Cinta yang memberikan diri

Setiap orang memiliki prinsip hidupnya masing-masing. Yang menjadi pertanyaan adalah kita akan memulai dari mana? Di masa pandemi ini, antara berjuang untuk hidup dan bertahan untuk hidup-sungguh mewarnai dinamika hidup manusia. Lantas upaya apa yang perlu di buat untuk berjuang dan bertahan hidup? 

 

Pentingnya hidup bersama untuk saling melengkapi

Suasana kebersamaan menyadari betapa pentingnya saling membantu dan berbagi. Tidak membiarkan orang lain berjuang demi dan untuk hidup sendiri. Hidup ini sungguh menjadi indah kalau setiap orang menunjukkan sikap kepedulian antar satu dengan yang lain. Untuk itulah Allah menciptakan dia laki-laki dan perempuan [bdk Kej 1:26-28]. Lebih lanjut dikatakan bahwa “Tidak baik kalau seorang manusia seorang diri saja, Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia [bdk Kej 2:18]. Keduanya diciptakan untuk saling melengkapi. Dalam hal ini kedudukan laki-laki dan perempuan sama derajatnya, tak bisa membedakan. Tentu saja hal ini mengingatkan kepada kita bahwa nilai hidup bersama dalam ruang lingkup global ini perlu solidaritas [kepedulian], perlu berbagi.

Pada masa adven tahun 2020 ini, saya diminta untuk memandu katekese di lingkungan St. Petrus Kotabaru, Yogyakarta. Tiba giliran untuk sharing, beberapa umat menceritakan pengalaman konkret pada masa pandemi bahwa kepedulian umat di lingkungan St. Petrus sungguh luar biasa dalam memberikan bantuan kepada tukang becak, memberi bila ada yang meminta, bukan seberapa besar yang diberikan itu, tetapi lahir dari ketulusan hati untuk membantu sesama yang mengalami kesulitan. 

Ada satu kesadaran yang penting terhadap nilai kebersamaan, kepedulian, cinta yang lahir dari ketulusan hati dalam memberikan bantuan kepada sesama. Yang menarik bagi saya adalah tindakan kasih terus-menerus mendorong umat lingkungan St. Petrus untuk memberikan bantuan kepada orang yang mengalami kesulitan.

Kristus yang memberikan Diri-Nya

Sikap solidaritas sudah menjadi ajakan penting bagi umat beriman. Sebagai orang beriman, tidak bisa lepas dari ajaran Kristus. Dia yang kita imani sungguh memberikan diri-Nya, bukan sekedar ajakan atau kata-kata saja, tetapi sungguh-sungguh diri-Nya sendiri. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang sahabat yang memberikan nyawa untuk sahabat-sahabatnya” [bdk 15:13]. Itulah sikap pemberian diri Kristus. Hingga sampai saat ini, Dia selalu ada dan tinggal di dalam hati kita.

Dia memilih kita dan menjadikan kita sebagai saluran berkat kepada sesama karena lebih dahulu mengasihi dan mencintai kita secara total. Cinta-Nya bukan cinta yang sepihak atau golongan tertentu, tetapi bagi semua umat manusia. Oleh karena itu, kita perlu membangun rasa solidaritas kepada sesama. Nota Pastoral KWI 2003 dalam Suharyo [2009:63] menegaskan bahwa sikap solider terungkap dalam semangat gotong royong dan kekeluargaan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa solider berarti berdiri pada pihak korban ketidakadilan, termasuk ketidakadilan struktural.

Tindakan solidaritas kita terhadap kaum kecil, lemah, miskin dan tersingkir [KLMTD] merupakan kesadaran mendalam tentang kasih Kristus yang tidak terbatas. Ia selalu mengasihi kita, setiap detik dan menit Dia selalu menyertai kita. Kalau kita jujur mengatakan bahwa kita harus selalu bersyukur karena Kristus yang kita kenal dan imani itu, sungguh memberikan diri-Nya. Belajar dari pada-Nya, kita harus menjadi saksi-Nya dengan tindakan konkret dalam hidup sehari-hari.

 

Novisiat Alverna MTB

Yogyakarta

Leave a Reply