Sun. May 9th, 2021

Pengantar
Akhir-akhir ini arus informasi di media sosial (medsos)sangat krusial bagi kalangan masyarakat Indonesia. Media sosial seolah-olah pemicu dalam konflik sosial yang mengarah ke budaya kekerasan baik lewat bahasa, gambar, video atau virtual lainnya yang dapat memancing publik untuk memberi komentar dari berbagai sudut pandang masing-masing penikmat medsos. Lemahnya pemahaman dalam menggunakan media sosial menjadi tantangan sendiri bagi para pemimpin, tokoh agama atau pun siapa saja yang mempunyai pemangku jabatan ikut bertanggung jawab didalam media tersebut.
Makalah yang sederhana ini, saya menyoroti fenomena media sosial dari sudut pandang Gereja Katolik sesuai dengan pengalaman, pengetahuan dan sumber media yang yang bisa di kritisi tentang HOAX seperti yang ditampil dalam video # DuniaMaya&Nyata. Disini saya menyampaikan pendapat mengenai berita HOAX di media sosial yang rentan dengan budaya kekerasan di masyarakat. Selain itu fenomena ini dapat memecahkan kesatuan sebagai warga dan indikasi konflik sosial menjadi keberhasilan pencipta HOAX tentunya menjadi perhatian bagi kita semua.
Penjabaran makalah berikut ini dilihat secara umum. Dan jujur saya mengalami keterbatasan dalam membahasakanya. Namun untuk bisa menguatkan gagasan-gagasan yang dibahaa dalam makalah ini, saya akan mengutip dari beberapa sumber dan acuan praktis dari Gereja Katolik. Hal ini bukan mewakili lembaga tetapi merupakan respresentasi keyakinan pribadi sebagai Katolik sekaligus guru pendidikan agama Katolik.
A. Agama kita melawan budaya HOAX
Kita tahu bahwa Fenomena agama dalam perkembangan dari waktu ke waktu, membuat saya bergumul apakah agama itu masih perlu untuk membuat manusia bahagia dan semakin dekat dengan Sang Pencipta atau manusia menderita karena agama yang dihayatinya itu sungguh-sungguh asli atau hanya imitasi belaka saja. Pernyataan ini sebagai kegelisahan saya ketika agama tidak punya tempat atau wilayah yang orisinil dalam memberitakan kebenaran opini atau gagasan dalam masyarakat.
Untuk bisa memahami fenomena agama bisa tampil murni saat ini, mau tidak mau kita harus harus mengalami hidup bersama “Lived Exprience” dengan siapa saja sebagai salah satu metode yang valid dari setiap pernyataan manusia tentang agama itu sendiri”. Pengalaman menjadi kekuatan untuk menemukan gaya spiritualitas seseorang, apabila orang bisa menemukan kembali sumber orisinalitas keagamaanya”. an Dari pernyataan tersebut, maka saya dapat menemukan titik permasalahan bahwa: selama ini saya terlalu “eksklusif” dengan orang berbeda keyakinan sehingga yang ditangkap hanya sekedar agama warisan saja, dan kecendrungan untuk sikap “super” terhadap orang yang berkeyakinan lain di sekitar kehidupan saya. Pengalaman ini menjadi kekuatan untuk kuat ke pola hidup “inklusif” apabila siap menerima dan mengakui berbagai fenomena dari setiap agama yang ada di sekitar saya. Maka pengalaman realitas, mendukung dengan fenomena agama yang sedang berkembang saat ini, apa bila saya bisa melihat langsung, merasakan dan mendengar dari pengalaman sebagai informan yang kuat dan akhirnya menemukan pengalaman baru. Pengalaman ini menjadi corong yang kuat dan benar apabila kita bisa menginformasikan ke media sosial karena pengalaman konkret dan hidup bersama. Bukan pengalaman lewat pihak lain atau hanya sekedar opini belaka.
Pengalaman baru ini di “Shared-kan”, atau dibagikan kepada orang-orang dengan croscek lagi di sekitar saya dengan mengumpulkan dokumen yang kuat sekaligus mendukung narasi yang saya tampilkan di hadapan sesama. Maka agama dapat memberi “makna” karena mengalami kompleksitas yang ditemukan dalam hidup bersama dari pengalaman yang konkret dan aktual. Hal inilah menjadi kekuatan dan kepercayaan karena kita mengalami langsung dan berbagi langsung tentang apa yang kita alami.
Akhirnya timbul pertanyaan apakah pengalaman agama itu lebih dari sekedar makna apabila hanya dilihat secara tekstual semata tanpa mengalami dan merasakan dengan kekuatan kultural di dalam agama? Semoga pengalaman setiap orang semakin insani dan cerdas dalam beragama tetapi humanis dalam berbudaya sebab kercerdasan dalam fenomena beragama menjadi dasar namun tidak kuat apabila nilai kultural tidak masuk didalamnya bahkan diabaikan akhirnya menjadi khaos dan manusia mengalami penderitaan karena agama atau menderita demi penghayatan agama. Mari kita refleksi lebih dalam apakah kita bisa berbagi pengalaman kedalamana agama saya kepada orang-orang lain. Jangan-jangan membuat orang lain tidak nyaman apabila informasi yang saya shared-kan hanya fantasi belaka dn Hoax. Lalu bagaimana Gereja Katolik bisa memanfaatkan medsos itu sebagai model pendekatan untuk bisa mengembangkan hidup sesama semakin insani. Budaya kebenaran kita harus melawan budaya Hoax yang mengahncurkan iman dan harapan kita tentang hidup yang nyata di alam ini.
B. Tanggapan Gereja Katolik
Dalam buku Iman Katolik (1996:391) mendeskripkan bagaimana Gereja mewartakan kebenaran budaya Injili dengan media sosial atau alat-alat komunikasi yang sesuai dengan perkembangan zaman. Tugas perwartaan ini dberi khusus kepada mereka yang dipercaya untuk berkomunikasi kepada umat baik di mimbar liturgi maupun di mimbar Gereja dengan mengikuti peraturan Gereja Katolik dari Roma. Gereja Katolik menegaskan bahwasanya dalam perwartaan dewasa ini media sosial/alat-alat komunikasi mempunyai tempat istimewa dalam perwartaan Sabda Tuhan. Alat komunikasi itu baik media cetak maupun eletronik (Film, Internet, Radiao dan sebagainya) yang oleh konsili Vatikan II diakui sebagai penemuan ‘teknologi moderen’ yang membuka peluang-peluang baru untuk menyalurkan dengan lancar segala macam berita, gagasan dan pedomah hidup menggereja.
Di era kekinian ditengah gerus arus teknologi tersebut, merupakan kesempatan bagi Gereja untuk memilih dan memilah yang sangat membantu dalam perkembangan iman umat Katolik. Oleh karena itu dalam Konsli Vatikan II. Iswarahadi (2003:24), mengungkapkan bahwa kaum beriman baik awam, imam maupun kaum religius sudah masuk dalam zaman informasi yang cepat berubah. Begitu banyak sarana komunikasi yang kita hadapi setiap hari. Kita sebagai pelanggan media tidak terluput juga menikmati sajian melalui media Televisi dan telephon (termasuk Hand phone) sudah semakin dimiliki oleh keluarga-keluarga. Wartel-wartel dan warnet sudah semakin mudah ditemukan di pinggir-pinggir jalan. Pesawat radio semakin bervariasi bentuknya, sehingga semakin banyak diminati masyarakat.
Pandangan tersebut, menurut saya, dalam waktu yang tidak teralu lama media cetak bisa ditinggalkan oleh generasi muda dan lebih pada media elektronik seperti gadget yang sudah banyak aplikasinya. Gadget berfungsi sebagai media komunikasi dengan aplikasi: Facebook, Youtube, WhatshApp, Skype, WeChat, Line, Talk, Yahoo Messeger, Imo, Instalgram dan lain sebagainya, dengan mudah mendapatkanya dan menikmatinya dimana saja berada dan kapan saja butuhkan. Dunia ini semakin sempit namun terkadang juga terasa asing, ketika media itu tidak digunakan untuk kemajuan dalam berkomunikasi, yang jauh terasa dekat, yang dekat terasa jauh. Maka dalam sejarah peradaban manusia dan proses pengetahuan teknologi begitu cepat. Diharapkan penggunaan media-media baru beserta perubahan kultural yang telah dihasilkan oleh manusia, semuanya untuk menolong sesama secara universal tanpa dibatasi ruang, waktu, agama dan ras semuanya demi kepentingan sosial.
Mariasusai Dhavamony (1995: 26-27), berpendapat bahwa fenomena agama yang terjadi adalah perjumpan-perjumpan fakta yang dialami seseorang, guna memperoleh pandangan tersendiri, yang tidak hanya mengenal histori dan struktural agama saja, tetapi lebih pada aspek bathin seseorang memperoleh untuk pengalaman khusus dalam mencari nilai- nilai religiusnya serta relasi yang intim dengan makna ke-Ilahian dalam hidupnya.
Dari pemikiran tersebut, saya dapat mengatakan bahwa tindakan agama terutama tampak pada upacara (ritual), lewat virtual pun merupakan suatu tindakan yang nyata dari ungkapan iman seseorang meskipun dalam dunia maya, akan tetapi dalam waktu yang sama dirasakan konkrit dan nyata. Jadi hanya yang bersangkutan, yang bisa memberi tafsiran dari pelaksanaan ritual melalui virtual tersebut. Maka nilai religius seseorang tidak bisa diukur sesaat saja, tetapi bagamana perwujudan nilai religius itu, dalam hidup dan relasi bersama di masyarakat ditampakan secara nyata. Maka mucul sebuah pertanyaan apakah seseorang itu, bisa menemukan pengalaman mistik dalam berhadapan yang tidak kelihatan namun nampak dalam pengalaman bathiniah seseorang. Hal demikian, diungkap dalam karya Willyan James, The Variaties of Religious Experience dalam buku Richard King, mengatakan: 1999:50
“Pokok bahasan kesucian (Saintliness) meninggalkan kita berhadapan muka dengan pertanyaan ini: apakah makna kehadiran suci adalah makna kebenaran objektif? Pertama-tama kita minta mistimisme untuk menjawabnya, dan kita mendapati bahwa, meskipun sepenuhnya hendak menguatkan agama, penjelasan mistisisme terlalu pribadi (dan juga terlalu beragam) untuk dapat mengklaim sebuah otoritas universal. “
Fenomen tersebut, penulis mengambil intisari dari tulisan Bagus Laksana, (2013: 103), bahwa apabila agama oleh orang muda sebagai praktik yang partikular, maka dalam kajian agama mutakhir, ada kecendrungan kuat untuk meninjau fenomena agama sebagai praktik yang partikular, berikut kompleksitas dan ambiguitasnya. Secara umum tidak lagi dicari intisari atau “ensesi”, struktur atau sifat-sifat umum agama. Maka pendekatan modern yang amat ensesalis-mengkaji agama dengan mencari ensesinya dan menganggap unsur-unsur lain sebagai tidak penting dan sebagainya-termasuk metode fenomenologi agama lama yang cendrung reduktif sudah agak lama tidak terlalu dikembangkan lagi.
C. Peran Media Komunikasi Dalam Pewartaan
Peran Media komunikasi dalam pewartaan, menjadi daya magnet bagi ‘Kaum Muda’. Era globalisasi melahirkan kemajuan pesan di bidang teknologi informasi komunikasi, yakni dengan ditemukan media internet. Dunia yang mulanya ‘dikenal’ secara geografis belaka, kini menemukan dimensi baru yang sering disebut sebagai dunia maya atau dunia Virtual. Sangat beruntunglah generasi yang lahir dikemajuan zaman, karena internet menghadirkan ruang-ruang publik baru bagi semangat hidup dan bahasa simbolik yang muncul dalam media tersebut. Masyarakat masuk dalam terminal budaya moderan dengan dunia maya yang sungguh mengikat bagi inspirasi imaginasi orang muda. Tak pelak lagi, telah terjadi revolusi komunikasi yang mengaburkan batas-batas konvensional dalam cara bersosialisasi manusia.
Setiap komunikasi itu menggunakan konstelasi inderawi yang berbeda dan mempengaruhi pembentukan pribadi dan identitas yang khas. Menurut Black Jay dan Frederick Whithey, komunikasi merupakan proses di mana masing-masing individu terlibat dalam tukar menukar makna. Dalam proses itu seseorang Individu (komunikator) menyampaikan stimulus (rangsangan) untuk mengubah perilaku individu lainya. Bahkan mungkin bisa bertukar nalar dan iman untuk disharingkan dalam wilayah personal tentang iman dan pengetahuan secara kritis menjadi ruang kebebasan untuk berkomunikasi yang intens.
Orang Indonesia sekarang ini, hidup dalam zaman komunikasi baru. Revolusi internet sebagai agama baru, dan revolusi digital ini berasal dari hasrat “imaginasi” dan hasrat manusia untuk membangun jaringan dan link untuk mengatasi keterbatasan. Konsep cyberspace (Internet), mengajikan sebuah “agama” secara implisit nternet muncul sebagai sumber pengharapan akan dunia baru yang lebih baik. Internet Age: revolusi gelombang ketiga (Toffler) ditandai oleh: kedamaian, kebebasan, demokrasi dan kemakmuran). Oleh karena itu Internet bukan hanya sekedar sarana atau medium, mempengaruhi sensorium (gerak gerik inderawi, cara merasakan dan menyelami, cara merespon stimulus dari luar), tetapi dapat mengubah proxismentrics of everyday life . Namun yang perlu dikritisi dalam gerakan revolusi internet akan memuncul gerakan keagamaan baru menjadi fenomenal yang tak tertandingi lewat dunia virtual menjadi sajian menarik untuk mempengaruhi publik ikut berenang dalam arus ideologi yang menyesatkan.
Ketika Marhall McLuhan menulis ‘Undertanding Media’ pada tahun 1964, komputer belum berkembang. Akan tetapi, apa yang akan terjadi menyangkut kehidupan masyarakat dan kebudayaan di masa depan sudah dapat diramalkan dari tulisan-tulisannya. Masa depan selalu menjanjikan kebaruan-kebaruan yang mengagumkan. Namun sejak kapankah kemungkinan yang tak terbatas dari kemajuan manusia mulai diantipasi. Sejak Gutenberg menerapkan kemajuan mesin cetak untuk tulis-menulis, kata Mcluhan.
Sebelum itu, kebiasaan tulis menulis memang sudah berkembang, bahkan jauh sebelum abad masehi. Akan tetapi, pada waktu itu, tulis menulis merupakan pekerjaan tangan saja dan hasilnya disebut “tulisan tangan” (Manuskrip). Proses peradaban manusia dibidang pengetahuan semakin berkembang meskipun disadari bahwa tangan tidak bisa menuliskan banyak surat dalam waktu yang pendek.
Di zaman ini, perubahan peradaban manusia begitu cepat dengan revolusi teknologi komunikasi. Penemuan paling canggih pada akhir abad XX di bidang media komunikasi adalah internet. Media ini menjadi sebuah sistem yang memungkinkan berbagai jaringan saling berhubungan satu satu sama lain, sehingga seseorang yang sedang berada dalam salah satu jaringan itu dapat berkomunikasi dengan orang yang tengah di jaringan lain. Media komunikasi ini, memiliki karakter global dan tanpa batas; tidak terikat dengan batas wilayah dan negara.
Menurut saya, internet tidak hanya menciptakan sebuah pola pikir. Ia juga menawarkan sebuah “dunia” yang memungkinkan manusia modern bergulat denga ajakannya yang sangat magis. Sebegitu masifnya perkembangan komunikasi internet ini, membuat tatanan hidup manusia turut digerakkan karenanya. Dunia kian menjadi sebuah ‘kampong global’. Apa yang terjadi di dunia lain, bisa di saksikan di benua lain dalam hitungan menit. Fenomena ini layaknya monster yang dengan kekuatannya mampu menyedot perhatian manusia-manusia rasional zaman ini. Hal ini ditegaskan oleh Andi purnomo bahwa kehadirannya membuat manusia larut dan terpesona oleh kecanggihan dan cara kerjanya yang multidinamis.
Konsili Vatikan II, secara khusus membicarakan tentang alat-alat komunikasi melalui dekkrit tentang alat komunikasi (art.1) dengan tegas mengatakan bahwa:Antar penemuan teknologi yang menakjubkan, yang terutama dewasa ini, dengan restu Allah, diolah kecerdasan manusia dari ciptaan, Bunda Gereja menyoroti dan mengikuti dengan keperihatinan khusus penemuan itu, yang sangat menyangkut roh manusia, dan yang membuka jalan baru untuk menyalurkan dengan mudah serba ragam berita, pemikiran dan perintah. Di antara penemuan-penemuan ini,unggulah alat-alat, yang kodratnya mampu mencapai dan menggerakan bukan saja masing-masing manusia tetapi juga masyarakat luas dan seluruh umat manusia seperti pers, filem, radio, televisi dan alat-alat sejeni, yang sebab itu tepat dapat disebut alat komunikasi Sosial.
Entah disadari atau tidak, penulis menyadari bahwa kehadiran multimedia ini kian merasuki dalam di tembok biara menjadi viral utama setiap hari. Gaya pewartaan yang semula menekankan segi narasi, tatap muka dan sebagainya , kini para ‘Kaum Religius’, harus berjibaku dengan gaya pewartaan melalui internet, melalui dunia maya. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana sikap “kaum religius’ menghadapi situasi seperti ini? Haruskah mencoba hal-hal yang baru dengan perkembangan zaman ini? Masihkah gaya pewartaan dengan bercerita, tatap muka ynag bisa membangun iman umat? Pertanyaan ini tidaklah mudah untuk di jawab. Maka penulis sendiri terkadang mempunyai kesulitan untuk memberi pemahaman kode etik cara menggunakan media sosial dengan kaum awam. Benarlah apa yang katakan oleh Jozef Banka (1993:68-79) bahwa suatu ciri yang menonjol dalam perubahan-perubahan dunia (teknologi) masa kini yaitu: tersentuhlah salah satu dari wilayah kemanusian yang paling hakiki, ialah kepribadian.
Lalu muncul pertanyaan, bagaimana peran media komunikasi dalam pewartaan? Media komunikasi ternyata juga memainkan peranan penting dalam karya pewartaan. Media komunikasi dapat digunakan untuk mewartakan ajaran-ajaran Kristus, agar ajaran-ajaran Kristus tersebut dapat dikenal dan diterima seutuhnya oleh seluruh manusia di dunia. Dan akhirnya ajaran-ajaran Kristus itu tidak hanya membawa keselamatan bagi umat beriman kristiani saja, melainkan juga kemajuan bagi seluruh manusia di dunia.
Menurut pengalaman saya ketika berselancar dalam dunia virtual khususnya lewat Facebook sebagain besar pertemanan saya yang seiman dan sepanggilan seabagai guru agama tidak jarang media komunikasi dipakai untuk menebarkan keutamaan teologal: iman, harapan dan kasih kepada umat beriman kristiani, agar supaya iman, harapan dan kasih terus bertumbuh dan berkembang sesuai dengan yang dikehendaki-Nya. Selain itu juga, media komunikasi dapat dimanfaatkan untuk mempererat tali persaudaraan, menggalang solidaritas, menyuarakan keadilan dan perdamaian dunia.
Untuk mendukung pengalaman tersebut, saya mengutip pesan singkat Bapa Suci Paus Fransiskus dalam rangka ‘Hari Komunikasi Sedunia ke-50 tahun 2016, yang diperingati pada Minggu, 8 Mei, Paus Fransiskus menulis pesan khusus: …
Tahun Suci Kerahiman mengajak kita semua untuk merefleksikan keterkaitan antara komunikasi dan kerahiman. Gereja, dalam kesatuan dengan Kristus sebagai penjelmaan yang hidup dari Bapa Yang Maha Rahim, dipanggil untuk mewujudkan kerahiman sebagai ciri khas dari seluruh diri dan perbuatannya. Apa yang kita katakan dan cara kita mengatakannya, setiap kata dan sikap kita, harus mengungkapkan kemurahan, kelembutan dan pengampunan Allah bagi semua orang. Kasih, pada hakikatnya, adalah komunikasi; kasih mengarah kepada keterbukaan dan kesediaan untuk berbagi. Jika hati dan tindakan kita diilhami oleh kasih insani, kasih ilahi, maka komunikasi kita akan disentuh oleh kuasa Allah sendiri.Sebagai putra dan putri Allah, kita dipanggil untuk berkomunikasi dengan semua orang, tanpa kecuali. Dengan caranya yang khusus, perkataan dan perbuatan Gereja dimaksudkan seluruhnya untuk menyampaikan kerahiman, menjamah hati orang-orang dan mendukung perjalanan manusia menuju kepenuhan hidup seperti yang dimaksudkan Bapa ketika mengutus Yesus Kristus ke dunia. Ini berarti bahwa kita sendiri haruslah bersedia menerima kehangatan Bunda Gereja dan berbagi kehangatan itu dengan orang lain, sehingga Yesus dapat dikenal dan dikasihi. Kehangatan itulah yang memberi hakikat kepada sabda iman; melalui pewartaan dan kesaksian kita, sabda iman itu menyalakan “percikan api” yang memberi mereka kehidupan.
Bagi Paus Fransiskus, Komunikasi memiliki kekuatan untuk mempertemukan, menciptakan perjumpaan dan penyertaan, dan dengan demikian memperkaya manusia. Betapa indahnya ketika orang-orang memilih kata-kata dan melakukan perbuatan dengan penuh kepekaan, agar bisa terhindar dari kesalahpahaman, untuk menyembuhkan kenangan-kenangan yang terluka dan membangun perdamaian dan keharmonisan. Kata-kata dapat mempertemukan pribadi-pribadi, antar anggota keluarga, kelompok-kelompok sosial dan bangsa-bangsa. Hal ini bisa terjadi di dunia nyata maupun dunia digital.
Melalui surat ‘Hari Komunikasi Sosial’ ini, saya mempunyai pandangan bahwa di era digital sebenarnya sangat membantu bagi pewarta melalui internet dan film-film. Model pewartaan atau katekese juga dapat dengan menggunakan gambar-gambar seperti gambar-gambar kudus. Gambar-gambar ini bisa disajikan lewat layar LCD yang kemudian dari gambar ini, seorang pewarta dapat membawa umat untuk berefleksi dari gambar-gambar tersebut atau dengan menanyakan kesan mereka setelah melihat gambar-gambar tersebut. Maka seorang pewarta memang harus hadir juga secara virtual pada wilayah kebutuhan kultural dan budaya fantasi bagi orang lain. Dengan demikian pemanfaatan sarana-sarana canggih ini sungguh-sungguh dapat membantu pewartaan dijaman teknologi seperti sekarang ini. Setelah kita mengetahui fondasi spiritual dan intelektual, maka kita dapat mulai memikirkan tentang metode yang dapat kita lakukan. Lihat contoh twitter dari Vatikan. Vatikan sendiri mempunyai channel youtube.
Menurut saya, ketika pemimpin otoritas tertinggi Vatikan, Paus Fransiskus telah meminta kepada seluruh biarawati untuk meninggalkan kebiasaan menggunakan media sosial seperti Facebook dan Twitter, hal itu dilakukannya karena melihat bahwa penggunaan media sosial tersebut dapat membuat kaum biarawati lalai dan mengalihkan perhatian dari kewajiban keagamaan. Bukan hanya meminta biarawati untuk meninggalkan kebiasaan menggunakannya saja, Paus asal Argentina ini, meminta langsung kepada biarawati untuk meninggalkan smartphone. Paus berharap kepada para biarawati untuk selalu fokus pada 12 aspek keagamaan, termasuk doa dan firman Tuhan. Permintaan ini dirilis oleh Konstitusi Apostolik dengan judul ‘Mencari Wajah Tuhan’. Dalam rilis tersebut, Paus mendesak biarawati menghindari media sosial karena dapat mengganggu dan menyita waktu.
Dilansir Metro, Senin (25/7/2016), beberapa pihak melihat hal ini dengan berbeda, karena larangan ini terlihat aneh jika mengacu pada Paus sendiri yang diketahui memiliki pengikut di Twitter sebanyak 9,6 juta dan 2,8 juta di Instagram. Kendati demikian, Paus mengakui bahwa smartphone dan tablet merupakan dua alat yang sangat berguna untuk menjalin komunikasi. Namun juga memperingatkan kepada biarawati supaya tidak membiarkan aktivitas apa pun menghalangi kehidupan kontemplatif mereka.
Lalu apa dampak dampak positif menggunakan ‘Media Komunikasi”. Menurut saya banyak sekali bermanfaatmya. selain sebagai sarana pewartaan nilai-nilai iman melalui media komunikasi setiap hari diberitakan, ditanamkan, dan dibatinkan kepentingan-kepentingan dan ideologi dari seseorang atau sekelompok orang kepada siapa saja yang menerimanya. Bagaimanakah sikap orang kristiani dalam hal penggunaan media komunikasi ini? Sebagai murid Yesus, mengingat amanat terakhir Yesus. Menurut Injil Markus mengenakan pada pewartaan Injil oleh Tuhan dipercayakan kepada para rasulnya yang sifatnya universal tanpa batas: Pergilah ke seluruh dunia; wartakanlah kabar gembira kepada segala makhluk” (Mrk 16:15). “Kabar gembira yang diwartakan pertama-tama, karena atas dasar ‘Kasih’ sebagai misi kepada sesama manusia.”
“Maka bagi saya, dalam pewartaan dewasa ini, alat-alat komunikasi mempunyai tempat yang istimewa. Bagaikan tempat wisata yang sedang belayar dalam dunia virtual bersama Yesus, karena penulis bisa melihat secara langsung di dunia maya dan pesan-pesan-Nya secara nyata. Internet seolah-olah memandu penulis dalam wisata rohani. Dalam batin, penulis diajak untuk bermenung seperti sedang berziarah bathin di muka bumi ini. Akan tetapi di lain sisi ada juga dampak negatif dari penggunaan media yang perlu diwaspadai karena dapat memunculkan dampak negatif bagi kehidupan manusia. Beberapa penelitian menemukan dampak negatif dari beberapa alat-alat elektronik bagi kesehatan manusia.
Yang perlu diwaspadai juga adalah dampak psikologis, khususnya pada relasi antar manusia. Bisa jadi, gara-gara media komunikasi, antaranggota keluarga bertengkar atau berselisih kaena masing-masing memiliki tayangan favorit, sementara tidak ada yang mau mengalah. Gara-gara televisi pula keluarga menjadi terpecah karena masing-masing memilih media sendiri-sendiri. Inilah tantangan kemanusian yang bersifat universal karena pesannyapun diselancarkan secara universal pula. Ada anggota keluarga yang memilih keluar rumah dan bergabung dengan orang lain yang memiliki tayangan favorit sama. Akhirnya relasi antar anggota keluarga menjadi renggang. Media komunikasi (internet) membuat jarak yang memisahkan merek dan lebih parah lagi bisa menjadi korban bagi orang lain.
Berdasarkan fenomena tersebut, bagi saya bahwa teknologi sangat bermanfaat dan berdampak positif ketika manusia menggunakan teknologi secara tepat sesuai dengan fungsinya. Akan tetapi teknologi berdampak negatif karena seseorang memiliki potensi, kecenderungan atau sikap yang negatif di dalam dirinya. Maka perlu waspada agar jangan sampai dimanfaatkan oleh teknologi, sebaliknya manusialah yang harus memanfaatkan teknologi. Jangan sampai dalam proses pewartaan Injil Kerajaan Allah terganggu bahkan terpengaruh oleh teknologi yang tidak sesuai dari tujuan dan maksud penggunaan media tersebut.
D. Menyikapi Budaya HOAX Secara Kritis
Kita tahu dalam ruang publik saat ini, semakin banyak masyarakat menggunakan media sosial, semakin besar potensi makin masifnya penyebaran “hoax”. Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 menunjukkan lebih dari 143 juta penduduk memiliki akses internet (54% dari total populasi Indonesia). Sekitar 64% pengguna internet itu berusia antara 13 – 34 tahun. Sekitar 89% menggunakan internet untuk “chatting” dan 87% menggunakannya untuk mengakses media sosial. Kemenkominfo memperkirakan di tahun 2017 beredar lebih dari 800.000 berita “hoax”.
Dari data di atas, lebih dari 2.000 “hoax” beredar tiap harinya. Dengan tingkat penetrasi internet yang demikian tinggi (Indonesia menduduki peringkat ke 5 negara dengan tingkat penetrasi internet tertinggi di dunia), dapat dibayangkan dampak negatif yang dapat muncul. Sangat mengerikan! (Lihat https://parokimkk.org/admin/images/userupload/article/A-XNTJJM-content.pdf. diakses 28 November 2018),
Banyak jenis berita bohong beredar di sekitar kita; dari yang sifatnya berita politik, terkait dengan agama tertentu, kehidupan pribadi seorang tokoh/artis, bahaya/manfaat obat atau bahan pangan tertentu, pengobatan alternatif, pengumuman dari institusi tertentu, berita lowongan pekerjaan, hadiah atau cara “cepat kaya”, sampai doa berantai (dengan ancamannya bila tidak disebarkan) dan masih banyak lainnya lagi.Muncul pertanyaan mengapa demikian? Mengapa penyebaran “hoax” begitu masif? Masih banyak sederetan pertanyaan dari kita yang berhubungan dengan fenomena “hoax” saat ini.
Menurut beberapa parak ilmu Informatika Teknologi (IT) bahwa, penyebar “hoax” tidak memandang usia, jenis kelamin, agama, suku. Bahkan sebuah penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa mereka yang berpendidikan tinggi justru menjadi penyebar “hoax” terbesar. Dari fenomena- fenomena yang terjadi ada beberapa analisa saya sebagai hipotesa awal dari tulisan dengan beberapa penyebabnya yakni: adalah: (1). Kebanggaan palsu yang muncul karena bisa menjadi “orang pertama” yang menyebarkan berita ke lingkaran pertemanannya (2). Mudah tersugesti dengan judul berita yang dibuat sangat sensasional atau kata-kata seperti “penting”, “segera sebarkan”, “berita terbaru”, “info rahasia”, “info terpercaya/bukan hoax”, “indahnya berbagi”, penggunaan identitas tokoh/institusi terkenal dan lainnya. (3). Semakin kuat “ancaman” atau “rasa takut” yang ditimbulkan oleh suatu berita, semakin kuat dorongan untuk menyebarkannya dengan alasan “agar orang lain bisa berhati-hati juga” (4). Mudah termakan oleh berita-berita yang bersifat provokatif dan sensasional. Dengan menyebarkannya, seakan-akan ingin mengumumkan “saya juga sudah tahu berita ini” tanpa niat untuk memeriksa kebenaran berita tersebut. Berita disebarkan sekedar karena mengikuti tren yang ada karena banyak orang sedang membicarakan topik itu (5). Enggan membaca lengkap beritanya atau memeriksa kebenaran berita (misalnya karena berita itu diperoleh dari teman yang kita percaya) dan lebih suka langsung menyebarkan dengan memberikan catatan “co-pas dari sebelah”, “benar gak ini?” dan sejenisnya (6). Isi beritanya kebetulan sesuai dan memperkuat pendapat, ideologi/keyakinannya (bias informasi) dan tidak sadar bahwa itu berita bohong (7). Tidak yakin atas kebenaran sumber beritanya, tapi karena isi beritanya dinilai “berniat baik”, maka disebarkan.
E. Cara Pencegahannya.
Sudah cukup banyak tulisan yang mengulas bagaimana kita dapat mencegah tersebarnya berita “hoax”. saya tidak akan mengulasnya lagi dan akan lebih fokus pada bagaimana peran Gereja/ iman Katolik dapat mencegah penyebaran berita “hoax” ini. Ada beberapa hal yang kita garis bawahi yaitu: bagaimanan Iman Katolik dapat mencega penyebaran ‘hoax.
1. Beriman dengan Cerdas

Iman Katolik adalah suatu kegiatan akal budi yang menerima kebenaran atas perintah kehendak yang digerakkan oleh Allah dengan pengantaraan rahmat (Katekismus Gereja Katolik artikel 155). Santo Thomas Aquinas pernah menyatakan “Fides quaerens intellectum” (iman mencari pemahaman). Setiap kali kita memperoleh berita, adalah kewajiban kita untuk juga selalu menggunakan akal budi; sebagai anugerahNya kepada kita, untuk mencari pemahaman apakah berita tersebut benar dan bila memang perlu disebarkan apakah penyebaran atas berita tersebut sudah sejalan dengan iman Katolik kita. Mungkin saja berita tersebut benar tetapi menyebarkannya tidak sejalan dengan iman Katolik (contoh: penyebaran video pembunuhan, pemerkosaan, berita yang dapat menyinggung perasaan orang/kelompok lain, dan sejenisnya).
Kemalasan untuk memeriksa kebenaran suatu berita dan sikap terlalu cepat berkesimpulan bahwa berita itu benar, bukanlah cermin dari iman Katolik. Di jaman digital ini, relatif sangat mudah untuk memeriksa kebenaran suatu berita. Lebih sulit justru menekan ego kita untuk “membanggakan diri menjadi yang pertama menyebarkannya”. Lebih baik menunda sebentar (umumnya tidak sampai 30 menit untuk memeriksa kebenaran suatu berita) daripada buru-buru menyebarkan berita (baik berupa teks, gambar ataupun video) bohong. Bila belum memahami caranya, konsultasikan dengan teman yang lebih ahli.
Beberapa berita dengan ciri-ciri di bawah ini patut dipertimbangkan untuk ditelusuri kebenarannya sebelum disebarkan:
• Berita itu baru pertama kali kita ketahui (paling menggoda kita untuk secepatnya disebarkan)
• Berita itu memiliki unsur efek “wow” (membuat kita kagum/kaget) yang sangat tinggi
• Berita dibuat dengan nada yang sangat provokatif; biasanya dikaitkan dengan masalah politik, agama, dan suku/ras
• Di dalam berita tersebut disebutkan nama-nama orang terkenal atau referensi lainnya yang kesan sepintasnya dapat dipercaya public,
• Berita yang isinya bertentangan dengan yang umumnya dipahami oleh masyarakat luas
• Berita berisi data-data yang dikesankan sebagai hasil riset/penelitian
• Berita itu dikirim oleh seseorang yang kita tahu tidak peduli dengan kebenarannya
Umat Katolik harus belajar selalu berpikir kritis dan tidak mudah percaya pada sesuatu yang sepintas dikesankan sebagai suatu “kebenaran”. Pembuat “hoax” bukanlah orang-orang bodoh. Pesan-pesan “hoax” dibuat dengan teori dan pendekatan psikologis yang bahkan dapat menjangkau pikiran bawah sadar manusia agar dapat efektif mencapai tujuannya. Ini bukan sekedar pekerjaan “orang iseng”. Dalam berita “hoax” sangat sering ditemui unsur-unsur yang memang faktual dan benar adanya. Mereka pandai meramu fakta-fakta dengan hal-hal bohong yang mereka sisipkan dengan sangat cermat. Ingat peringatan Yesus ini: “Lalu tuan itu memuji bendahara yang tidak jujur itu, karena ia telah bertindak dengan cerdik. Sebab anak-anak dunia ini lebih cerdik terhadap sesamanya dari pada anak-anak terang” (Lukas 16:18).
2. Beriman dengan Tangguh
Butuh keteguhan mental dan iman untuk menghadapi godaan-godaan duniawi “menjadi yang pertama”, “tidak ketinggalan jaman” atau menjadi “orang yang popular karena rajin berbagi berita. Bila kita dapat berdisiplin hanya berbagi berita yang benar dan dapat dipertanggung-jawabkan secara iman Katolik, maka hal ini akan membangun iman kita menjadi semakin tangguh. Sebaliknya, bila kita tidak peduli dengan kebenaran suatu berita, hal itu sama saja dengan membangun iman kita di atas pasir (lihat Matius 7:24-27).
Selain itu, kita butuh iman yang tangguh juga dalam menanggapi berita “hoax” yang menyerang entah pribadi kita, ideologi/keyakinan kita, atau bahkan menyerang agama kita. Bagaimana kita harus bersikap, bila misalnya terjadi kasus “penistaan” terhadap kitab Injil? Contoh ekstrimnya: bagaimana sikap kita atas kiriman video yang berisi seseorang sedang membakar kitab Injil? Sekalipun video tersebut benar adanya, penulis berpendapat tidak sepantasnya kita marah. Yesus bersabda: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44).
Di bagian lain kitab Injil tertulis: “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: ‘Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?’ Yesus berkata kepadanya: ‘Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.’” (Matius 18:21-22).Kitab Injil, salib, rosario, patung orang suci, dan benda-benda religius lainnya hanyalah simbol untuk mendekatkan diri kita ke Allah Bapa. Benda-benda tersebut hanyalah sekedar alat bantu, bukan dasar dari iman kita yang sesungguhnya. Tindakan tidak senonoh terhada benda-benda religus tersebut pastinya melukai hati umat Katolik. Tapi solusi yang diajarkan Yesus adalah dengan memaafkan mereka dan mendoakanmereka Butuh keteguhan mental dan iman untuk menghadapi godaan-godaan duniawi “menjadi yang pertama”, “tidak ketinggalan jaman” atau menjadi “orang yang popular karena rajin berbagi berita. Bila kita dapat berdisiplin hanya berbagi berita yang benar dan dapat dipertanggung-jawabkan secara iman Katolik, maka hal ini akan membangun iman kita menjadi semakin tangguh. Sebaliknya, bila kita tidak peduli dengan kebenaran suatu berita, hal itu sama saja dengan membangun iman kita di atas pasir (lihat Matius 7:24-27).
Selain itu, kita butuh iman yang tangguh juga dalam menanggapi berita “hoax” yang menyerang entah pribadi kita, ideologi/keyakinan kita, atau bahkan menyerang agama kita. Bagaimana kita harus bersikap, bila misalnya terjadi kasus “penistaan” terhadap kitab Injil? Contoh ekstrimnya: bagaimana sikap kita atas kiriman video yang berisi seseorang sedang membakar kitab Injil? Sekalipun video tersebut benar adanya, penulis berpendapat tidak sepantasnya kita marah. Yesus bersabda: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44). Di bagian lain kitab Injil tertulis: “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: ‘Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?’ Yesus berkata kepadanya: ‘Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.’” (Matius 18:21-22).
3. Beriman dengan Visioner
Misioner berarti melaksanakan misi atau perutusan. Dalam Mazmur 116:10 yang dikutip oleh Santo Paulus dalam 2 Korintus 4:13: ”Namun karena kami memiliki roh iman yang sama seperti ada tertulis ‘Aku percaya sebab itu aku berkata-kata’, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata”. Setelah pembaptisan, orang Katolik menjadi utusan-Nya. Menjadi utusan di jaman ini tetaplah sama hakikatnya dengan menjadi misionaris di abad para rasul yaitu ”berkata-kata” – menyampaikan kata-kata berkat yang mempunyai daya ubah. Kata ”berkat” dalam bahasa Latin ialah ”benedictio” yang berasal dari kata dasar “dicere” (bercakap) dan “bene” (yang baik).
Dengan berkembangnya jaman, pesan disampaikan tidak hanya dari mulut ke mulut saja tapi juga melalui media komunikasi. Menyebarkan kebohongan, apapun alasannya dan apapun niatannya, bukanlah kata-kata berkat. Sebagus apapun isi suatu berita, bila itu berita bohong, tidak sepantasnya kita tanggapi, apalagi kita sebar-luaskan. Niat yang baik bila dilakukan dengan cara yang salah, akan menghapus niat baik tersebut.
Kata-kata berkat adalah kata-kata yang menebarkan kasih Kristus kepada seluruh umat manusia. Dengan menahan diri tidak menebarkan kebohongan, minimal kita memiliki misi untuk meminimalkan beredarnya berita “hoax” di sekitar kita dengan harapan akan semakin banyak berita berkat diterima umat manusia. Dan alangkah sempurnanya bila kita dapat menjadi pencetus dan penyebar berita berkat yang mampu mengubah sekitar kita menjadi masyarakat yang lebih beradab.
Salah satu tujuan para penyebar “hoax” adalah menebar ketakutan (teror). Semakin banyak disebarkan, berita teror itu akan semakin berlipat ganda dampak negatifnya. Masyarakat yang penuh dengan ketakutan akan sangat mudah “dikuasai” untuk kepentingan apapun. Ketakutan menjadikan posisi diri kita inferior. Iman Katolik tidak ingin manusia hidup dalam ketakutan. Iman kita mengacu pada harapan Yesus bersabda: “Sarungkan pedangmu” (Yohanes 18:11). Tuhan berulang kali berkata: “Jangan takut!” (Lukas 2:10). Paus Fransiskus pada kotbahnya di Hari Raya Malam Natal 2013 mengatakan: “Dan saya juga ulangi kepada kalian semua: Jangan takut! Bapa kita sabar, Dia mengasihi kita, Dia memberi kita Yesus untuk membimbing kita di jalan yang mengarah ke tanah terjanji. Yesus adalah terang yang mencerahkan kegelapan” untuk hidup kekal bersama Allah Bapa di surga.
Penutup:
Catatan tambahan perlu saya berikan di sini terkait dengan peredaran berita/video/audio yang bersifat religius Kristen; seperti: video doa, kesaksian, tafsir kitab suci, renungan harian dan sejenisnya. Walaupun pada umumnya isinya menarik dan baik untuk dibaca/ditonton/didengar, saya perlu menekankan pentingnya kita tetap bersikap kritis dengan mempertanyakan apakah isinya sesuai dengan iman Katolik? Agama Kristen memiliki banyak aliran dan tidak semua aliran memahami/menafsirkan kitab Injil dengan cara dan pemahaman yang sama. Bila kita tidak yakin, disarankan menanyakannya langsung pada pembina iman (romo paroki) atau sahabat kita yang telah mengikuti pendidikan formal/informal mengenai tafsir kitab Injil secara Katolik.
Oleh karena itu, penting pula dipikirkan dengan sangat serius bagaimana mencegah anak-anak kita (dengan daya nalar yang masih terbatas) percaya pada berita-berita bohong. Tidak ada gunanya mencegah mereka mengakses media sosial. Lebih baik, bimbing mereka untuk selalu bersikap kritis, terbuka kepada orang-tua dan terus memperteguh iman Katolik mereka. Santo Paulus dalam suratnya menulis: “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu” (Efesus 5:11). Bila, tanpa kita sadari, kita telah menyebarkan suatu pesan “hoax”, segeralah minta maaf ke mereka yang menerima berita itu dan usahakanlah menjelaskan dimana kebohongan dari berita tersebut. Mintalah teman-teman yang mungkin juga telah meneruskan berita bohong tersebut untuk melakukan hal yang sama. Bila kita mendapati teman kita menyebarkan “hoax”, segera informasikan padanya dan mintalah ia melakukan hal di atas juga. Biasakan melakukan hal ini agar kita tetap menjadi “anak-anak terang”.
Di surat lainnya, Santo Paulus menuliskan pula: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih“ (1 Korintus 13:13). Semoga kita semua menjadi penyebar kasih Tuhan Allah ke ujung dunia dan bukan penyebar kebohongan, apapun juga alasannya.

Bacaan Pendukung
Bagus, Laksana, A. “Negoisasi Spritualitas di Cyberspace, “ Majalah BASIS No.7-8 Tahun 65 (2016), hlm. 4-15.
Banka, Jozef. & Y.B.Mangunwijaya (Ed.), (1993). Teknologi dan Dampak Kebudayaannya, Jakarta: yayasan Obor Indonesia.
Baskara.T.Wardaya. (ed.), (2003). Pembebasan Manusia, Sebuah Refleksi Multimensional. Yogyakarta: Penerbit Buku Baik. hlm. 353.
Black Jay, & Frederick Whitney, (1992). Introduction to Mass Communication, Dubugue, Iowa: Wim C.Bromn. hlm.5
Bosseti. Giancarl (ed.). (2009). Iman melawan Nalar. Yogyakarta: Kanisius. hlm.58-59.
Briggs, Asa. & Peter Burke . (2016). Sejarah Sosial Media; Dari Gutenberg Sampai Internet, A. Rahman Zainuddin (Tej.). Jakarta:Yayasan Obor Indonesia. hlm. 326-406.
Bukum Imam. (2005). Tata perayaan Ekaristi.Jakarta: KWI.
D. O’Leary. Stephen (2004). ‘Cyberspace as Sacred Sapce: Communication Religion on Computer Networks, dlm. Lorne L. Dawson dan Douglas E. Cowan (eds.), Religion Online: Finding Faith on the Internet (Routledge), Pp.37-58.
D.Mariasusai. (1995). Fenomena agama.Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm. 26-27
G.Moedjanto. G. dkk., (1992). Tantangan Kemanusiaan, Antologi Filsafat, Budaya, Sejarah Polik & Sastra. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm.66-111
Hardawiryana. R. (Penerjemah). (1994). Konsili Vatikan II, Sacrosantum Conciilium. Jakarta: Dokpen KWI. (Dokumen asli diterbitkan tahun 1994).
Hari. Juliawan. B. (2016) Media dan Gerakan Sosial, Majalah Basis, Nomor, 09-10, Tahun ke-65, 2016, hlm. 16-18
Heru. Prakosa, (2016).Auto-Theisme: Paradoks Manusia yang mengaku Diri Ber-Tuhan, Majalah Basis Nomor 01-02, Tahun ke-65, 2016, hl.4-13
Heuken. Adolf. (1991). Ensiklopedi Gereja. Jakarta: Cipta Loka Caraka.
Ispuroyanto. Yoseph & Y.I.Waradi. (2010). Media Perwartaan Iman, Usaha Mencari model Perwartaan Iman pada zaman Digital. Yogyakarta: Studio Audio Visual Puskat.
Iswarahadi.Y.I. (2003). Beriman dengan Bermedia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm. 24.
King. Richard. (1999). Agama, Orientalisme, dan Poskolonialisme. Yogyakarta: Penerbit Qalam. hlm.50.
Komisi Liturgi MAWI. (1984). Pedoman Pastoral untuk Liturgi. Yogyakarta: Kanisius.
Kongregasi Ibadat dan Tata tertib Sakramen. De Liturgia Romana et Inculturatione, (Komisisi Liturgi KWI, Penerjemah). (Jakarta: Dokpen KWI). (Dokumen Asli diterbitkan tahun 1994).
Lester. Meera. (2012). Sacred Travels. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.
Lindholm, Tore. & W.Cole Durham, dkk., (ed.). (2010). Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan: Seberapa Jauh. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.hlm.339-341.
M.Shelton.Charles. (1998). Menuju Kedewasan Kristen. Yogyakarta: Kanisius.
Majalah Umat Baru, Tahun XLIV No.2 Juli-Desember 2012, hlm.94
Mangunhardjana. A.M. (1985). Membimbing Rekoleksi. Yogyakarta: Kanisius.
Marsana Windhu, I. (1997). Mengenal Tahun Liturgi. Yogyakarta: Kanisius
Niederer. C. H. (1959). Ibadat Gereja, Rohani, 10, 337-432
Pramono. Andi. (2016). Presentasi Multimedia dengan Macromedia Flash, Yogykarta: Penerbit ANDI. hlm.1-2.
Purnomo. Budi. A. (2011). Wonderful Europe. Jakarta: Kompas Gramedia.
Quirico. T.Pedregosa. (2011). The Love That Is Mission, (Philippine: Institute of Preaching Sto. Domingo Convent.
Riberu. J. (Tej.). (1983). Tonggak Sejarah Pedoman Arah-Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta:Dokpen MAWI. hlm.50-62.
Sakurai. Yoshihide, Darwis Khudori, (ed.). (2009). Maraknya Gerakan Politik berbasis Agama, Peluang ataukah Ancaman untuk perdamaian, keamanan, dan perkembangan Bangsa-bangsa. Yogyakarta: Penerbit USD. hlm.137-147
Yustina, Guru di Era Gadget, Educare. Majalah Rohani, No.03 Tahun XIII, November, Desember 2016
Zoebazary. Ilham. (2010). Kamus Istilah Televisi & Film, (Jakarta: Kompas Gramedia, 2010).
http://katoliknews.com/2016/05/08/pesan-paus-fransiskus-untuk-hari-komunikasi-sosial-sedunia-ke-50/ diunduh, Rabu,29 November 2018 Pukul 4.54 PM.
https://parokimkk.org/admin/images/userupload/article/A-XNTJJM-content.pdf diakses 28 Novemebr 2018
Beberapa kalimat dalam artikel di atas adalah saduran dari beberapa artikel yang terdapat pada www.katolisitas.org dan www.parokimkk.org november 2018

 

Leave a Reply