Sat. Mar 6th, 2021

[Mat 4:18-22, Mrk 1:16-20]

Siapakah Para Murid

Panggilan murid pertama-tama adalah pribadi yang peka. Yang memanggil para murid adalah Yesus Kristus sendiri. Kristulah yang pertama-tama yang mengundang dan menyapa para murid untuk mengikuti-Nya. Karena para murid adalah orang-orang yang peka, maka mereka menanggapi panggilan Yesus dan melakukan. Pribadi para murid itu adalah pribadi yang mau mengikuti jejak Kristus. “Mari, ikutilah Aku, dan kamu akan kujadikan penjala manusia” [bdk Mat 4:19]. Yesus memanggil para murid untuk menjadi penjala manusia. Manusia yang situasinya jauh dari Allah, situasi yang tidak setia dengan Allah. Tugas para murid adalah mengumpulkan yang tercerai-berai agar kembali kepada jalan yang baik dan benar.

Tugas utama para murid sebelum Yesus memanggil adalah nelayan. Nelayan tugas utama mereka adalah menagkap iman atau menjala ikan dengan menggunakan pukat. Sebagai nelayan tentu mereka kenal baik, pada situasi mana mereka akan menangkap ikan. Ketika Simon dan Andreas sedang menebar jala, ko tiba-tiba saja Yesus berkata “Mari ikutilah Aku” tanpa harus kompromi banyak, embel-embel atau tanya jawab-Simon dan Andreas segera meninggalkan jala lalu mengikuti Yesus. Ini merarik.

Transformasi Profesi

Sekali lagi para murid adalah pribadi-pribadi yang peka, kepekaan itu belajar dari pengalaman konkret profesi mereka sehari-hari sebagai nelayan. Yesus mengundang untuk melihat, mendengarkan, dan mengikuti Dia. Setelah para murid diundang, melihat dan mendengarkan, para murid diberi tugas untuk menjadi penjala manusia. Ketika Yesus menyusuri danau Galilea, dilihat-Nya Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya sedang membereskan jala di dalam perahu, Yesus segera memanggil mereka dan meninggalkan ayahnya Zebedeus di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia [bdk Mrk 1:19-20]. Yang menarik tidak dijelaskan lebih lanjut apakah Yakobus dan Yohanes memberikan ‘pesan’ atau ‘wejangan’ entah dari anak atau orang tuanya. Mereka meninggalkan jala dan mengikuti Yesus dengan segera. Kepekaan tidak saja menyangkut mendengarkan, melihat tetapi juga mengenai sikap penyerahan diri.

Yang dilakukan para murid dalam mengikuti Yesus menjadi pengalaman yang sangat mendalam dalam merefleksikan tentang perjalanan hidup berkomunitas. Para murid dipanggil oleh Yesus secara pribadi, mengenalnya secara personal. Mereka dipanggil dengan namanya masing-masing untuk membentuk suatu cara hidup baru, yakni menjadi penjala manusia. 

Membentuk Satu Komunitas Persekutuan Murid Kristus

Mengingatkan kembali perjalanan hidup para murid, bahwa mereka dipanggil untuk menjalankan misi perwartaan Yesus. Yesus memanggil para murid untuk membentuk persekutuan hidup bersama. Dari masing-masing pribadi yang menyerahkan diri secara total dan mengikuti Yesus. Mengikuti Yesus berarti siap diutus. Yesus mengajarkan mereka [semacam memberikan pendidikan gitulah] sebagai bekal dalam perjalan hidup mereka untuk menjadi penjala manusia. Injil Matius mengingatkan kepada kita bahwa dasar hidup persekutuan adalah kumpulan orang. “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku di situ Aku ada di tengah-tengah mereka” [bdk Mat 18:20].

Panggilan para murid dalam mengikuti Kristus yang membentuk persekutuan menjadi panggilan kita bersama saat ini. Misi karya perutusan kita tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Kita dipanggil secara pribadi tetapi diwujudkan dalam praktek hidup bersama [Thomas Berrin]. Maka setiap pribadi yang dipanggil berhimpun dalam satu tugas yang sama, yakni melajutkan misi Kristus. “Dia yang tugas perutusan-Nya kita yang melanjutkan adalah SAKSI istimewa” [Kitab Wahyu]. Pesekutuan menunjukkan kumpulan pribadi-pribadi yang saling memberikan diri secara total. Bukan setengah-setengah.

Komunitas harus menjadi dasar utama menghayati cita-cita pesekutuan hidup bersama. Komunitas menjadi tempat pertama dan utama dalam menghayati panggilan bersama. Hidup bersama sebagai wujud konkret dalam menghayati panggilan murid Kristus yang masuk ke dalam persekutuan hidup bersama.