Fri. Apr 16th, 2021

Dalam Tradisi[1] Gereja Katolik  mengajarkan bahwa, peran Bunda Maria menjadi sentral di dalam  sejarah peristiwa karya keselamatan Allah  bagi  umatNya di dunia ini. Runutan peristiwa tersebut, mulai  ketika Bunda Maria menerima panggilan dari  Allah untuk menjadi patner dalam menerima  tugas  mulia, menjadi Bunda Kristus. Tugas tersebut, ditempatkan oleh Allah dimana “rahimnya” secara khusus disiapkan untuk mengandung-melahirkan-memelihara, merawat dan memeluknya hinggga ikut menderita bersama sang Putranya di puncak Golgolta. Identitas Maria  semakin nyata yakni: menjadi sebuah jalan kehidupan sejati dengan sebutan Viat Voluntas Tua.[2]

Kontemplasi Maria

Mengkontemplasikan tentang pribadi Maria sangatlah tidak mudah, apabila kita hanya sekedar mengenal  dari satu aspek saja. Lalu bagaimana relevansinya spiritualitas Maria masuk dalam lingkungan pendidikan Kristiani? Nilai-nilai apa sajakah yang  dapat kita timba dari spiritualitas Maria untuk menghidupinya dalam karya pendidikan kita saat ini?  Pertanyaan-pertanyaan yang sederhana ini menjadi sebuah landscape untuk meneropong atau memotret bersama baik di bidang pendidikan formal, nonformal, maupun  karya sosial lainnya.

Menarasikan nilai-nilai pendidikan dalam diri Bunda Maria, menjadi sebuah ruang untuk bisa kita gali bersama dari beberapa gelar dan identitas pribadinya dalam lingkungan pendidikan Katolik. Barangkali identitas dirinya menjadi magnet baru, sebagai pendidik untuk bisa meniru-meneladani, mengakui, memiliki (mengamini) bahkan menjadi bagian dalam dirinya (internalisasi)  dalam setiap perjumpaan  di bidang/karya pendidikan baik dalam relasi (sesama- guru-murid) di sekolah maupun di luar wilayah pendidikan formal di lingkungan apa saja yang bisa membangun kehidupan bersama. Dua aspek  (gelar) berikut ini, menjadi gagasan yang bisa kita artikulasikan di lingkungan pendidikan kita dan menjadi mata rantai  sehingga bisa dipadukan dengan temuan-temuan pengalaman kita di lapangan. Oleh karena itu dengan menimba spiritualitas Maria yakni:  bagaimana kita belajar dari Bunda Maria  dalam menerima tawaran tugas dari Allah. Baik sebagai Ibu Tuhan dan  Maria  maupun sebagai  Ibu Hamba Tuhan.

Maria Sebagai Ibu Tuhan

            Groenen dalam bukunya Mariologi Teologi & Devosi (1998:25-40), mengisahkan secara panjang lebar, tentang gelar-gelar diri Bunda Maria. Bila direduksi kembali apa yang menjadi nilai-nilai yang dapat digali dari gelar tersebut. Tentu saja menghasilkan sebuah pengalaman baru tentang gelar bunda Maria  sesuai pengalaman yang kita temukan di lingkungan sekolah kita Berhubung dengan dunia pendidikan, maka ada beberapa hal yang dapat kita pelajari dari gelar tersebut. Misalnya; Pertama Maria sebagai Ibu Tuhan. Bagaimana identitas  ini dapat diartukulasikan dalam diri Pendidik/pelaku pendidikan. Di sini kita bisa mengartikan beberapa elemen yakini: bahwa  bersama Bunda Maria  kita hadir sebagai pendidik yang tidak eklusif tetapi inklusif dalam komunitas  pendidikan kita. Kita hadir sebagai pendoa dan penyemangat baru bagi siswa di lingkungan  sekolah kita. Bersama Bunda Maria kita mempunyai kharisma yang unik dalam menemani siswa yang berkebutuhan khusus di lingkungan  pendidikan kita.  Bersama Bunda Maria kita menempatkan sebagai orang yang dipercaya oleh orangtua siswa/siswa terutama sebagai guru kerohanian bagi siswa yang ingin mengenal tentang kebaikan Allah.

Kehadiran kita  sebagai pendidik yang menyapa, ramah dan senyum  terhadap siswa sekaligus sebagai ibu untuk merangkul semua siswa tanpa membedakan (baik yang berprestasi maupun nonprestasi secara akademik dan nonakademik. Mewujudnyatakan bagaimana seorang Ibu Maria melibatkan sepenuh hati dalam suka duka yang dialami oleh siswa di sekolah. Kita belajar dari Bunda Maria ruang  untuk mendengar pergumulan dan kegelisahan siswa dalam kegiatan belajar di sekolah. Menebar pesona tentang warta kebaikan hati kepada semua siswa baik dalam ruang belajar maupun di wilayah yang bisa diajak sebagai teman dan sahabat. Ideologi, gagasan, cita-cita kelompok dalam mengambil keputusan bukan hanya  berasal diri guru dengan satu aspek  saja tetapi dari keterlibatan semua siswa yang ada dalam kelompok tersebut. Kepekaan hati menjadi kunci untuk menyelami keberadaan siswa dan apa yang menjadi kegelisahan siswa dalam menghadapi persoalan yang ada di lingkungan sekolah kita (bdk.Yoh.2:1-11).

Kedua, Maria sebagai  Ibu Multikultural dalam sekolah.[3] Bunda Maria dijuluki sebagai Ratu para bangsa. Artinya terbuka untuk semua golongan tanpa dibatasi oleh ras, suku dan agama tertentu. Komunitas universal menjadi kekhasan dalam pendidikan  hidup Kristiani. Oleh karena itu sebagai komunitas pendidikan hal itu dapat dilihat pada nilai-nilai tindakan yang praktis  berikut ini. Seorang pendidik  kita bersama Bunda  Maria untuk mengarahkan siswa agar dapat menerima, bekerjasama, dan bergaul dengan teman-teman yang berbeda budaya, golongan,suku, agama, dan gender.

Seorang guru sebagai pemantik untuk mengajar siswa bagaimana cara menghargai  setiap orang dalam perbedaaan.Seorang guru merawat perbedaan sebagai keberagamaan yang sejuk dan damai di sekolah. Seorang guru hadir untuk mau bekerjasama  baik dengan sesama guru yang berbeda ras maupun siswa tanpa dibatasi ruang kepentingan diri. Seorang guru merawat dan menerima semua perbedaan dalam wilayah yang dia layani tanpa disekat/dklaim untuk mengabdi pada satu golongan tertentu saja, orang ‘kita’ atau ‘kami’ (bdk.Luk.1:39-45).

Maria Sebagai  Ibu Hamba Tuhan

            Kata hamba dalam Kitab suci dapat diinterprestasikan sebagai orang yang tak mampu, tak berdaya dan tidak sanggup untuk menerima sebuah tugas. Namun “hamba Tuhan” yang melekat dalam diri Maria bukan hanya sebagai bentuk relasi tak keberdayaan dengan Allah ketika menerima tawaran tugas yang mulia dan berat, melainkan sebagai bentuk jawaban atas tugas tersebut. Hal ini Bunda Maria sendiri menjalaninya dengan nyata dan praktis dalam lingkungan hidup dan zamanya. Kitab Suci Perjanjian Baru khususnya Injil Lukas melukis gambaran Maria dengan penuh rendah hati menyadari diri bahwa ia tidak sanggup menjalani tugas dari Allah. Namun dia dalam kerendahan hatinya ia tetap berani untuk menjawab amanah tersebut. “Sesungguhnya aku ini  adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (bdk.Lukas 1:26-38)

Bagaimana nilai-nilai “ke-hamba-an” bila dijewantahkan kepada seorang pendidik di lingkungan pendidikan kita. Tentu saja di sini lebih pada penghayatan dedikasi seorang guru dalam mengembankan tugasnya sebagai “hamba/pelayan” sebagai konskwensi atas panggilannya  sebagai guru. Maka, ketika guru yang dimuliakan dalam  bentuk kepribadianya dimana ia bekerja, mau tidak mau suka tidak suka bukan menjadi sebuah beban. Bahkan sekalipun distigma mengabdi diri sebagai bawahan, karyawan, buruh dan  lain-lain sebagainya, tetap menjalaninya dengan penuh sukacita. Dengan kata lain dilihat dalam kerangka sebagai panggilan sukacita yang bisa mengangkat martabat siswa menjadi ‘tuan ilmu untuk dikembangkan berkat kecerdasan hati ‘hamba (pelayan) yakni pendidik (guru) itu sendiri.

Adapun nilai-nilai yang dapat kita maknai dalam diri sebagai guru. Bagaimana  Maria sebagai  hamba Tuhan secara praktis dapat diperlihatkan pelayanan kita sebagai hamba atau pelayan di sekolah   dalam melayani siswa, sesama guru dan yayasan. Pertama. Hamba (pelayan) Tuhan di Sekolah. Sebagai hamba (pelayan) Tuhan, kita melayani dengan penuh utuh dan totalitas  di sekolah yang kita abdikan diri. Sebagai hamba  (pelayan) Tuhan,  kita melayani dengan sukacita tanpa bersungut-sungut, apa lagi membanding pelayanan di lembaga/sekolah lain. Sebagai hamba (pelayan)  Tuhan tidak banyak menuntut tetapi selalu disyukuri untuk segala kebaikan yang kita terima dari kemurahan hati Allah.

Kedua. Hamba (pelayan) dalam relasi dengan yayasan. Sebagai hamba (pelayan) Tuhan,  kita adalah bagian dari kaki tangan yayasan untuk mengembangkan visi misi yayasan dalam mencerdaskan anak bangsa di lingkungan yayasan kita. Sebagai hamba (pelayan) Tuhan, membantu yayasan untuk bisa memberi gagasan atau ide yang sesuai dalam peningkatan mutu pendidikan di masayarakat/lingkungan sekolah yayasan pendidikan kita. Sebagai hamba (pelayan) adanya komunikasi yang harmonis dalam mengembangan mutu pendidikan di lingkungan yayasan pendidikan. Sebagai hamba (pelayan) Tuhan, merasa dipercaya, dihormati profesi kita sebagai guru yang berhati humanis di lingkungan yayasan pendidikan. Sebagai hamba (pelayan) Tuhan, sikap saling menghormati dalam setiap keputusan dan kebijakan dalam menyuburkan ladang karya sekolah kita di lingkungan  yayasan  pendidikan kita. Sebagai hamba (pelayan) Tuhan merasa  memiliki dan ikut bertanggungjawab kwalitas SDM di Yayasan kita.

Ketiga. Hamba  (pelayan) Tuhan dalam relasi dengan Sesama Guru. Sebagai hamba (pelayan ) Tuhan  saling menghormati dan mencintai sesama profesi guru di lingkungan sekolah kitaSebagai hamba (pelayan ) Tuhan mengakui akan kelebihan sesama guru (tidak ada perbedaan Yunior-medior-Senior). Sebagai hamba (pelayan ) Tuhan saling melengkapi satu sama lain. Sebagai hamba (pelayan ) Tuhan mengedepan nilai-nilai keunggulan dari masing-masing mata pelajaran yang dimiliki. Sebagai hamba (pelayan) saling melayani secara tulus dan tidak ada yang merasa paling unggul dari setiap bidang studi yang diajarkan kepada siswa. Sebagai hamba (pelayan) merasa semua pelajaran itu penting dan tidak membuat standar nilai baik bidang studi eksa, sosial maupun budaya.

Keempat.Hamba (pelayan) dalam melayani Siswa. Sebagai hamba (pelayan ) Tuhan kita  mengedepan nilai-nilai humaniora[4] dalam pendekatan   para siswa di lingkungan yayasanpendidikan kita. Sebagai hamba (pelayan ) Tuhan kita menggunakan budaya humanisasi[5] sebagai kekhasan dalam menghargai martabat siswa di lingkungan Pendidikan kita. Sebagai hamba (pelayan ) Tuhan  kita  membentuk siswa untuk  menemukan makna baru dalam berbagai dimensi kehidupan (philosophically cerative).

Berbagai dimensi peran bunda Maria dalam diri kita sebagai pendidik, akhirnya memproduksi suatu komunitas yang mengembangkan pada dimensi budaya komunal atau kebersatuan/kebersamaan dalam lingkungan yayasan pendidikan kita.  Komunitas ini sebagai senjata untuk memajukan visi-misi kita bersama. Koesoema (2015),  memberi ruang bagi para pendidik untuk merefleksikan dimana bila pada pengembangan dimensi intelektual seluruh anggota komunitas sekolah dilibatkan  (stakeholder-yayasan kepala sekolah-guru- Tu-siswa-karyawan-security) dalam rangka pengembangan pemikiran, ide-ide dan konsep tentang pendidikan karakter.

Pengembangan dimensi komunal melibatkan proses evaluasi atas praksis komunitas yang selama ini telah dibangun bersama dikomunitas yayasan pendidikan kita. Untuk kebersatuan inilah bersama Bunda Maria kita merawat, merangkul dan menjadi Injil (kabar gembira) karena kita sudah menginternalisasaikan diri sebagai ibu Tuhan dan Ibu Multikultural dalam lingkungan pendidikan yayasan pendidikan kita.**

Sumber Bacaan Pendukung

Groenen,C. (1998). Mariologi Teologi & Devosi.Yogyakarta: Kanisius.

Koesoema Doni. A. (2015). Strategi Pendidikan Karakter-Revolusi Mental Dalam lembaga Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Sastrapratedja. M. (2013) Pendidikan Sebagai Humanisasi. Jakarta: Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila.

Suparno Paul. (2015). Pendidikan Karakter Di Sekolah. Yogyakarta: Kanisius.

[1] Tradisi (T) huruf besar artinya komunikasi iman secara turun temurun yang diajarkan oleh para rasul hingga sampai saat ini diteruskan oleh komunitas Kristiani (Aku percaya). Tradisi (t) huruf kecil diartikan sebagai kebiasaan atau adat istiadat setempat yang dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang hingga sampai saat ini dipraktekan di masyarakat tertentu di Indonesia.

[2]Fiat Voluntas Tua” berasal dari bahasa Latin, artinya: “biarlah dilakukan” atau: “jadilah menurut kehendak-Mu” atau “Ketaatan membawa sukacita”.

[3] Bdk. Tulisan Paul Suparno , tentang Pendidikan Karakter di Sekolah, 2015,  hal.143

[4] Humaniora  dalam dua arti pertama, sekumpulan ilmu-ilmu kemanusian seperti filsafat, sejarah, ilmu-ilmu bahasa.kedua, cara pengajaran yang mencoba mengangkat unsur-unsur permanusiaan dalam pengajaran (Sastrapratedja, 2013:332).

[5] Satrapratedja (2013), mendeskripsikan  fungsi humanisasi dalam setiap mata pelajaran yang kita geluti di lingkungan sekolah. (1) Mata pelajaran pada umumnya, membantu manusia muda menyelami dunianya, sehingga membantu menjadi manusia. (2) Mata pelajaran kebudayaan, membantu manusia muda dalam memasuki alam kebudayaan. (3) Mata pelajaran sosial, membantu manusia muda untuk melihat dunianya sebagai mit-welt (dgn dunia) dan dirinya sebagai mit-sein (dgn dirinya)  dan (4) mata pelajaran eksata, membantu manusia muda dalam proses penyelaman dan penguasaan alam jasmani.