Sat. Mar 6th, 2021

Pengolahan hidup tak akan pernah berakhir, kalau kita masih menghirup nafas kehidupan di pelanet bumi ini. Entah anak-anak, remaja, orang dewasa, maupun lansia baik pria maupun wanita. Pengolahan hidup akan tetap terus berlanjut. Mengolah bagaimana mengatasi masalah dengan bijaksana, mengolah bagaimana tetap tenang dan berpikir positif. Masih bahnyak pengolahan yang perlu ketekunan dan latihan terus menerus agar kita menjadi pribadi yang merdeka. Demikian juga kami para calon religius.
Salah satu syarat menjadi seorang religius ialah menjadi peribadi yang merdeka. Merdeka berarti bebas dari luka-luka pengalaman masa lalu yang dialami masing-masing pribadi sesuai dengan situasi dan tempat di mana si pribadi itu bertumbuh dan berkembang. Semuanya memiliki pengalaman-pengalaman yang unik. Demikian juga dengan panggilan yang tumbuh dari masing-masing pribadi. Salah satu dari panggilan itu ialah menjadi seorang religius (Suster/Bruder/Imam). Saya masuk dalam kongregasi bruder Maria Tak Bernoda (MTB) ini dan bertemu dengan para saudara yang datangnya dari berbagai daerah siap untuk mengolah segala perasaan dan jatuh bangunya panggilanku. Di sini kami saling mengenal satu sama lain. Dan itu merupakan cerita tersendiri bagi saya dalam menelusuri lorong panggilan ini.
Dinamika Panggilan Hidup
Untuk dalam hidup berkomunitas maupun hidup berkeluarga, pengalaman suka duka, kesulitan-kesulitan, kebahagiaan pasti akan selalu hadir dalam kehidupan kita di manapun kita berada. Menjalani panggilan menjadi seorang religius tak semudah dan semulus yang saya pikirkan. Ada saudara dalam tahun-tahun pertama masa pendidikan tidak bertahan dan mengudurkan diri. Ada yang juga sudah berkaul kekal namun mengundurkan diri juga. Ini realita yang saya amati ketika saya berada didunia religius ini. Memang tidak bisa dihindari masalah-masalah seperti itu. Ada bermacam-macam alasan yang saya dengar dari para saudara-saudara yang sempat hidup bersama dengan mereka (yang mengundurkan diri).
Saya bersyukur karena pada kesempatan ini, saya bersama kedelapan saudara mengikuti kegiatan pembelajaran mengenai Pengolahan Hidup (PH). Ketika dalam pertemuan KGN PH muncul sebuah pertanyaan: “Bagaimana perasaan anda ketika menerima dan mengerjakan tugas pengolahan hidup yang telah anda selesaikan?” Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Sr. Yosita CB yang selaku pembimbing atau dosen pengolahan hidup kepada kami para novis. Ada pun yang hadir pada kesempatan itu yaitu dari tarekat suster PBHK (6), Bruder FICP (1) dan Brudrer MTB (4). Dari kami sebelas semuanya menyampaikan perasaan-perasaan yang kami rasakan. Ada yang mengatakan bahwa awal menerima tugas PH yang diberikan oleh suster saya merasa takut dan secara batin sulit untuk menerimaa peristiwa-peristiwa masa lalu baik itu dengan keluarga maupun dengan teman,guru dll. Artinya berat untuk membagikan pengalaman atau luka-luka masa lalu. Merasa takut karena nanti tulisannya dibaca oleh orang lain mengenai kepahitan masa lalu, yang menurutnya sangat sulit untuk mengungkapkannya. Dan ada bermacam-macam jawaban yang disampaikan oleh para saudara dan saudari yang tidak bisa saya sampaikan satu persatu.
Ketika semua telah mendapat giliran memaparkan perasaan mereka yang unik dan mengesankan untuk itu, ada beberapa yang menurut saya sangat menyentuh hati karena sesuai dengan apa yang saya rasakan juga. Saya pun akhirnya menyampaikan juga apa yang menjadi kekwatiran atau perasaan ketika mengerjakan tugas PH tersebut. Singkat kata saya menyampaikan bahwa ketika awal menerima tugas yang diberikan oleh suster saya berpikir bahwa untuk apa mengerjakan PH ini. Seakan-akan hanya untuk merobek kembali luka yang sudah sekian lama kering akhirnya berdarah lagi. Itu pemikiran saya ketika menerima tugas tersebut. Walaupun pertemuan pertama sudah dijelaskan mengenai tujuan pengolahan hidup dan arti pengolahan hidup Saya tetap bingung. Akan Tetapi masih saja ada rasa ragu-ragu yang membuat pulpen yang sebelumnya terasa ringan makin lama makin berat karena ditimpa pengalaman-pengelama masa lalu yang berat dan sulit untuk mengungkapkannya. Tetapi kemudian saya tetap melanjutkan tulisannya walaupun itu penuh dengan pergulatan antara batin dan pikiran.
Memeluk Pengalaman Pahit
Saya mencoba untuk menulis semua pengalaman pahitku. Aku ingin memeluknya, Saya ingin masalah laluku buang jauh. Aku ingin bebas mengiuti Yesus. Perlahan-lahan tulisan sayapun penuh pada kertas folio bergasir yang diberikan oleh Br. Flavianus MTB. Beliau berpesan jangan memaksa kalau pikiran sudah kacau. Karena menulis pengolahan hidup ini butuh ketenangan. Dan memang betul saya merasakan itu. Untuk mencapai satu paragraf saya harus mondar-mandir. Komat-kamit dan bolak-balik sendirian di kamar untuk membongkar duri-duri masa lalu dan belajar untuk terbuka dengan diri sendiri. Karena kata Sr. Yosita CB “kalau luka-luka batin yang kita alami yang kita rasakan yang bertahun-tahun yang lalu tetap kita pendam, itu diandaikan dengan luka yang kering dipermukaan kulit namun di dalamnya masih berdarah dan lama kelamaan akan bernana kalau kita tidak mengeluarkan atau membuka luka itu. Memang terasa sakit ketika kita membukanya atau mengeluarkan nana yang ada didalam luka itu. Tetapi itu akan lebih baik dari pada kita membiarkannya dan lama-kelamaan akan menjadi besar dan merambat keseluruh tubuh kita”. Demikian Sr.Yosita CB mengilustrasikannya.Setelah menyimak penjelasan dari Suster apa yang sebelumnya menurut saya tidak penting dan sia-sia mengerjakan kembali pengalaman-pengalaman yang berlalu, ternyata itu hanya ketakutan-ketakutan baiku. Saya yang berusaha untuk menyembunyikan rasa sakit yang terpendam yang sudah sekian lama itu. Dengan merefleksikan kegiatan rutinitas kami setiap hari yaitu menyapu dan mengepel lantai yang berdebu. Kegiatan itu saya simbolkan dengan ruang batin saya. Awalnya hati dan batin itu bersih dan polos atau suci. Tetapi dengan pengalaman atau peristiwa harian batin pun berdebu dan kotor. Hal itu terasa saya alami dalam rasa dendam, kebencian, kecemburuan dan masih banyak perasaan yang bervariasi setiap harinya dalam arena panggilanku. Oleh karena itu saya harus menyapu dan mengepelnya setia hari lewat doa, refleksi, meditasi dll, agar dapat menjadi peribadi yang lebih baik. (Penulis: Sdr. Fransiskus MTB-Novis 1)