Sun. May 9th, 2021

Awalnya, saya kurang tertarik menulis tentang diskriminasi sosial yang berbau ras atau rasisme. Karena saya menyadari bahwa, zaman sekarang perbincangan diskriminasi tersebut, sudah tidak lagi menjadi masalah fenomenal dalam masyarakat Indonesia. Apalagi, jika kita meninjaunya dari ilmu sosial dan humaniora. Barang kali bukan sesuatu yang tepat di era postmoderen ini, untuk membahas hal-hal demikian. Bagi generasi millenial khususnya, berbicara diskriminasi yang bersifat ras atau rasisme seakan-akan memaksa ide mereka untuk masuk dalam ruang yang membeku dengan gagasan generasi sebelumnya. Seolah-olah gagasan tentang diskriminasi direduksi kembali, menjadi ruang kebaruan dari waktu-kewaktu untuk orang lain. Lazimnya fenomena tersebut, sudah menjadi hal biasa saja dalam pola kehidupan bermasyarakat masa kini. Jadi, perilaku diskriminasi di pelbagai aspek kehidupan manusia adalah bagian dari konsekuensi manusia dalam hidup bersama di tengah masyarakat multietnis di Kota Pontianak (wawancara, beberapa anak SMA di Kota Pontianak, 3 Desember 2019).
Topik Seksi dan Eksis
Ketika saya merefleksi kembali gagasan-gagasan tersebut di atas, dengan masuk kedalam ranah kajian budaya, ternyata memperbincangkan soal diskriminasi sosial yang berciri khas ras atau rasisme dengan pendekatan ‘perlawanan’ di zaman ini, masih seksi dan eksis untuk diperbincangkan di ruang akademik. Mengapa demikian? Karena di saat ini, masyarakat Indonesia masih relevan menulis tentang diskriminasi ras atau rasisme khususnya untuk etnis Tionghoa. Siapa pun dia, atas nama kepekaan terhadap fenomena masyarakat yang peduli dengan sesama, dapat menyuarakan mereka yang merasa diri tertindas sebagai kelas sosial bawah dalam masyarakat. Dalam merefleksikan menulis tesis, tentang diskriminasi sosial di kalangan etnis Tionghoa di Kota Pontianak, bagi saya ada nilai-nilai untuk dikaji/digali lebih mendalam lagi, ketika masuk dalam pemikiran yang tidak hanya mengadalkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kecerdasan hati. Politik identitas, konstruksi sosial, relasi kuasa, hasrat kuasa, ideologi tunggal, dominasi, hegemoni dan kelas-kelas sosial dalam diskriminasi ras/rasisme itu, sangat kuat untuk di bahas dalam topik diskriminasi sosial. Nilai-nilai tersebut di atas, sangat bermain peran untuk mematikan orang lain berkembang dan bertumbuh dalam hidup bersama di masyarakat pluralisme dan multikulturalisme di Indonesia sejak Bangsa Kolonial hingga sampai masa sekarang. Bahkan bagi saya, nilai-nilai di atas, sebagai label yang melekat dalam diri manusia. Apalagi jika seseorang menjadi pemimpin atau tokoh dalam suatu masyarakat tertentu, godaan-godaan itu dipraktekan secara nyata kepada mereka yang lemah dan tak berdaya hingga orang lain menderita dan sengsara. Bagi saya, untuk menyuarakan fenomena tersebut di atas, bukan seakan-akan sebagai pesan moralistik semata, agar masalah itu tuntas dan diselesaikan oleh kaum akademisi atau intelektual. Apalagi atas nama kaum intelektual, ingin menyelesaikan masalah sosial yang sangat kompleks di masyarakat kita. Akan tetapi, sebagai salah satu upaya untuk melihat secara kritis dan akal sehat, mengapa fenomena-fenomena tersebut, selalu muncul di zaman sekarang? Mengapa pola relasi antaretnis di masyarakat Indonesia pada umumnya, dan di Kota Pontianak pada khususnya, hal-hal tersebut, selalu menjadi masalah yang rentan dalam hidup bersama? Maka untuk menjawab kegelisahan ini, bagi saya salah satuya adalah melalui sebuah tulisan yakni; dalam bentuk tesis. Saya sangat menyadarinya bahwa tesis ini pun menjadi salah satu persyaratan mutlak untuk bisa lulus dari program pascasarjana IRB, Universitas Sanata Dharma. Ketika saya merefleksi kembali perjuangan dan perjalanan saya dalam menulis tesis ini, rasa-rasanya hampir putus asa di tengah jalan. Pengalaman-pengalaman yang saya alami, tidak bisa dilupakan begitu saja. Dalam ujian proposal tesis, awalnya saya tertarik menulis tentang wacana pendidikan multikulturalisme di sekolah menengah di Kota Pontianak. Namun ternyata membicarakan pendidikan multikulturalisme di Indonesia, masih jauh dari kenyataan. Ibaratnya seperti mencari sesuatu yang tidak jelas dalam hutan rimba. Demikian masukan dari salah satu dosen saat itu.
Gagasan Masih Datar
Rupa-rupanya, gagasan-gagasan dalam tulisan proposal saya masih datar. Berbau dominasi kajian pendidikan kritis masih terlalu kuat. Masukan dari salah satu dosen penguji bahwa, dalam tulisan saya belum menemukan ‘rohnya’ IRB. “Anda sudah beberapa semester kuliah di IRB? Pastinya banyak hal yang ditemukan di IRB bukan?” Kata-kata ini begitu tajam dan menohok. Pertanyaan ini, sangat kritis dan seakan-akan menjadi PR bagi saya, untuk membaca ulang lagi tentang proposal tesis saya. Selama sebulan, saya bergulat dengan judul tesis saya. Mengapa ya judulnya tidak masuk dalam ranah kajian budaya? Batin saya saat itu. Persoalan ini, sempat saya konsultasikan kepada Kaprodi via email, namun jawaban tidak meneguhkan dan mengembirakan bagi saya. Saya semakin gelisah seakan-akan ditantang untuk tetap setia dengan gagasan saya atau ikut arahan atau masukan dari dosen. Saya sungguh dilematis apakah terus atau berhenti sampai di sini.

Kecelakaan Intelektual
Saya menangkap masukan dari dosen tersebut, sebagai langkah baru untuk merefleksi kembali motivasi saya belajar di IRB? Bagi saya, menulis tesis di IRB, bukan minimalis apalagi hanya sekedar persyaratan akademik saja atau supaya dapat kerja dan menaikkan posisi jabatan dalam suatu lembaga atau perusahan di masyarakat. Saya sadar bahwa, sudah empat tahun saya belajar di IRB (2016-2020). Mau tidak mau, suka tidak suka, secepatnya saya berakhir dari ‘kecelakaan intelektual’ ini. Pelbagai pertanyaan dosen di atas, membuat pikiran saya jadi ambyar. Lagi-lagi saya membela diri. Semacam melakukan perlawanan, yang sebenarnya tetap saya sadar sebagai mahasiswa yang sedang mencari ilmu di IRB. ‘Wacana universitas masih kuat di IRB’! Berontaku tak pernah berakhir. Maka muncul pertanyaan lagi. Kekhasan tesis seperti apa sih di IRB? Lalu setelah dari IRB saya mau buat apa ya? Lagi-lagi, saya tenggelam dalam pergumulan tersebut dan rasanya pertanyaan-pertanyaan ini begitu naïf untuk dibahas lagi dalam ruang bathin dan pikiranku.
Topik Baru Makin Gelisah
Tema penulisan menuju tesis, saya ganti dengan topik baru yaitu “diskriminasi terhadap guru-guru Tionghoa di Kota Pontianak”. Atas kebaikan dosen pembimbing, tema tersebut disetuju dan tidak diujikan lagi. Akan tetapi, diteruskan menjadi sebuah tesis. Saya mulai semangat dan bangkit lagi, untuk menulis dengan topik baru. Saya menyadari, tentunya dalam topik baru ini, tidak terlepas dari kesulitan untuk mencari teori, yang sesuai dengan rumusan dalam masalah, yang saya temukan pada penelitian berikutnya. Beban dan persoalan yang dahsyat adalah menggunakan konsep teori dari perspektif ilmu budaya. Mengingat saya S1, bukan dari ilmu budaya pastinya semakin sulit saya untuk menelaahnya dan mencari konsep khas kajian budaya IRB. Saya begitu percaya diri. Bahkan tidak memikirkan hal yang lain lagi, menyangkut topik tesis saya. Percaya diri ini, menjadi modal saya untuk melanjutkan gagasan-gagasan baru dalam menulis tesis berikutnya. Namun, lagi-lagi saya apes. Harapan saya pupus di tengah jalan. Saya semakin bingung untuk meneruskan topik tersebut. Karena pengalaman berikutnya, semakin saya tidak berminat lagi untuk menulis tentang diskriminasi guru-guru Tionghoa di Kota Pontianak.
Berbau Politik Identitas
Saya mendapat masukan, pada saat loka karya di daerah Gedang Anak, Semarang. Kata dosen pendamping loka karya bahwa, tulisan saya telalu berbau politik identitas. Belum menemukan kajian budaya. Saya mulai bingung lagi. Saya sungguh jatuh lagi, untuk pengalaman kedua kalinya. Kekecewaan ini tidak ingin berlarut hingga menimbulkan stress yang berlebihan. Saya sudah tua dan jangan sampai sakit secara fisik dan psikis gara-gara mengganti judul tesis. Batin saya saat itu. Malam itu, saya tidak bisa makan hanya memikirkan topik baru. Mungkin Bu Devi dan Pak Nardi membaca gerak gerik kekecewaan saya. Saat teman lain sedang melakukan presentasi, saya dan pak pendeta Leo membantu bu Devi, untuk memberi snack dengan jalan kaki kurang lebih sepanjang 1,5 kilometer di sekitar daerah Gedang Anak. Snack ini, untuk kami nikmati malam itu atau jangan-jangan untuk menghibur kami yang galau setelah presentasi, dimana tulisan kami harus dibongkar total oleh pak Nardi. Guyonku saat itu. Dalam perjalanan, saya hanya berdiam diri. Pak pendeta Leo, menghibur saya seakan-akan dia tahu perasaan yang saya alami saat itu. Saat mau tidur saya berdoa. Ingin mencari suasana yang fresh dan diberi sebuah jalan baru, agar saya tidak stress berlebihan. Namun saya merasa dalam doaku tidak menemukan Tuhan yang saya imani. Dimanakah Engkau sumber pengetahuan sejati? Mengapa Engkau tidak mendengarkan doa-doaku? Mengapa saya harus mengalami ini semua. Saya letih.. saya lelah..Dimanakah Engkau berada? Adakah Engkau menguji di luar akal dan imanku? Doa bergaya kontemplasi ini semacam protes kepada Dia, yang seakan-akan persoalan ini hanya mengandalkan doa.
Wacana Histeria Di Gunung Andong
Malam itu saya tidak bisa tidur. Saya harus cari cara lain agar saya tidak gila dengan judul tesis. Malamnya saya bersama mas Damas (teman satu angkatan 2016), merencanakan agar sepulang dari loka karya, jangan langsung balik ke Yogyakarta. Akan tetapi, kita harus mendaki salah satu gunung yang dekat dengan Kota Salatiga. Ide ini terlaksana. Kami sepakat memilih gunung Andong.
Di atas gunung, kami berteriak sepuas-puasanya antara melepaskan kepenatan atau sebagai salah satu wacana hysteria garas gara tesis. Kami berteriak sepuas-sepuasnya dengan suara yang menggelepar. Di sini, saya tentunya lebih dari berteriak yaitu bersyukur kepada Tuhan untuk keagungan alam ciptaanNya yang indah. Pengalaman ini susah dilupakan sampai saat ini. Mungkin kalau tidak kuliah di IRB saya belum tentu ada kesempatan naik gunung yang indah ini. Ujarku sambil menghela napas, ketika turun dari gunung tersebut.
Kembali ke Dosen Pembimbing
Saat kembali ke kampus, saya mencari waktu untuk berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Saya diberi jalan, untuk melihat lagi fenomena sosial apa saja yang ada di Kota Pontianak, agar bisa dikaji lebih mendalam lagi sebuah topik baru dalam tesis saya. Saya merasa untuk topik yang ketiga kali ini sebagai pilihan yang tepat. Saya tidak mau jatuh untuk ketiga kalinya hanya karena topik tesis, yang sebenarnya kalau melihat pengalaman teman-teman di IRB, topik tesis bisa saja direvisi atau diganti pada saat selesai pendadaran tesis. Lagi-lagi pikiran ini dipatahkan oleh dosen pembimbing. Menurut beliau, justru judul tesis yang tepat, sangat menentukan pembahasaan di bagian latar belakang tulisan tesis. Demikian sepenggal kalimat, yang saya tangkap dalam bimbingan saat itu. Saya tidak ada ruang lagi untuk membela diri. Berdiam sejenak. Sungguh-sungguh saya seorang diri yang siap dikebirikan gagasan yang sangat sederhana dan ngambang yang saya miliki saat itu.Mungkin juga saat ini. Akhirnya, saya pun menemukan persoalan akariah dari tesis saya. Pergumulan bagian bab satu pun tidak pernah tuntas. Setiap bimbingan ada rasa ketakutan. Sebelum bimbingan selalu berdoa agar tulisan ini bisa diterima. Apakah yang saya tulis sesuai dengan maksud dari dosen pembimbing? Saya mencatat bahwa untuk konsultasi bab satu sebanyak tujuh kali pertemuan. Namun belum menemukan kajian teori dan rumusan masalah yang tepat sesuai dengan kaidah dalam menulis karya ilmiah di IRB.
Tetesan Air Mata
Lagi-lagi saya bingung. Mau gila rasanya saat itu. Satu semester saya berhenti dan tidak mau menulis lagi. Namun, atas dasar masukan saat diskusi bersama dengan dosen dan teman-teman di ruang kuliah, sayapun mulai semangat lagi. Tidak terasa air mata jatuh perlahan-lahan karena tidak sanggup menghadapi persoalan tersebut. Saran dan masukan dari teman-teman agar topik yang saya tulis harus luas. Tidak fokus pada satu apsek saja dalam membicarakan diskriminasi sosial di masyarakat Kota Pontianak. Demikian masukan dari Mbak Katrin dan Mbak Devi saat itu. Saya mulai dari awal lagi, dan tentunya tidak gampang untuk membahas masalah dikriminasi etnis Tionghoa di Kota Pontianak.

Tantangan Mencari Data
Sejak November 2018, hingga pertengahan Februari 2020, secara periodik saya bolak-balik ke Kota Pontianak untuk mengambil data-data sesuai dengan keperluan dalam tesis saya. Lagi-lagi, saya mengalami kesulitan yang sama yakni, betapa susahnya bertemu dengan warga etnis Tionghoa di Kota Pontianak. Mereka berbagai alasan, untuk tidak mau menerima saya untuk bertemu di rumah mereka. Mereka tidak suka membicarakan persoalan yang bertema diskriminasi ras saat ini. Mereka traumatik dengan pengalaman masa lalunya. Mereka ingin hidup lepas bebas dari persoalan tersebut. Masih banyak alasan yang saya tidak bahas di bagian refleksi ini. Saya sangat menghargai perasaan mereka saat itu.
Pendekatan Baru
Pada tahap berikutnya, saya merubah pendekatan dengan cara “temu kangen’ dengan kenalan beberapa guru yang sudah lama saya tidak bertemu dengan mereka. Kami bertemu di salah satu kafe di Kota Pontianak. Sambil menikmati kopi dan kue, saya mencoba untuk membuka perbincangan ringan soal fenomena diskriminasi sejak pasca reformasi. Obrolan yang ringan-ringan ini bukan sebuah wawancara tetapi hanya sekedar perbincangan kehangatan politik di Kota Pontianak. Pintaku saat itu. Topik semacam ini memancing saya dan mereka untuk melihat kembali bagaimana dampak positif secara politik ketika warga Tionghoa mulai menghidupkan kembali Tahun Baru Imlek dan perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak pasca reformasi. Rupa-rupanya, dengan gaya santai dan blak-blakan, mereka berani untuk mengungkapkan dengan janji agar perbincangan dan pengalaman tersebut, betul-betul dijaga kerahasiaanya. Kata mereka ‘Bang pembicaraan kita ini sih sungguh-sungguh sensitif soal ras atau rasisme di Kota Pontianak loh bang?” Jangan sampai abang menjebak kami”. ….., Kami pun takut bah!” Pinta mereka saat itu. Selanjutnya pada pertemuan berikutnya, adalah untuk mendapat data yang lebih bervariasi lagi. Saya harus ke sekolah-sekolah menemui beberapa guru. Rupa-rupanya mereka, semakin nyaman untuk membahas masalah diskriminasi-diskriminasi yang terjadi di lingkungan pendidikan atau sekolah tempat mereka mengajar setiap harinya di Kota Pontianak.
Membongkar Melawan Lupa
Memang, pertama kali terkesan takut dan jangan-jangan sampai guru etnis lain mengetahui apa yang diungkapkan oleh mereka. Pengalaman ini sangat menarik. Karena terkesan tenggelam dalam mendengar pengalaman penderitaan orang lain. Godaan untuk sedih semakin kuat untuk berlarut dalam sharing mereka. Seolah-olah saya sedang mendampingi psikonalisa kehidupannya. Saya dibawah kedalam pengolahan hidup seseorang masa lalunya dan sedang menganalisa pergumulan batin mereka. ‘Ah mereka juga tidak tahu betapa sulitnya aku menulis tesis ini’. Batinku saat itu. Pada akhirnya, saya merasa dan melihat mereka senang, karena ada ruang untuk didengarkan pengalaman mereka.
Pada kesempatan lain, saya mencoba untuk mendatangi salah satu klub basket. Kebetulan saat itu ada pertandingan antarklub tingkat Kota Pontianak. Selain saya suka menonton basket, memang tujuan saya untuk memperoleh data yang lain soal pengalaman diskriminasi dari pengalaman orang-orang muda etnis Tionghoa di Kota Pontianak. Berbincang tentang diskriminasi dengan mereka, tidak mengalami kesulitan. Karena bagi mereka pengalaman diskriminasi itu biasa-biasa saja di Kota Pontianak.

Pura-Pura Belanja di Pasar
Pengalaman tersebut di atas, hampir sama ketika ketemu beberapa bapak dan ibu yang sehari-hari jualan di pasar Mawar dan Flamboyan Pontianak. Dengan pura-pura membeli dagangan mereka, terlintas ungkapan pengalaman ke arah diskriminasi sosial pasca reformasi terutama saat konflik di pasar tersebut yang telah mereka alami. Pembicaraan dengan mereka saat pasar mulai sepi. Saya dibantu oleh salah satu guru etnis Tionghoa untuk menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kami dipersilakan untuk masuk dalam ruko yang mereka miliki. Malamnya, saya sangat lelah untuk mengolah data data ini. Rasa-rasanya tidak melanjutkan terus masalah ini karena begitu banyak hal yang mereka ungkapkan.
Menghibur dan Dihibur
Ketika saya merefleksikan kembali perjumpaan dengan mereka, teryata ada situasi yang berbeda. Bagi saya. pengalaman yang menarik dalam mengambil data ini adalah ketika bertemu dengan ketua etnis Tionghoa di Kota Pontianak. Selama dua jam lebih, saya mendengar kisah sejarah diskriminasi etnis Tionghoa di Kota Pontianak. Seakan-akan saya ikut berlarut dalam kesedihan dari kisah-kisah masa lalunya. Saya ikut tertawaria, ketika ada beberapa istilah yang diungkapkan dan sulit kupahami juga dengan dialek Cina Pontianak. Bapak FX. Asali namanya, Ketua etnis Tionghoa Pontianak, yang sudah berusia menjelang 89 ini, masih kuat, untuk mengisahkan bagaimana perjuangan mereka selama bertahun-tahun dari cengkramisasi oleh perilaku diskrimininasi sosial di Kota Pontianak sejak era Orde baru hingga menjelang reformasi. Dari perjumpaan dengan mereka, (baca: etnis Tionghoa), menyadari saya akan narasi-narasi dan stereotif orang lain tentang etnis Tionghoa di Kota Pontianak. Perlawanan-perlawanan yang mereka lakukan di Kota Pontianak sebagai strategi untuk bisa mengkonsolidasi identitas mereka yang sudah lama dikontruksi oleh etnis lain di Kota Pontianak. Pengalaman-pengalaman tersebut di atas, menyadari kembali cara saya berpikir tentang etnis Tionghoa yang ada di tempat lain. Selama ini, saya juga sempat berpikir bahwa, sejak pasca reformasi, mereka merasa aman-aman dan baik baik saja. Tentu cara berpikir ini tidak terlepas relasi saya dengan etnis Tionghoa yang ada di Kota Ruteng, Flores. Dimana di Flores, saya melihat etnis Tionghoa hanya dari aspek kemajuan mereka dalam membangun diri, yakni di bidang ekonomi.
Terima Kasih IRB
Saya sangat bersyukur, dan berterimakasih kepada lembaga IRB, (baca: Kajian Budaya) karena melalui tesis ini saya sadar posisi saya sebagai generasi intelektual yang mampu memotret fenomena di masyarakat secara arif. Dulu saya takut berbicara, sekarang bisa berani untuk menyuarakan persoalan yang mengganggu kehidupan bersama. Dulu saya merasa tidak paham materi-materi di IRB dan mungkin juga sampai menulis tesis ini belum menemukan roh IRB. Dari temuan di atas, dan dengan merefleksi demikian, wawasan saya semakin luas. Saya memahami mengenai cara membaca dan merekam fenomena di masyarakat dewasa ini atau tentang apa yang terjadi di lingkungan di mana saya berada. Terutama tentang ‘kekhasan orang-orang Tionghoa di Kota Pontianak, yang unik dan tidak bisa disamaratakan atau disejajajarkan dengan etnis Tionghoa di daerah lainya di Indonesia. Saya menyadari pula bahwa mengolah data-data hasil temuan di lapangan ternyata tidak mudah untuk memadukan teori-teori yang saya pakai dalam tesis ini. Saya terkadang lelah dan cepat bosan. Kadang-kadang tengah malam WhatsApp teman-teman bahkan dosen teori penulisan tesis untuk menanyakan hal-hal yang masih saya anggap belum paham benar tentang permasalahan tesis saya. Saya bersyukur karena teman-teman meladeninya dengan senang hati. Demikian juga dosen yang saya hubungi sangat membantu dengan kesulitanku. Ketulusan mereka, tidak pernah saya lupakan dan menjadi spirit baru bagi saya untuk dengan tulus membantu orang lain. Ternyata Tuhan baik. Ada ada saja jalan yang bisa membantu saya dalam pergumulan menulis tesis ini. Saat menulis tesis, di tengah fenomena Virus Corona 19 (Covid19), saya seakan-akan untuk bertobat, agar selama masa isolasi dalam biara kesempatan untuk fokus menulis tesis. Maka dengan isolasi tersebut, memaksa saya untuk bisa menulis tesis. Doa pun lagi-lagi tidak ada waktu dalam biara. Menulis tesis seolah-olah doaku. Sungguh-sungguh menodai dan menggodai roh religius saya karena tesis. Ya akhirnya saya sadar memang tidak mudah menulis tesis.
Akhirnya, ketika saya melihat kembali proses membuat tesis dengan pelbagai pengalaman jatuh bangunnya. Saya menyadari dan merefleksikan bahwa, menulis tesis bukan soal cepat atau lambat. Tetapi bagaiman saya berdinamika dengan temuan-temuan dalam masyarakat untuk memadukan literature lainnya, sehingga bisa mengelaborasi menjadi sebuah gagasan baru. Kebaruan dalam gagasan ini, akan membawa dampak positif bagi pengembangan dan perkembangan diri saya, mana kala saya juga harus menulis secara ilmiah dan akurat yang walaupun dalam tesis ini masih banyak kekurangan dan kelemahanya baik secara konsep teoritis yang dipakai, maupun cara mengolah data dengan pendekatan kajian budaya sesuai tuntutan standar dalam menulis tesis di IRB Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.Lewat tesis ini, saya menjadi sadar bagaimana menyuarakan pluralitas etnik, multikultural, multikeagaamaan, dan lain-lain di manapun di dunia ini adalah fakta yang tidak mungkin diingkari karena semua keanekaragaman etnis itu adalah hukum alam dan kekayaaan manusia yang luar biasa. Mengingkari pluralitas dan multikutural adalah mengingkari hukum alam dan menolak anugerah alam semesta. Yang menjadi persoalan bagaimana sikap saya terhadap keanekaragaman etnis tersebut. Apakah saya menghargai, menghormari, memelihara, merawat, dan mengembangkan pluralisme dan multikulturalisme tersebut. Etnis atau ras seseorang bukan ditentukan oleh pilihannya, tetapi ditentukan oleh keturunanya. Apakah adil atau bermoral jika kita membenci seorang karena etniknya, yang bukan pilihanya itu, berbeda dengan etnik kita? Salah satu pedoman untuk memperlakukan, bertingkah laku, atau bersikap terhadap orang lain adalah apa yang kita rasakan ketika orang lain berbuat yang serupa kepada kita? (#Biliktirainovisiat,2612020)

 

Leave a Reply