Sun. May 9th, 2021

Pontianak, 10 Desember 2020, merupaka hari istimewa bagi para bruder MTB untuk berbagi rasa tentang gerakan komisi JPIC kongregasi Bruder MTB. Para promotor sekaligus pioner kegiatan ini adalah bruder Yunus, Geradus, Jhoni dan Yohanes De Deo MTB. Sebelum masuk materi JPIC (justice, peace, anda Integrity of Creation), Br Geradus selaku komisioner bidang edukasi Ekolog (ketua) mendeskripsikan profil JPIC MTB secara umum dengan sangat baik dan singkat.
Bruder Geradus bangga, karena peserta yang hadir dalam kegiatan ini adalah representasi bruder MTB yang berkarya di berbagai bidang karya di komunitas Kalbar. Baik sebagai pengurus yayasan, formator, pembina asrama maupun para DPU untuk sama-sama memikirkan kelanjutan program mereka yang sudah lama dibentuk. “Program JPIC MTB sudah sangat jelas baik dari tema kegiatan, kelompok sasaran, tujuan juga anggaran pembiayaan kegiatannya”. Ujar Br.Vianey selaku moderator kegiatan dengan mantap. Semuanya disampaikan secara transparan atau terbuka di depan peserta yang hadir saat itu.
Bruder Yunus selaku komisioner bidang sosial ekonomi dengan tegas menggarisbawahi bahwa kegiatan JPIC di kongregasi MTB tidak bisa dibebankan kepada para timnya saja. Akan tetapi masing-masing kita bersinergi untuk melaksanakanya secara arif di unit karya kita masing-masing. Penghijauan lingkungan dengan beragam kreatif dan inovatif menjadi tanda bahwa pelayanan kita dalam bidang ekologi bukan mencari siapa yang terbaik tetapi sebagai perwujudan gerakan JPIC khas persaudaraa MTB. Selain itu untuk mengembangkan sayap, Br Jhoni Kedang, selaku komisioner bidang eko pastoral membuat gerakan ‘mama mama papua” di Merauke dengan menanam beragam jenis sayur-mayur, padi secara organik dengan berhasil baik. Di tengah pandemic covid 19, dia membuka taman bacaan bagi anak-anak SD di Kota pinggiran Merauke, sebagai langkah yang tepat untuk mencerdaskan mereka di bidang pendidikan. Tujuanya agar tidak tertinggal dengan anak-anak yang lain. Di mana saat ini belajar daring menjadi trend dan sangat beruntung bagi mereka yang mendapat pelayanan akses pendidikan secara online.
Di akhir pemaparan program mereka, Br.Yohanes De Deo sebagai komisioner bidang budaya menegaskan: bahwa budaya tentang persahabatan dan keramahtamahan terhadap lingkungan tak jemu jemu untuk menggali dan menghadirkanya lagi saat ini. Hal ini dapat diperlihatkan dalam bentuk tampilan virtual seni budaya di publik pada hari peringatan ekologi dunia. Br Deo juga tetap bekerja sama dengan tokoh-tokoh adat untuk berdikusi bersama masalah krusial dalam lingkungan hidup saat ini. Menurut dia, gagasan dari masyaratkan bawah (baca:lokal) membuka peluang budaya ekologi dalam mengembangkan kearifan local. Strategi demikian, sebagai pantulan dalam lanscape JPIC MTB di Kualadua saat ini. Ungkap bruder Deo dengan tegas.
Pengurus JPIC bruder MTB, menjadi gerbang untuk bisa bersinergi dalam pelaksanaanya secara real di komunitas karya masing-masing. Mereka memberi tugas kepada para saudara untuk membuat rekomendasi dengan perwujudan gerakan JPIC MTB; yang tidak hanya sampai pada kajian teori saja. Akan tetapi, dapat dilaksanakan secara nyata di mana ia berkarya. Hari studi ini disempurnakan materi yang dibawakan oleh Pastor Fridus, OFM. Nara sumber secara khusus membicarakan diskursus tentang pemahaman JPIC Fransiskan, dasar teologis, program, strategis maupun struktur yang jelas JPIC agar betul-betul sebagai karya kongregasi. Selamat untuk kita semua yang tidak jemu-jemu menghijaukan lingkungan kita secara arif, inovatif dan kreatif. Pace e Bene.