Sat. Mar 6th, 2021

Wujud dengan kesetiaan

Kebahagiaan seorang religius ketika mengalami cinta kasih dalam hidup persaudaraan. Komunitas terdiri dari pribadi-pribadi yang memiliki karakter dan keunikaan masing-masing. Pribadi-pribadi itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan masing-masing pribadi bukan menjadi ‘sabit’ atau ‘pedang’ yang dipakai untuk saling menilai, tetapi sebagai anugerah yang terindah. “Setiap orang adalah saudara” [Fransiskus Assisi]. Nampaknya agak sulit karena kenyataan konkret tidak terjadi demikian. Kerapkali yang dipakai adalah cenderung melihat kesalahan dari pada kita mengingat dan mengarahkan agar memiliki motivasi baru menuju cita-cita hidup bersama yang semakin solider, inklusif, kreatif dalam persaudaraan.

Kongregasi Bruder MTB merupakan salah satu kongregasi yang sungguh menjadi bagian dari kehidupan masing-masing para Bruder MTB. Para Bruder diberi kesempatan untuk mengikuti berbagai kegiatan, baik yang dilaksanakan secara internal dalam kongregasi maupun secara ekternal di luar kongregasi, misalkan mengikuti berbagai kegiatan workshop, pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan mutu hidup para bruder sendiri.

Wujud kesetiaan kongregasi adalah terus-menerus memberikan pendampingan kepada para bruder dengan pelbagai cara. Pendampingan itu diharapkan mampu memberikan dampak kepada para bruder sendiri. Yang dimaksudkan untuk membina kepribadiaan secara proporsional dalam bidang pengetahuan, spiritual, sosial, keterampilan maupun kepribadiaan, karya dan pelayanan.

 Kaul Mengikat Diri untuk selamanya

Satu hal yang selalu mengingatkan kepada saya dan Anda bahwa kaul bukan sekedar ungkapan tentang sikap, penampilan, harta benda, tetapi lebih dari pada itu bahwa kaul mengikat diri untuk selama-lamanya. Saya tidak akan menjelaskan tentang definisi atau konsep masing-masing penghayatan tentang kaul itu satu-persatu [kemiskinan, ketaatan, kemurniaan], saya rasa sudah banyak dijelaskan dalam berbagai pertemuan baik dalam kongregasi maupun berbagai kegiatan-kegiatan lainnnya. Tentu itu juga sangat urgensi, tetapi sampai pada kesadaraan secara mendalam [masuk ke relung hati] bahwa ikatan kaul satu untuk selamanya dan mengikat. Agar ini sungguh disadari dari hati yang dalam, maka diperlukan kerjsama, on going formation yang dibangun dari rasa persaudaraan yang tulus dalam persekutuan kongregasi dan komunitas. Inilah yang menjadi refleksi terus-menerus, sekaligus tantangan yang berat untuk dilaksanakan dalam hidup sehari-hari.

Ada satu keyakinan yang lebih esensial bahwa persekutuan hidup bersama dalam kongregasi yang diwujudkan secara konkret dalam hidup berkomunitas setiap hari dapat membantu lebih mendalami tentang semangat dan tujuan panggilan masing-masing pribadi dalam mengikuti Kristus. Ikatan hidup bersama menjadi landasan dasar ikatan hidup bersama Kristus. Maka, kaul tidak terlepas dari penghayatan hidup konkret dalam komunitas setiap hari.

Apakah tidak ada pengalaman yang bertentangan dengan pengahyatan kaul itu? Tentu saja selalu ada. Misalkan yang terjadi saat ini adalah penampilan wow, yang gimana gitu!!! kalau tidak lihat HP sambil minum, nga keren, kalau tidak kenal lawan jenis bukan yang jentel, dll. Sebagian contoh yang saya berikan ini merupakan refleksi singkat atas kenyataan hidup sehari-hari. Yang kerap kali akhirnya ‘terbawa arus’ bukan menolak, tetapi kalau sudah terlanjur, biasanya baru sadar atau menyesal. Itulah sebagian yang kurasakan selama ini. Bisa jadi, juga Anda punya pengalaman lain mengenai penghayatan kaul, bisa dari pengalaman yang sederhana atau lebih berat. Tentu bukan hal mudah.

Ikatan kaul menuntut suatu pengorbanan dan perjuangan terus-menerus. Bukan perjalanan yang muluk-muluk, kita temukan krikil, bebatuan, bahkan jurang yang menantang kita untuk sadar dan bijaksana menghadapinya. Persukutan persaudaraan membantu kita ‘untuk kembali’ pada jalan yang semakin bijaksana. Saat ini, aku melihat dan belajar dari para Bruder MTB yang sudah sepuh. Kesetiaan mereka dalam menghayati kaul, merupakan pelajaran bagi kita semua yang masih muda untuk menjadi setia dalam berbagai tugas dan pelayanan sebagai konsekuensi panggilan kita mengikuti-Nya. “Barangsiapa yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal diri, memanggul salibnya, lalu mengikut Aku” [bdk. Mat 16:24].