Sat. Mar 6th, 2021

Pengalaman doa masing-masing pribadi sangatlah bervariasi. Apakah doa itu sungguh menjadi bagian dari kehidupanku? Ataukah aku berdoa supaya bisa dinilai baik, rajin, tekun tanggungjawab dan lain sebagainya.

Tantangan Doa

Doa menjadi kebutuhan masing-masing, apa pun agamanya pasti diajarkan untuk berdoa. Apakah doa itu berjalan dengan lancar? Tentu saja tidak! Ada berbagai macam dinamika yang menggangu konsentrasi doa. Sekurang-kurangnya kita mengingat peristiwa masa lalu, apalagi pengalaman-pengalaman yang tragis, pahit dan menyakitkan. Pasti akan menggangu konsentrasi hidup doa kita.

Bisa juga terjadi karena mengingat kesibukan-kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja, harus segera diselesaikan. Dan masih banyak tantangan-tantangan lainnya. Sekali lagi,      masing-masing diri kita memiliki pergulatannya. Menyadari bahwa pergualatan itu tidak bisa diselesaikan dengan sendirinya. Kita perlu menyadari bahwa kekuatan dasar kita adalah berjalan bersama Tuhan. Kita menyerahkan seluruh beban hidup kita kepada-Nya. Biarkan Dia yang menyelesaikan-Nya. Dalam dia kita  percaya.

Besikap Pasrah

Kita bisa mengingatkan kembali tentang kisah-kisah di dalam Injil yang menampilkan bagaimana Yesus sendiri berdoa di taman Getsemani Duduklah di sini, sementara AKu pergi ke sana untuk berdoa [bdk. Mat 26:36]. Lebih lanjut dikatakan-Nya kepada murid-Nya, “Hati-Ku sangat sedih seperti mau mati rasanya. Tinggallah disini dan berjaga-jagalah dengan Aku”[Mat 26:38]. Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mugkin, biarlah cawan ini berlalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki  [bdk Mat 26:39]. Kita bisa belajar dari sosok pribadi yang kita kenal yaitu Tuhan sendiri. Ia tahu bahwa apa yang terjadi pada diri-Nya, Ia menuju penderitaan.

Sebagai catatan refleksi yang perlu dilihat bahwa sebelum menghadapi penderitaan-Nya, Ia berdoa terlebih dahulu, bersikap pasrah pada kehendak Bapa-Nya. Kekuatan tetap menjalin relasi dengan Bapa-Nya. “Bukan kehendak-Ku yang terjadi, tetapi kehendak-Mulah yang terjadi. Yesus membiarkan diri-Nya mengikuti kehendak Bapa-Nya.

Kedekapan kasih-Nya

Akulah jalan kebenaran dan hidup, barangsiapa tidak percaya pada-Ku, ia tidak tinggal di dalam Aku [bdk Yoh 14:6]. Dalam diri-Nya ada jalan, ada kebenaran, dan ada hidup. Kehadiran kita dalam doa untuk berjumpa dengan Dia yang merupakan sumber hidup. Maka, kita percaya bahwa segala sesuatu yang aku lakukan karena kasih-Nya. Aku beroleh hidup karena anugerah-Nya. Pantaslah setiap saat hidup dipenuhi dengan rasa syukur.

Hati menjadi tempat perjumpaan yang mendalam dengan-Nya. Keterbukaan hati menjadi relasi yang intim dengan Allah. Serahkan semua beban dan kekhwatiranmu pada-Nya. Dalam dia kita akan beroleh hidup. Hidup yang memerdekakan, yang membahagiakan. Dalam Dokumen Kon Vat II dikatakan hati menjadi tempat yang sanggar sucinya dalam menjalin relasi dengan Allah secara pribadi dan berhubungan dengan-Nya secara pribadi pula [GS,16]. Hal ini menjadi penting, ketika kita menjadi relasi dengan Allah. Sebab Dia ada di dalam hati kita. Segala kecemasan kita akan terus melanda jika kita masih mengandalkan diri sendiri, masih mengutamakan keinginan diri sendiri, bukan mengutamakan kehendak-Nya. Tentu ini menjadi pergulatan terus-menerus.