formasi saat ini.
Bukan Perkerjaan Baru
Menanam sayur bukan pekerjaan baru bagiku. Ini salah satu hoby saya. Bagi saya aktivitas ini, bukan masalah ada wabah, baru mau melakukannya atau berbuat. Akan tetapi jauh sebelumnya saya sudah melakukannya. Meskipun banyak orang beranggapan bahwa pekerjaan semacam ini sangat mudah. Tetapi saya melihat tidak juga semua mau mencobanya. Kedengaran mudah, tetapi prosesnya yang membuat rumit. Kita membutuhkan ketelatenan dan ulet merawatnya. Bahkan butuh kesabaran. Untuk itu dalam prakteknya yang lebih penting dan utama. Bukan sekadar selingan atau mencari sensasi supaya di puji oleh formator. Namun sesungguhnya sebuah harapan menjadi nyata, mana kala saya melakukannya dengan penuh cinta. Bagi saya tidak semua kaum laki-laki (baca:sesama teman novis) mempunyai bakat menanam sayur. Bahkan belum tentu merasa nyaman dalam melaksanakannya. Di tengah bencana ini (baca: Virus Corona) sangat menjadi polemik bagi masyarakat. Karena menghambat aktivitas semua orang. Maka kita sebagai manusia membutuhkan inisiatif untuk berpikir dengan cara sederhana. Merencanakan sesuatu supaya tidak tinggal diam saja atau berpangku tangan saja di rumah maupun di komunitas. Maka cara yang ada dalam pikiran saya adalah harus saya aktifkan atau digerakkan. Agar muncul ide baru untuk menciptakan sesuatu yang positif. Meminimalkan dengan kemampuan yang saya miliki. Karena bagi saya banyak potensi tersimpan pada diri setiap orang, namun belum tentu mau melakukanya.Bagi saya selagi berusia muda ada kesempatan untuk mengembangkan bakat saat ini dengan mengerjakan hal-hal yang positif. Meskipun sungguh sederhana. Namun bermanfaat bagi diri sendiri dan sesama. Sebab sesuatu pekerjaan dilakukan dengan sebaik mungkin menghasilkan buah berlimpah dan terasa senang bila itu sangat berhasil. Misalnya menanam berbagaimacam sayur bagian dari cara saya untuk mendukung pola makan yang sehat. Karena bagi saya merasa puas mengkomsumi sayur yang segar. Selain sehat juga banyak manfaatnya di bagi manusia. Bagi saya dengan menanam berbagai sayuran sebagai tanaman pokok sangat membantu untuk yang dikonsumsi oleh manusia. Sayur ini sebagai menu pendukung untuk pengiring makanan pokok bersama dengan lauk. Tanaman Sayuran ini tanaman lunak yang separuh atau semua bagian-bagiannya bisa dikonsumsi dalam bentuk segar ataupun diolah terlebih dahulu dengan cara kita sesuai selera. Saya sangat bersyukur atas pengalaman ini karena boleh menanamnya. Dan semua para saudara di rumah formasi bisa menikmatinya. Pekerjaan ini saya lakukan sejak masa aspiran hingga sampai di rumah formasi Novisiat MTB. Semoga tetap saya mencinta dan melakukan dengan penuh tulus dan gembira.  (Penulis : Br. Santo Paulus Novis 1).