Sun. May 9th, 2021

Prakata
Pada tahun 2012, saya bersama rombongan koor paroki Katedral Pontianak mengunjungi sebuah Rumah Sakit Alverno Singkawang Kalimantan Barat. Kami pergi untuk memberi sumbangan. Rupa-rupanya kami tidak langsung bertemu dengan para penghuni kusta tetapi memberi sumbangan melalui pimpinan rumah sakit tersebut. Tentu saya sendiri tidak puas, kalau tidak melihat mereka. Ketika saya menyalami dan memeluk mereka, dari kejauhan terdengar suara dengan nada keras.. “woiiiii…awas.. tidak takutkah, itu kan penyakit kusta!!. Sepulang dari tempat tersebut konsentrasi doapun tergganggu. Saya merasa gelisah, dan menjadi beban bathin mengapa kami anggota koor tadi, tidak mau menyalami mereka di Panti rehabilitasi kusta?

Kontemplasi Dalam diri Si Kusta
Pengalaman perjumpaan dengan para rehabilitasi kusta tersebut di atas, mengingatkan kembali kepada saya tentang kisah perjumpaan St. Fransiskus Assisi dengan orang kusta di salah satu daerah di Asisi. Cerita ini sebagai awal mula pertobatannya untuk mengenal Yesus yang menderita dan tersalib. Dari rasa jijik melihat mereka, menjadi sebuah kemanisan untuk merebut kebahagiaan sejati mahkota surgawi dalam hidupnya. Fransiskus mengalahkan diri, berkat orang kusta (Kisah 3 sahabat, 2000; 47-52). Dalam kelanjutan kisah tersebut, dikatakan bahwa Fransiskus sendiri pernah berkata bahwa dahulu ia melihat orang kusta begitu memualkan dirinya, sehingga tidak enggan melihat mereka, tetapi juga enggan mendekati tempat tinggal mereka. Berkat kasih karunia Allah Ia menjadi begitu akrab dan bersahabat dengan orang kusta, sehingga tinggal dengan mereka dan dengan rendah hati melayani mereka ( K3S. 2000:48).
Mengkontemplasikan pengalaman Fransiskus, dengan pengalaman saya memang masih sangat jauh situasinya dan dimaknai secara berbeda pula. Namun pendekatan dengan ‘pengalaman perjumpaan’ dengan tidak menjaga jarak dengan si kusta, sama-sama melihat sosok kehadiran Yesus di dalam diri orang kusta tersebut. Pengenalan mereka yang menderita kusta, sudah mulai diajar dan dihayati sejak postulan, di mana ada hari tertentu kami bekerja dan makan bersama dengan mereka. Karya yang sederhana ini, masih kita rawat sampai sekarang, tepatnya di Kota Pati Jawa Tengah. Sebagai pengikut semangat Santo Fransiskus Asisi, kongregasi yang dirikan oleh Mgr. J.Van Hooydonk, 25 September 1854 ini, menerima Anggaran Dasar dan cara Hidup Saudara-saudari Ordo Ketiga Reguler Santo Fransiskus Asisi. Para bruder pendahulu kami terpesona cara dan gaya hidup Fransiskan zaman itu. Hal itu sudah terpatri dalam semangat fransiskan lewat kesaksian hidup yang nyata melalui hidup suci, doa, sederhana, peka akan kebutuhan sesama dan tabah menanggung penderitaan hidup (bdk.Kostitusi MTB hal.43). Nilai-nilai keutaman itu sebagai cara untuk mencintai panggilan melalui kontemplasi hidup dan dalam aksi yang nyata.
Kontemplasi dengan kesadaran suatu identitas semangat Fransiskan dalam doa, merupakan sebuah latihan kehidupan rohani yang cukup melelahkan. Latihan rohani dengan khas Fransiskan tersebut, sudah terpolarisasi dalam cara hidup kami untuk menjumpai Allah di mana saja terutama dalam ruang doa bathin dan “serafik’ Hal demikian telah dilukiskan bahwasannya, “Di setiap tempat dimana pun juga, pada setiap saat dan segala waktu, hendaklah saudara-saudari dengan sungguh-sungguh dan rendah hati mengimani Allah yang kekal, mahatinggi dan mahaluhur, Bapa dan Putera dan Roh Kudus.[…], Hendaklah mereka menyembah Dia dengan hati murni, karena kita harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu; sebab Bapa mencari penyembah yang demikian itu (ADTB 23;11&ADlll.Reg.17). Wejangan dari semangat doa yang diwaris oleh Bapa santo Fransiskus, pertama-tama sebagai tanda dan penanda bahwa identitas kami jelas dan tidak ambyar. Sebagai bruder MTB yang berkhas Fransiskan, mampu melihat gerakan kehadiran Allah dalam setiap waktu dan tempat mana kala hati kami tetap terarah pada kemuliaanNya yang hadir dalam pelbagai cara di mana kami berada. Dalam permenungan doa melalui kontemplasi, setidaknya menjadi bruder MTB, bukan hanya soal mengabdi Allah lewat kerasulan pendidikan atau karya-karta yang sederhana, tetapi pertama-tama adalah mempunyai ruang bathin sebagai napas religius untuk semakin mengenal dan mencintai Allah. Identitas diri Allah yang hadir secara nyata lewat mereka yang lemah, semakin nyata bila para bruder melakukannya dengan penuh keyakinan, tekun, sederhana, tulus dan setia. Ruang ekspresi bathin dalam menangkap fenomena tersebut, menjadi dinamis untuk mengenal identitas Allah yang dicari dan sekaligus untuk membuka hati yang beku karena Allah itu begitu misteri, namun nyata ketika melihat kehadiran-Nya dalam fenomena kehidupan kita setiap harinya.
Keutamaan Hidup
Lewat keutamaan Santa Perawan Maria sebagai hamba Allah dan santo Fransiskus Asisi, kami berupaya mewujudkan kemuliaan Allah, dengan berpegang teguh pada nilai-nilai keutaman hidup yakni: pertobatan, kemiskinan, kehinadinaan dan hidup Doa. Keempat pilar lingkaran tersebut, menjadi sebuah daya kehidupan dalam doa kontemplasi dan penggerak semangat hidup bruder MTB, yang walaupun dalam perjalanannya tidak seindah yang diungkapkan dalam kata-kata maupun alunan nada yang didengungkan lewat doa harian kami. Kami sadar bahwa, kami tetap seorang pribadi yang masih merasa diri sebagai manusia pendosa yang lemah dan tak berdaya, namun kami tetap setia untuk menjalaninya dengan semangat Fransiskan khas bruder MTB. Secara lahiriah divirtualkan dalam sebuah simbol jubah kami yang berwarna keabu-abuan sebagai pakaian peniten (pentobat).
Nilai-nilai keutamaan hidup, dengan menghidupi semangat Fransiskan dalam doa kontemplasi pertama-tama melalui pertobatan. Pertobatan sebagai langkah awal untuk mengenal identitas diri dan identitas Allah yang kita sembah dan ikuti. Hidup dalam ‘Pertobatan’ menurut Fransiskus, adalah suatu perjalanan hidup menurut Injili; hidup dalam pertobatan terus-menerus mesti dipandang sebagai anugerah dari Tuhan. Rahmat itu diterima dengan menghayati perubahan total secara batiniah dan lahiriah dalam hidup (bdk.AnngOrReg:2006). Pertobatan itu dikontemplasi dalam melayani di tempat karya entah di asrama, sekolah, kebun, rumah tangga dan lain sebagainya. Semuanya sebagai ruang untuk memetakan bathin kami bahwa melalui pekerjaan inilah, kami selau diingatkan untuk bertobat dan ambil bagian karya Allah yang tidak bernilai dihadapan sesama manusia, namun mulia di hadapan Allah (bdk. Kont.MTB psl.VII, art.212).
Ketika pertobatan itu dimakna dalam pekerjaan-pekerjaan yang sederhana di atas, maka dalam doa yang nyata (Ibadat harian, Perayaan ekaristi, dan kompletorium) doa tobat yang diucapkan merupakan sebuah ‘corong’ yang dartikulasi untuk mengendapkan kembali pengalaman keseharian baik dalam relasi dengan Allah maupun dengan sesama. Kontemplasi ini,semacam latihan rohani/evaluasi kerohanian kami selama satu hari di mana kami berada. Pengendapan diri dalam permenungan peristiwa hidup seharian, tidak cukup dalam doa bersama maka ada wilayah-wilayah yang bersifat privasi untuk melakukan tapa atau peniten sesuai cara dan gaya masing-masing. Penyegaran jiwa ini akan bertumbuh dan berkembang dimana saja kami berada dan berkarya. Kedua, kemiskinan. Kemiskinan ini bila direduksi kembali akhirnya dihayati dan dipraktekan dengan dinamis. Kemiskinan secara lahiriah nampak dalam apa yang kita miliki. Namun untuk di era postmoderan ini, pergumulan dan kegelisahan akan muncul apabila dalan menjalaninya sangat ekstrem. Misalnya tidak menggunakan alas kaki/kaki kosong (sandal dan sepatu) dan tiap hari menggunakan jubah khas fransiskan. Masing-masing ‘saudara’ sapaan sebagai fransiskan, mengambil cara untuk melihat kemiskinan yang tidak membuat hati dan relasi dengan Allah menjadi kabur. Kemiskinan yang mengarahkan kehidupan Fransiskus, tidak dimengerti dalam arti yang sempit, terbatas pada kaul kemiskinan. Seolah-olah tidak memiliki apa-apa dalam hidup ini. Kemiskinan bagi Fransiskus, lahir dari penghayatan akan kemiskinan Kristus, yang walaupun ilahi, tetapi melepaskan keilahiannya dan mengosongkan diri (Flp 2:7). Kemiskinan itu dilaksanakan dalam cara hidup mengikuti Kristus menurut gaya Fransiskus, sebagai ‘musafir dan perantau’ (AngBul VI:3) di dunia ini. Kemiskinan itu mengubah cara hidup kita membawa diri berhadapan dengan segala sesuatu, semua orang, Allah sendiri, sambil menuntut sikap yang mengosongkan diri atau menolak barang-barang material, melayani sesama scara timbal balik, serta sikap percaya dan bersyukur pada Allah.?
Ketiga. Kehinadinaan. Aspek kehinadinaan dalam semangat Fransiskan merupakan ciri khas kita dalam perjalanan hidup di dunia, dalam sikap terhadap orang lain, baik dalam hidup komunitas, dalam lingkungan kerja dan kerasulan. Fransiskus menghendaki kita berada sebagai saudara dina, paling kecil dari semua, hamba semua orang. Kehinadinaan adalah suatu dimensi dasariah dari keberadaan kita sebagai pengikut Fransiskus. Aspek kehinadinaan ini mengandung pembebasan dari segala bentuk penguasaan, kelas-kelas sosial, relasi kuasa, hegemoni kepemimpinan serta manipulasi terhadap orang lain. Itulah gaya hidup hina dina. Karena dengan gaya hidup seperti itulah, warta perdamaian dapat dibawa dan persekutuan dengan semua orang dapat ditumbukan Keempat. Berdoa. Bagi bruder MTB, berdoa adalah napas religius yang utama dan tertinggi. Doa dan semangat doa adalah nilai dasariah yang mengandung kekayaan dan vitalitas dari dimensi kontemplatif hidup kita. Dalam doa yang ditandai oleh pujian dan syukur kepada Allah, Bapa Mahapencipta, kita membina suatu gaya hidup berdoa dan belajar untuk memenuhi setiap saat dalam hidup kita dalam kesatuan dengan Tuhan. Dari sini, kita mampu menciptakan dan mempersembahkan diri kepada Tuhan, tempat tinggal yang stabil dan pasti dalam diri kita. Doa kontemplasi ini mempunyai tempat yang istimewa dan menempatkan paling tinggi dalam penghayatan sebagai bruder MTB. Keempat pilar di atas, merupakan sebuah landscape hidup bruder MTB, untuk mengikuti Yesus yang heroik dengan gaya dan corak Fransiskus Asisi. Fransiskus membawa dan memperkenal Kristus dengan budaya Injil yang hidup dan nyata. Lalu bagaimana kami menjermahkan semua aspek di atas, untuk bisa menemukan Kristus? Tentu hal ini dapat direduksi kembali dengan cara saya saat ini melalui pendekatan “pengalaman’ (life experience) dalam berkontemplasi. Dan bagi kami rupa-rupanya dalam gaya hidup dan doa kami secara ilmiah tidak bisa ditinggalkan begitu saja terutama dari aspek pengetahuan (kognitif) dan sikap perasaan (afektif). Kedua asepk ini tetap mempunyai ruang untuk mendiskusi secara bathiniah dalam menangkap kehadiran Allah yang tersalib dalam Kristus sendiri.
Menanggapi Zaman
Jika direduski kembali fenomena abad XIII melalui doa kontemplasi, di mana di Eropa Selatan termasuk di Asisi penyebaran penyakit kusta begitu kuat, sebagaiman gambaran di awal tulisan saya ini, banyak yang tidak bisa disembuhkan pada waktu itu. Peristiwa ini digunakan oleh Alllah dimana Fransiskus bertemu dengan orang Kusta sehingga ia bertobat dan merasakan kemanisan sehingga menyatu dengan Yesus yang menderita lewat orang kusta. Di Abad XX1, kita juga mengalami dan menemukan orang kusta dengan muncul fenomena Corona virus (Covid 19), yang begitu mencekam di masyarakat dunia, maka hati kami pun ikut tergerak lewat suasana doa kontemplasi yang dinamis.
Menanggapi fenomena ini, kami bergerak dalam dua lingkaran. Pertama, secara rohani kami semakin kuat berdoa untuk ujud khusus fenomena tersebut. Kami ikut bergelisah bersama umat yang mengalami bencana tersebut. Secara khusus berdoa rosario untuk ujud covi19 agar segera berakhir. Kedua, melibatkan diri untuk membagi dan menyumbang sesuai kemampuan dan keterbatasan kami. Masker yang kita sumbangkan kepada warga RT menjadi berkah dari nilai-nilai doa kontemplasi kami. Maka muncul sebuah pertanyaan apakah doa kontemplasi kami masih relevan dengan situasi sekarang sesuai semangat ke-fransiskan kami? Apakah identitas Allah yang transendens, memampukan kami untuk mentranformasikan diri dalam praktek kehidupan kami ? Apakah semuan pengalaman dan perjumpaan dengan yang kusta dan fenomena Covid19 merupakan hasil dari doa kontemplasi?
Akhir Kata
Melakuan doa kontemplasi seakan-akan berada dalam ruang bathin untuk bertemu dengan Dia. Godaan-godaan dalam menghayatinya dan menghidupinya nilai doa bergaya semangat Fransiskan terkadang merasa jenuh. Untuk menjembataninya. maka mau tidak mau tetap ditinjau kritis secara imiah. Mengapa demikian? Karena warisan semangat hidup doa Bapa Fransiskus sejak abad XIII, yakni: Kristus yang menderita yang diperkenalkan di era postmoderen ini, tetap relevan meskipun diterjermahkan dalam sosiokultural kita yang berbeda, namun rohnya tetap sama yaitu Kristus sendiri hadir dengan berbagai peristiwa yang penuh dengan kejutan. Oleh karena itu bahasa yang digunakan oleh Fransiskus pada zamannya, dibentuk oleh sebuah temuan dari pengalaman relasi sehari-hari dengan Kristus lewat si Kusta. Semoga penghayatan semangat bruder MTB dalam mengikuti Yesus tidak hanya pencerahan dari Fransikus saja tetapi ada nilai lebih yakni bagaimana mengkontemplasikan semua pengalaman keseharian hidup ini dalam rangka menuju Allah yang kita sembah dan imani melalui Kristus yang tersalib. *** Artikel ini pernah dimuat di Majalah Rohani edisi Mei 2020