Sat. Mar 6th, 2021

Saya tidak tahu bagaimana judul refleksi ini muncul disaat pendemi covid 19? Apakah karena saya lupa keluarga saat ini? Namun dalam pemikiran saya sekiranya dua bagian pokok menjadi permenungan dalam proses pangggilan saya saat ini. Pertama, saya mengenangkan kembali pengalaman pergumulan dan romantisme saya dalam relasi dengan “keluarga” sebelum menjadi bruder MTB. Hal ini sebagai dasariah dalam permenungan perjalanan panggilan dan kehidupan saya saat ini. Saya bernostalgia kembali perjumpaan dengan keluarga. Semacam pengolahan hidup yang terus saya geluti sampai saat ini. Saya bisa menerimanya dan memeluknya dengan penuh cinta. Kedua, saya mencoba bagaimana makna kekeluargaan dihayati di Komunitas MTB. Saya mengalami jatuh bangunnya dalam membangun persaudaraan sejati dalam keluarga MTB. Di sini saya mengalami salib hidup bersama. Saya merasakan indah dan manis karena keretakan semula dalam keluarga akhirnya ditemukan kembali dalam keluarga baru yaitu melalui komunitas MTB untuk menyembuhkan dan menguatkan panggilan saya. Dan selanjutnya ada tawaran, saya bisa menciptakan persaudaraan sejati’ dalam hidup bersama sebagai perwujudan tema renungan ini. Dengan demikian menjadi misonaris sejati seperti para bruder pioner yang heroik dalam mewartakan Injil lewat kaum Muda yang tertindas dalam pengetahuan dan miskin secara pendidikan berawal dari penghayatan dalam hidup bersama. Saling melayani sebagai saudara, menghayati makna hidup bersama sebagai rasul MTB. Saya membagi dan mewartakan keluar, apa yang saya alami di dalam kongregasi/persaudaraan saya. Dan semangat ‘Yesus yang Tersalib’ seperti yang dihayati oleh St. Fransiskus Assisi menjadi ‘kompas’ sejati bagi perjalanan panggilan saya.

Romantisme Bersama Keluarga
Di zaman milenial ini, saya berada di ruang kosong dan berhimpitan dengan tembok raksasa dalam membendungi perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup berkeluarga. Baik keluarga pada umumnya maupun keluarga Kristiani pada khususnya. Saya fokus pada keluarga Kristiani (baca:saya). Fenomena-fenomena yang terjadi adalah keretakan identitas diri anak dalam relasi dengan orang tuanya. Kompleksitas permasalahannya berawal pada lingkaran pertama, yakni salah asuh oleh pengasuh/orangtua dalam keluarga. Gagasan-gagasan sederhana tersebut, bukan merupakan hasil dari penelitian ilmiah atau deskripsi dari ilmu psikologi keluarga, tetapi merupakan rekaan dari kepekaan hati saya ketika membaca berbagai peristiwa kekerasan yang terjadi dalam lingkungan keluarga saya saat ini. Untunglah saya tidak ada dalam lingkaran tersebut. Sebagai religius, saya hanya sampai pada tahap opini saja berupa pada kajian teori dalam menjawab persoalan tersebut? Meskipun saya mengetahui dan menyadari bahwa, pernah mengalaminya baik pengalaman konflik/keretakan dengan saudara/i kandung maupun perseteruan dengan orang tua. Perjalanan atau kisah kasih, perhatian dan kasih sayang dari orang tua pun bagian dari kenangan yang terindah dalam perjalanan panggilan hidup saya. Kenangan ini sebagai kekuatan saya untuk menumbuhkan dan mengembangkan sebagai religius dalam persaudaraan kongregasi MTB.
Saya pernah merasakan pengalaman sebagai anak-anak yang dicintai dan penuh kasih sayang. Ikatan emosi dengan orangtua tidak pernah berakhir hingga saya mati dari dunia ini. Diharapkan saya sebagai Bruder, sejenak memutar kembali kenangan tersebut, dengan penuh gembira sambil menghadirkan wajah mereka entah lewat doa, kontemplasi atau meditasi tiap hari sebagai rasa syukur saya atas dukungan mereka dalam meniti panggilan hidup saya. Merekalah sebagai dasar kekuatan saya untuk terus berjalan bersamaNya.
Saya harus mengakui dan penuh kejujuran mengatakan bahwa tanpa keluarga saya tidak bisa meneruskan panggilan ini. Sebagai religius mau tidak mau saya berenang dalam situasi demikian. Saya tidak bisa berpastoral keluarga dengan baik atau menghafal secara luas tentang teologi keluarga kalau saya sendiri tidak mau membuka diri atas pengalaman yang terjadi dalam keluarga saya. Kejadian akhir-akhir ini dalam mendidik keluarga Kristiani bukan hanya tanggung jawab orang tua saja, tetapi tanggung jawab saya sebagai pengikut Yesus yang secara khusus menjadi bruder. Kemungkinan besar keluarga menjadi berantakan (baca: tercerai-berai) karena mengalami pergeseran nilai-nilai dalam mendidik anak. Mindset yang ada pada mereka adalah lebih mengutamakan pada karir demi masa depan anaknya, dari pada sekolah hati yang menguatkan mereka bertumbuh dan berkembang dengan mantel cinta kasih. Dan seakan-akan dengan cara demikian mereka bahagia namun pada akhirnya mereka mendapat kebahagiaan semu tiap hari.
Konsolidasi Identitas
Mendidik keluarga secara baik dan benar bukan merupakan prioritas utama. Mendidikpun serba dengan budaya instan. Fenomena ini sering terjadi bagi keluarga yang tinggal di kota besar. Gejala-gejala dan perubahan cara mendidik tersebut, semacam awal dari keretakan relasi orang tua dengan anak dalam keluarga. Salah satu situs di media eletronik mendeskripsikan bahwa 75% anak-anak mengalami kekerasan baik secara fisik/mental/seksual . Peluang anak-anak untuk berkembang dan bertumbuh secara wajar baik dilihat dari aspek kognitif, afektif, psikomotorik dan spiritualitas, semakin rumit; oleh karena pengasuh (orang tua) mengalami kehancuran dan keretakan identitas dirinya dimasa lalu. Artinya keretakan dalam diri anak-anak sebagai rentetan pengalaman masa lalu orang tuanya.  Pals (1999:296) , menegaskan untuk melihat bagaimana semua keluarga berjuang untuk menyatu kembali keretakan tersebut. Ia menemukan satu istilah perlu adanya ‘konsolidasi identitas’ dalam diri yang teretak. Pals mencari jalan keluar bagaimana saya kembali berfokus pada interaksi antara kepribadian dan sosial akan semakin solid satu sama lain. Konsolidasi identitas akan mengalami perubahan diri ketika berjuang untuk menyatu atau menguatkan satu sama lain. Pals menilai bahwa, dalam proses konsolidasi identitas mempunyai dua peran yakni; pertama, untuk memahami bagaimana proses konsolidasi identitas dalam hal interaksi yang dinamis antara kepribadian dan keluarga, komunitas/masyarakat tertentu. Kedua, konsolidasi identitas merupakan transisi kehidupan, ketika pribadi atau seseorang mengalami transformasi diri dan pertumbuhan substansial dalam kehidupan sehari-hari dengan orang lain .  Gagasan di atas oleh Wolfgand Bock memberi sebuah penuturan ke psikologi perjalanan hidup manusia pada usia dewasa akan mengalami kegoncangan jika di masa anak-anak belum tersembuh. Pengolahan hidup baginya tidak pernah berakhir jika menyembuhkan luka bathin masa kecil. Masa kecil merupakan sejarah emas dalam pribadi saya. Saya merindukan kenangan manis bersama orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya misalnya: orang tua, adik, kakak dan sebagainya. Namun di kedalaman hati saya saat ini ingin tergores kenangan itu malahan muncul pengalaman traumatik dengan keluarga. Saya ingin melupakan ketika membongkar kembali, namun semuanya tinggal kenangan. Akankah air mata saya selalu mengenang bersama pengalaman tersebut.
Keluarga Adalah Sekolah Cinta Kasih
Keluarga adalah bentuk relasi antar pribadi yang paling unggul dalam hidup saya. Relasi ayah-ibu dan anak-anak yang tulus dan tak berkesudahan membuat setiap pribadi menemukan tempatnya masing-masing dalam perjumpaan-perjumpaan sekaligus penerimaan yang tanpa syarat. Dalam dinamikanya yang unik dan seringkali tidak mudah, budaya perjumpaan dalam keluarga itu dapat menjadi daya dorong humanisasi dan evangelisasi. Tempat di mana saya berbagi kegembiraan bahkan untuk saling mensharing pengalaman keseharian dalam hidup saya. Orangtua yang begitu lelah dan letih dari kantor tiba-tiba mendapat kejutan kebahagiaan mana kala sampai di rumah senyuman anaknya menjadi magnet untuk membangkitkan keletihan saya seharian. Demikian suami atau istri saling mencium dengan penuh cinta kasih mana kala mereka bisa mensukseskan anak-anak mereka hingga selesai dari diperguruan tinggi. Lalu bagaimana efeknya daya perjumpaan saya kepada sesama saudara dalam komunitas multicultural atau heterogen dalam biara saya?  Pada masa ini, lebih daripada masa lalu, masyarakat perlu mengembangkan budaya perjumpaan sebagaimana terjadi dalam keluarga untuk menguatkan kesatuan dalam kebhinekaan, hubungan yang saling timbal balik, dan solidaritas antargenerasi. Saya ingin agar budaya perjumpaan semacam itu juga merasuki masyarakat secara lebih luas dalam bidang ekomi, sosial dan politik. Relasi antarpribadi yang paling unggul ini yang berakar pada martabat pribadi semestinya menjadi “harga mati” yang harus saya praktikkan dari hari ke hari kepada semakin banyak orang dalam skala yang semakin luas. Inilah Injil yang hidup dan bergerak karena saya membagikan sukacita itu kepada orang lain. Aneka krisis yang melanda masyarakat, juga dalam institusi keluarga, haruslah menjadi cambuk bagi saya untuk semakin bekerja keras mewujudkannya dengan penuh rasa percaya dan harapan. Keluarga adalah sekolah pertama bagi saya semua untuk mempelajari cinta kasih dengan kurikulumnya yang sangat bervariasi dan menantang yang membuat saya tidak bisa berhenti untuk terus mempelajarinya.
Keluarga adalah sekolah yang membuat saya betah dan bergairah untuk terus bergulat mempelajari ajaran cinta kasih dan persaudaraan. Keluarga adalah sekolah yang membuat saya rendah hati untuk menyadari bahwa saya tidak akan pernah tamat menyelesaikan kurikulumnya. Betapa pun berat yang harus dijalani, keluarga menunjukkan bagaimana kekuatan cinta keluarga menopang segala kelemahan saya dan bagaimana keutamaan haruslah menjadi sarana untuk berbagi cinta dan bukan untuk bersombong ria. Kebijaksanaan cinta Keluarga, pertama-tama, tidak berpijak pada untung rugi, sebagaimana pengambilan keputusan ekonomi atau politik, tetapi berpijak pada penghargaan atas martabat pribadi masing-masing anggotanya. Dalam keyakinan, ketekunan doa, dan pengharapan yang kuat, percaya bahwa tidak akan ada keluarga yang bangkrut karena Tuhan, sebagainya manajernya sendiri, yang menuntun saya menjalani dinamikanya. Hal tersebut sama sekali tidak terkait dengan besar kecilnya nafkah yang bisa menghidupi keluarga karena Tuhan adalah pemimpin yang super kreatif yang bisa membuat saya menemukan jalan kehidupan. Maka anggota lembaga-lembaga ekonomi dan politik haruslah menjadi perpanjangan tangan ajaran cinta dan persaudaraan itu. Untuk itulah, anggota-anggota keluarga tidak boleh mengisolasi diri tetapi harus keluar diri tetapi harus keluar dan menjalankan tugasnya sebagai pewarta kabar gembira bagi masyarakat.
Keluarga Sejati Bersama Bunda Maria
Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru mengisahkan perjalanan pola asuh Keluarga Nasaret sejak Bunda Maria dikandung dari Roh Kudus, penolakan saat melahirkanYesus, Pembunuhan anak-anak di Betlehem pergumulan Maria dan Santo Yosep mencari Yesus di Bait Allah (Bdk.Mat 2:18-25.2:1-23), hingga menyaksikan dramatis Sang putraNya di Golgota. Peristiwa ini tidak terlepas dari spiritualitas kepahitan yang mengandung kemanisan Sejati. Bunda Maria mengalaminya dengan penuh kedalaman jiwa. Bagi Maria semuanya ini sebagai tanda dan simbol identitas keluarga sejati di bawah naungan Kasih Allah. Bunda Maria mengalami itu semua sebagai bentuk pertanda dan penanda persembahan hidup kepada Allah secata totalitas.
Peran Santo Yosep dan Bunda Maria dalam merawat dan memelihara Yesus bukan jalan mulus. Nilai-nilai yang digali dalam diri Maria menjadi lanskap bagi keluarga Kristiani saat ini jika mengikuti melalui lika liku jalan yang terjal. Namun sarat dengan makna karena mendapat mahkota surgawi yang penuh berahmat dari Allah. Bunda Maria mengalami itu sebagai hadiah dari Allah.
Hati Saya angkat Bicara
Menelusuri pengalaman saya masa lalu bersama keluarga merupakan sebuah mata rantai yang sulit dilepaskan hingga saya mengikatkan diri dalam kongregasi MTB. Pengalaman kepahitan dan duka lara dalam keluarga jika tidak diolah secara mendalam sampai kapan pun menjadi beban dalam hidup bersama. Namun bukan soal mengolah saja bagaimana pengalaman itu saya memeluk, menghadirkan kembali mereka (keluarga) yang ikut mendoakan saya sehingga saat ini saya tetap bertahan dalam hidup di komunitas keluarga MTB. Namun apakah butiran-butiran dari keluarga baik yang menumbuhkan saya untuk berkembang maupun yang membuat saya kerdil mengikuti Yesus masih terbawa sampai saat ini. Jangan-jangan saya belum bisa menerima harta karun yang berharga itu sebagai sebuah mutiara yang indah untuk tetap setia pada Yesus.
Keluarga sendiri menerima perutusan dari Allah, untuk menjadi sel pertama dan sangat penting bagi masyarakat dan khususnya saya sebagai religius MTB. Saya bersyukur karena keluarga menyerahkan ‘Aku’ putranya untuk menjadi religius sebagai bruder dalam kongregasi MTB. Inilah anugrah terbesar dalam diriku. Kekuatan dan keyakinanku saat ini adalah: oleh karena keluarga Kristiani sebagai suatu komunitas keselamatan terungkap juga dalam diri saya ketika bergabung dengan komunitas MTB. Keluarga baru yang saya alami dalam komunitas MTB tidak terlepas berkat bimbingan dan dukungan dari keluarga di rumah. Saya sudah melewati wilayah formasi (Apiran-Postulan-Novisiat dan Novisiat) namun di tahun Yunior-Medior-Senior bahkan sampai sampai persiapan kaul kekal-purna karya, pengolahan hidup itu tidak pernah berhenti. Saya tetap berkembang dan menumbuhkan diri saya meskipun masih tetap berjuang untuk menjadi religius sejati. Menjadi religius sejati tidak terletak pada waktunya lama menjadi religius tetapi bagaimana saya mengalami pengalaman sukacita hidup bersama sebagai keluarga religius sejati dalam kongregasai/persaudaran MTB.
Keluarga Dan Sekolah Hati Di Komunitas
Saya coba mengambil pengalaman tentang keretakan saya dalam mengolah hidup bersama sebagai keluarga MTB di komunitas saat ini. Saya bukan untuk membongkar, tetapi saya ingin menghayatinya sebagai salah satu cara untuk memurnikan diri saya dan tetap bertahan bersama salib Yesus yang saya peluk bersama tiap hari. Baiklah saya bersumber pada bacaan Mat 26:47-56. Saya menghayati Yesus Yang Tersalib oleh karena keretakaan keluarga religius saya maka saya ikut menyalibkan Yesus tiap hari.
Persaudaraan Yang Menyalibkan. Bahan bacaan dari Mat 26:47-56 mengajak saya untuk mulai dengan merefleksikan diskursus tentang Keluarga dan Sekolah Hati Di Komunitas. Saya mencoba menelisik bagaimana misi saya sebagai MTB dengan dasariahnya pada refleksi tentang persaudaraan yang menyalibkan. Bahan permenungan saya adalah menggunakan bacaan dari Injil Matius 26:47-56. Pada ayat 48-50 di mana Yudas Iskariot menyerahkan Yesus kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi untuk ditangkap, diadili, disiksa dan disalibkan. Relasi Yesus dan para murid digambarkan dalam Injil dengan berbagai dinamika. Ada kalanya Yesus memuji para rasul ketika mereka dapat melakukan apa yang dikehendakiNya. Ada kalanya Yesus pun tidak segan-segan menegur bahkan dengan keras mengatakan bahwa para murid adalah orang-orang yang tidak percaya, degil hati dll. Ada kalanya Yesus membuat mereka bingung dan bimbang karena berbagai perumpamaan yang diajarkanNya kepada mereka. Berbagai dinamika itu merupakan perjalanan penuh makna dan penuh persaudaraan kelompok dua belas rasul bersama sang guru. Dinamika persaudaraan itu yang membentuk dan sekaligus menguatkan kelompok dua belas rasul ini. Maka tidak mengherankan ketika Ibu Yakobus dan Yohanes meminta kepada Yesus supaya kedua anaknya boleh duduk kelak di dalam Kerajaan Surga, kesepuluh murid yang lain menjadi marah (Bdk Mat 20:20-24). Bisa saya bayangkan kemarahan para murid saat itu. Mereka marah bukan hanya karena percobaan kolusi yang hendak dilakukan oleh Ibu Yakobus dan Yohanes tetapi lebih karena perasaan sesaudara di antara mereka. Mereka merasa bahwa kolusi dan apapun itu adalah sesuatu yang bisa merusak tali persaudaraan di antara mereka.

Saya tahu bersama, ikatan dan rasa memiliki di antara para murid, terbentuk dan berkembang, terjamin dan terpelihara karena Yesus sendiri yang senantiasa membawa mereka bersama-sama dalam tugas dan pelayananNya untuk banyak orang. Kebersamaan yang terbentuk meskipun awalnya canggung dan ragu berubah menjadi persahabatan yang tulus dan saling mendukung. Di sinilah persaudaraan sejati itu terbentuk dalam komunitas saya. Namun, saya harus selalu ingat bahwa iblis tidak akan pernah bahagia bila ada kedamaian dan persaudaraan di antara manusia apalagi di antara para murid.
Iblis berusaha untuk memecah belah persaudaraan sekaligus upaya untuk melawan dan membunuh Yesus. Di sinilah awal mula iblis menghasut seseorang di antara para murid untuk mengkhianati Yesus dan kelompok dua belas. Dengan uang 30 syikal perak, iblis berhasil membujuk Yudas Iskariot untuk mengkhianati Yesus dan saudara-saudaranya. Ciuman, yang seyogyanya dipakai untuk mengungkapkan rasa sayang dan cinta berubah menjadi petaka dan derita. Persaudaraan yang luhur dan mulia menjadi persaudaraan yang menyalibkan dan mematikan.
Saya mungkin juga seperti Yudas Iskariot. Ada dalam persaudaraan tetapi lebih banyak mengkhianati persaudaraan itu sendiri. Betapa sering saya menjual persaudaraan saya dengan membicarakan keburukan para saudara yang tinggal bersama saya. Betapa sering juga saya “menjual” persaudaraan demi kepentingan saya sendiri. Saya mengambil banyak keuntungan dari persaudaraan saya. Saya adalah Yudas Iskariot dalam tampilan yang lebih menarik, baik, cakep, ciamik dan apik. Saya adalah Yudas Iskariot modern yang memiliki pengetahuan yang luar biasa mendalam tetapi menghantar kepada karam.
Karam penderitaan dan kesedihan yang membuat sesama saudara terluka, tak berdaya dan akhirnya mati. Saya menciptakan kelas sosial dalam panggilan religius. Antara panggilan bruder menjadi jarak ketika dikolonial oleh ilmu yang distandarisasi oleh otoritas lembaga atau asal kedaerahan saya. Politik identitas dan relasi kuasa berperan untuk mengkerdilkan pemaknaan diri saya sebagai saudara dalam Kristus. Yang berkuasa dan berperan (novis vs Magister, Yunior vs senior) menjadi lingkaran yang bisa menggoda saya untuk bertindak atas nama jabatan dan lamanya pangggilan dalam persaudaraan MTB.
Dalam kaitannya dengan persaudaraan religius saya, mungkin saya pun seringkali bertindak seperti Yudas Iskariot. Saya mengikuti dinamika persaudaraan dengan baik. Saya mengiyakan dan menyetujui semua program-program yang telah dirancang oleh oleh pimpinan komunitas/pimpinan umum. Akan tetapi dalam pelaksanaannya, saya bertindak sebagai Yudas Iskariot, yang mematikan dan membunuh persaudaraan itu dengan kealpaan atau ketidakhadiran saya pada berbagai kegiatan yang ada. Saya menjadi orang yang tidak peduli dengan persaudaraan itu sendiri. Demi kesenangan dan keutungan diri saya sendiri, saya mengorbankan persaudaraan saya.
Dunia dewasa ini dan mungkin juga komunitas-komunitas saya, tempat saya hidup, seringkali ditandai dengan hubungan-hubungan yang kurang baik di antara para penghuninya. Kecemburuan, iri hati, rasa dendam, rasa tidak suka, sikap tidak hormat, rasa cuek, menang sendiri dan benci merupakan realitas yang seringkali ditemui dalam dunia saya dewasa ini atau dalam komunitas-komunitas tempat saya tinggal. Perselisihan dan pertengkaran seringkali muncul di tengah-tengah saya karena adanya kesalahpahaman dan ketidakcocokan antara yang satu dengan yang lain. Seringkali dalam persaudaraan saya menjumpai fakta adanya kesalahan kecil yang dibesar-besarkan, sikap tidak mau mengerti dari orang yang lebih senior atau lebih memiliki kuasa, pilih kasih dll. Atau karena saya sebagai bruder, saya merasa menjadi persaudaraan tidak sehat. Keretakan dalam ikatan sebagai keluarga menjadi boomerang tiap hari. Umumnya hal itu dirasakan sebagai sesuatu yang menggoncang, sesuatu yang dapat membuat suasana hati dan suasana persaudaraan menjadi tidak enak serta menyebabkan adanya ketidakharmonisan dan keretakan di antara orang-orang yang berada di dalamnya.
Sayangnya, situasi ini seringkali terjadi berulang-ulang dalam kehidupan saya dengan pelaku dan pola perilaku yang biasanya juga berulang. Dalam sebagian peristiwa, situasi yang tidak baik ini coba untuk didamaikan oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya. Namun dalam sebagian peristiwa lain, situasi itu sengaja didiamkan karena adanya keengganan untuk menegur atau memberi koreksi bersama dalam persaudaraan ke-MTB-an saya.
Hal di atas menunjukkan bahwa komunitas, persaudaraan tempat saya tinggal mengalami suatu krisis yaitu krisis cinta kasih. Cinta kasih sebagai dasar kehidupan manusia tidak ditemukan lagi dalam kehidupan komunitas, kehidupan persaudaraan, kehidupan yang katanya merupakan cerminan dari realitas Kerajaan Allah. Saya menyebut realitas ini sebagai persaudaraan kusta. Persaudaraan kusta yang dimaksud di sini adalah suatu bentuk komunitas persaudaraan dengan ciri saling mengasingkan, saling menjauh (karena alergi dengan semangat persaudaraan) dan egois.
Saya mencoba refleksi dari 1 Yohanes 4:7-21 dikatakan “Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam Dia”. Perkataan ini mengungkapkan secara jelas inti terdalam dari iman Kristiani, gambaran Kristiani akan Allah dan buah gambaran akan umat manusia dan panggilannya. Dalam ayat yang sama, Yohanes memberi ringkasan akan hidup Kristiani “Saya telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada saya”.
Pernyataan di atas merupakan rahmat bagi hidup saya, bahwa Allah senantiasa memberikan dan menyatakan diri kepada saya dalam kasih. Kasih Allah saya temukan lewat pengalaman keseharian saya, lewat berbagai perjumpaan dengan orang lain dan lewat pekerjaan-pekerjaan serta rutinitas harian saya. Maka, kalau hal ini dilihat sebagai sebuah iman, maka perjumpaan dengan orang lain berarti perjumpaan dengan kasih Allah sendiri. Pertanyaan yang segera muncul dalam benak saya adalah, bagaimana mungkin saya mengartikan perjumpaan dengan sesama sebagai perjumpaan dengan kasih Allah jika seandainya saya mengalami keretakan dan ketidakharmonisan dalam relasi dengan sesama saya? Bacaan 1 Yohanes 4:20 dikatakan demikian “bagaimana mungkin kamu mengatakan bahwa kamu mengasihi Allah tetapi membenci saudaramu? Jika demikian, kamu adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.
Perkataan dari 1 Yohanes 4:20 ini merupakan peringatan dan teguran yang keras bagi saya. Hendaknya relasiku yang intim dengan Allah berjalan seiringan dengan relasiku dengan sesamaku manusia. Karena memang tidak mungkin saya menolak manusia tetapi memuliakan Allah atau sebaliknya. Karena jika demikian maka yang satu diabaikan dan yang lain diutamakan. Kalau saya berangkat dari perspektif tulisan Yohanes ini maka konsekuensi lain dari tindakan kasih yang mesti ada adalah demikian, bagaimanapun situasiku, meskipun saya sebagai korban ataupun saya sebagai pelaku dari adanya ketidakharmonisan dalam komunitas, saya hendaknya memperbaiki relasi demi Allah yang adalah cinta itu. Itu mengandaikan adanya pemberian maaf dan mungkin ampun bagi saudara yang bersalah kepada saya. Persaudaraan ini adalah persaudaraan yang membalut luka (kusta) dan bukan persaudaraan yang menambah luka. Ini bukan sesuatu yang mudah tetapi juga bukan sesuatu yang tidak mungkin. Yang penting di sini adalah kerendahan hati untuk mau terbuka, merangkul dan membiarkan diri mengalami kehangatan dengan yang lain.
Santo Fransiskus Assisi menjadi teladan hidup tentang komunitas yang menyembuhkan sebagai anugerah yang saya terima bagi persaudaraan MTB. Kalau mengikuti kata-kata ini maka setiap saya hendaklah menyambut sebagai saudara yang merupakan merupakan pemberian dari Allah sendiri bagi saya. Karena sesama bruder berasal dari Allah maka ia adalah sesama yang patut saya syukuri. Untuk itu seorang saudara diharapkan untuk semakin mengenal dan menerima saudara dan mewujudkan semangat kekeluargaan yang mendalam sedemikian rupa sehingga seluruh persaudaraan menjadi tempat istimewa untuk kediaman dan sarana bertemu dengan Allah di Komunitas saya.
Persaudaraan merupakan surga dan bukan neraka bagi saya. Maka amat mengherankan apabila ada saudara yang merasa sangat beban ketika ia kembali ke komunitas karena konsekuensi pertemuan atau perjumpaan dengan sesama saudara. Lebih aneh lagi apabila ketika sampai di gerbang biaranya, sesama saudara saya mulai merasa mual atau ingin muntah karena kesadaran bahwa ia akan kembali menghadapi persoalan-persoalan dengan sesama saudaranya di komunitas saya.
Apabila dalam kehidupan saya sehari-hari terdapat situasi yang tidak mengenakkan di antara saya, mungkin baik saya berusaha dan mau untuk mencuci kaki saudara saya itu. Sikap mau mengalah dan merendahkan diri pasti akan menjadi cara agar relasi yang harmonis dapat terjalin lagi di antara saudara. Semoga hari-hari ini saya mampu menjadi duta damai dan pelopor dalam memperbaiki hubungan yang retak dan pecah dengan sesama dalam keluarga MTB. Sebagai kongregasi dengan pelindungan Bunda Maria hendaklah saya meneladani Bunda Maria berarti, secara konkret sedikit mendekati iman Maria dan caranya Maria beriman. Sepenuhnya mengintegrasikan diri dalam rencana dan kehendak Allah, yang langkah demi langkah tersingkap dalam kehidupan nyata. Setia kepada kehidupan nyata sebagaimana diselenggarakan oleh Allah melalui macam-macam faktor manusia.
Muncul beberapa refelksi bagi saya. Bagaimana relasiku dengan sesama saudara di komunitas selama ini? Hal apa saja yang membuat saya merasa bagian dari keluarga MTB di Komunitas ini? Apakah ada relasi yang retak kurasakan selama aku tinggal dalam komunitas ini yang membuat aku terpukul dan sakit hati? Apakah aku mau mengakui secara rendah hati perbuatan ku yang tidak baik dan mampu untuk meminta maaf kepada sesama saudara ku? Apakah saya melihat di mana sesungguhnya Yesus tinggal dan saya bersama Dia di Komunitas? Apakah saya mampu melayani, mengampuni dan membasuh kaki bagi saudara yang pernah saya sakiti?
Akhirnya saya menyadari pengolahan hidup untuk menemukan dan memurnikan diri yang tranformatif tidak pernah habis di bahas dalam ruang dan wilayah yang berbeda. Saya mohon maaf kepada keluargaku yang membuat kedamaaian itu susah dipertahakan. Saya merasa belum menjadi manusia baru ketika hal ini belum diolah secara matang dalam menapaki panggilaku. **