Tinjauan Misi Peradaban Para Misionaris Di Kalbar

I: PENDAHULUAN
Hidup manusia merupakan suatu garis sejarah yang tidak terputuskan. Setiap garis sejarah itu harus dialami, dirasakan dan dilalui dalam tiga lingkaran, yakni kelahiran, kehidupan dan kematian. Pada tahap kehidupan manusia mempunyai pengalaman dalam perkembangan peradaban. Sejarah peradaban itu merupakan peristiwa proses perkembangan manusia dari berbagai aspek, yakni pendidikan, pengetahuan, sosial, sifat atau tingkah laku, kebudayaan, agama dan lain sebagainya.
Melalui kajian pascakolonial, penulis mengangkat sejarah misi peradaban yang dibawakan oleh para misionaris Eropa di Borneo Kalimantan Barat tepatnya di Kota Singkawang dan Pontianak. Di sini penulis, secara khusus mendeskripsikan tentang nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para misionaris. Adapun misionaris tersebut adalah para Pastor OFM Cap (Ordo Fraturum Minorum Capuccionem) atau Ordo Saudara-Saudara Dina Kapusin Minororem dari Capusin), Bruder MTB (Maria Tak Bernoda) , Suster SFIC (Soroum Fransciscalium AB Immaculata Conceptione A Beata Matre Dei) atau Kongregasi Suster Fransiskus Dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah. Para Misionaris tersbut, berasal dari Belanda bersama-sama membawa misi kemanusian di bidang agama, pendidikan, kesehatan dan karya karitatif lainnya pada zaman kolonial.
Selain itu, pada saat bersamaan bidang misi, para misionaris Imam OFMCap menyebarkan ajaran agama Katolik yang mana penduduk sebelumnya sudah menganut agama asli untuk suku dayak dan etnis Tionghoa jauh sebelumnya sudah berkeyakinan agama nenek moyang dari Tiongkok. Selain itu, perlu diketahui untuk Kalimantan Barat suku yang terbesar adalah suku Dayak. Sebutan kata “Dayak” adalah sebutan yang umum di Kalimantan. Bahkan di seluruh Indonesia, setiap orang mendengar kata “Dayak” sudah tentu pandangannya tertuju kepada salah satu suku di Indonesia yang mendiami Kalimantan. Apakah arti kata “Dayak” itu sebenarnya. Rahmat dan R. Sunardi mengatakan kata “Dayak” adalah suatu perkataan untuk menamakan stam-stam yang tidak beragama Islam yang mendiami pedalaman Kalimantan. Istilah ini sendiri diberikan oleh bangsa Melayu di pesisir Kalimantan yang berarti gunung.
Dalam tulisan ini, penulis akan menggali dan meninjau perkembangan peradaban di kota Singkawang dan Pontianak khususnya perkembangan peradaban dari perspektif orang lokal dimana dapat digali kembali perspektif yang hilang dan yang sudah terkontruksi oleh para misionaris. Namun, sampai saat ini masih membekas bagi masyarakat Singkawang dan itu menjadi sejarah peradaban yang menarik dan selalu diceritakan secara turun-temurun misalnya: proses penampungan anak-anak di asrama dengan gaya belanda, membuka pendidikan formal dengan nama Belanda dan China: Holland Chinese School (HCS). Selain itu, pola kebiasaan beragama yang diwaris oleh misionaris saat ini masih dipelihara dengan baik. Contohnya: bentuk bangunan gereja, berliturgi eropasentris, pakaian liturgi, gaya lagu hingga berpakaian dan tata cara sikap menyembah Allah .
Dari pemaparan singkat di atas, menurut penulis, jelas bahwa warisan-warisan kolonialisme itu banyak dan beragam meski memiliki aspek-aspek penting yang sama. Hal ini secara jelas diungkapan oleh J. Jorge Klor de Alva dalam tulisan Ania Loomba (2000:12), pengalaman atas eksploitasi kolonial itu tergantung pada posisinya di dalam hierarki :
Di kebanyakan tempat, para penduduk aslinya, yang secara logis mengelompokan diri menjadi unit-unit kultural terpisah (yaitu: etnisitas), boleh dikatakan hampir-hampir lenyap setelah kontak, disapu secara fisis oleh penyakit, dan perlakuan kejam, dan kemudian secara genetis dan sosial oleh perkawinan campuran dan akhirnya secara kultural oleh praktik-praktik religious dan politis orang-orang Eropa dan keturunan campuran mereka. Bahkan di daerah-daerah di mana penduduk pribumi survive sebagai kelompok-kelompok fisis dalam komunitas-komunitas mereka sendiri yang sudah sangat berubah, terutama dalam wilayah-wilayah “inti” di Amerika Tengah dan Pegunungan Andes, dalam dua atau tiga generasi mereka menjadi sangat berkurang jumlahnya dan secara politis dan sosial terpinggirkan dan pusat-pusat kekuasaan baru. Maka tidak mengherankan bilamana mereka yang lepas dan orbit komunitas-komunitas pribumi, tetapi secara sosial dan ekonomis masih bersentuhan dengan orang-orang yang terampas ini, akan menjauhkan diri dari orang-orang ini bilamana mungkin. (1995:243)
Pendapat dari tokoh di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa berbicara tentang kolonialisme tidak menyangkut hanya soal kekerasan fisik tetapi menyangkut seluruh kehidupan manusia. Maka wacana pascakolonial pun tidak cocok untuk mereka yang menjadi korban saja, karena biasan kolonial itu tidak pernah berakhir dalam mindset dan ideologi manusia sampai saat ini. Maka akibatnya ketika berbicara orientalisme dari Barat ke Timur tidak sadar juga masyarakat sedang berorientalisme Timur berhadapan Timur. Dengan kata lain terjadi neokolonialisme antara Timur dan Timur.
Misi peradaban yang dibawa oleh misionaris meskipun lebih pada misi kemanusiaan dan agama, tetapi wacana yang disampaikan juga termasuk kolonialisme. Untuk memahami demikian, penulis menggunakan pendekatan “deskriptif analistis”, yaitu untuk bisa membedakan cara memahami “Kolonial” dan “Kolonialisme”. Kolonial lebih pada kekerasan fisik yang terjajah oleh penjajah. Sedangkan kolonialisme menjajah dengan ideologi yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia. Maka misionaris meskipun kehadiran mereka tidak tertunggang oleh kolonial, namun sadar tidak sadar pola pemikiranya dan gaya pendekatanya masuk dalam wilayah kolonialisme. Aturan dan cara mereka bermisi harus taat pada penguasa yakni pemerintah, yang waktu itu dikuasai oleh orang Eropa. Rasa nasionalisme sesama ras pun bisa terjadi dalam hukum ketaatan yang belaku pada zaman tersebut.
Beranjak dari pemikiran di atas, maka penulis mengambil judul “Tinjauan Misi Peradaban Para Misionaris Di Kota Singkawang dan Pontianak Kalimantan Barat.”

II: PEMBAHASAN
Setelah penulis membahas sekelumit lintasan sepak terjang misi peradaban para misionaris pada pendahaluan, maka pada bagian ini penulis membahas dengan empat (4) pokok bagian, yaitu (A) Pengertian Peradaban dan Pascacolonial dari berbagai sumber, (B) Sejarah Singkat Misi di Singkawang dan Pontianak (C) Sejarah Peradaban dari Misi Evangelisasi-Gereja dan Karya Pendidikan (D) Refleksi singkat Penulis dari proses Peradaban Dalam Kajian Pascakolonial. Berikut ini penulis akan membahasnya secara singkat dan proposianal.
A. Pengertian Peradaban dan Pascacolonial
1). Peradaban.
Pengertian peradaban penulis mengutip dari berbagai sumber . Banyak pendapat para ahli yang mendefinisikan pengertian peradaban. Secara umum, “Peradaban” adalah bagian-bagian dari kebudayaan yang tinggi, halus, indah, dan maju. Sedangkan, pengertian peradaban yang lebih luas adalah kumpulan sebuah identitas terluas dari seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya maupun iptek), yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subjektif. Istilah “peradaban” dalam bahasa Inggris disebut civilization atau dalam bahasa asing lainnya peradaban sering disebut bescahaving (Belanda) dan die zivilsation (Jerman).
Istilah “Peradaban” ini sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian manusia pada perkembangan dari kebudayaan dimana pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya yang berwujud unsur-unsur budaya yang halus indah, tinggi, sopan, luhur, dan sebagainya. Maka dari itu, masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi.
Selain itu, penulis juga mengutip beberapa pengertian peradaban yang didefinisikan oleh para ahli. Pengertian “Peradaban” menurut definisi para ahli, berasal dari berbagai kesulitan-kesulitan dalam memberikan definisi peradaban, sehingga banyak yang memberikan tanggapannya tentang pengertian peradaban sesuai pengalaman perjumpaan mereka dalam masyarakat tertentu, seperti berikut ini.
Arnold Toynbee. Arnol Toynbee dalam bukunya “The Disintegrations of Civilization” dalam Theories of Society, (New York, The Free Press, 1965), menyatakan peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf perkembangan teknologi yang sudah lebih tinggi. Pengertian lain menyebutkan bahwa peradaban adalah kumpulan seluruh hasil budi daya manusia, yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik fisik (misalnya bangunan, jalan), maupun non-fisik (nilai-nilai, tatanan, seni budaya, maupun iptek).
Albion Small. Menurut Albion Small Peradaban adalah kemampuan manusia dalam mengendalikan dorongan dasar kemanusiaannya untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Sementara itu, kebudayaan mengacu pada kemampuan manusia dalam mengendalikan alam melalui ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Albion Small, yang mengatakan bahwa peradaban berhubungan dengan suatu perbaikan yang bersifat kualitatif dan menyangkut kondisi batin manusia, sedangkan kebudayaan mengacu pada suatu yang bersifat material, faktual, relefan, dan konkret.
Bierens De Hann. Menurut pendapat Bierens De Hann yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian peradabadan yang memiliki arti bahwa peradaban adalah seluruh kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan teknik. Jadi, peradaban memiliki kegunaan praktis dalam hubungan kemasyarakatan.
Huntington. Huntington memberikan pendapatatnya mengenai definisi peradaban bahwa pengertian peradaban adalah sebuah identitas terluas dari budaya, yang teridentifikasi melalui dalam unsur-unsur obyektig umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subyektif. Berangkat pada definisi ini, maka masyarakat Amerika-khususnya Amerika Serikat dan Eropa yang sejauh ini disatukan oleh bahasa, budaya, dan agama dapat diklasifikasikan sebagai satu peradaban, yakni peradaban barat.
Alfred Weber. Menurut definisi Alfred Weber yang mengatakan bahwa pengertian peradaban adalah mengacu pada pengetahuan praktis dan intelektual, serta sekumpulan cara yang bersifat teknis yang digunakan untuk mengendalikan alam. Adapun kebudayaan terdiri atas serangkaian nilai, prinsip, normatif, dan ide yang bersifat unik. Aspek dari peradaban lebih bersifat kumulatif dan lebih siap untuk disebar, lebih rentan terhadap penilaian, dan lebih berkembang daripada aspek kebudayaan. Peradaban bersifat impersonal dan objektif, sedangkan kebudayaan bersifat personal, subjektif dan unik.
Prof Dr. Koentjaraningrat. Koentjaraningrat berpendapat bahwa peradaban adalah bagian-bagian yang halus dan indah seperti seni. Masyarakat yang telah maju dalam kebudayaan tertentu berarti memiliki peradaban yang tinggi. Istilah peradaban sering dipakai untuk menunjukkan pendapat dan penilaian kita terhadap perkembangan kebudayaan dimana pada waktu perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya berwujud unsur-unsur budaya yang bersifat halus, indah, tinggi, sopan, luhur dan sebagainya maka masyarakat pemilik kebudayaan tersebut dikatakan telah memiliki peradaban yang tinggi.
Oswald Spengler. Spengler berpendapat bahwa pengertian peradaban adalah kebudayaan yang telah mencapai taraf tinggi atau kompleks. Terlebih lagi Spengler menyatakan bahwa peradaban adalah tingkat kebudayaan ketika telah mencapai taraf tinggi dan kompleks. Lebih lanjutnya lagi, Spengler menyatakan bahwa peradaban adalah tingkat kebudayaan ketika tidak lagi memiliki aspek produktif, beku, dan mengkristal. Adapun kebudayaan pada sesuatu yang hidup dan kreatif.
Setelah memahami pengertian peradaban oleh para ahli, perlu juga memahami berdasarkan ciri-ciri umum peradaban-peradaban yang memiliki ciri-ciri atau karakteristik yang berfungsi dalam memperjelas peradaban dan juga berfungsi dalam membedakan peradaban dan kebudayaan. Dimana dapat diketahui bahwa banyak dari masyarakat yang menganggap bahwa peradaban dan kebudayaan sama. Padahal peradaban dan kebudayaan tersebut sangat berbeda. Maka dari itu, ciri-ciri peradaban sangat membantu dalam membedakan antara peradaban dan kebudayaan. Adapun ciri-ciri umum sebuah peradaban adalah sebagai berikut:
Pembangunan kota-kota baru dengan tata ruang yang baik, indah, dan modern
Sistem pemerintahan yang tertip karena terdapat hukum dan peraturan.
Berkembangnya beragam ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih maju seperti astronomi, kesehatan, bentuk tulisan, arsitektur, kesenian, ilmu ukur, keagamaan, dan lain-lainnya.
Masyarakat dalam berbagai jenis pekerjaan, keahlian, dan strata sosial yang lebih kompleks.
Sedangkan menurut sejarah, peradaban berawal dari “Peradaban Punisia.” Bangsa di Timur Tengah yang berbahasa Semit pada zaman purba bergerak ke arah Barat dan menempati pantai Laut Tengah sebelah Timur. Pada tahun 1250 SM bangsa Punisia sudah menetap sebagai ahli pelayaran dan sebagai saudagar. Mereka membina negara-negara kota dan mendirikan kota-kota pangkalan terdepan (yang terkenal Utika dan Kartago); berlayar dan meniaga ke seluruh Pantai Laut Tengah, bahkan sampai ke Laut Atlantik. Mereka sudah dapat membuat pelbagai barang gelas dan logam, terkenal sebagai ahli tenun, tukang cat/celup dan ahli bangunan. Sumbangan mereka yang terbesar untuk umat manusia adalah abjad, buah pikiran yang diambil oleh bangsa Yunani. Kebangkitan bangsa Parsi dan Yunani menghancurkan kekuatan mereka di lautan dan kebudayaan Yunani akhirnya menghilangkan galur-galur Peradaban Punisia.
Berdasarkan pendapat para ahli tentang pengertian dan sejarah peradaban tersebut, penulis sebagai perpektif orang lokal dapat menyimpulkan banyak pandangan yang bersifat nilai positif dari misi peradaban yang dibawah oleh kolonial. Di mana masing-masing kolonial berusaha untuk mengusahakan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat terhadap suku-suku yang terasing. Namun, menurut Gramsci peran pemimpin dan kekuatan di dalam suku-suku/kelas bawah harus ditampak dalam budaya tanding agar tidak teralineasi dari bangsa-bangsa yang menjajah kepada bangsa yang terjajah. Peran pemimpin menjadi pioner bisa mengimbangi rekontruksi dari pihak kelas atas atau orang-orang bertaraf maju dalam masyarakat tertentu. Maka dari itu, penulis meminjam konsep Gramsci berikut ini:
The supremacy of a social group manifest itself in two ways, as ‘domination’ and as ‘intellectual and moral leadership’ A social group dominates antagonistic group, which it tends to ‘liquidate’, or to subjudgate perhaps even by armed force; it leads kindred and allied groups. A social group can, indeed must, already exercise ‘leardership’before winning governmental power (this indeed is one of the principal conditions for the winning of such power); its subsequently becomes dominant when it exercises power, but even if it holds it firmly in its grasp, it must continue to ‘lead’ as well (Gramsci, 1976;57-58).  Artinya Supremasi sebuah kelompok mewujudkan diri dalam dua cara, sebagai “dominasi” dan sebagai ’kepemimpinan intelektual dan moral.’ Dan disatu pihak, sebuah kelompok sosial mendominasi kelompok-kelompok oposisi untuk “menghancurkan” atau menundukan mereka, bahkan mungkin dengan menggunakan kekuatan senjata;dilain pihak, kelompok sosial memimpin kelompok-kelompok kerabat dan sekutu mereka. Sebuah kelompok sosial dapat dan bahkan harus sudah menerapkan “kepemimpinan” sebelum memenangkan kekuasaan pemerintahan (kepemimpinan tersebut merupakan salah satu dari syarat-syarat utama untuk memenangkan kekuasaan semacam itu). Kelompok sosial tersebut kemudian menjadi dominan ketiak dia mempraktekan kekuatan, tapi bahkan bila dia telah mememgang kekuasaan penuh di tangannya, dia masih harus terus “memimpin” juga (Gramsci, 1976;57-58).
Kutipan di atas jelas menunjukkan suatu totalitas yang didukung oleh kesatuan dua konsep: kepemimpinan (direction) dan dominasi (dominance). Hubungan konsep kedua ini menyiratkan tiga hal. Pertama, dominasi dijadikanlah atas seluruh musuh, dan kepemimpinan dilakukan kepada segenap sekutu-sekutu. Kedua, kepemimpinan adalah suatu prakondisi untuk menaklukan aparatus negara, atau dalam pengertian sempit kekuasaan pemerintahan. Ketiga, sekali kekuasaan negara dapat dicapai, dua aspek supremasi klas ini, baik pengarahan ataupun dominasi, terus berlanjut.
Hubungan dari dua momen ini, dapat disebutnya sebagai ‘perspektif ganda’ dari negara dan kehidupan politik adalah sangat penting dalam pemikiran Gramsci. Dalam berbagai levelnya, hal itu digambarkan oleh Gramsci secara teoritis: Two fundamental levels, corresponding to the dual nature of Machiavell’s Centaur-half animal and half-human. They are the levels of force and of consent, authority and hegemony, violence and civilization, of the individual momen and of the universal moment (“Church” and “State”), of agitation and of propaganda, of tactics and of strategy, etc. (Gramsci, 1976:169-170).  (Dua tingkat fundamental, sesuai dengan dwi hakikat dari Centaurus-nya (manusia-kuda dalam mitologi Yunani-Pen.) Machiavelli, yaitu: setengah hewan dan setengah manusia. Di sana ada dua tingkatan yaitu tentang kekuatan dan persetujuan, tentang kewenenangan dan hegemoni, kekerasan dan peradaban, momen pribadi dan momen universal (“Gereja’ dan “Negara’), agitasi dan propaganda, tentang taktik dan strategi, dll.)

2) Pascakolonial
Pengertian kata “Pascakolonial”, penulis mengutip dari bahan bacaan pasckolonial tulisan Ania Lomba yang menjadi rujukan dalam tulisan ini. Pascakolonialitas adalah kondisi masyarakat yang terjadi akibat peristiwa-peristiwa historis tertentu, yaitu akibat penjajahan (kolonialisme). Kajian Pascakolonial/ pascakolonialisme adalah bidang studi yang mengkaji berfokus pada usaha memahami dan menjelaskan kondisi tersebut. Kolonialisme (colony) dapat juga diartikan sekelompok manusia berpindah tempat dari negeri asal mereka ke tempat yang baru, lalu menetap di sana (membentuk koloni).
Dalam kisah dari perspektif Eropa (eurosentris), muncul kesan, seakan-akan tanah baru itu kosong/belum ada yang punya/ belum terurus (contoh: penemuan benua Amerika oleh Columbus 1492). Pada kenyataannya, umumnya sudah ada orang yang tinggal di tanah tempat baru tersebut, sehingga pendirian koloni terjadi disertai kekerasan, penipuan, dan penindasan. Maka dari peristiwa sejarah ini pengembangan pemahaman kata “Kolonialisme” mencakup:pengambilalihan teritori (settlement), eksploitasi/pengembangan sumber alam dan usaha memerintah dan memanfaatkan penduduk lokal.

B.Sejarah Singkat Misi Peradaban di Singkawang dan Pontianak
Ketika Tahta Suci menyerahkan tugas misi di Kalimantan Barat (baca Borneo) kepada Propinsi Negeri Belanda, maka kegiatan misi di Kalimantan tidak dapat dipisahkan dengan semangat Santo Fransiskus Assisi yang mengutamakan kerendahan hati, kemiskinan dan cinta kasih.
Semua saudara hina dina Kapusin yang mengikuti jejak pendiri, menjalankan misi dalam karya amal dan sosial. Evangelisasi sebagai tujuan hakiki pewartaan Injil menghadirkan Kristus sebagai Juru Selamat. Pembawa kabar baik yang sanggup mengubah bathin semua golongan manusia. Dia menjadikan manusia baru, bersemangat dan bebas dari cengkeraman yang mengakibatkan kondisi-kondisi dan struktur-struktur yang tidak layak bagi manusia. Selain itu, kehadiran misionaris ini terlibat dalam karya pendidikan dengan mendirikan sekolah, asrama dan Rumah sakit. Jadi Gereja melaksanakan karya pastoral bersamaan dengan karya amal dan sosial.
Selanjutnya, penulis akan memaparkan proses kegiatan misi peradaban yang dibawa oleh para misionaris dengan mengutip dari buku kenangan misionaris 100 Tahun berkarya di Pontianak dan sekitarnya.
1) Masa Awal Karya Misionaris di Kalimantan
“Borneo”, nama sebuah pulau yang dikenal sungguh baik, unik dan eksotik karena memiliki hutan belantara yang lebat, yang dihuni oleh berbagai binatang. Kelebihan flora dan dan fauna Borneo mendorong keinginan para penjajah dari belahan dunia lain untuk datang menelusuri hutan-hutan yang masih perawan, mencari kekayaan alam untuk dibawa kembali ke tempat asalnya sebagai komoditas-komoditas ekonomis yang menguntungkan. “Borneo” yang disebut Kalimantan, sebuah pulau yang menyimpan begitu banyak kekayaan alam. Dengan bentangan luas 746.305 km2, dan Kalimantan merupakan pulau terbesar ketiga di dunia setelah Greenland dan Papua.
Sejarah mencatat, manusia modern dari kelompok homosapien sudah ada di pulau Kalimantan sejak 38.000 sampai 40.000 tahun lalu. Penemuan tengkorak manusia di Gua Niah oleh Tom Harrison merupakan identifikasi yang sangat berharga untuk dunia arkeologi di pulau Kalimantan. Sejarah juga mencatat, Kutai di Kalimantan Timur menjadi awal mula sejarah Kerajaan Hindu tertua di Indonesia.
Sekitar abad ketujuh, orang Tionghoa mulai menetap di Kalimantan. Mereka memelihara warisan tradisi dan kebudayan leluhur. Pada tahun 1292 pasukan Kubilai Khan dalam perjalanannya untuk menghukum Raja Kertanegara dari Majapahit di Jawa singgah di Pulau Karimata yang terletak tidak jauh dari Pontianak. Sumber lain menyebutkan, masyarakat Tionghoa diperkirakan mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming (1368-1643). Manuskrip (tulisan tangan) berhuruf kanji menyebutkan bahwa kota yang pertama dikunjungi adalah Banjarmasin. Peninggalan masyarakat Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti piring malawen, belanga (guci) dan peralatan keramik (bdk. Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977-1978).
Memasuki abad ke-16 kapal-kapal asing dari belahan Barat mulai intesif, berlayar ke dalam perairan Pulau Kalimantan. Bersamaan dengan para pendatang asing, datang pula misionaris Katolik untuk evangelisasi. Tergabung di dalam ordo Theatijn di Goa, misionaris Portugis ikut serta belayar bersama para penjajah Portugis masuk ke Kalimantan. Perjalanan misionaris ini dimungkinkan karena pada saat itu Portugis mendirikan sebuah benteng di Banjarmasin dan menjadikannya alasan bagi ordo Theatijn untuk mengirimkan misionarisnya ke Kalimantan (bdk. Buku kenangan MSF 100 tahun dan karyanya di Kalimantan, hal.37). Pater Antonius Ventimiglia berangkat dari Pelabuhan Goa pada tanggal 5 Mei 1687. Setelah berlayar sekitar 9 bulan mengarungi lautan lepas dan singgah di beberapa kota pelabuhan, tanggal 2 Februari 1688 kapal yang ditumpangi Pater Ventimiglia belabuh di perairan Banjarmasin. Mulai masa inilah misi Katolik berkarya di Pulau Kalimantan. Pater Ventimiglia kembali bersama kapal yang ditumpanginya ke Macau pada akhir bulan Mei tahun itu atas desakan kapten Kapal karena pada waktu itu tidak ada penumpang kapal yang mau menemaninya untuk tinggal di Banjarmasin. Pada tanggal 8 Januari 1689, ia kembali lagi ke Banjarmasin untuk memulai karya evangelisasinya (1974:339). Sebelum kedatangan Pater Ventimiglia sebenarnya beberapa tahun sebelumnya tercatat dalam arsip dan laporan ordo Fransiskan, sesoramg pastor Fransiskan telah datang ke Pulau Kalimantan pada tahun 1313.

2). Karya Misi di Kalimantan Barat
Di daratan belahan pulau Kalimantan, walaupun masih relatif baru, para misionaris Katolik giat melakukan evangelisasi. Belahan Barat seluas 146.760km2 ini menjadi daerah tujuan para misionaris Katolik. Sejarah misi Katolik di Kalimantan Barat terekam dalam laporan-laporan para misionaris ordo Jesuit mereka melakukan perjalanan hingga ke daerah pedalaman Kalimantan Barat.
Laporan-laporan selanjutnya diperoleh dari Pater Van der Grinten. Pada tahun 1862 ia berkeliling mengunjungi orang-orang suku Dayak di daerah pedalaman. Misionaris ini menyelidiki kemungkinan-kemungkinan untuk upaya misi masuk ke Kalimantan Barat. Walaupun laporan dari Pater van der Grinten bernada optimis. Namun, tindak lanjut dari hasil kunjungannya itu tidak pernah dilakukan. G.Vriens, SJ dalam bukunya menulis bahwa selain faktor tenaga imam yang sangat sedikit, situasi Kalimantan Barat pada waktu itu tidak aman. Kondisi ini disebabkan seringkali terjadi pertentangan-pertentangan antara pemerintah Belanda dengan kongsi-kongsi. Arti kata “kongsi” di sini dipahami sebagai suatu komunitas yang dibentuk dengan kemauan bersama yang demokratis di kalangan masyarakat Tionghoa yang datang dari Tiongkok dan bermukin di wilayah yang saat ini masuk dalam wilayah Kabupaten Sambas, Kota Singkawang dan Kabupaten Bengkayang.
Komunitas ini dibentuk berdasarkan tempat asal mereka di daratan Tiongkok. Kongsi ini dikelola layaknya seperti sebuah negara yang memiliki struktur pemerintahan yang lengkap disertai dengan pasukan bersenjata. Di Kalimantan Barat kongsi yang pertama dibentuk adalah Lanfong. Pendiri kongsi adalah Lo Fing Pak. Ia mendarat di Kalimantan Barat tahun 1772 (Benny G.Setiono, 2003:189). Pertentangan ini terjadi seringkali menimbulkan korban jiwa. Pada waktu itu, karya misi mengalami hambatan. Selain pertentangan dengan pemerintahan Hindia Belanda, ketidakselarasan antara penguasa-penguasa lokal (kesultanan) dengan kongsi-kongsi juga ditengarai menjadi penyebab stagnannya perkembangan misi di Kalimantan Barat.
Pada tanggal 7 Mei-12 Juli 1874, Pater de Vries, SJ dan Pater Staal, SJ, misionaris dari Batavia (Jakarta) ini mengunjugi Pontianak, Sintang, Bengkayang, Sambas, Pemangkat, Singkawang dan Montrado. Dalam perjalanannya itu Pater de Vries melaporkan bahwa ada sejumlah tentara yang beragama Katolik dan 30 orang Eropa yang tetap melaksanakan kegiatan rohaninya. Lebih lanjut dilaporkannya bahwa di Singkawang terdapat 51 umat Katolik Tionghoa yang beragama Katolik. Demikian juga di Montrado. Untuk ketiga tempat terakhir ini, Pater de Vries mengangkat seorang katekis yang dalam bahasa Tionghoa setempat disebut dengan sinsang yang ditugaskan untuk mengajar agama pada masyarakat setempat.
Perkembangan karya misi di Kalimantan barat saat itu mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pada tahun 1885, Singkawang ditetapkan sebagai Stasi dengan cakupan wilayah Kalimantan Barat termasuk Belitung. Saat itu, Pater W.J.Staal, SJ ditetapkan sebagai pastor pertama Singkawang (Pater Stall, SJ kemudian ditunjukan sebagai Vikaris Apostolik Jakarta). Pater Staal, melayani ± 6 rang Katolik Tionghoa. Misionaris dari ordo Jesuit ini tidak saja menjangkau orang Tionghoa yang pada umumnya tinggal di daerah pesisir, akan tetapi karya misi juga masuk ke daerah pedalaman yang dihuni oleh orang-orang suku Dayak.
Sebagai penjangkauan orang-orang suku Dayak, Pater Staal mengambil langkah utama menetapkan kampung Sebalau yang masuk wilayah stasi Singkawang sebagai basis utama pelayanan misi. Dari basis ini, karya misi menjangkau daerah pedalaman Sambas, Bengkayang dan daerah-daerah sekitarnya. Kemudian atas permintaan Residen van Pontianak Gijsbers, Pastor Staal; juga mengunjungi kawasan-kawasan lainnya.
Dengan menggunakan transportasi air, Pastor Staal menyelusuri sungai Kapuas sampai Semitau untuk mengunjungi pemukiman masyarakat suku Dayak Rambai, Sebruwang dan Kantuk. Mengingat jumlah masyarakatnya 1.500 orang dan perjalanan yang sulit serta tenaga imam yang terbatas. Pater Staal memutuskan untuk sementara waktu hanya melayani masyarakat suku Dayak di daerah Sebalu (Bengkayang).
Karya pewartaan misi di kalangan suku-suku Dayak di daerah pedalaman Kalimantan Barat mengalami masa-masa yang tidak menentu. Kondisi ini timbul karena jauhnya jarak tempuh yang harus dilalui dengan transportasi air serta kondisi-kondisi lainnya yang turut memperparah keadaan, dan keterbatasan tenaga imam, maka karya penginjilan bagi suku-suku Dayak di pedalaman ditunda sampai pada tahun 1888-1889. Pada saat terdengar bahwa Zending Protestan akan melakukan karya penginjilan mereka dan kalau itu terjadi maka akan tertutup kemungkinan karya misi dapat masuk ke daerah tersebut, maka diutuslah Pater H. Looymans, pastor yang berkarya di Padang, yang pada tanggal 29 Juli 1890 tiba di Kalimantan Barat untuk melakukan tugas misi di pedalaman Kalimantan Barat. Ketika ia mengamati daerah Semitau, ia berkesesimpulan bahwa Semitau adalah pusat perdagangan dari daerah sekitarnya. Penduduk yang mendiami Semitau ini adalah masyarakat suku Melayu dan Tionghoa. Kontak langsung kepada masyarakat suku Dayak yang berada di pedalaman hampir tidak mungkin dilakukan. Mengamati hal-hal tersebut, Pater H. Looymans memutuskan untuk memindahkan pusat kegiatan misinya ke Sejiram. Atas bantuan penduduk Sejiram yang ramah, Pater H. Looymans mendirikan rumah sederhana pada sebuah puncak bukit yang kecil. Pada akhir Januari 1891, rumah tersebut siap untuk dihuni. Buah Karya penggembalaan Pater H. Looymans adalah tujuh orang murid pertama dipermandikan dalam bulan Desember 1892.
Karya penggembalaan terus-menerus dilakukan oleh Pater H. Looymans.Silih berganti masalah yang dihadapi tidak menyurutkan hasrat untuk melakukan penggembalaannya. Ia melakukan kunjungan ke daerah-daerah lain, baik dengan sarana angkutan air maupun berjalan kaki. Perjalanan yang ditempuhnya sampai ke Nanga Badau, daerah perbatasan Kalimantan bagian Utara yang dikuasai oleh Inggris waktu itu. Ia mempermandikan 40 orang anak di tempat itu.

C. Sejarah Peradaban dari Misi bagi Evangelisasi Gereja dan Karya Pendidikan
1) Misi Evangelisasi (Injil) dan Gereja
Pada tanggal 18 Februari 1905, Prefektur Apostolik Borneo didirikan. Refektur Apostolik ini mencakup seluruh Pulau Kalimantan yang dikuasai oleh pemerintahan Hindia Belanda dan Prefektur ini dipercayakan kepada Ordo Kapusin. Para biarawan dari ordo Kapusin Belanda mendapat tugas untuk segera mengisi kekosongan karya Misi di Kalimantan Barat. Pada tanggal 25 Mei 1905, Pastor Pacificus Bos, OFMCap., sebagai Prefek Apostolik Borneo diterima oleh Bapa Suci Paus Pius ke-X dalam audiensi di Roma dan ia mendapat berkat khusus dari Bapa Suci.
Bagaikan petani yang sudah bersiap-siap untuk menuai padi yang telah menguning, para Kapusin dan bahkan warga masyarakat Belanda menyambut dengan sangat antusias berita ini. Maka pada tanggal 28 April 1905, ditetapkan para misionaris yang utus menuju misi di Kalimantan Barat dengan usia masih produktif dari 28 – 40 tahun, yang terdiri dari 4 orang Pastor dan 2 orang Bruder. Pada tangal 17 Oktober 1905, pukul 08.00 didahului misa yang dipersembahkan oleh Pastor Pacificus Bos. Ratusan masyarakat Tilburg di bawah pimpinan walikota melepas para misionaris Kapusin Belanda menuju daerah yang sama sekali belum pernah mereka injak. Berbekal semangat pelayanan yang dibalut dengan iman dan ketulusan untuk bekerja di ladang Tuhan, mereka memulai perjalanan dengan menumpang Kereta Api menuju kota Marseille melalui kota Paris. Kemudian menggunakan kapal Laut Perancis pada tanggal 21 Oktober 1905 mereka belayar mengarungi lautan dan tiba di Singapura pada tanggal 18 November 1905.
Selanjutnya mereka melanjutkan perjalanan selama dua hari menuju Batavia. Mereka belayar 2 hari menuju Pontianak dan dengan kapal lain para misionaris menuju ke Singkawang. Kemudian beberapa minggu mereka mempelajari bahasa Melayu dan Tionghoa sebagai bahasa sehari-hari bagi masyarakat Singkawang. Sekitar 300 orang umat Katolik menjemput mereka dengan tari-tarian khas budaya setempat.
Para misionaris ini ditemani oleh seorang Katekis/guru agama katolik bernama Tshang A Kang yang sudah lebih 10 tahun ikut menyebar agama Katolik ke pedalaman, sekaligus menterjemahkan bahasa. Adapun kisah-kisah menarik yang mewarnai perjalanan awal karya mereka sebagai misionaris Kapusin di Singkawang dan Pontianak.
Singkawang
Pada awal mulanya mereka mengalami kesulitan bahasa ketika bertemu dengan penduduk lokal. Budaya dan bahasa yang berbeda sulit dimengerti satu sama lainnya menyebabkan banyak kejadian yang lucu. Salah satunya seperti yang disampaikan oleh Pastor Bart Jansen dalam tulisananya “Kuntum Coklat di Tengah Belantara Borneo” (Bart J.2005:9).
Saat para misionaris melakukan perjalanan untuk mempermandikan seorang anak, mereka melihat seorang warga suku Dayak berjalan ke arah mereka dengan membawa Mandau (parang). Saat itu, pastor mulai khawatir dan agak panik karena menyangka kalau orang ini tiba-tiba menyerang mengayu kepalanya. Pastor mulai mengambil sikap hati-hati dengan mulai berjalan ke arah tepi untuk menghindari orang tersebut. Keadaan yang sama terjadi pada orang yang dicuriga tersebut, yang juga mengambil jalan ke arah sisi tepi bagian seberangnya.
Jubah pastor yang coklat tua hampir menutupi seluruh badan kecuali kepala dan jenggot yang panjang. Rupanya menimbulkan rasa takut juga karena menghindar terlalu ke pinggir sisi jalan, akhirnya orang Dayak ini jatuh ke dalam parit. Kejadian yang lucu itu akhirnya membuahkan persahabatan yang erat antara misionaris dengan orang-orang suku Dayak yang dengan ramah menerima kunjungan mereka. Setiap kunjungan pastor dikampung-kampung oleh suku Dayak disambut dengan ramah. Anak-anak datang mengerumuni para pastor. Di samping itu, mulai dibangun gereja-gereja kecil dipelbagai tempat. Secara berkala misionaris mendatangi gereja-gereja tersebut untuk mempersembahkan misa dan mengajar baca tulis sambil mewartakan Kristus bagi mereka.

2) Pontianak
Karya misionaris di Pontianak mempunyai misi yang sama untuk menyebarkan Injil, Pendidikan, kesehatan dan karya sosial atau kemanusiaan lainya. Kota Pontianak terletak pada lintasan garis khatulistiwa dengan ketinggian antara 0,10 meter sampai 1,50 meter di atas permukaan Laut. Pada tahuan 1906 Penduduk kota ini, berjumlah sekitar 18.000 orang. Kota ini dilintasi oleh sungai Kapuas besar, sungai Kapuas kecil dan sungai Landak. Kota ini terbagi dalam tiga belahan sungai, berhulu di daerah Kapuas Hulu melewati kota Putussibau.
Pada awal abad 20, Kalimantan Barat berada dalam kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda (ada beberapa kawasan menjadi wilayah kekuasaan kesultanan) dan Pontianak menjadi pusat pemerintahan. Pusat pemerintahan Hindia Belanda berada di seberang dari pusat kekuasaan Kesultanan Kadariah Pontianak. Pada masa itu, lokasi pemerintahan Hindia Belanda berada, di sebut “Tanah Seribu” atau “Vierkantepaal”.
Menurut pengamatan salah satu misionaris bahwa Kota Pontianak berpenduduk kurang lebih sekitar 18.000 jiwa yang terdiri dari orang Eropa dari berbagai bangsa. Sebagian besar penduduk kota berkulit coklat, kuning dan hitam. Bahasa yang umum dipergunakan adalah bahasa Melayu. Dari orang Eropa diketahui yang beragama Katolik hanya 20 orang. Ada beberapa orang Tionghoa yang sudah Katolik dan jumlah katekumen dan para simpatisan tidak banyak.
Para pemeluk agama Katolik, Katekumen dan para simpatisan tidak menunjukkan minat yang cukup serius untuk mempelajari agama Katolik. Alasan yang menyebabkan mereka tidak serius mengikuti pelajaran agama Katolik karena lebih berkonsentarsi pada bisnis yang bersifat rutin, sehingga mereka mengabaikan pembinaan rohani. Saat itu juga kehidupan rohani orang-orang Eropa yang beragama Katolik yang tidak menunaikan kewajiban agama dengan sungguh-sunguh dan lebih memperihatinkan anak-anak usia 10 – 12 tahun yang seharusnya sudah dapat menghafal doa harian ternyata tidak dapat mengucapkan. Situasi seperti ini membuat Pastor Pasificus tidak nyaman berada di antara sesama bangsa Eropa.
Dari situasi di atas penulis mengkorelasikan tulisan ULI KOZOK. Bahwasannya, kompleksitas hubungan penginjil dan pemerintah penjajah, koalisi Injil dan pedagang terjadi karena saling menguntungkan. Pemerintah dan tentara kolonial dapat memanfaatkan pengetahuan misionaris sementara penginjil merasa tenang menginjil dalam situasi yang telah ‘didamaikan’. Para misionaris merasa aman apabila berada di bawah perlindungan pemerintah Belanda. Di sisi lain, persekongkolan ini menghambat upaya penginjilan.
Kita tahu bahwa hubungan antara penginjil dan penjajah pada lembaga zending/misi kebanyakan penginjil sepenuhnya mendukung kolonialisme. Hubungan akrab antara pemerintah dan penginjil disebabkan oleh kepercayaan mutlak dengan keunggulan bangsa eropa dan keagungan peradaban eropa. Pemerintah kolonial juga senantiasa mendukung kegiatan penginjilan. Menurut Ludwig Hans, kolonialisme sebagai penipuan dan perampokan terang-terangan. Mengabdi pada Tuhan, sebagai tujuan utama para misionaris. Namun, sebagai patriot, sama penting mengabdi pada tuan kolonial.

3)  Karya Pendidikan
Pada tahun 1911 Pembangunan sekolah sudah dibangun oleh bruder Kapusin. Pada tanggal 23 Februari 1913, sekolah yang dirintis sebagai awal langkah karya pastoral di bidang pendidikan dengan siswa sejumlah 35 murid. Selanjutanya 31 Agustus 1913, diterima 27 orang siswi dan sekolah ini dikhususkan untuk perempuan. Namun, diisi sisi lain sebelumnya sudah ada sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah Hindia Belanda yang khusus bagi anak-anak Tionghoa. Sekolah itu dinamai Hollands Chinese School (HCS). Selain sekolah formal tersebut terdapat juga sejenis sekolah agama yang dilaksanakan di Thai Pak Kuang (Tai Pek Kong).

4)  Keterlibatan para Suster SFIC
Para misionaris mengundangg para suster dari Belanda untuk membantu di karya Pendidikan sekolah dan asrama-asrama putri. Banyak anak dari pendalaman dititipkan di asrama untuk belajar kepandaian menjahit, memasak dan lain sebagainya dan juga untuk mengenyam pendidikan formal. Selain mengajar anak-anak pedalaman para suster ini mulai merawat orang sakit sebagai cikal bakal membuka karya kesehatan dan sekarang sudah mempunyai Rumah sakit Santo Antonius yang megah di Kota Pontianak. . Dalam kronik para suster mereka menceritakan bahwa, yang ajar oleh suster pertama-tama adalah cara merawat kesehatan dan kebersihan anak-anak pedalaman.
Jika dikaji dalam kajian pascacolonial dari pengalaman para biarawati di atas, penulis dapat mengkorelasikanya dengan tulisan Kees Van Dijk, sebagai contoh peradaban dalam menghadapi pribumi. . Di sana ditemukan sebuah anekdot “Kami kotor, kami kotor, Kami tidak tahu bagaimana membersihkan diri kami. Kami tidak mempunyai pendidikan yang cukup.” Pada diskusi diabad 19, sabun disematkan kepada Eropa dan Amerika, yang berada pada barisan depan kebangkitan kembali Kristianitas, untuk menekankan superioritas budaya mereka atas yang lain. Selain itu, ada bahasa, pakaian, bahkan toilet. Sabun telah sebagai bentuk praunggulan dari kebersihan pribadi dan peradaban menurut pandangan Eropa. Sabun membuat orang secara fisik bersih dan membantu mereka berjumpa dengan sebuah kriteria peradaban. Kesadaran akan bau badan dan bagaimana menghilangkannya.
Pada abad 16 dan 17, populer apa yang dinamakan rumah mandi bersama, sebuah kelanjutan dari tradisi Yunani, Roma dan budaya lokal setempat. Di Prancis, bahkan seluruh Eropa, bau kotor (semacam itulah) diasosiasikan dengan kekuatan, kesehatan dan kekayaan. Bahkan beberapa orang memiliki ketakutan jikalau dengan seringkali mandi dapat menghilangkan kekuatan mereka. Karolus Linnaeus (1707-1778) seorang botanis terkenal abad 18, memberikan peringatan bahwa dengan sering mencuci rambut, seseorang akan menderita epilepsi. Bahkan yang lainnya mengatakan bahwa fungsi ceremonial dan sosial dapat ditemukan di dalam aktivitas mandi tersebut.
Kehadiran dari para misionaris suster inipun sangat bermanfaat untuk proses peradaban dalam cara berwacana dari putri asli Dayak, Maria Goreti anggota DPD RI:
“ Konon perempuan adalah makhluk yang tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Kepercayaan ini dipunyai oleh banyak budaya dan bahkan agama-agama besar di dunia. Dalam sudut pandang humaniora pandangan ini seringkali direduksi menjadi alat legitimasi untuk mengalienasi perempuan dari peran-peran tertentu. Pandangan yang lebih feminis bahkan menyebutkan bahwa mitos-mitos dan julukan terhadap perempuan sengaja diciptakan untuk mendometifikasi perempuan sehingga perempua kehilangan hak-hak sosial politiknya. Dengan demikian, perempua akan selalu menjadi terbelakang jika dibandingkan laki-laki”.
Menurut Penulis, secara fakta historis, alineasi perempuan memang terjadi dimana-mana di seluruh dunia. Di negara demokrasi besar seperti Amerika Serikat, misalnya partisipasi perempuan dalam politik terutama pemilihan umum, baru diakomodasi pada awal abda ke-20. Demikian juga di Inggris misalnya ketika mula-mula mereka yang mendapat gela ksatria hampir selalu berjenis kelamin laki-laki. Bagaimana di Indonesia? Dalam tataran tertentu, Indonesia bukanlah perkecualian dari fenomena alienasi Perempuan. Pada masa lalu, konsep ‘konco wingking’ yang merupakan kata lain dari domestifikasi perempuan dimana perempuan hanya punya kewenangan otoritatif terbatas di sumur, kasur, dan dapur banyak dipunyai oleh etnis-etnis suku dan budaya Indonesia.
5. Kehadiran Bruder MTB
Perubahan pada sistem pendidikan yang dilakukan oleh para misionaris membawa implikasi positif. Walaupun dari satu sisi sistem ini menimbulkan dilemati, karena metode perwartaan melalui pendekatan pendidikan telah keluar dari konsep awal. Akan tetapi disadari juga bahwa metode baru yang digunakan dalam sistem pendidikan ini, membawa fenomena berbeda. Dimana pada awalnya pewartaan melalui sekolah secara khusus ditujukan bagi mereka yang secara sukarela menerima ajaran Katolik melalui materi pembelajaran di sekolah. Akan tetapi dengan sistem pendidikan baru para pelajar yang bukan beragama Katolik yang mengikuti pendidikan di Sekolah Katolik akan mengetahui secara tidak langsung etika agama Katolik. Diharapkan melalui pemahamaman ini akan memberi dampak positif mengenai perwartaan Kristus sebagai juru selamat bagi umat manusia.
Fenomena sistem pendidikan yang baru ini sebenarnya sejalan dengan ensiklik “Maximum Illud” yang dikeluarkan oleh Paus Benedictus pada tahun 1919, yang menyatakan bahwa karya misi bukan “Kristenisasi” sebagaimana anggapan biasa, melainkan juga membangun kesejahteraan jemaat setempat” (Rob Wolf,2004:157).
Meningkatnya kebutuhan pendidikan di sekolah menyebabkan kebutuhan akan tenaga-tenaga guru yang memiliki ketrampilan semakin meningkat. Di lingkungan umat gereja Katedral di Pontianak kondisi serupa juga dirasakan. Ketika menggunakan konsep pendidikan terpadu, yakni sekolah yang disertai dengan tempat tinggal dan materi pendidikan yang terfokus pada pendidikan agama Katolik, sekolah-sekolah Katolik hanya diikuti siswa-siswa yang dipersiapakan dan diharapkan dapat dipermandikan, tetapi keadaanya berubah ketika metode pendidikan pada sekolah Katolik disesuaikan dengan kondisi saat itu.
Baik sekolah yang dikhususkan bagi laki-laki yang ditangani oleh para bruder Kapusin maupun sekolah yang dikhususkan bagi puteri-puteri yang diasuh oleh para suster SFIC membuka diri untuk menerima siswa dan siswi umum dengan ketentuan-ketentuan sekolah yang dilaksanakan oleh pemerintah Hindia Belanda pada saat itu.
Perubahan metode pendidikan membutuhkan tenaga pendidik yang memiliki kemampuan dan ketrampilan untuk itu. Keadaan ini tidak bisa dijawab dengan keterbatasan tenaga misionaris yang masih harus melaksanakan fungsi utamanya sebagai imam. Sadar akan keterbatasan tenaga pengajar, Mgr. Pacificus Bos berfiikir untuk mencari tenaga-tenaga yang memiliki kompetensi, kapasitas dan kapabilitas di bidang pendidikan. Untuk maksud ini Mgr. Pacificus Bos, melakukan pembicaraan dengan para bruder MTB di Negeri Belanda. Para bruder dari kongregasi MTB bersedia menerima tanggung jawab menangani bidang pendidikan di Kalimantan.
Misionaris ini tiba di Kalimantan Barat pada tanggal 21 Januari 1921 mulai di Singkawang menangani anak asrama dan juga menangai skeolah-sekolah yang ada di kota tersebut. Pada tanggal 5 Juni 1924 Misionaris MTB dipercayakan asrama putera dan membuka HCS 1Juli 1924 dibawa subsidi pemerintah. Mereka juga membuka sekolah kejuruan pertukangan dengan metode pendidikan disertai praktek-praktek dan juga membuka sekolah Tata niaga dengan model kurikulum kemandirian dari sekolah sendiri.
Selain itu para misionaris ini juga mengajar bahasa Inggris dasar dan juga bahasa belanda namun untuk dipendidikan mereka menggunakan bahasa Melayu dan dominan juga Bahasa Belanda. Dengan terjemahan bahasa Melayu, sudah memperkenalkan dasar-dasar bahasa Belanda. Rupanya Bahasa Belanda pun akan menjadi mengangkat struktural dalam masyarakat bangsa eropa dan pribumi saat itu. Orang setempatpun perlahan-lahan sudah mampu berbicara bahasa Belanda dengan baik. Maka berbicara peradaban bahasa pun sudah sejak lama ada menjadi sejarah dalam kehidupan manusia selama dia tidak teralineasi oleh orang lain karena persoalan bahasa.
Jika penulis mewacanakan dengan kajian Pascakolonial hal ini pun ada dalam pengalaman masyarakat India dalam kisah Lord tulisan Thomas Babington Macaulay Minute on Indian Education (1835). Dengan satu rak saja, sastra Inggris jauh lebih bernilai daripada seluruh “sastra oriental”. Lewat pendidikan Inggris pribumi, India akan dijadikan “English in taste, in opinions, in morals, and in intellect” (Inggris dalam hal selera, pandangan, nilai moral dan intelek). Kelas terdidik itu akan membantu membela kepentingan Inggris di India.
Di Hindia Belanda, pihak penjajah sering memandang pribumi sebagai serupa dengan anak kecil, spesies yang belum berkembang, atau serupa dengan orang Eropa Abad Pertengahan. Nasionalisme Indonesia dipandang sebagai tingkah anak kecil yang tidak menyadari bahwa pengetahuannya (sedikit pengetahuan Eropa yang sudah diperolehnya) belum cukup. “Ayam jago yang berpikir bahwa dengan berkokok nyaring mereka dapat mempercepat datangnya pagi” (Frances Gouda, Dutch Culture Overseas, hlm. 215)

D. Refleksi penulis dari Proses peradaban Dari Kajian Pascakolonial
Berbicara tentang peradaban dalam sejarah manusia tidak terlepas dari pengalaman perkembangan manusia sejak zaman klazik dari Yunani Kuno abad ke- 5 hingga abad 19, mempunyai persoalan yang kompleksitas. Pertama-tama melalui matakuliah ini penulis mengkritisi hegemoni eropa/superioritas Eropa sehingga usaha untuk menampilkan nilai-nilai dari yang bukan eropa. Tidak ada pertukaran peradaban dalam arti untuk mengimbangi pemikiran yang non werstern, sehingga tujuannya adalah:
Mengekspos kepura-puraan barat akan ketidaktertarikan mereka pada kekuasaan dalam selubung pengetahuan.
Membongkar pengtahuan eropa bahwa impreliasme dan nasionalisme mereka telah membuat semua rakyat menderita baik kolonial (kekrasan fisik) maupun kolonialisme (non fisik: peradaban dan ideologi yang tidak bisa berhenti, dan sekarang pun kebiasaan itu sampai saat ini yang dipraktek langsung dan nyata dalam struktural kehidupan masyarakat terjajah.
Kolonialisme Eropa modern itu khas dan merupakan paling luas dari berbagai kontak kolonial yang telah menjadi aspek berulang dari sejarah manusia.  Karena di pascakolonial penulis merasa kegelisahan dan pergumulan atas kecurigaan terhadap wacana kolonial yang tidak bisa hilang dari masyarakat, dari berbagai aspek baik secara sadar maupun tidak sadar itupun penulis secara otomatis ikut mewacanakan di dalam idelogi dan pandangan keseharian hidup dimana penulis berada.
Membongkar wacana misi peradaban dapat melihat kembali proses peradaban kolonial itu sendiri baik yang berdampak postitif maupun negatif.
Selain itu, penulis mengambil tulisan pada silabus Katrin Bandel dan cukup menarik bagi penulis untuk mengutip dan mendeskripkan pada bagian penutup ini. Pada bagian pembukaan kalimat, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan refleksi yang cukup menggelitik bagi penulis seperti berikut ini:
Apa hubungan kolonialisme dengan diri kita dan kondisi masyarakat kita? Bukankah penjajahan sudah berakhir dengan negara-negara yang dulu pernah dijajah (termasuk Indonesia) sudah merdeka? Jadi apa perlunya membicarakan kolonialisme, kecuali sekadar sebagian bagian dari pengetahuan sejarah?

III: PENUTUP
Meskipun tidak tertampak bahwa para misionaris berorientasi dan berjiwa superior seperti visi misi kolonial lain, akan tetapi menurut penulis yang mempengaruhi misionaris begerak justru karena penjajahan kolonialisme Belanda. Hal ini dirasakan oleh orang Dayak tertentu di Kalimantan Barat, misalnya Dayak Jalai Ketapang Kalimantan Barat. Penjajahan tersebut antara lain berlangsung dalam bentuk kewajiban untuk menyerahkan berbagai upeti kepada Kerajaaan setiap tahun serta menjadi budak penembahan dalam bentuk memberi hasil panen ke kerajaaan Hindia Belanda. Selain itu, kolonialisme langsung oleh pemerintah Belanda memang tidak dirasakan oleh orang Dayak seperti di daerah jawa pada umumnya. Namun, kebijakan Belanda memiskinkan orang Dayak. Orang Dayak diperalat dan juga Suku Melayu karena sama-sama menjadi korban pemerasan dan perlakuan tidak adil oleh pemerintahan kolonial Belanda.
Interaksi yang terjalin dengan baik antara orang Dayak dan Suku Melayu yang sebelumnya berlangsung dalam kerangka bisnis yang saling menguntungkan dan mendukung satu sama-lain (dalam bentuk pertukaran berbagai kebutuhan antara keduabelah pihak), berubah menjadi hubungan antara penjajah dan yang dijajah tuan dan hamba, penguasa dan budak. Pada hal peradaban itu sudah terjadi jauh sebelum penjajah datang atas wilayah peribumi
Kajian Paskolonial (Postcolonial Studies) berangkat dari kesadaran bahwa kolonialisme, terutama sekali kolonialisme Eropa sejak abad ke-16, telah mengubah dunia secara sangat subtansial, dan bahwa dunia masa kini sulit dipahami tanpa mempertimbangkan efek yang ditimbulkan kolonialisme tersebut. Perhatian khusus diberikan pada efek psikologis dan perubahan sosial budaya. Ketimpangan relasi kekuasaan global yang tercipta di masa kolonial pada dasarnya berlanjut sampai saat ini meskipun bentuknya telah berubah. Bagaimana subjek manusia, terutama manusia yang dijajah, dikontruksi dalam konteks relasi kekuasaan tersebut dan dengan cara apa resistensi dilakukan?
Salah satu ciri khas wacana global yang terbentuk lewat kolonialisme adalah bahwa umumnya manusia non-Barat tidak diberi kesempatan untuk menyuarakan diri, tetapi hanya dijadikan objek pembahasan (oleh orang Eropa/Barat). Kajian pascakolonial berusaha menggali kembali perpektif yang ilang (dihilangkan) tersebut. Pengalaman kolonialisme serta efeknya dipandang dari perspektif sang terjajah dan dengan demikian eurosentrisme ditandingi.
Demikianlah cara untuk membongkar kebiasaan kolonial dengan merekontruksi kembali apa yang paling hakiki dan orisiniltalitas dari yang terjajah yang sudah lama dipendam oleh kolonial dan kolonialisme dengan berwacana secara intelektual dan “heroik humanis” di berbagai aspek kehidupan manusia, sehingga dapat memuaskan dari rasa kegelisahan dan pergumulan sebagai orang yang terjajah. Maka, hasrat orientalisme Barat ke Timur sudah bisa dipahami secara benar dari perspektif orang Timur. ∎∎∎

DAFTAR PUSTAKA
Sumber Utama: Bandel, Katrin. Bahan Bacaan Kuliah Kajian Pascakolonial. IRB. 2016
Amantius & P. Yeri, Sumbangan Kepada Sejarah Gereja Kalimantan sebelum 1905
Bamba, J. (2003) Dayak Jalai di Persimpangan Jalan. Pontianak: Institut Dayakologi
Boelaars Huub J.W.M., (2005). Indonesianisasi Dari Gereja Katolik di Indonesia Menjadi Gereja Katolik Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius,
Chris, W, ed. (2005). Musyawarah Antar Bruder Indonesia (MABRI).
Magelang: Percetakan Pangudi
Buku Kenangan 100 thn Gereja Katedral Santo Yoseph Pontianak Bermula Dari Sebiji Sesawi Menjadi Pohon Besar, (Pontianak’2009) hlm.1-27
Buku Kenangan Peringatan 75 Thn Bruder MTB berkarya di Indonesia 1921-1996.
Buku Pentunjuk Gereja diterbitkan oleh Departemen Dokumentasi dan Penerangan Konferensi Waligereja Indonesia,2005
Buku Petunjuk Peta Pontianak Terkini. (2002). Pontianak: Juanda Publisher
Ensiklopedi Umum. (1991). Yogyakarta: Penerbit Kanisius, Hlm. 828-829.
Gerry Van Klinken. (2010). Penggerak Bangsa yang Terlupa, Nasionalisme Minoritas Kristen. Yogyakarta: PT.LKiS Printing Cemerlang
Goreti, M. (2013).Baktiku Untuk Bangsa dan Negeri. Jakarta: Percetakan & SMK Grafika Desa Putera
Gorz Andre. (2005). Anarki Kapitalisme. Yogyakarta: Resist Book
Gramsci Antonio. (1976). Selections From The Prison Notebooks, Quintin Hoare dan Nowell Smith , ed. New York: International Publisher
Henry,S.Lucas. (1993). Sejarah Peradaban Barat Abad Pertengahan, Dr.Sugihardjo,dkk (Terj.). Yogyakarta: PT.Tiara Wacana
J.F.H.A. De La Court. (1966). Dasar-Dasar Bahasa Belanda, Petunjuk untuk mempelajari Bahasa Belanda tanpa Guru- N.V.Uitgeverij W. Van Hoeve/’S-gravenhage (Printed in Netherlands
Jones Howard Palfrey. (197). Indonesia: The Possible Dream, Singapura: Ayu Mas Ltd
Joos P.A.van Vugt. (2005). Bruder-Bruder dan Karya Mereka, Sejarah 5 Kongregasi Bruder dan kegiatan Mereka di bidang Pendidikan 1840-1970. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Kbbi.web.id
Ladjar Leo Laba, OFM. (2000). Karya-karya Fransiskus Dari Assisi. Jakarta: Sekafi
Lie, S, Fat & X.F.Asali,(2008). Aneka Budaya Tionghoa Kalimantan Barat.
Pontianak: Penerbit Muara Public Relaton
Loomba, Ania. (2016). Kolonialisme/Pascakolonialisme (terj.)
Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promethea, Hlm.12.
M.D.La Ode. (1997). Tiga Muka Etnis Cina-Indonesia-Fenomena di Kalimantan Barat Perspektif Ketahanan Nasional. Yogyakarta: Bigraf Publishing
Mahin, Marco. 1997. Rumah Panjang sebagai model Bergereja Dalam Konteks Masyarakat Dayak Kalimantan yang Teralienasi. di Journal Penuntun Vol.3 No.11, Hlm. 335-350
Majalah Duta No.282.Th. XXIV-Januari 2011. Setengah Abad Hierarki Gereja Katolik di Kalimantan
Nesar, P, & Andi A, (ed.) (2003). Antonio Grammsci Negara & Hegemoni. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
P.J. Veth, (2012). Borneo Bagian Barat Geografis, Statis, Histori (1854), P. Yeri, Jilid 1(ed.), Pontianak: Institut Dayakologi
Peterianus, Sepetian, (Tesis), (2015). Orientasi Timur Atas Timur-Wacana Pembangunan Dalam Program Transmigrasi Pemerintahan Orde Baru di Kab.Melawi Kalimanatan Barat.
Robwolf, Thomas, B & Bram Hommel (ed.). (2004). Huijbergen dan Ujung-ujung dunia-Bruder-bruder MTB 1854-2004,Nijmegen: Bureau Voor Geschiedscrijving, hlm.157-220.
Said, Edward, W. (1995). Kebudayaan Dan Kekuasaan-Membokar Mitos Hegemoni Barat, Bandung: Penerbit Mizan
Saksono, Ign. Gatut. Tuhan dalam Budaya Jawa. (Yogyakarta: Penerbit Kaliwangi’2014) hlm. 29.
Sejarah Nasional Indonesia Jilid. (1979). Jakarta: PN Balai Pustaka, Hlm.54
Simanjuntak Herpianus, Percakapan & Tata Bahasa Belanda, (Jakarta: Kesaint Blanc, 1992)
Sinaga, M, Lukito. (2004). Identitas Poskolonial “Gereja Suku” Dalam Masyarakat Sipil, Yogyakarta: LKIS
Singkawang Heritage. (2015). Sebuah Kajian Arkeologi & Cagar Budaya, Pemerintah Kota Singkawang Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga
aSubangun Emmanuel, Dekolonisasi Gereja di Indonesia –Suatu Proses Setengah Hati, (Yogyakarta: Kanisius 2003)
Sunardi, St. (2016). Dasar-dasar Kajian Budaya, Bahan Bacaan kuliah dalam artikel “The Alienation as a Theory of History” Hlm. 39-46.
Theo, Van den Broek, OFM, Kekayaan, Agama, dan Kekuasaan, (Yogyakarta: Penerbit Kanisius), Hlm.49-76.
Tjilik, Riwut. (2003). Menyelami kekayaan Leluhur, Penyunting Dra. Nila Riwut, Pengayaan Adat istiadat dan Budaya Suku Bangsa Dayak, dari buku Kalimantan Memanggil, Kalimantan Membangun,(Yogyakarta: Penerbit Pusakalima
Tubarman, A, (Manuskrip). (1997). Sejarah Kongrgasi Bruder-Bruder MTB. Yogyakarta
Vrias, G. (1972). Sejarah Gereja Katolik Indonesia. Flores: Percetakan Arnoldus Ende
www.artikelsiana.com diunduh, 30 Desember 2015, 11:30 PM=62822 9869 9689

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.