Sun. May 9th, 2021

Pada awal bulan oktober 2014 saya pindah ke kota Singkawang -Kalbar. Baru 3 hari menghirup suasana kota Amoi (sebutan untuk penduduk Tionghoa), saya juga harus segera menyesuaikan diri dengan situasi karya ditempat baru yaitu: SMP Santo Tarsisius yang merupakan salah satu sekolah di bawah Paroki Fransiskan Singkawang. Salah satu hal yang saya tidak suka dalam karya pendidikan adalah harus menggunakan seragam bagi para pengajar. Saya bingung maka cepat-cepat ke tukang jahit waktu itu. Bapak yang berprofesi penjahit ini begitu ramah menerima saya. “Wah sepertinya kamu orang baru di Singkawang ya”. Kamu tinggal dimana? Dan bekerja dimana? Tiga pertanyaan ini kesempatan memperkenalkan identitas saya. “Pa saya tinggal di Bruderan samping Gereja. “Oh ya, itu Rumah hantukan?” Saya terkejut dengan ucapannya. Ketika saya tanya ternyata tempat itu dulu menyeramkan bagi warga sekitarnya. Hanya para misionaris bruder dari Belandalah yang berani bertempat di situ hingga sekarang. “Saya salah satu murid didikan mereka Der”. Cara mereka mengajar penuh dengan kemanusiaan. “Sekarang susah menemukan sosok guru seperti mereka”. cetus sang penjahit ini dengan polos dan lugas. Ketika mendengar penjelasanya barulah terbuka pikiran dan perasaan saya dari bathinku terusik saat itu.
Rumah Tuhan Versus Rumah Hantu
Ketika pulang ke biara saya tidak bisa tidur. Rasanya masih penasaran dengan ungkapan penjahit tadi. Saya berpikir penghuni di biara ini adalah orang-orang pilihan Tuhan. Pastinya bukan penghuninya adalah hantu. Tetapi mengapa biara ini sudah 94 tahun berkarya di tempat ini masih muncul perasaan hantu yang melekat pada pemikiran warga tertentu. Atau memang model rumah ini tidak zaman lagi sehingga kesanya unik dan memang tidak menarik bagi orang yang memandangnya. Atau barang kali warna cat biara ini seakan-akan tidak simpatik bagi warga sekitar tempat kami ini. Berbagai pertanyaan tersebut, menggoda saya untuk berefleksi mendalam lagi, ada apa ya dengan pandangan orang sekarang tentang rumah biara yang tidak bersahabat lagi. Apakah bangunan rumah atau penghuninya tidak memikat untuk orang bisa bertandang di tempat ini. Saya pikir ada hal lain yang perlu digali lebih mendalam lagi karakteristik jejak-jejak historis dari rumah ini.
Biarkan Angin segar Masuk
Ketika saya memutar kembali pengalaman perjumpaan dengan penjahit, seakan-akan komentarnya tentang rumah hantu membuka saya untuk merefleksi kembali tentang identitas saya selama ini sebagai orang yang dipanggil khusus dalam Gereja Katolik. Saya melihatnya dengan berpikiran positif saja sekaligus kesempatan untuk berefleksi secara mendalam. Pertama, arti kehadiran saya bagi komunitas dan juga tetangga biara. Bisa saja saya selama ini saya kurang menampilkan wajah “humanis” bila berjumpa dengan orang lain, sehingga terkesanya wajah “seram” (hantu). Atau karena saya hanya ramah dengan satu agama atau orang tertentu saja sehingga yang lain bukan bagian dari ciptaan yang sama. Kedua, bisa saja keterlibatan hidup menggereja di lingkungan sekitar biara, enggan rumah biara terbuka untuk sesekali digunakan doa Rosario bersama umat atau bila memungkinkan rapat RT, karena memang ada batas teritorial biara yang harus mengikuti aturan dalam konstitusi lembaga yaitu wilayah privasi. Ketiga, lingkungan yang tidak memancarkan pesona kehidupan bagi keharmonisasian alam, dimana tumbuhan dan tanaman biara begitu unik dengan menumbuh pohon-pohon yang langka untuk kebanyakan orang dewasa ini. Dari refleksi yang sederhana ini saya merasa harus ada aksi yang nyata agar hembusan angin dari luar itu meniup ke lorong-lorong yang gelap dan seram dari pandangan orang luar biara.
Kegiatan hidup menggereja adalah kesempatan bagiku untuk membuka hati bagi kami, agar bisa bergabung didalamnya sekaligus peluang untuk mengenal identitas saya sebagai bruder. Dan untunglah pada bulan oktober 2014 komunitas kami mendapat kesempatan khusus bersama umat untuk doa rosario, koor lingkungan, hingga disempurnakan pada moment natal yaitu open house. Pintu bangunan kami terbuka lebar pastinya mendukung pintu hati penghuni untuk bisa berbagi rasa tanpa disekat sebuah aturan yang kaku bagi identitas diri sebagai religius. Bathinku bergejolak di saat itu. Maka kesan rumah hantu sebagai rumah Tuhan semakin nyata yang aku alami. Maka kesempatan ini jugalah membuat yang bukan agama Katolik pun pernah bertanya dan sangat berkesan ketika mengungkapkan rumah ini unik dan susah ditemukan untuk model rumah zaman ini. Mereka adalah team basket dari Jakarta dan jogja yang sempat menginap dalam rangka turnament basketball All Star Singkawang Januari 2015. Nilai positif yang bukan seiman kesempatan berdialog humanis dalam bingkai pluralitas yang cukup membantu saya semakin luas bersahabat dengan mereka. “Mas ini rumah apa sebenarnya? Kog semuanya laki-laki? Pertanyaan Dimas dari Malang ini menarik saya untuk menjelaskan. Kata “Biara” baginya sangat asing ditelinganya, namun ketika dijelaskan secara sederhana ini adalah sejenis “Padepokan/paguran/Pesantren Katolik Mas”. Kekuatan kata yang bisa dipahami olehnya menjadi akrab dan betah 3 malam menginap di biara bruderan MTB Singkawang. Semoga semua orang yang memandang tempat kami ini bukan rumah dan penghuninya pengikut hantu tetapi pengikut Tuhan karena kami mau memancarkan “Injili” yang nyata lewat sikap dan tindakan kami sehari-hari. Semoga saya juga berani sungguh-sungguh menggali lebih dalam lagi, agar menjadi Istana surga yang membumi di tanah Borneo. Akhirnya tetap terjawab ini adalah biara buka rumah hantu sebagaimana bahasa ekstrim yang diungkapkan oleh sang penjahit tadi. Atau adakah bahasa lambang lain yang membuat dia mengatakan itu rumah hantu? Aduh benar-benar seram biara sekarang di sebut rumah hantu. Harus saya gali lebih dalam lagi, alasan akariah dari ungkapanya…
Artikel ini pernah dimuat di Majalah Rohani edisi/thn 2014